
''Kak Dimas....kenapan jalannya jadi lelet, ayo lebih cepat lagi nanti ularnya gigit kita.'' Ucap Adinda dengan raut wajah yang panik.
''Astaga..Perempuan ini sangat polos sekali, ularkan mematuk bukan menggigit, hahhh dasar.'' Batin Dimas terkekeh yang tegang sekaligus senang karena telah berhasil membuat Adiba merasa takut dan panik.
''Kak Dimas...'' Lanjut Adiba karena tidak mendapat jawaban Dimas, Adiba semakin takut dan panik ia mengeratkan pelukannya membuat gunung kembar miliknya menempel di punggugung Dimas.
''Glekk..'' Dimas menelan salivanya merasakan kenyal milik Adiba dan kembali ia menatap paha mulus milik Diba yang sontak membuatnya semakin menegang karena baru pertakali ia merasakannya setelah bertahun-tahun bekerja dan menjadi kepercayaan Aditya.
''I--iya..'' Jawab Dimas gugup.
Dimas lalu kembali melajukannya dengan cepat dan di tengah perjalanan ia tak sengaja melihat ATV milik Tuannya lalu tiba-tiba menghentikanya.
''Sepertinya ini ATV milik Tuan Aditya, tapi mengapan berhenti disini..! Apa terjdi sesuatu dengan mereka, astaga bagaimana ini.'' Ucap Dimas dalam hati yang menatap ATV itu, ia yakin bahwa itu milik tuannya karena tidak ada lagi orang selain mereka yang menaiki ATV itu. Dimas takut terjadi hal buruk dengan tuannya.
''Kak Dimas, kenapa mendadak berhenti..!'' Heran Adiba lalu menatap sekeliling mecari keberadaan ular yang di maksud oleh Dimas.
''Apa jangan-jangan Kak Dimas bohongin Diba yahh.. ihhh...Kak Dimas jahat..jahat banget..tegaaa..udah bikin aku ketakutan setengah mati.'' Lanjut Adinda yang baru menyadari kelakukan Dimas, karena tak terima ia langsung memukul punggung Dimas bertubi-tubi membuat Dimas meringis.
Adiba sangat marah karena ia merasa di permainkan, dengan cemberut Diba menuruni ATV nya sambil menggerutu.
''Hey, Diba. Kamu mau pergi kemana..! Berhenti.'' Ujar Dimas yang tak di hiraukan oleh Adiba, Dimas lalu turun dan mengejar Adiba yang sedang berjalan.
''Heyy..tunggu.''
Mata mereka beradu jantung Dimas tiba-tiba berdebar kencang karena berhasil menatap wajah cantik milik Adiba dan Dimas berhasil menghentikan langkannya karena ia menahannya memegang tangan Adiba.
__ADS_1
''Kamu mau kemana, perjalanan pulang masih jauh.'' Tanya Dimas dalam gugupnya, Dimas berusaha tenang seolah tak merasa bersalah membuat Adiba semakin dibuat kesal.
''Daripada aku sama Kak Dimas lebih baik aku berjalan sendiri saja.'' Adiba lalu melepaskan tangan Dimas dan melangkah pergi.
''Apa kamu tidak takut nanti ular itu memangsamu..!''
''Terserahh..''
''Aku nggak akan percaya lagi..'' Tegas Adiba yang sebenarnya sedikit ada rasa takut namun karna kesal ia memberanikan diri untuk pergi sendiri meninggalkan Dimas yang mematung menatapnya.
''Yasudah pergi saja sendiri. Nanti kalo ada apa-apa, tanggung sendiri akibatnya..lagian kebun teh ini angker lohh.'' Jawab Dimas dengan nada mengejek.
''Apa..!! Angker. Duhh..gue kan penakut, lagian pake sok-soan kaya orang pemberani sih Dibaa, bagaimana ini..? Kalo gue balik lagi, nanti yang ada si manusia ular itu ngetawain gue, dan dia malah nyuruh gue buat pergi sendiri lagi, ishhh dasar nyebelin..bukannya nahan gue malah ngebiarin gue pergi.'' Gerutu Adiba yang berharap Dimas menghentikan langkahnya karena ia merasa takut dan gengsi untuk kembali kepadanya.
Dengan perasaan campur aduk ia tetap berjalan dengan berusaha tetap tenang seolah tak merasa takut.
''Satu..''
''Dua..''
''Tiga..''
''Empat..''
''Dan...Li-- --''
__ADS_1
''AAAAAAAAA....'' Teriak Adiba.
Di saat ia berjalan tiba-tiba seekor ular yang sedikit besar ingin melintas berpas-pasan dengannya dan ular itu langsung berhenti di hadapan Adiba membuat Adiba langsung mematung ketakutan dan menjadi teringat dengan kata-kata Dimas, ia pun langsung berlari sambil berteriak menghampiri Dimas.
Seakan sudah tahu, Dimas masih setia di tempatnya ia melihat Adiba berlari menghampirinya, Dimas lalu menyunggingkan senyumannya merasa puas dengan hitungannya.
''Sudah ku duga.''
Setelah berada di hadapan Dimas dengan raut wajah yang ketakutan, Adiba langsung memeluknya etar, Dimas merasakan tubuh Adinda yang bergetar dan tiba-tiba Adinda terkulai lemas dan pingsan di pelukan Dimas.
''Diba..?''
''Heyy..bangun..!'' Dengan panik Dimas menepuk-nepuk pipi Adiba berharap Adiba sadar dan membukakan matanya.
''Astaga kenapa bisa jadi seperti ini, apa yang harus saya lakukan..!'' Dimas mencoba berpikir bagaimana caranya menyadarkan Adiba.
''Ahhh yahhh...saya harus memberinya nafas buatan.'' Tiba-tiba ide itu muncul di kepala Dimas. Ia lalu mulai memposisikan dirinya dan Adiba.
''Tapi apakan cara ini benar, jika saya memberinya nafas buatan..itu artinya bibir saya dan dia..!'' Ucapnya menggantung. ''Ahhh sudahlah bodoamat lebih baik dia sadar.''
Dengan jantung yang berdebar, Dimas mulai memajukan bibirnya dan berhasil mendarat mulus di bibi Adiba ia merasakan bibir Adiba yang kenyal, lalu Dimas mulai memberinya nafas buatan dan tiba-tiba.
''Aaaaaaaa......!''
''Kak Dimas kenapa menciumku..? Tanya Adiba yang sudah kembali sadar.
__ADS_1
Mendengar itu Dimas menjadi kelabakan dan salah tingakah, ia bingung bagaimana menjelaskannya kepada Adiba yang sedang menggeru.