
Setelah berada di depan pintu Adinda langsung membukanya. Stefani yang masih bingung ia hanya mematung menatap sekelinging ruangan itu, Stefani merasa asing karena ia belum pernah menjelajahi tempat tersebut dan ia tidak mengetahui bahwa itu ruangan rahasian bos besarnya yakni Aditya.
''Tempat apa ini..?'' Tanya fani di sela keterpakunya menatap sekeliling yang nampak asing.
''Mari Fani ikut dengan saya.'' Baru melangkah mereka sudah di hadang oleh Dimas. Dimas sengaja memgajak Fani karena perintah sang tuannya itu.
Fani yang heran dengan tiba-tiba kedatangan sang menejernya ia menatap Adinda untuk meminta ijinnya. Adinda sangat paham dengan maksud dari Dimas, lantas ia langsung mengangguki tatapan Stefani.
Stefani mengekori Dimas dengan perasaan yang deg-degan karena baru pertamakalinya Stefani berada dekat dengan menejernya yang tampan itu.
.
.
''Hay sayang.. aku sudah tidak sabar ingin melahapmu habis hari ini.'' Senyum menyeringai menatap sang isteri dari kejauhan. Aditya sangat tidak sabar menunggu kedatangan isterinya itu.
''Masss.. aku sudah lapar nih, mana makanannya!'' Tanya Adinda yang sudah berada di hadapan suaminya sembari clingat clinguk mencari makana yang akan di santapnya.
''Aku..''
Mendengar itu Adinda mengernyitkan dahinya karena tak tahu dengan jawaban suaminya.
__ADS_1
''Aku santapanmu hari ini.'' Lanjut Aditya dengan senyum manisnya membuat Adinda paham dengan maksudnya.
Adinda membulatkan matanya ia berfikir bisa-bisanya suaminya ingin melakukan itu di tempatnya bekerja.
''Masss..! ini masih di tempat kerja loh..!''
''Biarkan.''
Tak ingin mendengan ucapan sang isteri lagi, Aditya berdiri mulai melancarkan aksinya. Mendapati itu Adinda mendesah karena ciuman hot suaminya akan selalu berhasil membuatnya bergairah.
Begitupun Aditya, ia memangku isterinya lalu mendudukannya di meja dengan tak henti menciuminya sehingga *******-******* manja itu keluar dari mulut Adinda. Mereka lalu berpindah ke tempat tidur karena Aditya dab juga Adinda tidak bisa menahannya lagi, lalu menuntaskan hasrat mereka di ruangan rahasia itu dengan penuh gairah.
..
Mendengar itu, Dimas langsung menghentikan langkahnya sehingga membuat seorang di belakangnya menabrak dirinya dengan sedikit keras.
''Ehhhh... maaf pak, saya tidak tahu kalo bapak tiba-tiba berhanti. Maafkan saya, saya tidak sengaja. Apa bapak baik-baik saja..!.'' Stefani menunduk tidak berani menatap Dimas karena dia sangat malu sekali.
''Saya tidak apa-apa, silahkan duduk.'' Ucap Dimas dengan nada dingin melihat Stefani yang menunduk lalu menatapnya. Saking pokusnya ke jalan, Stevani tak tahu akhirnya mereka sampai di suatu ruangan yang mana terdapat meja dan tersaji hidangan kecil yang mampu membuat perut terisi dengan penuh.
"Astaga. Mimpi apa gue semalam sehingga gue di hadapkan dengan pria tampan dan dia mempersilahkanku untuk duduk di hadapannya.. AAaaa.. ini nyata tidak yah"
__ADS_1
Pipi Stefani berubah memerah saking senangnya makan satu meja dengannya yang orang lain benlum tentu seberuntung dirinya. Dan ia sangat tidak menyangka hal itu bisa terjadi kepadanya.
''Baik.'' Tak butuh waktu lama Stefani langsung menyambar kursi lalu duduk dan mulai menatap makanan yang ada di hadapannya sesekaki ia melihat pria yang berada di hadapannya yang langsung menyantap makanannya lalu Stefani mengikutinya. Hal itu membuat Stefani merasa dibuat canggung karena bingung dan malu jika memulai pembicaraan.
"Astaga, jika bukan karena tuan Aditya, malas sekali aku melakukan adegan ini. Andai yang ada di hadapanku itu Adiba.."
Dimas langsung teringan dengan Adiba dan waktu-waktu bersamanya yang menurutnya sangat lucu. Dan ia nampak terlihat malas karena ia hanya ingin makan satu meja dengan adik ipar tuannya itu.
Tak terasa kini mereka telah menghabiskan makanan di piringnya masing-masing, setelah itu Dimas langsung berdiri ingin segeran pergi karena menurutnya tugas itu sudah selesai.
''Mmmm maaf, Pak. Bolehkan saya meminta nomor hanpone bapak..!''
''Untuk apa..?'' Tanya Dimas yang membuat Stefani bingung harus menjawab apa, itu saja ia memberanikan diri dengan tekad yang tinggi untuk bisa mendapatkan nomor ponselnya karena ia sangat mengagumi Dimas dan berharap bisa mendapatkannya.
''Tapi yasudahlan kalo anda mau nomor saya.'' Karena tak mendapati jawabannya Dimas langsung mengodok sakunya dan memberikan sesuatu kepada wanita itu.
Stefani nampak kegirangan ia merasa senang karena mendapatkan apa yang ia mau, lalu dengan senyum dan semangat ia meraih kartu itu.
''Terimakasih pak.. bolehkan saya menghubungi nomor ini..!''
''Boleh..'' Jawab dingin Dimas namun itu sangat membuat hati Stefani berbungan-bungan.
__ADS_1
Setela itu Dimas langsung pergi tanpa pamit meninggalkan Stefani yang masih terlihat senang dan gembira menatap kartu di tangannya.
Dan ternyata itu bukan nomor pribadi Dimas ia memberikan nomor kerjanya kepada Stefani, karena ia merasa itu privasinya dan tidak boleh sembarang orang memilikinya.