Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Abyan Merajuk


__ADS_3

Hahahaha ....


Yumna tertawa bersama Abyan tatkala keduanya duduk di depan televisi dan menonton film doraemon sembari saling menyuapi salad.


"Na!" panggil Abyan pelan dan menghentikkan tawa istrinya itu.


"Hem, kenapa Byan?"


"Bisa enggak keberangkatan hari ini ditunda besok atau lusa? Aku masih ingin sama kamu," rengek Abyan bertingkah seperti anak kecil yang sedang meminta mainan pada ibunya.


"Ehmm." Yumna terdiam seraya berpikir. Namun kemudian terpaksa menggelengkan kepalanya. "Maaf, Abyan. Tidak bisa. Sebab saya kerja. Dan kamu juga harus segera masuk kembali. Nanti pihak ma'had kamu marah dan mengeluarkanmu."


"Aku enggak peduli."


"Tapi saya peduli," balas Yumna, meletakkan mangkok yang masih berisi salad di tangannya ke atas meja. Lalu menatap suaminya yang terlihat manyun. Tangannya juga terulur membelai lembut pipi pria yang umurnya berada di bawahnya itu. "Saya mau kamu sukses, Abyan. Bukannya kamu ingin menjadi seorang suami yang baik dan bertanggung jawab? Jika kamu seperti ini, kamu akan kasih saya makan apa? Saya tidak mau ya menerima kamu apa adanya. Kamu harus bisa memberikan yang terbaik versi diri kamu."


Abyan terdiam mencerna ucapan istrinya. Bisa dibilang, Yumna orang yang jujur dan blak-blakan. Wanita itu sama sekali tidak ingin menutupi bagaimana dirinya. Bahkan terkesan ingin memperlihatkan semuanya.


"Ini bukan karena saya matre, ya?" ucapnya kemudian seraya terkekeh. Dan ikut membuat Abyan tertawa karenanya. "Saya hanya ingin hidup dengan nyaman bersama kamu dan anak-anak kita. Bukan menuntut kamu harus memberikan segalanya, tidak. Tapi saya ingin kamu terus berproses untuk kebahagiaan kita bersama."


"Jadi kamu ingin memiliki anak dengan aku?" tanya Abyan yang malah membuat Yumna berpaling karena terlalu malu.


"Bukannya setiap rumah tangga pasti menginginkan anak ya? Jadi tentu saja saya menginginkannya."


Mendengar hal itu, Abyan segera memeluk istrinya dengan mesra. "Lalu bagaimana dengan mantan kamu itu?"


"Kenapa dengan dia?" tanya Yumna tidak mengerti.


"Bukannya kamu mencintai dia?"


Yumna terdiam sejenak. Sampai kemudian memegang kedua pipi suaminya dan memintanya mendongak ke arahnya.


"Saya tidak tahu bagaimana perasaan saya saat ini. Tapi yang pasti, saya ingin kamu selalu berada di samping saya. Menemani dan mengarungi bahtera rumah tangga ini bersama-sama. Soal dia ... itu hanyalah masa lalu saya."


Wajah Abyan merona malu mendengar ucapan istrinya. "Kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini, Na?"


"Apa?"


"Aku merasa rela hidup seratus tahun lagi untuk mendengar ucapanmu," ujar Abyan, membuat Yumna terkekeh.


"Gombal!"


Kembali Abyan memeluk istrinya dan menenggelamkan wajahnya ke dada wanita itu. "Tapi aku masih takut."


"Kamu takut kenapa?" tanya Yumna seraya mengusap lembut kepala bagian belakang suaminya.


"Aku takut kamu akan menjadikan aku layaknya rest area. Hanya sebagai tempat kamu singgah untuk sementara."


Yumna terdiam tanpa kata. Ia memeluk Abyan dengan erat dan sesekali mengecup puncak kepala suaminya layaknya seorang ibu yang sedang mengasihi anaknya.


"Abyan ... saya mungkin tidak bisa berjanji untuk berada di sisi kamu selamanya. Karena kita tidak pernah tahu ke depannya seperti apa. Tapi in shaa Allah saya janji akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu selama kita masih bersama."


Kedua orang itu saling berpelukan cukup lama hingga akhirnya bergerak untuk bersiap pulang kembali ke Bandung.

__ADS_1


**


"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga," gumam Yumna tatkala mereka kini telah berada di Bandara.


"Iya. Sampai juga." Abyan menyahut lemas. Seperti belum ingin kembali ke kota ini.


"Kamu kena--"


"Yumna!!" panggil seorang pria dari kejauhan yang tidak lain ialah Yunus.


Terlihat pria itu sedang menunggunya dengan sebuket bunga di tangannya.


Melihat Yunus yang hendak berjalan ke arahnya, tanpa pikir panjang, Yumna menarik tangan Abyan untuk segera pergi menjauh dari sana. Dan bersembunyi di tempat yang tidak lagi terlihat oleh Yunus.


"Kenapa kita harus bersembunyi dari dia?" tanya Abyan tidak terima jika dirinya harus berkucing-kucingan dengan Yunus. Padahal ia bisa saja menonjok muka pria brengsek itu.


"Saya belum siap dia mengetahui kamu suami saya."


"Kamu malu punya suami berondong dan pengangguran seperti aku?" tebak Abyan asal.


Yumna menggeleng cepat. "Bukan itu maksud saya, Abyan. Tapi saya takut kamu kenapa-napa nanti. Dia--"


"Aku tidak takut!" sahut Abyan tanpa gentar.


"Tapi saya yang takut," balas Yumna dengan raut memelas. "Saya mohon, jangan sekarang ya?" pintanya sangat.


Abyan menghela napas panjang. Dan menganggukan kepalanya. Meski wajahnya tetap saja terlihat masam.


"Sekarang kita pergi dari sini lewat sana," ajak Yumna yang sebenarnya tidak enak melihat raut suaminya.


Di sisi lain, Yunus mondar-mandir kesana-kemari di Bandara mencari keberadaan Yumna.


Pria itu terlihat kesal karena Yumna malah menghindari dirinya. Belum lagi, tatkala Yumna beranjak pergi dengan seorang pria yang ia yakini umurnya berada di bawah mereka.


"Apa itu adiknya, Yumna?" gumam Yunus terhenti sejenak di tempatnya. "Bisa jadi. Yumna kan pernah bilang kalau dia punya adik laki-laki yang sedang kuliah saat ini."


"Tapi kenapa dia malah lari menghindar jika itu adiknya?"


"Padahal aku sudah berusaha datang ke sini untuk menjemputnya. Sial!" umpat Yunus kesal. Kemudian memilih untuk pulang kembali ke apartemennya.


**


"Assalamu'alaikum," ucap Yumna memberi salam setelah tiba di depan rumahnya.


"Wa'alaikumussalam." Terdengar suara Umi menyahut dari dalam.


Cklek~


"Eh, kalian sudah pulang?" sambut Umi memeluk anaknya. "Ayo masuk!"


Abyan melangkah mengikuti istrinya yang masih bersandar dalam pelukan Uminya seraya berjalan masuk.


"Abah mana, Umi?"

__ADS_1


"Lagi ngurus masalah warga di sekitar. Tadi malam ada masuk pencuri. Jadi Abah bertindak sebagai hakim deh untuk memutuskan perkara mereka," jelas Umi.


"Ooh." Yumna membeo sedang Umi melirik ke arah menantunya yang diam saja sejak tadi.


"Sebaiknya kalian istirahat dulu ya. Pasti capek kan di pesawat?"


"Iya, Umi."


Umi menatap kepergian anak dan menantunya. Lalu membuka ponsel untuk menghubungi besan memberitakan kepulangan anak-anak mereka.


**


"Abyan, kamu marah sama saya?" tanya Yumna menyadari diamnya Abyan sejak tadi.


Gelengan kepala Abyan berikan. Berjalan menuju lemari untuk menyimpan koper istrinya.


"Tapi kamu kok diam aja dari tadi?" Yumna mendekat dan memeluk Abyan dari belakang. Ia sudah berjanji akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi pria muda itu. Jadi Yumna tidak akan membiarkan Abyan seperti ini. "Kalau kamu marah soal tadi, saya minta maaf."


Merasakan pelukan dari istrinya, Abyan mengulum senyum. Tidak menyangka jika Yumna akan berusaha membujuknya hingga seperti ini. Tapi Abyan yang nakal tidak akan mudah luluh begitu saja.


"Kamu ingin aku maafin kamu?" tanya Abyan tanpa berpaling dan tetap menatap lurus ke arah lemari.


"Iya. Saya tidak suka kamu merajuk seperti ini."


"Aku akan maafin kamu, tapi dengan syarat."


"Apa itu?"


Abyan membalik tubuhnya dan menghadap Yumna. Sedang Yumna menunggu apa yang akan suaminya katakan. "Syaratnya, kamu tidak boleh bersentuhan dengan pria manapun di kantor. Tidak boleh bercengkrama dengan mereka lebih dari sekedar bisnis. Bisa kan?"


"Baiklah." Yumna menyahut pasrah.


"And one more thing."


"Masih ada lagi?"


"Kamu mau aku maafin, enggak?" tanya Abyan dengan nada sedikit mengancam.


"Mau-mau. Apa syaratnya lagi?"


"Aku mau kita selalu mandi bersama. Dan--"


"Katanya tinggal satu? Kok mau nambah lagi?" pangkas Yumna menerbitkan tawa di bibir Abyan. Membuat Yumna kesal sekaligus gemas.


Mulutnya yang manyun langsung mendapat serangan tak terduga dari pria yang sudah satu pekan berstatus menjadi suaminya itu.


"Aku ingin kamu memakai lingerie kalau di depan aku," bisik Abyan setelah puas mencium bibir istrinya.


"Ih Abyan! Enggak mau ah! Dasar mesum!" tolak Yumna seraya tertawa. Lalu berlari masuk secepatnya ke dalam kamar mandi dan diikuti oleh Abyan.


"Tunggu aku!"


"Enggak mau!"

__ADS_1


Brakk!!


Yumna menutup pintu kamar mandi dengan cepat namun Abyan masih bisa membukanya. Pria itu masuk dan langsung memeluk istrinya dengan erat.


__ADS_2