Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Saya Benci Kamu


__ADS_3

"Sebaiknya kalian nginap di hotel depan rumah sakit saja, ya. Jangan pulang malam-malam gini," saran bu Nurma yang ditanggapi anggukan kepala oleh Abyan dan Yumna.


"Pipip sama Mimim akan tidur di sini?"


"Iya, Sayang. Kami mau ikut menemani Om dan Tante kamu. Kan jarang-jarang juga kami berkumpul. Dan kebetulan momennya tepat di saat ini."


"Baiklah, Mim. Kami pergi dulu kalau gitu. Sampaikan salam kami pada Bang Adnan dan Mbak Alya."


"Insyaa Allah, Sayang. Kalian hati-hati ya."


"Iya. Assalamu’alaikum." Abyan dan Yumna menjabat tangan kedua orang tua mereka sebelum pergi.


"Wa'alaikumussalam."


Abyan dan Yumna melangkah pergi dari sana dengan bergandengan tangan.


Sebuah hotel yang cukup mewah berada di sekitar rumah sakit menjadi pilihan keduanya untuk menginap malam ini.


"Byan, kamu punya uang?" tanya Yumna berbisik tatkala suaminya sedang berdiri di depan meja kasir dan sedang proses cek-in.


Abyan melirik ke arah Yumna dan mengulum senyum. Ingin rasanya ia tertawa atas pertanyaan istrinya yang terkesan sangat manis menurutnya.


"Kok malah senyum sih?" Yumna mendadak kesal. "Kalau kamu tidak punya. Maka--" Ucapan Yumna terhenti tatkala melihat suaminya mengeluarkan kartu gold dari dalam dompetnya yang ia simpan di saku celana.


"Suite room super mewah," pinta Abyan pada petugas resepsionis yang menganga melihat pria biasa saja di depannya saat ini namun malah mengeluarkan kartu yang tidak terduga.


"Baik, Tuan Muda."


"Jangan panggil saya Tuan Muda, mbak. Saya orang biasa aja," protes Abyan tidak terima.


"Ah, iya maaf."


Mulut Yumna melongo menatap suaminya. Ia masih tidak percaya dengan ini. Sampai-sampai tidak mengatakan apapun dan tidak bertanya sama sekali pada Abyan tentang darimana pria muda itu mendapatkan kartu tersebut.


"Ini kunci kamarnya."


"Baik. Terima kasih." Abyan melirik ke arah istrinya yang masih diam tanpa suara. "Ayo, Na. Kita masuk kamar," bisiknya, membangkitkan bulu roma Yumna.


Yumna berjalan mengikuti suaminya yang melangkah lebih dulu sambil mengenggam tangannya. Matanya tidak henti-henti menatap Abyan penuh tanya.


"Kamu bisa tanya apapun nanti di dalam kamar, Na," ucap Abyan mengerti dengan apa yang istrinya inginkan.


"Baiklah." Untuk sementara Yumna menahan perasaannya untuk tidak langsung bertanya saat di tengah jalan seperti ini sampai keduanya masuk ke dalam kamar.


Cklek~


"Selamat datang di suite room mewah hasil dari kerja keras suamimu!" seru Abyan membanggakan diri depan istri. Bukan bermaksud riya. Ia hanya ingin bermain-main dengan istrinya.


"So ... Dari man--" Kembali ucapan Yumna terhenti tatkala Abyan memeluknya dari belakang.


"Aku pingin, Na."

__ADS_1


"Kan tadi siang udah, By."


"Itu kan siang, Na. Sekarang udah malam," ucap Abyan sembari perlahan membuka jilbab istrinya.


"Kamu nggak capek, Byan?"


Abyan hanya menggeleng. Bibirnya kini telah beralih pada leher putih istrinya yang sudah tidak tertutupi lagi.


"Byan, kamu enggak mau cerita dulu soal darimana kamu dapatkan uang itu?"


"Cerita di atas ranjang aja gimana?"


"Itu mah enggak akan beres, Byan. Tersendat-sendat nanti ceritanya."


"Ya sudah. Nanti selesai itu aja." Abyan membalikkan tubuh Yumna dan mencium bibir istrinya brutal.


Pada akhirnya, Yumna pasrah dan menyerahkan dirinya lagi pada sang suami.


**


"Cerita sekarang!" pinta Yumna tegas tepat setelah beberapa saat mereka beristirahat usai bercocok tanam. "Darimana kamu dapatkan semua uang itu?"


"Uang itu aku dapatkan dari usaha restoran aku selama ini."


"Are you serious?"


"Iya, Na. Aku serius. Dari sejak SMP aku mulai membangun usaha kecil-kecilan. Dan sekarang, aku sudah memiliki banyak cabang restoran. Tentu saja aku tidak mungkin melamar kamu tanpa memiliki penghasilan. Apa yang akan aku kasih makan ke istri aku kalau aku enggak kerja dan punya usaha," jelas Abyan panjang kali lebar. Sampai membuat Yumna tidak tahu lagi harus berkata apa.


Ternyata Tuhan begitu baik padanya. Mengirim lelaki sebaik Abyan untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Aku lebih baik kan dari mantan kamu itu?"


"Jauh banget. Langit dan bumi," kata Yumna menerbitkan gelak tawa di bibir Abyan.


Bahkan berulang kali Yumna mencium tiap inci wajah suaminya.


"Na, kalau kamu begini terus, bisa-bisa nanti ada yang bangun lagi lho," peringat Abyan meminta istrinya agar tidak memprovokasinya.


"Saya enggak peduli. Yang penting saya senang banget malam ini."


**


Di sisi lain, Yunus berjalan mondar-mandir di balkon apartemennya. Baru saja ia menyelesaikan beberapa ronde bersama wanita yang sedang tertidur di atas ranjangnya saat ini.


"Sial sial sial! Sampai kapan aku harus menunggu. Kenapa lama sekali prosesnya!" geram Yunus tidak tenang. Duduk, jalan, duduk lagi, begitu terus ia yang ia lakukan.


Bayangan tentang Yumna yang berbahagia dengan Abyan membuat dada Yunus sangat panas. Ia hanya sedikit tenang tatkala bercinta dengan wanita. Setelahnya, ia risau dan marah lagi.


"Yun, kamu enggak apa-apa?" tanya wanita cantik itu. Memeluk Yunus dari belakang dengan memakai kimono berwarna putih.


"Aku tidak baik-baik saja, Elsa." Yunus menarik pelan tangan wanita cantik bernama Elsa itu dan menepisnya.

__ADS_1


"Apa karena Yumna lagi?" tanyanya, namun tidak ditanggapi oleh Yunus. "Kenapa kamu selalu mikirin dia, Yun?! Padahal aku ada di sini!"


Yunus berbalik. Menghadapkan tubuhnya dan wajahnya pada Elsa, seraya berkata. "Karena dia jauh lebih baik daripada kamu. Dia tidak semudah kamu yang memberikan pada pria manapun tubuhmu."


Plak!


Wajah Yunus merah padam. Untuk pertama kalinya ia merasakan ditampar oleh seorang wanita.


"Jaga ya mulut kamu!" desis Elsa mengacungkan satu jarinya di depan muka Yunus. "Kamu pria pertama yang mengambil tubuh aku, Yunus!!" teriaknya murka.


"Oh iya, tapi siapa yang tahu setelahnya? Siapa yang bisa menjamin, jika kamu juga akan memberikan tubuh kamu secara gratis pada pria di luar sana?" hina Yunus tanpa sedikitpun memfliter ucapannya. Tidak sadar jika telah menyakiti hati wanita itu.


"Heh!" Elsa mendengus dan tersenyum miris. "Ternyata yang Ratih katakan benar. Kamu hanya pria bejat yang tidak pantas untuk dipertahankan!" cicitnya. Kembali masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan segera keluar dari apartemen Yunus.


**


"Byan!" panggil Yumna menggoyang-goyangkan tubuh Abyan yang kini terlelap dalam tubuhnya. "Byan, bangun!"


"Enggh, kenapa Na?" tanya Abyan seraya mengerang tanpa membuka mata.


"Aku kepanasan, Byan. Nyalakan AC-nya," keluh Yumna, menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Hah?" Abyan membuka matanya dan mengusapnya secara perlahan. "Tapi AC-nya udah nyala, Na. Bahkan ini dingin sekali."


"Tapi kok panas ya, By." Yumna mengipasi wajah dan tubuhnya dengan tangannya dan meniup-niupnya.


Melihat istrinya seperti itu, Abyan bangkit dari tidurnya dan memeriksa pendingin ruangan.


"Tidak mungkin juga kalau rusak. Buktinya aku merasakan dingin sekali malah," gumam Abyan tidak mengerti.


"Byan, panas!" sentak Yumna, kasar. Tidak bermaksud bersikap demikian. Namun ia sendiri pun tidak sadar dengan apa yang ia lakukan.


Segera Abyan membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah istrinya.


"Tapi ini sudah pull nyala AC-nya, Na. Bahkan aku kedinginan sekarang." Abyan mendekat pada istrinya dan menyentuh pipinya.


Plak!!


Dengan kasar Yumna menepis tangan Abyan. Membuat pria itu terkejut dan melongo kaget.


"Panas Byan!" Yumna mulai membuka perlahan pakaiannya seraya menangis.


"Na, tenang ya. Sekarang kamu berbaring. Aku akan bantu mengipasi tubuh kamu."


Yumna patuh mengikuti ucapan Abyan meski rasa panas semakin menjalar di tubuhnya.


"AC-ny beneran nyala atau gimana sih, Byan? Kok panas gini!"


"Na, perbanyak dzikir sekarang. Lawan rasa panasnya ya." Abyan duduk di samping Yumna seraya mengipasi tubuh sang istri menggunakan hijabnya.


Sementara mulut Abyan tidak berhenti membaca ayat-ayat kursi.

__ADS_1


Tidak lama setelahnya, tiba-tiba saja Yumna berteriak keras.


"ABYAN! SAYA BENCI KAMU!"


__ADS_2