Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Harus Berpisah


__ADS_3

Hampir semalaman Yumna dan Abyan tidak beranjak dari kamar. Mereka menghabiskan waktu dengan melakukan banyak hal dengan hanya berdua.


Bagaimana tidak, esok merupakan hari perpisahan mereka. Yumna akan mulai masuk bekerja. Sementara Abyan kembali ke ma'had untuk melanjutkan pendidikan.


"Jadi setelah di sana kamu akan susah dihubungi?" tanya Yumna dengan raut sedih seraya bersandar di dada bidang terbuka suaminya.


Abyan menganggukkan kepalanya. Sementara tangannya tidak berhenti membelai rambut wanita itu untuk memberikan ketenangan.


"Nana tenang aja. Apapun yang terjadi inshaa Allah aku akan berusaha mencari cara untuk bisa menghubungi kamu."


"Jangan ah. Nanti kamu malah akan melanggar. Saya tidak menyukainya," ujar Yumna yang kini mengelus dada Abyan penuh mesra. "Tapi nanti jangan lirik wanita manapun ya di sana. Saya tidak mau, hubungan yang baru kita bangun harus hancur karena hadirnya orang ketiga."


Mendengar itu, senyum Abyan merekah. "Tidak ada wanita di sana. Semuanya laki-laki. Tulen lagi."


Yumna tertawa akibat guyonan suaminya. Tapi meski begitu, hatinya tetap saja gelisah. Sampai akhirnya Abyan berbicara lagi.


"Kamu tenang aja. Tidak perlu khawatir. Karena sebenarnya di sini aku yang harus khawatir," tutur Abyan mengungkapkan keresahannya.


"Kamu khawatir kenapa?" tanya Yumna mengerutkan kening. Kedua alisnya saling bertautan seraya menatap lekat netra suaminya.


"Khawatir perasan kamu akan balik lagi untuk mantan kamu," rajuk Abyan memalingkan muka.


Yumna menelan saliva berat. Tangannya beralih terulur pada pipi pria itu. "Kamu jangan khawatir. Inshaa Allah saya tidak akan tergoda. Jadi kamu harus percaya. Bagi saya, menjalin kembali hubungan dengan mantan itu sama saja dengan membaca sebuah buku, endingnya selalu sama."


"Siapa bilang? Kalau bukunya beda, tentu endingnya juga beda dong."


"Kalau beda, itu berarti bukan sama mantan. Tapi sama gebetan baru. Dan gebetan baru saya yaitu kamu."


"Idih, kok istri aku pinter gini, ya?"


"Emangnya saya istri kamu?" balas Yumna seraya terkekeh sementara Abyan memanyunkan bibirnya.


"Udah ah, sekarang kita tidur. Sebelum adzan subuh. Nanti kamu susah dibangunin lagi."


Yumna mengangguk patuh. Ia tersenyum seraya menutup mata. Berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.


**


Usai shalat subuh, Abyan pamit kembali ke Ma'had. Ada rasa tidak rela dalam diri Yumna tatkala ditinggal pergi oleh sang suami yang baru saja sedang sayang-sayangnya.

__ADS_1


Akan tetapi, Yumna tidak ingin egois dan meminta Abyan agar tetap tinggal. Karena, itu semua untuk kebaikan mereka bersama.


Abyan pergi di antar oleh Zaid yang juga berencana kembali ke markasnya. Sedang Yumna masuk ke dalam kamar dan menangis.


Seumur-umur, Yumna tidak pernah menangis karena ditinggal oleh seseorang yang baru saja menjadi pendamping hidupnya. Dibandingkan dengan Yunus yang telah menjalin cinta lima tahun denganya, Yumna baru saja menangis saat pria itu memutuskan dirinya hanya karena alasan sebuah keperawanan.


"Rasanya jadi sepi," gumam Yumna menelisik ke sekeliling kamar. Ada rasa rindu di mana Abyan selalu menganggunya meski hanya dua malam mereka bersama di kamar itu. "Apa emang kamar ini selalu luas ya?"


Beberapa waktu kemudian, Yumna berhenti dalam dunia khayalnya. Ia memilih segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Pekerjaan menumpuk telah menunggu dirinya.


"Hah! Semoga hari ini enggak ketemu dia. Males banget!"


**


"Abyan, hubungan kamu sama adik saya baik-baik saja, kan?" tanya Zaid dengan tatapan horor. Seperti mangsa yang sedang ingin berburu.


Saat ini keduanya masih dalam perjalanan menuju ma'had tempat Abyan belajar. Mungkin hanya sekitar beberapa menit lagi mereka akan sampai.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja, Bang."


"Syukurlah. Saya kira dia masih cinta sama mantannya."


"Kamu tidak masalah dia pernah mencintai pria lain dan bahkan menjalin hubungan dengannya?"


"Saya bukan orang yang suka mendeskritkan masa lalu, apalagi tentang pasangan saya. Karena kami hidup di era dan situasi yang berbeda. Mungkin, bagi Yumna, menjalin hubungan di luar pernikahan ialah cara ia untuk mendeskripsikan perasaannya, meskipun caranya salah dari sisi agama kita. Tapi tetap saja, itu tidak bisa membenarkan kita untuk menjugde dia. Karena kita tidak pernah ada di posisinya waktu itu," jawab Abyan secara jelas. Membuat Zaid cukup kagum dengan cara berpikir pria itu.


"Kalau misalkan pasanganmu pernah melakukan hubungan di luar pernikahan, bagaimana?"


Tidak ada jawaban yang Abyan berikan. Pria itu terdiam sejenak. Seakan sedang memantapkan sesuatu.


"Sebagai laki-laki dan suami saya mungkin tidak bisa terima. Tapi sebagai pemimpin dalam rumah tangga, saya harus memiliki sikap memaafkan. Tatkala Allah memberikan saya pasangan yang seperti itu. Bukankah Allah ingin menegur sekaligus menguji saya? Sabar enggak saya hadapin yang kayak gitu." Abyan menyahut seraya terkekeh bersamaan dengan Zaid.


"Saya harap kamu tidak akan kecewa."


"In shaa Allah saya yakin tidak. Karena saya hanya berharap sama Allah, bukan pada makhluk."


Zaid mengangguk-angguk setuju. Pria itu bukanlah lulusan pesantren, tapi ia cukup paham dengan beberapa aturan dalam agamanya. Karena sang Abah dan Uminya yang selalu memberikan wejangan sejak dulu pada mereka.


**

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, selamat pagi!" sapa Yumna pada Ratih yang sedang berdiri menunggunya di samping meja resepsionis.


"Wa'alaikumussalam. Pagi. Selamat datang pengantin baru!" sambut Ratih antusias. Senang melihat wanita yang telah berstatus istri orang itu.


Keduanya berpelukan untuk melepas rindu. Sementara sang resepsionis wanita yang kaget mendengar ucapan Ratih segera bertanya.


"Pengantin baru? Siapa yang pengantin baru?" tanyanya pada kedua wanita yang baru saja melepas peluk itu.


"Manajer kita ini dong!"


"Apa? Bu Yumna udah nikah?" balas resepsionis itu dengan raut sedih menanggapi ucapan Ratih. Sementara Yumna hanya mengulum tawa melihat interaksi keduanya. "Kok enggak ngundang kita semua sih?"


"Maaf, tapi acaranya memang sederhana. Nanti saya traktir kalian semua," ujar Yumna memberikan alasan dengan raut tidak enak.


"Serius, Bu?!" serunya antusias dan ditanggapi anggukan oleh Yumna. "Alhamdulillah. Makan gratis hehehehe. Tapi kok, dari kemarin Pak Yunus saya lihat masuk kerja ya, Bu?" tanyanya bingung. "Bahkan beliau berulang kali menanyakan tentang ibu."


"Ah, saya nikah sama pria lain."


"Wow! Enggak nyangka banget!" pekiknya tidak percaya. Sedang Yumna lansung pamit bersama Ratih.


**


"Nah, kopi!" Ratih menyodorkan segelas kopi yang memang biasanya suka Yumna konsumsi setiap waktu.


"Duh, aku rindu banget sama ini kopi!" seru Yumna dengan wajah berbinar seraya meraih kopi pemberian sahabatnya. Dan segera meneguknya.


"Aih, emang udah berapa lama enggak minum kopi?"


"Selama nikah. Abyan melarangku minum kopi. Dia selalu menyuguhkan susu. Aku sampai mual kalau ingat itu."


"Hahahha." Ratih tertawa ngakak mendengarnya. Tidak bisa dibayangkan anak muda itu menyiapkan susu untuk Yumna. "Tapi bagus dong, ya?"


"Ya, bagus." Tanpa sadar Yumna senyum-senyum sendiri mengingat perlakuan suaminya. "Dia memang pria yang unik."


"Kayaknya kamu udah menyukainya tuh?"


Wajah Yumna merona malu karena tebakan dari Ratih. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Tapi ia akui bahwa Abyan memang telah mulai bertahta di hatinya.


Keduanya asyik mengobrol sembari menunggu jam kerja dimulai. Hingga suara Yunus terdengar menyapa Yumna dan seketika menghentikkan perbincangan mereka.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah masuk kerja ternyata."


__ADS_2