
Suasana mobil saat pulang tidaklah sama ketika masa pergi tadi. Kini kelihatan lebih suram dari sebelumnya. Terlebih, Abyan tidak mengatakan sepatah katapun. Seperti sibuk dengan dirinya sendiri. Hal tersebut membuat hati Yumna kian diliputi rasa bersalah.
"Abyan!" panggil Yumna tidak tahan dengan keheningan yang terjadi.
"Hem?" Abyan menjawab berupa gumaman. Melirik kecil ke arah Yumna namun tidak lama setelahnya kembali menatap lurus ke arah depan.
"Apa kamu marah sama saya?"
Dalam beberapa detik tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Abyan. Pria muda itu terdiam tanpa suara dan hanya helaan napas yang terdengar.
"Saya minta maaf jika telah membuat kamu marah," sesal Yumna dengan raut menyesal. "Saya tidak bermaksud menyakiti kamu," sambungnya menatap lekat ke arah Abyan yang kini menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus.
Di dalam hati Abyan tertawa ngakak melihat ekspresi menyesal Yumna karena dirinya. Wanita dewasa itu terlihat lucu dan menggemaskan sekali di saat ini.
Sayangnya, yang terlihat di mata Yumna hanyalah ekspresi masam pria itu. Membuat hatinya merasa semakin tidak baik-baik saja.
"Aby--"
"Kita bahas di hotel. Ini jalanan. Aku tidak suka jika membahas sesuatu akan ada lampu merahnya," sela Abyan tetap menatap lurus ke arah jalanan.
Haaa ....
Yumna menghela napas panjang. Sementara Abyan tetap melajukan kendaraannya dengan pelan. Pria muda itu memang sengaja memperlambat laju kendaraan mereka sampai di hotel. Tanpa sadar Yumna akhirnya ketiduran.
Di saat seperti itulah, Abyan tertawa lebar tanpa suara. Merasa senang karena telah menjahili istrinya yang meski berumur lebih darinya namun bertingkah seperti anak kecil.
**
Sesampainya di depan hotel, Abyan menyerahkan kembali kunci mobil pada pemiliknya sendiri. Sementara ia menggendong Yumna untuk masuk ke dalam tanpa ingin membangunkan wanita yang masih terlelap itu.
Di tengah jalan, Yumna terbangun dari tidurnya. Ia cukup terkejut sebab kini telah berada di dalam gendongan Abyan.
Tanpa sadar Yumna mengulum senyum. Suaminya begitu kekar tatkala menggendongnya seperti putri tidur. Bahkan tak bisa ia cegah perasaannya, tangannya mengalung erat di leher Abyan.
'Sudah bangun ternyata.' Abyan berbicara sendiri di dalam hatinya. Tertawa namun tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Cklek~
Dengan susah payah Abyan membuka pintu kamar hotel dengan Yumna berada dalam gendongannya.
Abyan melangkah ringan menuju ranjang dan menurunkan istrinya dengan hati-hati juga perlahan di atasnya. Membuka jilbab wanita itu agar tidak kegerahan. Sementara ia sendiri berlalu masuk menuju kamar mandi setelah beberapa saat menatap intens wajah istrinya yang sedang berpura-pura terlelap.
Beberapa saat kemudian, Abyan keluar setelah membersihkan tubuhnya. Dan ternyata, Yumna tengah duduk menunggunya di atas ranjang.
"Kamu belum tidur?" tanya Abyan dengan ekpresi dinginnya. Menimbulkan nyeri dan rasa tidak enak di hati Yumna yang biasanya melihat keceriaan pria itu.
"Apa kamu marah?"
"Soal?" Abyan bertanya balik. Kakinya melangkah menuju koper untuk berganti pakaian.
Dan gilanya, pria itu malah berganti pakaian di ruangan tersebut tanpa malu. Sedang Yumna tidak berani menegur sebab ia yakin jika Abyan sedang marah padanya saat ini.
"Tentang saya yang sudah jujur soal perasaan saya. Apakah kamu marah karena hal itu?"
Abyan belum memberikan jawaban. Namun malah membuka celana yang hanya tersisa seluar dalam. Yumna memekik tertahan karena kaget. Ingin berkomentar namun takut jika Abyan akan semakin marah.
Yumna bingung dengan apa yang terjadi padanya. Padahal, sebelum ini ia tidak mempermasalahkan jika pria muda itu murka sekalipun. Tapi entah kenapa, kali ini ia merasa sedikit takut.
"Aku tidak marah karena kejujuranmu," balas Abyan singkat, padat dan jelas.
"Oh iya? Tapi kenapa saya lihat kamu sedang marah saat ini pada saya?"
Abyan berbalik dan kini berjalan menuju ranjang setelah berganti pakaian secara sempurna. Yumna sedikit khawatir dengan apa yang akan Abyan lakukan padanya.
__ADS_1
Wajah dan tubuh Abyan kini menjorok ke arah Yumna. Menatap intens wanita dewasa yang terlihat sedikit ketakutan itu. "Apa aku tidak boleh marah saat istriku sendiri mengaku masih mencintai mantannya? Jika aku tidak marah atau cemburu. Itu sama saja aku seperti lelaki dayyuts," ujarnya tanpa memalingkan pandangannya. Bahkan menelan saliva tatkala tanpa sengaja ekor matanya melirik ke arah bagian atas milik istrinya yang tidak sengaja tertarik ke bawah.
Badan Abyan yang semakin mendekat membuat Yumna kian khawatir. Bahkan tanpa sadar jika tangannya telah berada di dada Abyan.
"Tapi saya hanya ingin berusaha jujur, Abyan. Bukankah kejujuran lebih baik daripada menyembunyikan semuanya dan akan menyakiti kita berdua nantinya?" balas Yumna mencoba untuk tetap hersikap tenang.
"Baiklah. Jika demikian ...." Abyan menjeda ucapannya dengan tubuh yang semakin mendekat membuat Yumna tambah takut. Sedang tangannya terulur ke arah samping untuk menarik bantal. "Maka tidak perlu lagi membahas apapun bukan? Jika kamu memang masih mencintainya, silakan saja pergi dengannya!" ujarnya kesal dan berhasil mengambil apa yang diraihnya sejak tadi dan berpindah menuju sofa.
Jantung Yumna berdegup kencang. Napasnya memburu dan matanya merah. Sementara Abyan telah beranjak dan berbaring di sofa membelakangi Yumna.
"Jadi kamu ingin menyerah semudah itu? Heh! Katanya akan menunggu. Buktinya memang tidak ada. Saya tidak salah jika kamu memang masih labil!" gerutu Yumna sedikit emosi. Sementara matanya mulai berkaca-kaca.
Bagaimana bisa Abyan semudah itu berpaling. Padahal baru kemarin dan hari ini juga ia berkata akan menunggu dirinya. Namun sekarang? Anak muda itu malah akan membiarkannya pergi begitu saja.
Abyan tersentak kaget mendengar ucapan Yumna. Padahal tadi ia hanya sedang berakting dan pura-pura marah. Namun sekarang, ia malah merasa menyesal ketika mendengar suara isakan istrinya.
"Semua laki-laki memang sama saja. Baik kamu ataupun dia tidak ada bedanya. Saya pikir, kamu akan berbeda dengan pria lain. Kalau tahu akan seperti ini sejak awal. Saya tidak akan menerima kamu dan pria manapun," lirih Yumna dalam isakannya.
Tidak menunggu lama, Abyan bangkit dari sofa dan berjalan cepat menuju ranjang. Kemudian tanpa aba-aba menarik Yumna dalam pelukannya.
"Maaf ... Maafkan aku ... Aku tidak bermaksud berkata demikian."
Semakin erat Abyan memeluk dan berusaha menenangkan Yumna dengan menepuk-nepuk punggung juga kepalanya. Wanita itu kian bertambah tangisannya.
"Cup cup cup." Abyan menenangkan Yumna seperti orang tua yang sedang membujuk anaknya.
Sungguh terbalik sebenarnya.
Cukup lama Yumna menangis dalam pelukan suaminya. Setelah puas, ia malu sendiri. Terlihat jelas wajahnya merona dan tidak berani menatap langsung pada Abyan.
'Ya Allah, kenapa aku malah menangis tidak jelas seperti ini? Memalukan sekali," batin Yumna meringis. Sedang Abyan tidak lepas dari menatap istrinya.
"Sebaiknya kamu mandi dulu. Setelah itu kita tidur," tutur Abyan lembut. Mengusap pelan kepala Yumna.
"Ehm." Yumna membalas hanya dengan gumaman. Ia terlalu malu saat ini dengan keadaan yang baru saja terjadi.
Setengah jam kemudian, Yumna baru saja selesai mandi. Ia baru sadar jika dirinya tidak membawa masuk pakaian ke dalam bersama dirinya.
"Aduh, gimana nih? Kok bisa lupa sih tadi!" cicit Yumna mondar-mandir di balik pintu yang masih setia tertutup bahkan telah sengaja ia kunci.
Abyan yang berada di luar tersenyum penuh makna. Ia melirik ke arah koper istrinya dan kamar mandi secara bergantian.
Kemudian bangkit dari ranjang dan melangkah menuju koper istrinya. Abyan membuka tempat penyimpanan pakaian Yumna itu dengan perlahan dan mengambil beberapa helai di dalamnya beserta handuk istrinya.
"Wow! Dia pakai yang berenda ternyata," ujarnya seraya terkekeh. Lalu berjalan mendekat ke arah kamar mandi. Dan mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Yumna! Kamu baik-baik saja kan di dalam? Kenapa lama sekali keluarnya?" tanya Abyan dengan sedikit mengeraskan suaranya sedang ia sendiri menahan tawa.
"Ah ehm uhm ... Itu ...." Yumna mendadak gagap dan bingung harus berkata apa.
Ini benar-benar sangat memalukan.
"Apa ada yang bisa aku bantu? Atau kamu kesusahan membuka bra?"
Astagfirullah ...
Berulang kali Yumna berucap istigfar dalam hati. Suami santrinya itu benar-benar mesum ternyata.
"Abyan, bisakah kamu tidak berkata vulgar seperti itu?"
"Kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Saya malu tahu!" keluhnya kesal.
"Ngapain harus malu? Kita kan suami istri yang sah di mata agama dan hukum. Benarkan?"
"Ya." Yumna menjawab singkat. Ia mulai menggigil sekarang.
"Jadi, apa yang harus aku bantu?"
"To-tolong ambilkan pa-pakaian saya," ucap Yumna terdengar lirih. Membuat Abyan yang di luar pintu khawatir.
"Na, kamu enggak apa-apa kan?"
"Enggak ... pa ... pa."
Brukkk!!
"Yumna!! Kamu kenapa?!" teriak Abyan khawatir dari luar. Mencoba membuka pintu namun sayangnya terkunci dari dalam.
Abyan berlari cepat mencari kunci cadangan. Dan untungnya ia menemukan benda tersebut di salah satu laci nakas.
Cklek~
"Yumna!" Abyan melangkah cepat dan memeluk tubuh Yumna yang masih mengunakan pakaian basah. Pasti sejak tadi istrinya itu sudah menggigil kedinginan.
Tanpa banyak bicara, Abyan membuka seluruh pakaian istrinya sehingga tidak tersisa sehelai benang pun, kemudian memakaikannya handuk.
Berulang kali Abyan menelan saliva melihat tubuh istrinya. Namun sekuat tenaga ia tahan karena kondisi Yumna.
"Sabar Byan, sabar. Tahan."
Abyan mengangkat tubuh Yumna yang telah tertutupi handuk dan membawanya menuju ranjang. Membantu istrinya mengenakan pakaian lengkap. Setelah itu menghubungi pihak hotel untuk menanyakan soal dokter.
Tidak lama setelahnya, Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Yumna.
"Bagaimana istri saya dokter? Apa dia baik-baik saja? Tadi dia cukup lama di kamar mandi dengan menggunakan pakaian basah. Apa ada yang salah dengan itu?"
"Alhamdulillah tidak terlalu mengkhawatirkan. Tapi dugaan sementara, istri anda mengidap hipotermia. Setelah ini saya akan memberikan resep apa saja yang harus anda berikan dan lakukan."
"Apa itu akan baik-baik saja dokter?"
"Inshaa Allah, tenang saja."
"Terima kasih, Dokter."
Setelah melakukan tugasnya dengan baik, dokter itu pun pamit. Sementara Abyan berjalan mendekat ke arah istrinya dan naik ke atas ranjang. Membuka selimut dan masuk ke dalamnya.
Abyan memeluk Yumna dengan begitu erat. Memberikan kehangatan pada wanita itu.
"Abyan ...." lirih Yumna terbangun dari pingsannya.
"Na, kamu baik-baik saja?" tanya Abyan dengan raut khawatir.
Yumna melirik ke arah dirinya dan pakaian yang sedang ia kenakan saat ini.
"Ini ...?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Aku yang ganti. Kamu tenang saja," jawab Abyan sok polos dan tanpa dosa.
Sementara Yumna malu setengah mati. Bagaimana bisa ia harus bersikap tenang sementara Abyan telah melihat seluruh inci tubuhnya?
"Beneran kamu yang ganti? Semuanya?"
"Iya. Semuanya. Pakaian dalam juga."
__ADS_1
"Akhhh!! Abyan mesum!!" teriak Yumna yang meski masih lemah, tapi tidak dapat menghalangi rasa malunya yang sudah sampai di ubun-ubun. Wanita itu berbalik dan membelakangi Abyan yang malah tertawa puas.
"Hahahaha. Enggak apa-apa. Kan sudah halal," ujarnya dan beralih memeluk Yumna dari belakang.