Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Menjadi Seperti Khadijah


__ADS_3

"Kamu sama Yumna kenapa, Byan?" bisik sang Mimim pada anak semata wayangnya itu yang kini hanya tengah berdua dengannya. Sedang yang lain teluh lebih dulu masuk ke dalam ruang rawat istri dari sepupu Abyan yang kini sudah sadarkan diri.


"Eh, kenapa Mim?" Byan bertanya balik dengan ekspresi sok polosnya.


"Nggak usah sok tampan! Kamu--"


"Emang Byan tampan kok, Mim," pangkas Byan, narsis. Menerbitkan delikan geli di wajah ibunya.


"Kamu tuh, ya! Pintar sekali mengalihkan pembicaraan. Sekarang katakan yang sejujurnya sama Mimim. Kamu apakan menantu Mimim sampai dia kayak gitu?"


"Memangnya istri Byan kenapa, Mim?" Abyan hendak bangkit dari duduknya, namun bu Nurma menarik anaknya agar kembali duduk.


"Jangan pergi dulu! Mimim belum selesai bicara!" tegas Bu Nurma, mulai terlihat vibes sang ibu tangguh yang siap menginterogasi anaknya demi membela sang menantu. "Mimim tidak suka ya jika kamu sampai menyakiti hati menantu Mimim. Laki-laki di keluarga kita tidak di ajarkan seperti itu. Paham kamu?!"


Abyan sampai kehilangan kata-kata sembari meneguk salivanya kasar. Sang Mimim benar-benar sedang memberikannya peringatan tegas.


"Byan tidak bermaksud menyakitinya kok, Mim. Byan cuma bercanda doang."


"Becandaan apaan kamu sampai buat menantu Mimim seperti itu?"


"Ehm." Abyan mengalihkan pandangan seraya menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Cuma becanda soal poligami."


"Apa?! Kamu tuh ya! Buk!" Bu Nurma memukul lengan Abyan hingga pria muda mengerang kesakitan.


"Aww! Mim, sakit!"


"Kamu pikir sakit mana hati istri kamu dibanding yang kamu rasain sekarang, hah?! Kamu sadar enggak sih, kalau ujian terberat seorang wanita itu ada pada poligami, sadar enggak?"


"Tapi Byan cuma becanda, Mim. Mau ngetes Yumna doang," sahut Abyan membela diri.


"Jangan jadikan syariat sebagai permainan, ngerti?!"


Seketika Abyan terdiam tanpa suara atas pernyataan sang ibu barusan. Padahal ia hanya ingin menggoda Yumna. Tapi sepertinya, Bu Nurma tidak menyukai candaanya.


"Sekarang kita masuk. Belajar yang banyak sama Adnan sana!"


"Iya, Mim." Abyan menyahut patuh. Bangkit berdiri mengikuti Bu Burma yang kini berjalan masuk ke dalam sana.


Sementara di dalam, Yumna tengah tertawa karena tingkah lucu sepupu Abyan yang rupanya begitu bucin pada istrinya. Bahkan sama sekali tidak membiarkan sang istri bergerak kecuali bernapas dan memikirkan dirinya.


"Jangan terlalu bucin gitu deh, Nan. Nanti Alya ilfeel sama kamu!" celetuk Tante Abyan memperingati anaknya.

__ADS_1


"Ulya enggak akan pernah ilfeel sama aku, Mah. Karena dia cinta mati sama suaminya, iya kan, Habibati?" goda sepupu Abyan yang menerbitkan senyum di wajah sang istri.


"Albi ... Anak kita mana? Aku mau bertemu mereka," tanyanya, beralih mencari bayi kembar yang baru saja ia lahirkan.


Mendengar itu, hati Yumna ikut terenyuh. Ia sedikit tahu ceritanya tadi sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut, jika ternyata salah satu bayi mereka meninggal dunia.


'Gimana ya perasaannya saat tahu jika satu anaknya telah lebih dulu Allah ambil?' batin Yumna. Tanpa sadar meneteskan air matanya.


"Kamu kenapa, Na?" bisik Abyan yang tiba-tiba muncul dari belakang istrinya dengan sang mertua yang menatap horor pada suaminya.


Yumna berbalik dan menarik Abyan untuk keluar dari sana. Ia tidak tega mendengarkan pembicaraan mereka yang ia sadari akan mengandung bawang.


"Kamu kenap--" Ucapan Abyan terhenti tatkala Yumna memeluk suaminya tatkala mereka telah ada di lorong sepi rumah sakit.


Terdengar suara isak tangis wanita itu. Membuat Abyan benar-benar kebingungan. Namun tetap membalas pelukan Yumna sekaligus menenangkannya.


"Byan!" panggil Yumna kemudian.


"Ya?"


"Kasihan mereka," lirih Yumna semakin terisak. "Saya nggak tega melihatnya saat di dalam tadi."


"Mbak Alya udah tahu?"


Seulas senyum manis terbit di bibir Abyan. Ternyata benar yang Farhan katakan. Istrinya ini benar-benar memiliki hati yang lembut dan rasa empati yang besar terhadap kondisi orang lain.


"Kamu tidak perlu sampai kayak gini. Mereka bukan tidak selemah yang kita kira, Na. Aku cukup tahu setangguh apa iman mereka."


"Tapi tetap saja mereka manusia, By. Mereka pasti sedih dan menangis karena harus kehilangan anak. Itu bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi bagi seorang ibu yang sudah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan anaknya."


Tidak ada jawaban yang Abyan berikan. Nyatanya apa yang Yumna katakan benar adanya. Mereka hanya manusia biasa yang bisa menangis dan bersedih karena kehilangan.


Tapi mau bagaimana lagi?


Hidup di dunia ini memang seperti itu.


Akan ada yang datang dan juga pergi.


Ada yang meninggalkan dan ditinggalkan.


Tidak ada yang abadi di dunia ini.

__ADS_1


Semuanya fana.


Kecuali Allah--Tuhan yang Maha Esa.


Cukup lama Yumna berada dalam pelukan suaminya. Rasa empatinya yang besar terhadap musibah yang menimpa istri dari sepupu suaminya, membuatnya lupa jika ia sedang perang dingin dengan Abyan akibat gurauan pria itu.


"Eh, kamu ngapain?" tanya Yumna baru sadar dan melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Kenapa kamu peluk-peluk saya?"


"Hah?" Abyan melongo atas pernyataan istrinya. Dalam hati ia berkata, 'Ini istri aku sudah sadar ya?'


Yumna hendak pergi dari sana namun Abyan menahan pergelangan tangannya hingga langkahnya terhenti.


"Aku minta maaf. Tadi tuh cuma becanda doang. Jangan terlalu serius."


"Kamu serius cuma becanda?" tanya Yumna masih menjaga imagenya untuk tidak jingkrak-jingkrak sekarang.


"Aku serius. Kamu tidak perlu khawatir. Keluargaku sejak dulu menganut sistem only love and only wife."


"Memangnya bisa jamin?"


"Yaaa, enggak tahu juga sih," sahut Abyan kembali menggoda.


"Abyan!" peringat Yumna. Hendak pergi dari sana namun Abyan menahannya lagi dan memeluknya erat.


"Hehehe. Becanda," sahut Abyan cepat. Tanpa sedikitpun melonggarkan pelukannya pada tubuh sang istri.


"Hidup di dunia ini jangan terlalu di bawa serius. Nanti kamu sendiri yang stres. Padahal, sesuatu yang kamu bayangkan, belum tentu terjadi. Yang terjadi ke depan, bisa jadi tidak akan seseram mimpi-mimpi kita. Jadi jangan khawatir," sambungnya berbisik. Menghentikan Yumna yang meronta hendak dilepaskan.


"Kita kembali ke dalam sekarang," ajak Abyan kemudian setelah beberapa saat keduanya dalam kondisi seperti itu.


"Iya." Yumna menyahut patuh. Tanpa sedikitpun ingin membantah lagi.


Bukankah ia ingin menjadi istri yang sholehah layaknya Khadijah radiyallahu 'anhu. Wanita yang bahkan tidak pernah dimadu oleh Rasulullah selama menjalin rumah tangga dengan beliau.


Yumna ingin tahu apa alasannya.


Karena jika ia tidak ingin Abyan menduakannya, maka ia harus mencontoh salah satu teladan wanita mulia itu.


Bukan terus memaksa Abyan untuk tetap tinggal hanya dengannya saja atau merajuk tidak jelas layaknya anak kecil yang tidak ingin berbagi.


"Byan, saya minta maaf," ucap Yumna tiba-tiba, tatkala keduanya kini berada tepat di depan ruang rawat.

__ADS_1


Abyan melirik ke arah istrinya seraya tersenyum. "Tidak apa-apa. Dimaafkan. Kita masuk sekarang," ajaknya yang ditanggapi anggukan kepala oleh Yumna.


__ADS_2