
Hosh hosh hosh.
Yunus berlari memasuki kantor seperti dikejar oleh setan. Ia mendekati Manja yang sedang sibuk merias diri menggunakan make-up dan lipstik.
"Manja!"
Tidak ada tanggapan dari Manja. Wanita itu hanya berlantun lagu sembari tanpa henti me-make up wajahnya.
"Manja!" sekali lagi Yunus memanggil dengan suara yang sedikit keras, dan seketika menarik atensi wanita itu.
"Eh! Eh, Pak Yunus. Kok anda bisa ada di sini? Lari-lari lagi kayak dikejar setan aja," ujar Manja kikuk seraya berdiri dari kursinya.
"Diam saja kamu!" balas Yunus ketus, membuat Manja mengerucutkan bibirnya kesal. "Mana Yumna? Dia udah masuk kerja, kan?"
"Bu Yumna?" Kening Manja berkerut dalam.
"Iya. Yumna mana? Cepetan jawab!"
"Dia belum masuk kerja." Ratih datang menyela, mendekat pada Yunus yang nampak acak-acakan. Di sekitarnya matanya telah menghitam. "Ngapain lagi kamu nyariin dia?"
"Ratih, tolong aku." Yunus hendak meraih tangan Ratih namun segera ditepis olehnya. "Tolong berikan aku alamat Yumna. Aku harus bertemu dengannya. Aku mohon."
Ratih dan Manja saling pandang dalam beberapa saat. Kemudian mengarahkan tatapan mereka pada Yunus.
"Aku tidak akan melakukannya. Karena aku enggak mau kamu menyakitinya lagi."
"Aku benar-benar memohon sama kamu. Aku harus minta maaf secara langsung padanya. Aku--"
Ucapan Yunus terhenti tatkala melihat sang Bos baru saja tiba di kantornya. Lalu berjalan mendekat ke arah ketiga orang itu. Namun hanya menyapa Yunus.
"Hem Yunus! Kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Ehm, Bos. Itu--"
"Bagaimana dengan proyek di Desa?"
"Sudah hampir selesai, Bos."
"Ya sudah. Selesaikan segera. Ini sudah sangat lama. Hampir empat bulan kamu menjalani proyek itu. Saya bisa rugi jika begini."
"Ma-maaf, Bos. Saya tidak bermaksud demikian. Tapi saya datang ke sini untuk menemui Yumna meski cuma sebentar saja."
"Yumna?" Sang Bos menautkan kedua alisnya, lalu menatap Ratih. "Bukannya Yumna sudah pergi honeymoon di luar negeri tiga hari yang lalu ya, Rat?"
"Benar, Bos."
"Apa?! Honeymoon?"
Yunus mengangakan mulutnya. Tidak tahu lagi harus berkata apa sekarang. Ia mengusap wajah dan rambutnya kasar. Lalu segera pamit dari sana.
"Jangan lupa selesaikan segera Yunus! Saya akan turun lapangan besok dengan Ratih!" seru sang Bos saat Yunus hendak melangkah keluar dari kantor.
__ADS_1
"B-baik, Bos."
Langkah Yunus cepat menuju mobilnya. Ia lari ketakutan masuk ke dalam sana dan mulai melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
**
Dubai, Uni Emirat Arab.
"Maa syaa Allah, indah sekali, By."
"Iya. Luar biasa."
Abyan dan Yumna berdiri di dalam sebuah bangunan yang luar biasa yang ada di Dubai.
Namanya Museum of the future.
Bangunan tersebut berbentuk seperti mata jika melihatnya dari luar. Dan terbuat dari 1.024 panel persis mewakili 1.024 byte dalam 1 kilobyte. Dan setiap panel ditutupi dengan kutipan Arab.
Sementara bagian dalamnya, terisi dengan hal-hal menakjubkan yang belum pernah ada di dunia.
Dan detik ini, Abyan dan Yumna tengah berada di dalam lift. Yang bahkan dirancang persis seperti berada di luar angkasa.
Kedua suami istri itu tiada henti-hentinya memuji Allah dan mengagumi ciptaan yang indah itu.
"Byan, ini kok kamu bisa berpikiran bawa aku ke sini?" tanya Yumna dengan tangannya sama sekali tidak terlepas dari genggaman Abyan.
"Karena aku ingin membawamu ke tempat indah dan penuh ilmu pengetahuan. Kamu kan bekerja di perusahaan infrastuktur. Jadi aku ingin memperlihatkan kamu bangunan ini, berharap kamu memiliki banyak inspirasi nanti saat kembali bekerja."
"Aku mencintaimu, By."
"Ya, aku juga. Pulang dari sini, kamu harus memberikanku hadiah," bisik Abyan seraya mengedipkan matanya menggoda. Dan Yumna tertawa ringan karenanya.
Lift yang membawa mereka terus naik hingga ke beberapa lantai.
Di lantai lima, terdapat desain luar angkasa yang menunjukkan tata surya. Abyan dan Yumna bergandengan tangan seraya menatap dengan takjub.
Mereka benar-benar seperti sedang berada di luar angkasa layaknya dalam film-film yang pernah mereka tonton.
"Byan." Yumna sampai tidak bisa berkata-kata saking takjubnya.
"Iya, Sayang."
Wajah Yumna memerah malu. Namun itu sama sekali tidak menghalangi dirinya untuk menikmati sajian terbuka dan indah di sekelilingnya saat ini.
Setelah puas mengamati lantai lima. Mereka pun turun di lantai empat yang pemandangannya lebih menakjubkan lagi dan membuat mulut menganga lebar.
Bagaimana tidak, di lantai tersebut Abyan dan Yumna menyaksikan ada penumpukan yang sebenarnya dari hutan hujan. Hutan tersebut sangat hijau dan benar-benar persis dengan kenyataannya. Di dalamnya terdapat 2.400 spesies makhluk hidup.
Abyan dan Yumna menghela napas panjang seraya geleng-geleng kepala saat mata mereka menemukan tempat tersebut. Bahkan kata luar biasa sama sekali tidak bisa mewakili betapa indahnya.
Bukan hanya itu, Abyan dan Yumna juga berkeliling di lantai-lantai lainnya yang tentunya tidak kalah menakjubkan.
__ADS_1
Hingga setelah puas menikmati itu, mereka memutuskan pulang untuk beristirahat.
Tidak lama setelahnya, keduanya tiba di hotel yang selama dua hari ini telah mereka tempati.
Hal pertama yang mereka lakukan saat tiba di hotel yaitu berendam berdua di jazucci mewah sembari melakukan hal lain yang tentunya beberapa orang pasti sudah tahu.
Abyan yang sudah cukup lama tidak menjamah istrinya itu memuaskan diri di honeymoon kali ini. Dan setiap waktu, sama sekali tidak ia lewatkan sedikitpun.
Sehingga setelah puas di dalam sana, keduanya melanjutkannya di atas ranjang dan tempat-tempat lainnya tanpa seorang pun yang akan mengganggu.
**
Bandung, Indonesia.
Hoeek hoeek hooeeek.
Gadis cantik yang merupakan anak dari kepala desa itu sejak pagi terus mengalami mual dan muntah-muntan di dalam kamar mandi kamarnya.
Saat dipanggil oleh ibunya untuk sarapan bersama, ia sama sekali tidak menyahut. Bahkan mengunci diri di dalam sana.
'Ya Allah, aku kenapa?' batinnya khawatir dan ketakutan.
Ia keluar dari kamar mandi setelah merasa jika dirinya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dan suara panggilan sang ibu kembali terdengar dari ruang makan.
"Ayu!" panggil sang ibu sedikit berteriak.
"Iya, Mak?" sahutnya dengan napas putus-putus akibat rasa tidak nyaman di perutnya.
"Ayo keluar makan. Bapakmu sedang menunggumu ini."
"Iya, Bu."
Dengan sangat terpaksa, wanita yang dulunya sangat polos itu keluar dari kamarnya dalam keadaan wajah yang pucat dan terengah-engah, mirip dengan orang yang sedang hamil.
"Wajah kamu kenapa, Nduk? Kok pucat?" tanya sang Bapak, mendadak aneh dan sedikit khawatir.
"Ah, a-aku ... cuma kecapean aja kok, Bapak."
"Sebaiknya kamu istirahat setelah ini."
"I-iya, Bapak."
Kegiatan sarapan mereka berlangsung tenang. Meski wanita bernama Ayu itu sama sekali tidak memasukkan makanan ke dalam mulutnya karena merasa tidak enak.
Hingga tatkala sang bapak hendak bangkit dari duduknya, Ayu pun seketika kembali mual dan berlari cepat menuju wastafel yang ada di dekat dapur.
Hooeeek hoeeek.
Sang bapak dan ibu saling pandang dengan pikiran tertuju pada satu tempat.
"Ayu, apa kamu masuk angin atau hamil?!"
__ADS_1