Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Kenyataan yang Mengejutkan


__ADS_3

"Hah?" Abyan melongo kaget. Matanya terbelalak atas ungkapan istrinya. "Na, kamu--"


"Astagfirullah. Apa yang aku lakukan?" Yumna menggumam tidak mengerti dengan dirinya. Ia merasa baru saja tidak dapat mengendalikan dirinya akibat rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.


"Byan ... saya minta maaf. Saya tidak bermaksud berkata begitu," ucap Yumna dengan wajah memelas. "Saya juga enggak tahu kenapa, Byan."


Yumna menangis karena merasa bersalah. Bahkan terisak sesenggukan. Dadanya juga terasa membara. Seakan sedang berada di musim panas.


"Enggak apa-apa, Na. Sekarang kamu gimana? Masih merasa panas?" tanya Abyan, memeluk istrinya yang tidak lagi menepisnya.


"Masih, tapi sedikit mendingan dari tadi."


"Syukurlah. Sekarang kita tidur ya?" ajak Abyan. Mulai membaringkan tubuhnya bersama Yumna.


"Iya." Dengan patuh Yumna mengikuti perkataan suaminya. Dan kini mulai kembali terlelap dalam pelukan Abyan.


Sementara Abyan sendiri masih membuka mata. Pikirannya melayang-layang atas kejadian yang baru saja terjadi.


Sungguh, Abyan tidak menyangka akan mendapat umpatan kebencian dari sang istri. Padahal mereka baru saja menyelesaikan beberapa ronde dalam bercinta.


'Sebenarnya apa yang terjadi pada Yumna?' batin Abyan seraya menatap wajah istrinya dan membelai lembut kepalanya.


Berulang kali Abyan mengecup kening Yumna sambil membaca ayat-ayat Allah. Berharap agar Yumna merasa tenang dan nyaman. Sampai akhirnya ia sendiri yang ketiduran.


Adzan subuh terdengar berkumandang di dalam alarm ponsel Yumna. Wanita cantik itu terbangun dalam pelukan suaminya.


Tangannya terulur membelai lembut pipi Abyan. Ingatan akan kejadian semalam terekam jelas dalam memori otaknya.


'Kenapa aku tiba-tiba bisa berkata begitu, ya?' batin Yumna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Ia bangkit dari tidurnya kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dan beberapa saat setelahnya ia keluar dan mendapati Abyan juga sudah terbangun.


"Kenapa enggak bangunin aku dan mandi sama-sama, Na?" goda Abyan mendekat pada Yumna yang masih berdiri membeku di depan kamar mandi.


"Sebaiknya mandi sendiri-sendiri. Soalnya kamu aneh kalau mandi bersama," balas Yumna malu-malu. Bahkan tidak berani menatap ke arah Abyan.


"Apa yang harus membuatmu malu, Na? Seluruh inci tubuhmu telah aku lihat dan ras--awww!" Abyan memekik kesakitan di akhir kalimat sebab Yumna mencubit kuat pinggangnya. "Sakit, Na!"


"Rasain! Siapa suruh nakal. Sekarang mandi sana. Adzan subuh bentar lagi selesai."


"Hiks. Iya-iya. Tersiksanya hidupku. Pagi-pagi udah kena kdrt dari istri," kata Abyan seraya berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Yumna menganga dan geleng-geleng kepala menatap punggung suaminya.


"Sebaiknya kita pergi pamit sekali lagi sama Mimim dan Pipip sebelum pergi. Menurut kamu gimana, Na?" tanya Abyan setelah mereka usai bersiap-siap untuk cek out dari hotel.


"Iya, boleh juga tuh. Kan enggak enak kalau kita pulang gitu aja."


"He'em. Sekaligus aku mau lihat anaknya bang Adnan. Siapa tahu nanti nular ke aku."

__ADS_1


"Aamiin."


"Jadi kamu tidak masalah kalau kita cepat-cepat punya anak, Na?"


"Tidak masalah. Lagipula saya juga udah berumur gini kan?"


"Berumur apanya? Istriku masih cantik dan kencang gini kok," goda Abyan yang kembali mendapat cubitan kuat di lengannya oleh Yumna.


"Nakal!"


"Hahah. Enggak apa-apa dong kalau nakal sama istri sendiri."


Yumna tersenyum setengah hati. Pasalnya, ia masih merasa menyesal dengan apa yang ia lakukan semalam terhadap Abyan.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang."


"Iya, ayok."


**


Di sisi lain pada waktu yang tidak bersamaan atau lebih sedikit. Beberapa karyawan di kantor telah berkumpul untuk memulai melanjutkan rapat yang kemarin.


"Bu Ratih, apa benar bu Yumna tidak datang untuk memimpin rapat kita pagi ini?"


"Iya, benar. Beliau sudah memandatkan kepada saya untuk memimpin jalannya rapat ini."


"Ada anggota dari keluarga suaminya yang masuk rumah sakit."


"Oh, semoga dimudahkan."


"Aamiin. Sekarang kita mulai saja rapatnya," ujar Ratih mengalihkan topik tentang Yumna. "Oh iya, kemana pak Yunus?" tanyanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Tadi pak Yunus izin sebentar ke toilet, Bu. Wajahnya terlihat memar seperti terkena tamparan."


Mendengar itu, Ratih jadi teringat kejadian semalam. Cukup larut Elsa pulang ke rumah dengan menangis dan menenteng tasnya.


Jelas saja jika kedua pasangan yang bisa dibilang salah satunya merugikan itu sedang bertengkar hebat. Dan biasanya itu terjadi pasti karena Yunus yang menghina Elsa dan membanding-bandingkannya dengan Yumna.


Dan semuanya terlihat jelas tatkala Yunus masuk ke dalam ruangan rapat. Pria itu bahkan tidak berani menatap ke arah Ratih yang saat ini menyorotnya tajam.


"Baiklah. Sekarang kita mulai rapatnya," ujar Ratih membuka topik yang lebih penting.


Beberapa saat kemudian, kegiatan rapat pun berakhir. Satu persatu karyawan keluar dari sana. Hanya Yunus yang masih setia duduk seakan sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Ratih.


"Bagaimana kabar, Elsa?" tanya Yunus dengan raut merasa bersalah.


Kening Ratih mengerut dalam. Terkadang ia tidak mengerti mana sikap asli Yunus yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menanyakan dia lagi? Masih belum puas kamu menghina sepupuku?! Eh Yunus, kalau kamu emang serius sama dia. Jangan sakiti dia lagi! Dan stop banding-bandingin dia dengan Yumna!"


Yunus menundukkan kepalanya. Seakan-akan sedang merasa sangat berdosa.


"Aku minta maaf. Kamu kan tahu sendiri juga, aku dan Yumna sudah lama. Dan ketika ada orang baru muncul dalam hidup aku, tentu saja aku kesusahan beradaptasi dengannya."


"Lalu kenapa kamu harus mengambil tubuhnya jika kamu saja masih belum move on, Yunus?!" sentak Ratih, kesal. Ingin rasanya ia mencakar wajah Yunus dan membakarnya di perapian kompor gas.


Sekali lagi Yunus menunduk dengan ekspresi wajah terluka dan merasa berdosa. "Aku minta maaf. Tolong minta Elsa mengangkat telponku."


"Dasar gila!" umpag Ratih, bangkit dari duduknya. Malas menghadapi tingkah Yunus yang kelewatan.


Sungguh, Ratih berada dalam dilema. Ia merasa bersalah pada Yumna sekaligus pada Elsa.


Kedua orang yang ia sayangi, harus terjebak dalam pria gila seperti Yunus.


Sementara di dalam ruangan, Yunus menyeringai puas. Ia sengaja bersikap lemah pada Ratih agar ke depannya tidak mempermasalahkan lagi hubungannya dengan Elsa. Juga tidak akan menghalanginya agar baik pada Yumna.


"Sekali berdayung, dua tiga pulau terlampaui," gumam Yunus tersenyum smirk. Bangkit dari duduknya seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Sekarang, aku akan menghubungi Yumna."


**


"Siapa yang telpon?" tanya Abyan saat keduanya kini sedang di jalan pulang ke Bandung.


"Ehm. Ini ...." Yumna sedikit ragu menyampaikanya pada Abyan. Takut jika sang suami cemburu.


"Kok enggak jawab?" Abyan bertanya lagi. Matanya fokus ke arah jalan.


"Dari Yunus."


"Mantan kamu itu?"


"Iya."


Mendadak Abyan menghentikan mobilnya di pinggir jalan mendengar itu. Ia melirik menatap Yumna dengan tatapan meminta penjelasan.


"Saya memiliki projek yang sama dengan dia. Mungkin ini sebabnya, dia menelpon saya," jelas Yumna cepat. Tidak enak hati pada suaminya. Bahkan kini mengenggam jemari Abyan agar tidak marah.


"Angkatlah. Aku ingin dengar. Kasih nyala volume speakernya. Aku mau dengar dia ngomong apa."


"Baiklah." Perlahan-lahan Yumna menggeser ikon berwaran hijau. Kemudian membesarkan volume speaker.


"Halo!" sapa Yumna ragu-ragu. Melirik ke arah Abyan yang sama sekali tidak berhenti menatapnya saat ini.


"Halo, Na. Kamu dimana? Aku ingin memberikanmu coklat lagi."

__ADS_1


Mata Abyan membulat sempurna tatkala mendengar kenyataan itu. Rupanya, coklat yang istrinya makan dan merupakan coklat kesukaannya itu berasal dari sang mantan?


__ADS_2