
Langkah Abyan perlahan menuju ruang rawat dimana Yumna baru saja dipindahkan. Ia menatap sendu ke arah sang istri dan duduk di kursi samping brangkar.
Abah dan Umi juga ikut masuk ke dalam sana. Berdiri sebentar menatap Yumna yang masih belum sadarkan diri. Lalu memilih duduk di sofa untuk menunggu.
"Na ... Maafkan aku." Abyan meraih tangan istrinya dan mengecupnya berulang kali. Rasanya sedikit berat tatkala mengetahui berita yang baru saja sang dokter katakan.
Mereka kehilangan anak yang bahkan tidak mereka sadari kehadirannya.
Malam kian larut, Abah dan Umi tanpa sadar terlelap begitu saja di sofa. Sementara Abyan masih terjaga seraya membaca Qur'an yang ada di ponsel.
Suara merdu Abyan masuk merelungi hati Yumna yang masih belum sadarkan diri. Sampai beberapa saat, wanita itu membuka matanya perlahan.
"By ...," panggilnya, menarik atensi Abyan untuk menatap ke arahnya.
"Na, kamu sudah bangun." Abyan menghentikan bacaan Qur'annya dan mendekat pada Yumna.
Pria itu setengah berdiri, wajahnya condong ke arah Yumna yang terlihat masih pucat dan tidak sanggup bersuara.
"Kita lagi di mana, Byan?" tanya Yumna, suaranya terdengar begitu lemah. Ia merasakan ada sesuatu di bagian bawah tubuhnya.
"Kita sedang berada di rumah sakit, Na."
"Apa yang terjadi?"
Abyan tidak sanggup membuka suara, menyampaikan kenyataan bahwa mereka harus kehilangan janin yang usianya baru dua pekan berada di dalam Yumna.
"Ada apa, Byan?"
"Tadi kamu tidak sadarkan diri. Dan ...."
"Dan apa?" sela Yumna cepat, tidak sabaran.
"Kamu keguguran."
Mendengar itu, mulut Yumna seketika terkunci. Ia langsung memalingkan wajah dari Abyan. Tidak sanggup menatap sang suami.
"Na, maafkan aku."
Tidak ada jawaban yang Yumna berikan. Hatinya sedih sekali mendengar berita tersebut. Ia bahkan tidak tahu jika dirinya hamil, tapi malah mendapat kabar jika janin yang dikandungnya harus mengalami keguguran.
Air mata Yumna mengalir begitu saja di tengah keterdiamannya. Abyan yang melihat itu langsung berusaha menyekanya, tapi Yumna menepisnya pelan.
"Na, jangan terlalu bersedih ya. Allah tahu yang terbaik untuk kita."
Bukannya berhenti menangis, Yumna semakin terisak. Namun tetap memalingkan wajahnya dari Abyan.
"Insyaa Allah, Dia pasti akan menggantikannya dengan yang lebih baik."
"Allah pasti hanya sedang ingin menguji kita saat ini."
__ADS_1
Tangan Abyan terulur menggenggam jemari istrinya. Mengecup punggung tangannya berulang kali. Kemudian kembali mengambil duduk di kursi.
"Pasti kamu sedih ya, Byan? Maafkan saya, karena saya tidak tahu tentang keberadaannya dan malah membuatnya seperti itu."
Abyan tidak memberikan jawaban. Ia memilih terus-menerus mengecup tangan istrinya yang sedang di genggamnya saat ini.
"Kamu mau minum sesuatu enggak? Tinggal katakan saja, aku akan keluar membelinya."
"Memangnya ada di tengah malah seperti ini?"
"Aku usahakan cari sampai dapat."
Yumna tersenyum namun menggelengkan kepalanya. Seraya berkata, "Saya mau air putih saja."
"Aku kira kamu mau ai love you."
Ingin rasanya Yumna tergelak mendengar gurauan suaminya. Tapi perutnya masih terasa sakit untuk terguncang lebih akibat tawa.
"Jangan melucu deh, By. Perut saya sakit ketawanya," keluh Yumna meringis namun wajahnya tetap tersenyum.
"Iya maaf-maaf." Abyan berucap penuh penyesalan. Lalu meraih air yang ada di atas meja samping brangkar dan memberikannya pada Yumna. "Ayo minum dulu. Bismillah."
Sedikit Yumna bergerak maju, setengah duduk. Meminum air yang suaminya berikan dengan mengucapkan basmalah.
"Sudah cukup, By."
"Enggak mau lagi?"
"Yakin?"
"Iyaaa Byan."
Abyan terkekeh mendengar seruan manja istrinya. Meletakkan segelas air yang tersisa setengah itu di atas meja. Sementara ia kembali duduk di tempatnya. Tanpa sedikitpun melepas genggaman tangan Yumna.
"Sekarang tidur ya?"
"Kamu juga, By. Ayo tidur sini." Yumna menepuk space yang ada di sampingnya. Wanita itu tidak tahu jika ada Umi dan Abah di sofa yang tengah tertidur.
"Enggak masalah ini aku tidur di sini? Nanti kalau aku pegang aneh-aneh gimana?"
"Emangnya berani? Istrinya lagi sakit coba," sahut Yumna lemah lembut. Senyumnya menghiasi wajah ayunya.
Abyan terkekeh karenanya. "Enggak berani deh, Na. Takutnya nanti kamu murka."
"Emangnya saya pernah murka?" tanya Yumna, tidak sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga bahkan menyebabkan dirinya sampai kehilangan janin yang ada dikandungannya.
Sejenak Abyan terdiam. Ia tidak menyangka jika Yumna akan melupakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu beneran nggak ingat, Na?"
__ADS_1
"Apa, By?"
Abyan cukup terkejut dengan kenyataan ini.
Apa jangan-jangan ...
Ah, mana mungkin?
"Tidak apa-apa, Na. Ayo kita tidur saja."
"Iya. Tapi kamu sambil ngaji ya. Saya suka dengar suara kamu. Bisa ngilangin mimpi buruk juga," pinta Yumna yang ditanggapi anggukan setuju dari Abyan.
**
Takk!!
Suara saklar ruangan rawat terdengar. Di tambah dengan blitz kamera menyala menyorot pada Abyan dan Yumna yang sedang terlelap saling berpelukan.
Posisi kepala Abyan tepat ada di depan dada istrinya. Sementara tangan Yumna berada di pucuk kepala pria itu.
"Cieee, romantis banget sih!" goda Zaid yang entah sejak kapan ada di sana. Abah dan Umi tertawa melihat keduanya.
"Eh, Bang Zaid. Kok di sini?"
"Aku dapat kabar dari Abah Yumna masuk RS semalam. Maaf, aku baru sampai sebelum subuh barusan."
"Sudah adzan?" tanya Abyan, seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Barusan selesai adzan." Abah yang menjawab. "Kita berangkat ke mushalla rumah sakit."
Abyan mengangguk dengan kepala masih sedikit linglung. Begitupun dengan Yumna, sampai tidak sadar bahwa tadi Zaid memotretnya sedang tidur dalam posisi mesra bersama sang suami.
"Eh, iya. Kamu juga shalat ya, Na. Sini aku bantuin pergi ambil wudhu." Abyan hendak mengangkat tubuh Yumna untuk dibawa ke kamar mandi. Namun Yumna menahannya sejenak.
"Tunggu, By. Bukannya kamu bilang saya kegugurannya? Emangnya boleh shalat dalam keadaan seperti ini?" tanya Yumna, tidak mengerti.
Abah dan Umi saling pandang, begitupun juga dengan Zaid. Mereka tidak terlalu paham dengan keadaan seperti itu.
"Bisa, Na." Abyan memberikan jawaban seraya kembali duduk di bibir brangkar. "Para ulama berbeda pendapat tentang ini. Dan ulama sepakat, bahwa keguguran pada fase pertama, dimana nutfah masih bercampur dengan mani, maka status darah keguguran tidak dihukumi sebagai darah nifas. Melainkan darah istihadha."
"Sehingga, hukum wanita yang mengalami keadaan ini berlaku sama dengan wanita suci istihadhah yang sedang mengalami istihadhah, artinya, masih bisa shalat, puasa, dan seterusnya," jelas Abyan panjang kali lebar sehingga menghasilkan wawasan yang luas.
"Oh gitu, ya. Saya baru tahu." Yumna merasa sedikit malu. Tapi ia sangat beruntung karena memiliki suami santri yang paham dengan hukum-hukum dalam agama mereka.
"Makanya, Na. Belajar!" sindir Zaid yang langsung mendapat pukulan dari sang Abah.
"Kamu saja tidak tahu tadi. Sok-sokan meminta orang belajar," omel Abah, seraya berjalan meninggalkan ruangan. Sementara Abyan mengangkat tubuh Yumna dan membawanya ke kamar mandi.
"Aku kan pria, Bah. Ngapain belajar gitu."
__ADS_1
"Alasan aja terus!" tampik Abah ketus. Dan Zaid langsung memanyunkan bibirnya kesal.