Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Kembali Pulang


__ADS_3

"Kita akan mulai pengobatannya," ujar Kiyai serius.


"Baik, Kiyai."


Kini sudah tiga bulan Yumna diruqyah secara beruntun dan teratur.


Dan malam ini mereka harap, jin-jin yang masuk ke dalam tubuh wanita itu keluar sepenuhnya.


Suara erangan dan jeritan Yumna mulai terdengar. Namun tidak lagi seperti sebelumnya. Kali ini, nada-nya agak melemah. Dan suara laki-laki yang biasanya terdengar saat kegiatan ruqyah dilakukan sekarang berubah kembali menjadi milik Yumna sendiri.


Sementara di asrama-nya, Abyan terus melangitkan doa. Ia tidak tahu jika malam ini akan menjadi penentu. Sebab selama satu bulan setelah ia menemui istrinya, ia tidak lagi mendatanginya atau menghubungi siapapun yang berkaitan dengan istrinya.


Abyan memilih menyibukkan diri dengan segala aktivitasnya. Mengikhlaskan Yumna sepenuhnya.


Beberapa hari terakhir ini pula, Eva selalu gencar mendekatinya. Namun ia berusaha untuk tetap setia pada sang istri tercinta. Menjaga hatinya hanya untuk Yumna.


Terlebih, saat ini wanita itu tengah berjuang melawan rasa sakit yang menggerogotinya.


Di lain pihak, seorang pria berjubah hitam dengan wajah sangar itu terkejut karena kendi ke tiganya telah meledak baru saja.


Hanya tersisa dua kendi, yang akan menentukan hidupnya setelah ini.


Beberapa dukun atau para tidak normal memang memiliki berbagai macam cara untuk menangani korbannya. Jika bayarannya tinggi, mereka akan bisa melakukan apapun.


Tapi jika orang itu berkhianat pada mereka. Maka mereka tidak akan segan-segan mengembalikan sihir itu pada yang meminta bantuan ke mereka.


Dan pria paruh baya berjubah hitam itu berteriak kesakitan. Ia hendak menghubungi Yunus untuk menyiapkan tumbal agar dapat menambah kekuatannya.


Namun hingga saat ini, Yunus sama sekali tidak mengangkat telponnya.


"Brengsek!" teriak pria itu penuh amarah.


Daripada itu, detik ini Yunus sedang menikmati tubuh seorang wanita cantik yang satu bulan lalu berteriak dan menangis karena kehilangan keperawanannya. Tapi setelah dibujuk dan kembali dirayu. Ia kembali luluh pada Yunus.


Dan satu bulan lamanya, mereka berulang kali melakukan hal nista itu. Tanpa sepengetahuan orang tua dari si wanita yang ayahnya merupakan kepala desa di kampung itu.


Di saat sedang mendekati puncak, tiba-tiba saja, wajah wanita yang dibawah kungkungannya itu berubah menjadi Yumna dengan wajah menyeramkan.


"Akhhhh!" Yunus menjerit ketakutan. Ia melompat dari ranjang seraya mundur ke belakang.


"Akang, kenapa?" tanya wanita itu dengan ekspresi kecewa, tidak puas, tapi juga khawatir.


"Jangan mendekat! Jangan mendekat!"


Di mata Yunus saat ini, Yumna sedang menatapnya tajam dengan setengah wajahnya rusak dipenuhi ulat.


"Akang! Kamu kenapa?"


"Aku bilang jangan mendekat!!! Maafkan aku Yumna! Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukan itu. Maafkan aku!"


"Yumna? Yumna siapa, Akang?" Wanita itu turun dari tempat tidur dan mendekat pada Yunus.

__ADS_1


Yunus kembali berteriak hingga suaranya hilang.


"Jangan mendekaaaaat!!"


Hosh hosh hosh.


Yunus terbangun dari mimpinya dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia melirik pada wanita di sampingnya itu. Ternyata dia sudah pergi.


Karena hari sudah malam. Maka wanita itu akan pulang kembali rumahnya dalam keadaan baik-baik saja.


Mendadak Yunus merinding saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu. Ia masih ketakutan karena mimpi yang baru saja dialaminya.


"Ekhem!" Yunus berdehem untuk mengurai situasi.


Namun siapa yang menyangka, jika akan ada suara deheman lain di tempat itu.


"Ekhem-ekhem!"


Mata Yunus membulat tajam. Ia semakin bergerak ketakutan seraya memeluk selimut dan bantal di atas tempat tidurnya.


"Siapa?!" tanya Yunus. Netranya bergerak liar.


Dan ia menjerit kencang tatkala melihat sesosok makhluk hitam berjalan melewatinya.


"Akhhhhh!! Jangan ganggu akuuuuu."


Tanpa aba-aba, Yunus bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang hanya menggunakan celana yang panjangnya selutut. Tanpa memakai baju.


"Toloooongg. Tolooooong."


Beberapa pemuda yang bertugas berjaga malam melihat Yunus sedang berlari seperti tuyul karena hanya menggunakan penutup di bagian bawah tubuhnya.


"Hahaha!!"


Bukannya menolong, para pemuda itu malah tertawa terbahak-bahak seraya menunjuk-nunjuk ke arah Yunus.


Bagaimana tidak, selama tinggal dan mengerjakan proyeknya di sana, Yunus benar-benar sombong dengan pakaiannya yang selalu rapi. Dan mampu menarik perhatian anak kepala desa yang para pemuda di sana itu idamkan.


Bukan hanya itu, sikap Yunus juga tidak terlalu bagus pada beberapa kelompok orang di sana. Meski masih banyak juga yang menyukainya.


Itulah sebabnya, saat melihat Yunus berada di dalam kondisi demikian, mereka pun tertawa dan merekamnya.


"Hei! Hei! Apa yang kalian lakukan?! Tolong aku. Aku dikejar hantu!"


"Hahahha." Para pemuda itu semakin tertawa.


"Jangan berbicara sembarangan. Tidak ada di sini!"


"Iya. Kami sudah tinggal lama di sini. Tapi tidak pernah mendengar ada hantu!"


"Aku serius! Tolong aku! Jangan rekam bodoh!"

__ADS_1


"Sialan!"


Bugh


Sebuah bogeman mentah mendarat mulus di wajah tampan Yunus. Oleh seorang pemuda yang benar-benar tidak menyukai Yunus yang baru saja mengatai mereka bodoh.


"Tolong! Jangan pukul aku!"


Tanpa bisa dicegah, beberapa pemuda itu tetap melanjutkan kegiatan mereka. Hingga Yunus pingsan di sana.


Dan pagi harinya, para warga menemukan Yunus terbaring tidak sadarkan diri dengan kondisi yang memalukan.


Hanya memakai celana tanpa baju.


**


Haaaaah.


Yumna menghela napas lega. Ia duduk di taman samping rumah kecil tempat tinggalnya selama tiga bulan ini seraya menatap ke arah terbitnya matahari.


Senyumnya merekah. Hatinya kini merasa lebih tenang. Batinnya terisi penuh dengan iman. Dan jiwanya bagai berada di tengah taman surga yang indah.


Setetes air mata mengalir turun. Seluruh perjuangan selama tiga bulan ini terasa bagai mimpi. Tapi terputar jelas bagai kaset rusak di dalam memorinya.


"Na," panggil sang umi, menarik atensi Yumna.


"Umi."


Wanita paruh baya itu mendekat dan memegang kedua bahu anaknya. Menatap ke arah yang sama--matahari terbit.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang, Nak?"


"Alhamdulillah, lebih baik Umi."


"Syukurlah. Umi sangat bahagia sekali mendengarnya."


"Iya, Umi. Aku tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Abyan. Tapi aku takut, saat bertemu dia, itu akan kembali lagi."


Umi melepas tangannya dari bahu anaknya. Lalu beralih ikut duduk di sampingnya.


"Jangan takut. Serahkan semuanya kepada Allah. Kini kamu sudah sepenuhnya sembuh. Tapi selama masih bernapas, kamu tetap harus berjuang, mempertahankan keimananmu saat ini. Bahkan terus menambahnya. Hingga Allah memanggil kita kembali pulang."


Yumna bersandar di bahu sang ibu. Memeluk lengannya seraya mengangguk mengerti.


Perjuangan imannya memang tidak akan berhenti sampai di sini.


Setelah matahari agak tinggi. Yumna dan orang tuanya pamit pada Kiyai dan Nyai untuk kembali pulang ke rumah mereka.


Mereka berpisah dengan senyuman bahagia. Begitupun Ustadz Mu'adz di sana, ia ikut bahagia karena istri dari Abyan itu telah sembuh sepenuhnya.


Sungguh, Yumna ingin segera kembali dan memeluk tubuh hangat Abyan yang begitu dirindukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2