Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Mimpi Buruk


__ADS_3

Semua mata tertuju pada meja di mana Yumna berada. Suara Yunus yang terdengar cukup tinggi menarik atensi banyak orang untuk melihat ke arah mereka.


"Pak Yunus, apa yang anda lakukan?" tanya resepsionis wanita bernama Manja itu berbisik.


Yunus mengangkat satu tangannya, meminta Manja untuk diam. Sedang mata tajamnya tidak lepas dari menyorot Yumna.


"Na, bisa kamu jelaskan?" tanyanya seperti seseorang yang benar-benar terluka.


Yumna menunduk, tidak sanggup menatap mata Yunus. Biar bagaimanapun, pria itu telah bertahta dalam hatinya dalam waktu yang cukup lama. Tidak akan semudah itu untuk ia lupakan.


"Kenapa diam, Na?" Kali ini Yunus kembali duduk. Suaranya terdengar serak dengan napas yang tercekat. "Apa benar kamu sudah menikah?"


Cukup lama Yumna terdiam hingga akhirnya wanita itu memganggukan kepalanya. "Benar. Saya sudah menikah."


"Hah!" Yunus mendengus kasar. Matanya tidak lepas dari menatap Yumna. Layaknya seekor elang yang sedang mengintai mangsanya. "Hah! Hahahah. Jangan becanda, Yumna. Kamu menikah dengan siapa? Yang kamu cintai itu aku. Mana bisa kamu menikahi pria lain? Tidak masuk akal."


Yumna mengangkat wajah. "Tapi nyatanya saya memang sudah menikah, Pak Yunus. Anda--"


"Anda, anda, anda," pangkas Yunus kesal, mengikuti cara bicara wanita itu. "Bisakah kamu berbicara denganku seperti dulu saat kita masih sepasang kekasih? Yumna, jangan menjadi annoying seperti ini!"


Mendengar kata annoying keluar dari mulut pria yang masih tersimpan setengah di hatinya itu, Yumna mendadak emosi. Matanya merah dan hendak membalas ucapan Yunus. Namun Ratih menyelanya dengan kemarahan yang lebih parah dari yang Yumna rasakan.


"Ja--"


"Heh! Pria gila!" sentak Ratih. Bangkit dari duduknya dan menunjuk tepat ke arah wajah Yunus. "Jaga mulutmu, Yunus. Kamu tidak berhak mengatakan hal seperti itu pada Yumna. Asal kamu tahu, kamu adalah lelaki paling menyebalkan di dunia ini, tahu enggak!"


"Kamu!" Yunus pun ikut bangkit dan melakukan hal yang sama persis dengan Ratih--menunjuk wanita itu penuh peringatan.


"Apa?!" tantang Ratih balik. Dengan sorot mata saling memusuhi. Seperti ada api yang terbakar di netra mereka masing-masing.


Suasana restoran menjadi sangat tidak kondusif. Beberapa karyawan tidak ada yang berani untuk menyela perdebatan mereka.


Yumna menghela napas dan bangkit dari duduknya dengan anggun.


"Kamu wanita--"


"Cukup, Yunus!" pangkas Yumna lelah. "Tolong hentikan."


"Tapi, Na. Aku--"


"Jangan panggil saya dengan panggilan seperti itu." Lagi-lagi Yumna menyela ucapan Yunus. "Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Jadi stop untuk kuntit hidup saya. Bukankah kamu sendiri yang memutuskan saya hari itu? Jadi jangan pernah menarik kembali keputusan yang telah anda buat. Karena anda tahu kenapa? Sebab saya benci pria seperti itu!"


Setelah berkata demikian, Yumna pergi dari tempat tersebut bersama Ratih setelah meninggalkan kartu pada Manja untuk membayar makan siang para karyawan.


Sedang Yunus berdiri bagai patung seraya mengepalkan tangannya. "Wanita sialan!" umpatnya kasar. Menggebrak meja kemudian ikut pergi dari sana.


**


Yumna menangis sendirian di dalam ruangannya setelah menutupnya. Ratih membiarkan sahabatnya itu menumpahkan perasaanya. Ia tahu, pasti Yumna kesusahan karena kondisi ini. Jadi ia tidak ingin menganggu Yumna untuk sementara waktu.


Sungguh, Yumna tidak menyangka jika akhirnya akan menjadi seperti ini. Hubungannya dengan Yunus benar-benar harus kandas.


Drrrtttt

__ADS_1


Dering telpon menyapa telinga Yumna. Dengan cepat ia menghapus air matanya yang begitu bodoh karena lagi-lagi menangisi seseorang yang tidak pantas mendapatkan air matanya.


Kening Yumna berkerut tatkala melihat nomor kontak yang tidak ia kenal terpampang di layar ponselnya.


"Ini siapa?" gumamnya, namun kemudian memilih untuk mengangkatnya. "Halo!" sapanya tanpa mengucapkan salam. Demi untuk memastikan sang penelpon.


"Assalamu'alaikum, Na. Lagi ngapain?"


Yumna menerka-nerka. Matanya memutar seraya berpikir. Suara ini cukup ia kenal. Lembut dan hangat seperti suara yang biasa ia dengar akhir-akhir ini.


"Wa'alaikumussalam. Abyan ... Ini kamu Abyan, kan?" tanya Yumna dengan suara tercekat.


"Iya. Ini aku. Maaf, tapi aku merindukanmu. Jadi aku menghubungimu. Sekarang bukan waktu sibuk kok. Aku sedang istirahat," jelas Abyan terdengar gelagapan.


Air mata Yumna kembali mengalir deras. Ia merasa bersalah sekali. Di saat Abyan sedang sibuk merindukan dirinya. Ia malah sibuk dengan menangisi mantannya.


Di balik telpon Abyan terdiam. Ia mendengar suara tangisan Yumna. Dan membiarkannya sejenak.


"Na, kalau aku sedang berada di samping kamu sekarang. Aku ingin memelukmu erat."


"Kenapa?" Yumna bertanya dengan suara serak.


"Apa butuh alasan untuk aku memeluk istriku sendiri? Sama dengan perasaan cintaku ke kamu. Tidak ada alasan sama sekali. Semuanya hadir karena anugerah dari Allah."


Yumna tertawa seraya mengusap air matanya mendengar perkataan Abyan.


Satu kalimat saja yang Abyan ucapkan, seketika mampu menghilangkan bayangan dan pikiran akan sang mantan.


"Kembali kasih," jawab Abyan cepat. "Jadi, apakah kamu sudah jatuh cinta denganku?" tanyanya yang semakin membuat Yumna tertawa.


"Apa hanya dengan ini cara kamu membuktikannya?"


"Lalu? Apa yang kamu inginkan? Katakan saja. Inshaa Allah, aku akan berusaha melakukannya."


"Saya belum percaya sebelum kamu kembali ke rumah dan menenangkan saya."


"Hanya itu?"


"Ya."


"Baiklah."


"Eh, kamu mau nurutin? Awas ya, jangan tinggalin kuliahnya."


"Entahlah. Kita lihat saja nanti," jawab Abyan seraya tersenyum misterius.


Keduanya mengobrol cukup lama hingga waktu istirahat habis. Sebelum menutup panggilan, Abyan meminta kiss jauh dari istrinya.


"Kiss dulu dong sebelum tutup."


"Ih, Abyan. Kayak anak kecil aja deh."


"Aku kan emang masih kecil, kekasih halalku."

__ADS_1


"Hahaha." Yumna tertawa ngakak. Hingga kemudian menuruti permintaan suami mudanya. Meski setelah itu ia langsung menutup telpon usai mengucapkan salam. Terlalu malu untuk berlama-lama.


Di luar pintu, Yunus mengepalkan tangannya erat. Ia tadi hendak masuk ke ruangan Yumna untuk berbicara dan mengajak wanita itu balikan. Namun mendengar suara Yumna yang sedang mengobrol seraya tertawa gembira dengan seseorang dibalik telpon, membuatnya menghentikkan tangannya.


"Sialan! Siapa sih pria itu! Mengganggu saja!" umpat Yunus kesal. Dan memilih untuk pergi dari sana.


**


Malam harinya, Yumna langsung masuk kamar dan berbaring setelah baru saja pulang dari bertemu dengan klien yang datang dari Singapura.


Mata Yumna mulai tertutup. Ia tidak sempat membersihkan tubuhnya karena terlalu lelah. Hanya menggosok gigi dan mengganti pakaian dengan piyama tidur.


Yumna terlelap dalam tidurnya setelah beberapa detik membaringkan tubuhnya.


"Eh, kok aku bisa ada sini?" gumam Yumna melihat ke sekeliling.


Saat ini Yumna melihat dirinya sedang berada di sebuah lembah yang di apit oleh dua gunung.


"Perasaan tadi aku di kamar dan tidur. Kok bisa sampai sini sih. Mana serem lagi!" keluhnya. Mulai berjalan-jalan mencari orang di tempat tersebut.


"Haloooo!! Apa ada orang?!" teriak Yumna mulai ketakutan. Bulu kuduknya meremang. Sementara di tempat tersebut cukup gelap dan sulit untuk mencari cahaya.


"Yumna!" panggil seorang pria yang cukup Yumna kenal. Dia adalah Yunus.


"Yunus? Kamu kok bisa ada di sini? Kita ada di mana sekarang?" tanya Yumna seraya melihat ke sekeliling.


Sedang Yunus terlihat menyeringai senang. Tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.


"Yunus! Kamu kok diam saja sih?!" sentaknya semakin ketakutan.


Mata Yunus menyorot tajam pada Yumna. Pria itu tiba-tiba saja menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat mendekati Yumna.


"Akhhhhh!! Tolong!!" Yumna berlari ketakutan sementara ular tersebut semakin mengejarnya.


"Tolong!!"


"Abyan!!"


Yumna terus berlari tanpa henti. Sampai akhirnya kakinya tergelincir dan ia jatuh.


"Kamu tidak akan bisa lari kemanapun, Yumna," ucap ular jelmaan Yunus tersebut. Kemudian mematuk leher Yumna.


"Akhhhh!!" teriak Yumna yang seketika bangun dari tidurnya.


"Na, kamu enggak apa-apa?"


Mendengar ada suara pria bertanya tentangnya, Yumna kembali berteriak. Sampai akhirnya pria yang tidak lain ialah Abyan itu mendekapnya erat dan menenangkannya.


"Nana, ini aku Abyan, suamimu. Tenanglah."


Mata Yumna baru benar-benar terbuka setelah mendengar ucapan suaminya.


"Abyan. Saya takut ...," lirih Yumna memeluk erat tubuh Abyan yang tidak ia ketahui sejak kapan suaminya itu ada di kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2