Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Target Baru


__ADS_3

Pandangan Yumna kosong mengedar ke sekeliling tatkala ia baru saja turun dari mobil, mengamati pesantren yang akan menjadi tempat tinggalnya sampai beberapa waktu yang tidak dapat ditentukan.


"Ayo, Sayang."


Yumna menganggukkan kepala ketika sang ibu mertua mengajaknya untuk masuk bersama.


Kiyai dan Nyai juga yang lain ikut turun dari mobil. Mereka menggunakan dua mobil untuk tiba di sana.


"Ini pendopo yang akan bapak dan ibu tinggali sementara bersama Nak Yumna," beritahu Kiyai pada Abah dan Umi.


"Baik, Kiyai."


"Sekarang semuanya sebaiknya beristirahat dulu. Insyaa Allah secepatnya kita akan mulai proses pengobatan pada Yumna."


Semua menyahut setuju. Mereka masuk ke dalam pendopo sederhana itu untuk beristirahat. Begitupun dengan Bu Nurma dan Pak Latif. Mereka tidak langsung pulang dan meninggalkan menantunya.


Berbeda dengan para orang tua bersama Yumna yang langsung istirahat. Ratih memilih untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar pesantren.


Ia duduk di salah satu kursi panjang di bawah pohon. Para santri yang sedang sibuk dengan hafalan juga bermain bersama temannya itu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi Ratih.


"Kenapa tidak ikut istirahat?" Zaid datang bertanya dengan gaya malu-malu mendekati sahabat dari adiknya itu.


"Aku hanya ingin melihat pemandangan di sini, Bang."


"Boleh aku ikut duduk?"


Ratih mengedarkan pandangan dalam beberapa saat kemudian mengangguk pelan.


"Bagaimana kesibukanmu sekarang?"


"Seperti itulah, Bang. Biasa. Karyawan kantor."


"Kamu pasti kerepotan ya karena Yumna yang sedang sakit?"


"Kerepotan iya. Tapi tidak merepotkan sama sekali. Bagi aku, kesehatan Yumna yang paling penting."


Kepala Ratih tertunduk, seakan sedang mencerna apa yang sedang terjadi.


"Apa bos kalian sudah tahu tentang kondisi Yumna?"


"Iya. Tadi sebelum ke sini aku sudah menghubunginya. Dan dia turut berduka atas apa yang menimpa karyawan kesayangannya."


Suasana mendadak hening. Nampaknya Zaid tidak memiliki pembahasan apapun lagi untuk dikatakan.


Begitupun juga dengan Ratih yang memilih diam. Lebih sibuk memikirkan apa yang akan terjadi pada Yumna setelah ini.


Pada akhirnya, obrolan itu terhenti sampai di situ. Mereka saling diam tanpa mengatakan apapun lagi.


**


Di sisi lain, Abyan baru saja tiba di asrama. Matanya buram, mulutnya terkunci rapat. Sementara kakinya dengan cepat melangkah menuju kamarnya dan berbaring di sana.

__ADS_1


Farhan menghela napas melihat sahabatnya yang seperti itu. Kemudian mengikutinya dari belakang. Lalu duduk di kasurnya dengan kaki berselonjor ke lantai. Seraya menatap Abyan yang sibuk melamun di tempatnya.


"Han...."


"Hem?"


"Kira-kira, sampai kapan aku akan berpisah dengannya?"


Mulut Farhan mengatup rapat. Ia tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang Abyan ajukan padanya.


"Apakah beberapa hari, sebulan, setahun, ataukah bertahun-tahun?"


"Abyan...."


"Aku tidak tahu sampai kapan, Han." Abyan memeluk bantal kepala di tangannya. Meringkuk seperti kucing yang sedang kedinginan. "Bisakah aku hidup tanpa dia?"


"Bisa, Byan. Sangat bisa. Karena kamu masih punya napas."


"Aku merasa, aku tidak memiliki gairah hidup saat jauh darinya."


Farhan menghela napas. Di kondisi seperti ini, Abyan hanya butuh di dengarkan. Bukan dinasehati. Jadi ia tidak ingin mengatakan apapun.


"Aku merasa tidak berdaya saat jauh darinya. Seperti kehilangan semangat untuk melanjutkan apapun."


Ingin rasanya Farhan tertawa saat ini. Bukan karena lucu melihat penderitaan Abyan. Melainkan karena kata-katanya bagaikan remaja yang sudah terkena virus bucin akut.


"Dia seperti poros dalam hidupku. Kamu pasti menganggap aku terlalu lebay, kan?"


"Memang sih. Aku lebay banget. Tapi ini semua gara-gara dia."


Lagi-lagi Abyan memeluk bantal kepala itu dengan erat. Farhan yang ada di sampingnya, pusing melihat Abyan yang seperti itu dan memilih untuk keluar dari sana. Mencari udara bebas.


"Kamu istirahatlah agar bisa berpikir dengan tenang. Ingat, semua ini hanyalah ujian. Jangan terpaku pada seberapa beratnya. Melainkan berapa banyak pahala yang bisa kalian dapatkan."


"Banyaknya pahala tergantung dari beratnya ujian. Kamu tahu hadits itu. Aku keluar dulu."


Abyan menutup mata. Ia ingin tidur sebentar. Mungkin saja semua ini hanyalah mimpi. Dan akan berakhir ketika ia bangun.


**


Elsa melangkah masuk ke dalam kontrakannya. Ia menghubungi Ratih untuk mengetahui keberadaan sepupu-nya itu. Namun Ratih sama sekali tidak mengangkat telponnya. Dan hanya mengirim pesan jika ia sedang sibuk dan akan pulang sebentar lagi.


Netra Elsa memburam dipenuhi dengan air mata. Jantungnya seakan berhenti dalam sepersekian detik tatkala tidak menemukan siapa-siapa di dalam rumah itu.


Kini ia sendirian. Ah tidak. Dia sekarang bersama dengan seorang janin yang masih berada di dalam kandungannya. Buah kemaksiatannya dengan Yunus.


Lelaki itu kini telah pergi. Meninggalkan dirinya dengan hasil perbuatan hina mereka.


AKKHHHHHH!!


Elsa berteriak keras sesaat setelah ia masuk ke dalam kamarnya. Mengunci pintu dan menumpahkan segala kemarahannya.

__ADS_1


"Kenapa semuanya jadi gini?! Kenapa?!"


"Dasar laki-laki brengsek! Tidak bertanggung jawab! Laki-laki hina!"


Segala macam umpatan buruk keluar dari mulut Elsa sebagai representasi dari kemarahannya pada sang kekasih yang kini telah meninggalkannya seorang diri bersama jejaknya dalam rahimnya.


"Ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu hadir jadi berantakan seperti ini! Sebaiknya kamu mati saja!"


Elsa memukul-mukul perutnya dengan keras. Menyalahkan keberadaan janin di dalam sana. Tanpa menyadari, jika janin itu tidak berdosa sama sekali.


Air mata Elsa turun dengan derasnya. Maskara di wajahnya berantakan. Menyapu bersih matanya. Begitupun dengan rambutnya yang acak adul. Dia seperti orang gila yang siap mati.


Elsa bangkit dari duduknya, mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk membunuh dirinya sendiri. Ia menjadi gelap mata karena Yunus meninggalkan dirinya dan sama sekali tidak mau bertanggung jawab.


Lelaki brengsek itu bahkan menuduhnya dengan keji. Mengatakan jika anak yang ia kandung merupakan anak pria lain. Padahal, ia hanya melakukannya dengan Yunus. Bahkan ia menyerahkan keperawanannya pertama kali pada pria itu.


"Brengsek kamu Yunus! Pria kurang ajar!"


Elsa menjatuhkan tubuhnya di lantai tatkala tidak menemukan apapun di dalam kamar. Ia menangis terisak memeluk dirinya sendiri.


**


Sementara di sisi lain, Yunus turun dari mobilnya seraya menghirup udara segar di atas gunung. Sedang matanya menatap ke bawah--pada sebuah desa yang terlihat asri dan indah.


"Haaah. Sejuk sekali di sini," gumamnya santai dan tenang.


"Di sinilah awal aku untuk memulai semuanya. Lupakan Yumna, lupakan Elsa. Wanita-wanita itu benar-benar menyusahkan dan menghancurkan hidupku."


Yunus tersenyum menikmati pemandangan desa di bawah sana. Sejenak tidak beranjak dari tempatnya. Sibuk mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Proyek kali ini begitu menyenangkan. Tidak seperti pada umumnya yang biasa di kota-kota besar.


Setelah puas menikmati pemandangan yang disuguhkan, Yunus kembali masuk ke dalam mobil dan mulai melanjutkan perjalanannya menuju desa yang baru saja ia lihat dari atas gunung itu.


Sepanjang jalan Yunus bersiul-siul. Seraya menyapa beberapa orang yang sedang berlalu lalang pulang dari kegiatan bertani mereka.


Dan mata Yunus membulat penuh kesenangan dan sekaligus menghentikkan laju mobilnya secara tiba-tiba tatkala melihat seorang gadis cantik sedang berjalan bersama beberapa teman lainnya.


Ckittt~


Tok tok tok!


"Apa anda baik-baik saja?" tanya salah satu gadis, teman dari perempuan cantik itu.


"I-iya. Saya baik-baik saja."


Yunus menjawab seraya melirik pada gadis yang tersenyum malu-malu itu.


Dada Yunus berdebar dengan kencang. Seketika ia bertekad kuat dalam hati untuk memiliki gadis cantik dan montok itu.


'Aku harus mendapatkannya.'

__ADS_1


__ADS_2