
"Na ... Yumna!"
"Ah, iya Rat? Kenapa?" Yumna tersentak kaget tatkala suara Ratih membuyarkan lamunanya. "Ada apa?"
"Kamu melamun." Ratih memundurkan kursi sedikit ke belakang dan beringsut bangkit dari duduknya. "Waktu istirahat sudah tiba. Kita pergi makan siang."
Yumna menggeleng, duduk dengan tangan yang terlipat di atas meja, sementara kepalanya bersandar miring di atasnya.
"Ayolah pergi makan. Aku lapar nih!" ajak Ratih lagi. Ikut mengeluhkan perut yang belum kunjung terisi.
"Kamu pergi aja sama Manja, Rat. Aku lagi malas banget. Nanti pulang makan, jangan lupa bawa untukku juga, ya?"
"Kamu yakin tidak ingin keluar makan?"
"Yakin."
"Serius?" Kembali Ratih memastikan sedang Yumna mengangguk tanpa ragu. "Terus kalau kamu enggak keluar makan, siapa dong yang akan menemui seorang pria di depan kantor yang sedang berdiri sambil memeluk boneka dan sebuket bunga."
"Hah?" Mendengar itu Yumna segera bangkit dari duduknya. "Siapa pria itu?"
"Tuh lihat ke bawah. Cowok muda berdiri dengan polosnya di sana."
Tanpa basa-basi lagi, Yumna berjalan ke arah jendela dan melihat ke arah bawah dimana seorang pria yang tidak lain ialah Abyan tengah berdiri di sana.
"Abyan," lirih Yumna, berbalik dan melangkah secepat mungkin keluar dari ruang kerjanya.
Ratih yang melihat tingkah sahabatnya mengulum senyum seraya ikut bahagia.
Saat ia menelpon Abyan tadi, ia kira pria muda itu akan segera datang. Namun rupanya suami dari Yumna itu tidak bisa meninggalkan mata kuliah yang akan segera dimulai.
Dan untuk menebus kesalahanya, ia menelpon kembali nomor istrinya yang memang masih dipegang oleh Ratih untuk bertanya tentang yang Yumna sukai namun tidak banyak orang tahu termasuk Yunus.
Langkah Yumna cepat, ia bahkan mengabaikan Yunus yang terus memanggil namanya.
"Yumna!"
"Yumna tunggu!"
"Sialan nih cewek. Kok dia mengabaikan aku lagi sih! Apa ancamanku tidak mempan untuknya?" Yunus ikut berjalan cepat mengikuti Yumna dari belakang.
Dan matanya membola karena terlalu terkejut ketika melihat Yumna sedang menghampiri seorang pria muda dan tampan yang sedang memegang bunga dan memeluk boneka beruang besar.
"Siapa dia? Aku seperti pernah melihatnya," gumam Yunus seraya mencoba menggali ingatannya tentang pria yang saat ini bahkan berani menyentuh pipi Yumna. "Sialan tuh anak! Siapa sih?!"
Sementara di sisi lain pada tempat yang sama, Yumna tersenyum manis pada pria muda di hapadanya saat ini.
"Abyan, kamu kok ke sini? Enggak kuliah emang?"
"Aku terlalu merindukan istriku, gimana dong?"
Yumna terkekeh geli melihat tingkah suaminya. Beberapa pekerja kantor yang hendak makan di restoran seberang melirik-lirik ke arah mereka namun tidak berani menganggu.
"Gombal!"
__ADS_1
Tangan Abyan terangkat kembali untuk membelai sayang belakang kepala istrinya yang tertutupi hijab. "Ini bunga tulip kesukaanmu. dan juga beruang besar untuk kamu peluk nanti malam sebagai pengganti aku."
Yumna mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian dari sang suami tercinta.
"Terima kas--"
Belum sempat Yumna menyelesaikan ucapannya, Abyan telah lebih dulu mengecup pipi wanita cantik itu.
Beberapa karyawan yang melihat, berteriak histeris karena terlalu baper. Namun menimbulkan emosi yang tidak tertahan lagi pada diri Yunus yang masih setia berdiri di sana.
Dengan langkah cepat, Yunus mendekat dan hendak meraih tubuh Yumna untuk berbalik padanya. Namun tangan Abyan menghentikkan maksud pria itu dengan menepis tangannya.
"Jangan sentuh istri saya!" ujar Abyan penuh penekanan. Sedang matanya menyorot tajam pada Yunus. Membuat nyali mantan kekasih Yumna itu menciut.
Yumna yang tidak mengerti apa yang terjadi berbalik ke belakang dan tersentak kaget melihat ada Yunus di sana.
"Kamu--" Ucapan Yumna terhenti tatkala tangan Abyan menarik pinggangnya mendekat pada sang suami.
Wajah Yumna merona malu, Yunus melotot tajam. Sementara para karyawan wanita semakin histeris dan bahkan merekam kejadian tersebut.
"Abyan--"
"Tolong jangan ganggu istri saya lagi. Jika tidak, saya pastikan anda tidak akan pernah baik-baik saja!" ancam Abyan tanpa rasa takut sedikitpun.
"Heh!" Yunus mendengus dan maju satu langkah. "Kamu pikir kamu siapa bocah? Beraninya mengancamku?!"
Ingin rasanya Yumna membalas gertakan Yunus, namun dekapan Abyan yang erat meminta wanita itu untuk tetap diam.
Kepala Yumna terangkat demi melihat ke arah suaminya yang terlihat begitu tegas, berwibawa dan tanpa takut sedikitpun.
Abyan nampak seperti pria yang memiliki kekuasaan besar.
Sorot mata Yunus penuh kebencian. Baru kali ini ia mendapat penghinaan secara tidak langsung dari seseorang yang ia anggap sebagai anak kecil.
Satu tangan Abyan terangkat untuk menepuk pelan pundak Yunus. "Ini baru peringatan awal. Saya bahkan bisa melakukan lebih dari ini. Jadi, jaga sikap anda!"
Setelah berkata demikian, Abyan melepaskan tangannya yang memeluk pinggang Yumna dan beralih mengenggam jemari istrinya dan membawa istrinya beranjak dari sana.
"Sial!!" teriak Yunus setelah beberapa saat membeku. Menatap tajam tubuh Abyan dan Yumna dari belakang. "Heh, kita lihat saja nanti, Jika jalur ini tidak dapat aku gunakan. Aku masih memiliki cara yang tersisa itu. Kita tunggu bersama, apakah hubungan kalian bisa bertahan lama?"
**
"Mau aku suapin?" tawar Abyan, mengarahkan satu sendok makanan yang baru saja dipesan pada Yumna.
Yumna menggelengkan kepalanya, sedang Abyan menyantapnya sendiri.
"Byan ...."
"Hem?" Abyan menggumam seraya mengunyah makanan di mulutnya.
"Kamu tidak takut sama ancaman Yunus?"
"Jangan sebut nama pria lain. Aku enggak suka!" balas Abyan cepat setelah meneguk minumannya setengah.
__ADS_1
Seulas senyum manis Yumna berikan. Beberapa karyawan yang juga ikut makan di restoran depan kantor itu menyaksikan couple itu seraya senyum-senyum dan berbisik.
"Kamu cemburu, ya?"
"Jelas."
Bibir Yumna semakin tertarik ke atas. Ia tidak menyangka begitu dicintai oleh pria muda yang paham agama ini.
"Idaman banget sih," puji Yumna gemas dan mencubit kecil pipi Abyan. "Apa kamu memang selalu semanis ini?"
"Iya. Tapi itu hanya berlaku jika di depanmu."
Semburat merah semakin terlihat jelas di kulit putih Yumna. Senyumannya juga tidak luntur sedikitpun dari wajah cantiknya.
"Terima kasih sudah sangat mencintai saya. Dan terima kasih atas hadiah bunga dan beruangnya." Yumna meraih boneka besar yang ada kursi sampingnya itu, lalu memeluknya erat. "Saya akan memeluk ini semalaman. Seperti saya memeluk kamu."
Kali ini Abyan yang berbalik merona. Ia memalingkan wajah karena terlalu malu.
"Jangan peluk dia seerat kamu memelukku. Aku juga cemburu padanya," tutur Abyan yang membuat Yumna tergelak.
Restoran yang ramai, namun sama sekali tidak menghalangi Yumna dan Abyan menganggap jika di dunia ini hanya milik mereka berdua. Yang lain hanya ngontrak.
**
"MANAGER PERUSAHAN DESAIN NTGRUP DIREBUTKAN OLEH DUA PRIA TAMPAN."
Ratih membaca gosip terbaru siang ini yang muncul di laman blog perusahaan. Sementara Yumna sedang senyum-senyum sendiri sembari memeluk boneka dan menatap bunga tulip pemberian suaminya.
"Hah!" Ratih menghela napas panjang. Sepertinya Yumna sudah mulai jatuh hati dengan Abyan.
Brakk!
"Woe! Sadar!" sentak Ratih setelah memukul meja.
"Kenapa sih?! Ganggu aja deh, Rat."
"Idih, sombong banget ya, orang yang di datangi suami hingga kantor. Sampai lupa diri."
"Emang kenapa sih?"
"Jangan lupa, buat laporan sekarang."
"Siap, Bunda," sahut Yumna yang dibalas gelak tawa oleh Ratih.
Sementara di depan, Yunus mengetuk pintu ruang kerja Yumna.
"Masuk!" titah Yumna dari dalam.
Yunus melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Ratih dan Yumna saling pandang, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Ada ap--"
"Aku minta maaf, Yumna."
__ADS_1