
Hari demi hari berlalu, Yumna menyelesaikan semua kerja samanya dengan perusahaan milik Robert.
Hingga hari ke-tiga, Yumna telah bebas dari tuntutan pekerjaan. Sisa waktu yang ada ia pergunakan untuk menjalani kebersamaan dengan Abyan.
Dan ini sudah memasuki hari keenam mereka berada di Surabaya. Besok mereka akan kembali ke Bandung.
Hubungan Yumna dengan Abyan pun semakin hari kian membaik. Meski masih dengan usaha yang keras untuk Yumna move-on dari mantan kekasihnya yang telah bersama dirinya lima tahun lamanya.
Takdir jodoh sama sekali tidak Yumna kira akan menjadi seperti ini. Ia pikir dirinya akan menikah dengan Yunus. Tapi nyatanya, mereka putus hanya karena satu masalah. Sementara Abyan datang untuk memilikinya tanpa pernah ia duga sebelumnya.
Terkadang Yumna bertanya-tanya, kenapa Abyan bisa ada di hari ia putus dengan Yunus? Kenapa ....
"Lamunin apa?" tanya Abyan--memeluk Yumna dari belakang. Dagunya ia sandarkan pada bahu istrinya. "Jangan bilang kamu mikirin dia lagi, ya?" tebaknya asal. Membuat Yumna berulang kali menarik napas.
Suaminya ini benar-benar cemburuan.
"Saya mikirin kamu," sahut Yumna malas. Namun tidak dengan Abyan. Pria muda itu membalik tubuh Yumna untuk menghadap padanya.
"Mikirin aku? Soal apa? Mau punya anak?"
"Astagfirullah!" Yumna berucap cepat. Sementara Abyan tertawa seraya menatap lekat istrinya. "Kamu ngomong asal ceplos."
"Terus kalau bukan itu, lalu apa?" tanya Abyan dengan kedua alis saling bertautan.
"Itu--"
Drrrttt Drrrttt
Ucapan Yumna terhenti tatkala suara panggilan masuk di ponselnya terdengar.
"Saya angkat telpon dulu," izin Yumna seraya berlalu pergi dari hadapan Abyan yang masih setia berdiri di balkon. Lalu melangkah masuk menuju kamar dan meraih ponselnya.
Jantung Yumna berdebar kencang lebih dari biasanya, di sana tertera nama Yunus. Matanya membola dan celingak celinguk ke arah balkon untuk melihat keberadaan suaminya. Dan untungnya Abyan masih setia di sana.
**
Sementara di luar balkon, Abyan menikmati waktunya sendirian untuk menatapi indahnya ciptaan Tuhan.
"Haaaaa. Aku menikah tapi kayak orang belum nikah. Masih perjaka ting-ting," keluh Abyan meringis berupa gumaman.
Dari balkon hotel, ia bisa melihat beberapa orang di bawah sana sedang berjalan seraya berpegangan tangan juga bermesraaan dengan pasangannya. Sedang ia sendirian memeluk sepinya pagar balkon.
"Apa aku minta aja ya baik-baik sama Yumna? Siapa tahu dia mau ngasih. Lagipula kan besok kita mau pulang dari sini. Kalau ditunda terus, aku bisa enggak dapat jatah. Sementara aku juga harus kembali ke ma'had."
Abyan berpikir keras agar bagaimana caranya ia bisa melaksanakan malam pertama yang hingga sepekan lamanya ia belum melakukan hal itu dengan istrinya.
"Aku ajak dia jalan-jalan dulu aja kali, ya? Bawa ke tempat romantis dan pulangnya, kamar telah di dekor oleh pihak hotel. Kayaknya bagus juga tuh, hehehhe."
Setelah rencananya tersusun dengan matang dan sempurna. Abyan melangkah masuk ke dalam kamar.
Namun langkahnya terhenti tatkala mendengar pembicaraan mesra istrinya dengan seseorang dibalik telpon.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aku akan pulang besok. Kamu tunggu saja di kantor lusanya."
"..."
"Hem bye. Tunggu aku di perusahaan."
"..."
"Iya! Sayang!" Yumna menekankan ucapan terakhirnya dan mematikan ponsel. Sementara di belakangnya, Abyan mengepal kuat kedua tangannya.
Dada Abyan terasa panas. Ia mengira jika yang menelpon istrinya pastilah mantan wanita itu.
"Siapa sayang?" tanya Abyan dengan suara rendah yang terdengar tegas dan penuh intimidasi.
Yumna berbalik ke belakang dengan raut gugup. Menurunkan ponsel dari telinganya dan sama sekali tidak berani menatap Abyan.
"Kenapa diam? Siapa yang kamu panggil sayang?" Abyan kembali mengulang pertanyaannya.
"Ratih."
"Masa?"
"Kamu enggak percaya sama saya?" tanya Yumna balik. Dan mengangkat ponselnya untuk diperlihatkan pada Abyan. "Nah!" ujarnya seraya mengulurkan ponsel, sedang ia sendiri berulang kali menelan saliva.
Abyan mengangkat tangannya untuk mengambil ponsel milik istrinya. Hanya ada panggilan masuk dari kontak bernama 'Ratih' yang tertera di sana. Tidak ada nama pria manapun.
"Kenapa panggil sayang ke perempuan?" Abyan malah bertanya hal yang aneh untuk menutupi rasa canggungnya karena baru saja sedikit emosi. Pria itu mengembalikan ponsel milik istrinya.
"Kamu saja tidak memanggilku semesra itu. Padahal, aku suamimu dan lebih berhak mendapatkannya," balas Abyan terlihat merajuk seperti anak kecil.
"Kamu ingin mendapatkan panggilan romantis dari saya?" tanya Yumna seraya mengulum senyum.
Pria muda itu menganggukkan kepalanya. Dengan memberikan puppy eyes yang semakin terlihat menggemaskan.
Yumna terkikik kecil melihatnya. Kemudian pura-pura berpikir untuk mencari panggilan romantis yang sesuai dengan suaminya.
"Kalau anaknya doraemon, gimana?"
"Memangnya aku anak kecil!" sahut Abyan sarkas dan berpura-pura ngambek. Sementara Yumna semakin lebar tawanya. "Aku mau yang romantis."
"Hem. Apa ya?" Yumna menggumam sendiri. Seraya berpikir. "Nanti aja deh cari tahunya."
"Cari yang romantis ya?" Abyan berkata seraya mendekat dan menarik Yumna dalam pelukannya. Sementara Yumna menanggapi berupa anggukan patuh.
Abyan menatap intens netra istrinya. Menyelami indahnya manik mata hitam bercahaya itu. "Mau makan dan jalan-jalan di luar sebelum pulang besok?" ajaknya dengan suara serak nan menggoda. Membuat Yumna tanpa sadar menganggukan kepalanya.
"Boleh." Yumna menyahut setuju. Sementara Abyan langsung menarik pelan tangan istrinya untuk ikut dengannya.
**
Di sisi lain, Yunus sedang meluapkan emosinya dengan marah-marah karena Yumna tidak mengangkat telpon darinya.
__ADS_1
"Sial! Kenapa Yumna tidak mengangkat telponku sih!!" teriak Yunus penuh emosi.
Ia pikir, setelah putus darinya, Yumna akan merengek dan meminta agar balikan dengannya. Dan bahkan akan rela memberikan tubuhnya pada dia.
Sayangnya, jangankan memberi kabar, wanita itu bahkan tidak mengangkat telpon darinya.
"Jangan marah-marah, Sayang. Tidak baik lho," ucap seorang wanita menenangkan Yunus. Dengan posisi berada di balik selimut dan tubuh yang tidak berpakaian sehelai benang pun. "Bukankah aku selalu ada untukmu di sini? Aku siap menggantikan posisi Yumna," tambahnya dengan gaya sensual. Mendekat dan hendak meraup bibir pria itu.
Yunus menepis tangan wanita itu sedikit kasar, dan memberikannya tatapan tajam. "Jangan bermimpi! Yumna tidak akan tergantikan oleh siapapun. Kamu hanya wanita murah yang hanya aku jadikan sebagai pemuas napsu!"
Setelah berkata demikian, Yunus bangkit dari tempat tidur dan berlalu menuju kamar mandi. Sementara wanita itu terlihat jelas sangat sakit hati atas ucapan pria yang baru saja menghabiskan waktu menggairahkan dengannya itu.
Kepala Yunus pening memikirkan tentang Yumna saat ini.
Biasanya wanita itu akan selalu menghubungi dirinya atau mengabarinya kemanapun ia pergi.
Tapi sekarang, Yunus bahkan mengetahui kepergian Yumna untuk dinas ke Surabaya melalui Ratih.
"Sial! Sial! Sial!" umpat Yunus emosi dengan memukul air seperti orang gila.
**
Cahaya matahari yang masih setia menyinari Bumi, kini perlahan memudar. Kendati demikian, keindahannya tetap saja terasa memalui pemandangan yang seringkali di katakan sebagai sunset oleh banyak orang.
Angin semilir dan deburan ombak yang indah terlihat semakin menambah kecantikan alami pantai yang sedang Yumna dan Abyan kunjungi.
Kedua pasangan pengantin baru yang belum kunjung malam pertama itu, berjalan di pasir pantai seraya menikmati sapuan angin yang menerbangkan helai pakaian mereka.
"Jangan di angkat bawahannya!" seru Abyan tatkala melihat Yumna hendak mengangkat roknya karena takut basah oleh air laut.
"Tapi nanti basah, Abyan," balas Yumna dengan tetap ingin menyingsingkan ujung kain roknya namun segera di tahan oleh Abyan.
Abyan berjongkok tepat di hadapan Yumna dan menahan tangan istrinya untuk tidak melakukan hal yang ia larang.
Kepala Abyan mendongak menatap istrinya. Sedang Yumna sudah sangat malu karena orang-orang memerhatikan mereka.
"Aby--"
"Tidak apa-apa basah. Yang penting bagian manapun dari tubuh kamu tidak boleh terlihat oleh siapapun kecuali aku," ujar Abyan menyela apa yang ingin Yumna katakan.
Wajah Yumna merona karena malu. Ia memalingkan wajah sebab tidak berani menatap pria muda yang sedang berjongkok seraya memegang ujung roknya ini.
"Abyan bangun. Tolong jangan terlalu baik pada saya. Karena kamu akan menyesal."
Mendengarnya Abyan tersenyum tulus. "Tidak akan ada penyesalan selama aku melakukannya karena niat untuk ibadah, istriku. Karena tiap hal yang aku lakukan, akan mendatangkan pahala. Tidak peduli dengan tanggapanmu terhadapku."
Yumna terharu biru mendengarnya. Pria di hadapannya ini benar-benar suami idaman. Dan ia hanya akan menjadi wanita bodoh jika mengabaikan pria ini.
"Abyan, tolong katakan. Apa yang harus saya lakukan agar saya bisa membalas seluruh perhatian kamu? Karena saya tidak ingin kehilangan semua ini."
Senyum Abyan merekah mendengarnya. Ia bangkit dari posisinya dan menatap lekat netra Yumna.
__ADS_1
Lalu tanpa basa-basi, pria itu menggendong Yumna dan membawanya menuju hotel.