Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Berita Pernikahan


__ADS_3

Iuhhh


Ingin sekali rasanya Yumna muntah darah mendengar panggilan sayang yang terucap dari bibir mantan kekasihnya itu.


Yumna bangkit dari duduknya bersamaan dengan Ratih yang juga enek melihat wajah Yunus yang seperti pria hidung licin.


"Hah! Sayang? Maaf Pak Yunus. Tapi anda tidak lagi berhak menyebut saya dengan panggilan itu!"


Yunus cukup kaget dengan pembicaraan formal yang kini Yumna gunakan ketika berbicara dengannya. Namun ia bukan jenis lelaki yang mudah menyerah begitu saja.


Menurutnya, saat ini Yumna hanya sedang merajuk layaknya pasangan yang sedang bertengkar. Jadi sebisa mungkin, ia sebagai laki-laki harus banyak mengalah dan membujuk Yumna.


"Tidak berhak apanya, Sayang? Kamu masih marah sama aku soal itu? Jika kamu marah, aku minta maaf oke? Semua itu aku lakukan hanya untuk menguji cinta kamu. Tapi sekarang aku sadar bahwa cinta tidak harus dibuktikan dengan itu. Dan kamu yang menyadarkan aku akan itu, Sayang."


Sungguh! Yumna ingin sekali muntah. Pria di hadapannya ini benar-benar tebal muka. Yumna tidak menyangka jika ia pernah jatuh cinta dan bertahan selama lima tahun lamanya dengan Yunus. Bahkan menangis saat pria itu memutuskan dirinya.


Oh! Mungkin Yumna memang bodoh. Dan dia akan semakin bodoh jika melayani ucapan ngawur dari Yunus.


"Sayang--"


"Jangan panggil saya sayang!" pangkas Yumna cepat. Matanya tajam menyorot Yunus. "Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Jadi tolong jangan pernah muncul lagi di hadapan saya kecuali urusan pekerjaan!"


Setelah berkata demikian, Yumna hendak melangkah pergi. Namun tangannya tertahan oleh Yunus.


"Na!"


Tak!


Tanpa basa-basi Yumna menepis kasar tangan Yunus. "Jangan sentuh saya!" ancamnya, lalu segera berlalu dari sana. Karena jam kerja akan segera dimulai.


Beberapa orang yang berdiri di luar pintu pantry untuk menyaksikan kehebohan itupun ikut bubar.


Yunus mengepalkan tangannya kuat dengan gigi bergemeletuk. Tidak menyangka jika Yumna akan semarah itu padanya.


"Aku tidak akan menyerah, Yumna. Sampai kamu akhirnya akan menjadi milikku kembali."


**


"Abyan, kamu kenapa terlihat gelisah gitu?" tanya Farhan pada sahabat sekaligus pria yang hampir dua pekan telah menjadi kakak iparnya itu.


"Entah. Aku khawatir dengan istriku." Abyan bangkit dari duduknya setelah menggunakan kaos kaki. Sebentar lagi ia akan masuk ke dalam kelas untuk mengikuti perkuliahan. "Apa dia baik-baik saja, ya? Atau ada yang mengganggunya?"


Farhan berjalan mendekat dan menepuk pundak Abyan. "Udah, jangan terlalu khawatir. Minta sama Allah untuk jagakan dia untukmu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Saudariku yang satu itu tidak selemah yang kamu pikirkan."


Hati Abyan cukup tenang tatkala Farhan berkata demikian. Pria muda itu mengangguk dan mereka pun mulai bersiap dan bergegas masuk ke dalam kelas.


Pembelajaran kali ini tentang bahasa Arab yang menggunakan standar buku Al-Arabiyah baina Yadaik yang meliputi tiga maharah dan qawaid (kitabah, qiroah, istima', kalam) dengan menggunakan media pembelajaran multimedia.


Selama pembelajaran berlangsung, Abyan berusaha untuk tetap fokus karena itu juga merupakan permintaan dari istrinya. Tapi meski begitu, hatinya tetap saja khawatir dengan kondisi sang istri.


Belum lagi, tatkala sebelum berpisah dengan Zaid tadi, Abyan baru mengetahui informasi terbaru jika rupanya sang istri satu kantor dengan mantannya.


Bukan tidak mungkin Abyan khawatir jika Yumna akan berpaling. Karena bagaimanapun, Yunus merupakan cinta pertama dan satu-satunya mantan dari istrinya. Dan hubungan keduanya pun terjalin cukup lama.


Bukankah banyak orang yang mengatakan bahwa cinta pertama itu sulit untuk dilupakan?


Abyan menghela napas perlahan. Matanya lurus menatap dosen yang mengajar di depan, tapi pikirannya melanglang buana kemana-mana.

__ADS_1


"Kamu harus percaya sama saya."


Kata-kata Yumna semalam tiba-tiba saja terngiang dalam pikiran Abyan. Mungkin ini cara Allah untuk membuat hatinya tetap tenang dan berusaha untuk percaya pada istrinya.


Kepercayaan dirinya terhadap Yumna akan mulai diuji melalui perpisahan mereka.


"Ya. Aku percaya padanya," gumam Abyan kemudian mulai fokus dengan pembelajarannya saat ini.


**


Tok tok tok


Ratih mengetuk pintu ruangan kerja Yumna. Wanita itu sedang melamun setelah menyelesaikan laporan kerja samanya dengan perusahaan Robert.


Cklek~


Tanpa menunggu perintah dari Yumna yang ada di dalam ruangan. Ratih masuk begitu saja karena melihat sahabatnya itu tengah melamun.


Tak!


Ratih mengetuk meja dengan pulpen di tangannya, sehingga Yumna tersentak.


"Eh, kapan kamu masuk, Rat?"


"Barusan," sahut Ratih seraya menelisik ekspresi Yumna. "Pengantin baru lamunin apa?"


"Enggak apa-apa kok." Yumna menggeleng tidak ingin cerita dan Ratih memahami itu. "Ada apa?" tanyanya dengan kedua alis terangkat.


"Bos manggil kamu. Katanya mau bicarain soal hasil dinas kamu kemarin."


"Sekarang Bos dimana?"


"Ah iya. Terima kasih." Yumna bangkit dari duduknya dan segera keluar bersamaan dengan Ratih.


Di depan pintu ia melihat Yunus yang sedang tersenyum ke arahnya. Membuat Yumna risih akan sikap pria itu.


"Awas hati-hati. Mantan akan terlihat lebih tampan setelah putus," bisik Ratih memberikan peringatan.


"Lebih tampan suami aku kali, Rat. Muda dan romantis lagi . Heheheh." Yumna menyahut seraya terkekeh dan segera mengambil langkah cepat menuju ruangan di mana bosnya berada.


**


"Masuk!" titah sang bos dari dalam ruangan setelah mendengar suara ketukan pintu yang berasal dari luar.


"Bos panggil saya?" tanya Yumna.


"Iya, Yumna. Duduklah."


Yumna mengikuti perintah sang bos yang meski sudah cukup berumur tapi tetap terlihat cantik dan sexy.


"Gimana perjalanan dinas kamu kemarin, Na? Saya dengar kamu hanya menyelesaikannya dalam waktu tiga hari?"


"Menyenangkan, Bos. Dan saya menggunakan waktu itu untuk liburan dengan keluarga."


"Good. Soal laporan sudah selesai kan?"


"Alhamdulillah, sudah Bos. Anda ingin saya menyerahkannya kapan?"

__ADS_1


"Kalau bisa hari ini."


"Baik, Bos." Yumna menyahut patuh. "Apa ada lagi, Bos?"


"Ada." Wanita itu menganggukan kepalanya. "Nanti malam, akan ada acara dinner dengan klien yang datang dari Singapura. Saya mau kamu menggantikan saya menemuinya bersama Yunus. Oke?" ujarnya seraya bangkit dari duduknya.


Mendengar itu Yumna ikut bangkit. "Tapi Bos, sepertinya saya tidak bisa keluar bersama Pak Yunus lagi."


"Kenapa?" tanyanya seraya mengernyitkan alisnya bingung. "Bukannya tidak apa-apa kamu keluar bersamanya? Atau apa ada masalah yang tidak saya tahu?"


"Ehm." Yumna tersenyum canggung. Menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Maaf bos, sebenarnya hampir dua pekan lalu saya sudah menikah."


"What?! Kamu kok nggak invite saya?"


"Saya sudah invite bos di wattshap. Tapi sepertinya Bos belum sempat baca," tutur Yumna tidak enak hati.


"Hem." Sang bos mendengus. "Lalu apa masalahnya? Kamu nikahnya juga sama Yunus, kan?"


Yumna menggeleng canggung. "Bukan, Bos. Saya sama dia sudah putus."


Sang bos benar-benar tidak habis pikir. Ia tidak mengerti apa yang terjadi.


"Jadi bagaimana sekarang?"


"Saya tetap akan menemui kliennya. Tapi dengan Ratih."


"Baiklah. Kalau begitu saya harus pergi. Ada pertemuan di luar. Bye."


Yumna bergerak bersamaan dengan sang Bos yang berjalan keluar dari kantornya. Mereka berpisah di depan pintu dan kembali fokus pada urusan masing-masing.


**


Tepat sebelum jam makan siang, beberapa karyawan yang bekerja sama satu departemen dengan Yumna mulai heboh dan beranjak ke sebuah restoran depan kantor.


Mereka sama-sama ke sana karena Yumna menjanjikan akan mentraktir mereka. Tidak ketinggalan, Yumna dan Ratih juga ikut berjalan bersama mereka.


Yunus yang tidak mengerti dan belum tahu apa yang terjadi mengikuti karyawan yang lain.


"Kalian pesan aja sepuasnya ya. Manajer kita ini yang akan bayar. Tapi makanlah sesuai porsi," ujar Ratih seraya memgambil duduk di sebelah Yumna.


"Siap." Para karyawan mulai melihat-lihat menu.


Dari jauh, Yunus berjalan mendekat ke arah Yumna dan duduk di hadapan wanita itu.


Yumna memalingkan wajah. Ia tidak mau tergoda dengan paras tampan sang mantan.


"Ini ada acara apa kamu traktir semua karyawan di departemen kita, Na?" tanya Yunus dengan santai sembari membuka-buka buku menu.


Tidak ada jawaban yang Yumna berikan. Baginya tidak penting berbicara dengan Yunus. Hingga seorang resepsionis wanita yang duduk di sampingnya berbicara.


"Pak Yunus belum tahu?" tanyanya memastikan.


"Soal?" Yunus menautkan kedua alisnya. Sepertinya ada yang ia lewatkan.


"Bu Yumna mentraktir kita semua untuk merayakan pernikahannya dua pekan lalu."


Mendengar itu Yunus langsung bangkit dengan emosi menggebu.

__ADS_1


"APA?! JANGAN BECANDA!"


__ADS_2