Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Akan Selalu Menunggumu


__ADS_3

"Bohong!"


Yunus menampik ucapan Elsa. Melanjutkan langkah meninggalkan wanita itu yang kemudian mengejarnya.


"Aku tidak bohong, Yun. Aku serius hamil anak kamu."


Langkah Elsa cepat menyamakannya dengan Yunus.


"Aku enggak percaya!"


"Yun! Dengarin aku!" sentak Elsa pada Yunus yang hendak membuka pintu mobilnya.


"Apa?" Yunus menunjukkan tampang menantang. "Kamu pikir aku akan percaya dengan wanita yang mudah memberikan tubuhnya pada laki-laki yang bukan suaminya? Bisa jadi, itu bukan anak aku. Tapi anak kamu dengan pria lain."


Plak!!


Mata Elsa tajam memancang Yunus. Sementara Yunus tersenyum mengejek seraya memegang pipi-nya yang sakit karena tamparan Elsa.


"Heh!" Yunus mendengus. "Aku tidak akan pernah mau bertanggung jawab. Karena aku yakin itu bukan anak aku. Selamat tinggal," tambahnya, kemudian berlalu meninggalkan Elsa dengan air mata yang menetes.


"Yunus! Jangan pergi! Tolong. Aku enggak mau anak ini ...." Elsa menggedor-gedor pintu jendela mobil Yunus yang bahkan sama sekali tidak memedulikan dirinya.


"Yunus!!"


Mobil Yunus melaju, mengabaikan teriakan Elsa yang saat ini terduduk menangis di tempatnya.


Beberapa orang yang berlalu hanya melihatnya tanpa ambil peduli. Hati Elsa hancur.


Bukan hanya masa depannya, namun harga dirinya telah diinjak-injak oleh pria itu.


Kini ia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. Entah apa yang bisa ia lakukan dengan janin dalam perutnya saat ini.


Kalau saja ia bisa mengulang kembali waktu. Maka ia tidak akan pernah mau bertemu dengan Yunus dan terikut bujuk rayu-nya.


Ia mengira Yunus adalah pria baik. Tapi nyatanya, dia hanyalah manusia bejat yang menginginkan tubuhnya lalu membuangnya setelah puas.


"Permisi, mbak. Anda tidak apa-apa?" tanya security apartemen. Tidak tega melihat Elsa demikian.


Tidak ada tanggapan yang Elsa berikan. Ia hanya menangis sesenggukan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


**


Di sisi lain, Yumna akhirnya dipulangkan dari rumah sakit. Saat ini mereka sudah berada di rumah Abah dan Umi untuk persiapan sebelum pergi.


Yumna duduk melamun di tempatnya. Matanya kosong menatap ke arah lantai kamarnya. Sementara Abyan sibuk memasukkan barang-barangnya di dalam tas yang akan istrinya bawa untuk tinggal di pesantren.

__ADS_1


Sedangkan di luar kamar, Kiyai dan yang lain menunggu keduanya.


"Na ... kalau di sana nanti, kamu harus perbanyak dzikir ya. Ikuti apapun yang Kiyai dan Nyai katakan," pesan Abyan dengan hati yang sedih.


Sungguh, Abyan tidak mampu jika harus berpisah dengan Yumna seperti ini. Namun ia juga tidak bisa menahan Yumna di sisinya dalam kondisi yang demikian.


Setelah selesai mengemasi barang-barang. Abyan mendekat pada Yumna. Memegang kedua tangan wanita itu yang selalu berusaha menepis.


Yumna juga memalingkan wajah dari menatap Abyan. Wajahnya masam tanpa senyuman sedikitpun. Namun Abyan tidak peduli sama sekali.


Ia mengulurkan tangan dan membelai wajah Yumna yang kian tirus. Sihir itu menggerogoti istrinya dari dalam.


"Aku akan sangat merindukanmu. Tolong jangan lupakan aku, ya?"


Setelah berkata demikian, Abyan menunduk di paha istrinya dan terisak di sana.


Ingin sekali Yumna membelai rambut Abyan seperti biasa. Tapi tangannya begitu kaku. Dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi apapun kecuali kemarahan dan kebencian.


"Aku di sini akan selalu doain kamu."


Abyan mengangkat kepalanya, mendongak menatap Yumna. "Kamu masih tidak ingin melihatku untuk terakhir kalinya sebelum berpisah, Na?"


Tidak ada tanggapan seperti biasa. Yumna hanya selalu melihat ke arah lain. Meski hatinya berat dan ingin sekali mendekap suaminya itu.


"Baiklah. Enggak apa-apa. Aku akan tunggu. Kita lihat, siapa di antara kita yang akan menang. Perpisahan yang kamu minta, ataukah cinta aku yang menang."


"Aku ingin kamu menyimpan ini dan membawanya. Jangan lupakan aku yang akan selalu menunggumu di rumah kita, Sayang."


Setelah berkata demikian, Abyan keluar dari sana. Meninggalkan Yumna yang pada akhirnya meneteskan air mata dengan tatapan kosong ke arah jilbab di tangannya. Tanpa sedikitpun berpaling melihat kepergian Abyan.


"Semuanya sudah beres, Kiyai-Nyai," warta Abyan dengan wajah pias saat berada di ruang tamu.


Pak Latif dan Bu Nurma bangkit dari duduknya untuk memeluk Abyan yang nampak rapuh.


"Bagus. Kiyai harap selama pengobatan istrimu, kamu tetap fokus pada studi mu, Nak."


Abyan menganggukkan kepala. "Mari saya antar."


"Tidak, Abyan." Abah menyela. "Kami sudah bicarakan bersama. Zaid yang akan mengantar kami. Kamu kembalilah ke ma'hadmu bersama Farhan untuk melanjutkan studi. Ini semua demi kebaikan kamu dan Yumna."


Dada Abyan kian terasa sesak. Sementara Farhan bangkit dari sana untuk kemudian mengajaknya pergi bersama.


Mau tidak mau, Abyan harus melakukan itu. Ia akan menunjukkan pada Yumna bahwa dirinya sanggup menunggu wanita itu sampai kapanpun.


"Kami pergi dulu semuanya, Assalamu'alaikum," pamit Farhan mewakili.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam."


Farhan dan Abyan pergi meninggalkan rumah dengan mobil Abyan sendiri yang Hercules--sang asisten kemudikan.


Sepanjang jalan menuju Ma'had, Abyan menatap ke arah luar, air matanya mengalir turun. Farhan yang ada di sampingnya ikut bersedih. Kemudian mengeluarkan beberapa kalimat untuk menenangkan Abyan.


"Laa tahzan, Byan. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Anggap saja, ini adalah ujian dalam rumah tangga kalian untuk melihat sejauh mana kalian akan bertahan. Jangan khawatir, Teteh aku orang yang kuat, insyaa Allah dia akan bisa bertahan."


"Bukankah Allah telah berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 2, bahwasanya, 'Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan kami telah beriman dan mereka tidak diuji?"


"Lalu Allah melanjutkan di ayat berikutnya, 'Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah tahu, mana orang yang benar dan mana yang pembohong."


Air mata Abyan terus saja mengalir--membasahi pipinya yang glowing. Nasihat Farhan menancap kuat dalam hatinya.


"Kamu dan Teteh orang yang kuat. Dan Allah tidak akan meninggalkan kalian tanpa memberinya pertolongan. Ingatlah, bahwa pahala orang yang sabar itu, tanpa batas."


Abyan menganggukkan kepala. Mencoba untuk bersabar menghadapi semuanya. Karena yang Allah janjikan adalah surga. Dan surga tidaklah murah dan tidak bisa didapatkan dengan mudah dengan hanya berleha-leha.


Di rumah Abaha, tepatnya di dalam kamar. Yumna bangkit dari duduknya dengan dibantu oleh Umi dan sang mertua.


Ratih juga masih senantiasa ada di sana menemani sahabatnya itu.


"Rat," panggil Yumna yang akhirnya berbicara.


"Iya, Na. Kamu butuh apa?" Dengan cepat Ratih mendekat dan bertanya pada Yumna.


"Aku ... bolehkah aku menulis surat untuk Abyan?"


Ketiga orang itu saling pandang, kemudian menganggukkan kepala bersamaan.


"Boleh. Aku ambilkan kertas dan pulpen dulu ya," pamitnya seraya berjalan ke arah meja belajar. Sedang Bu Nurma dan Umi kembali membiarkan Yumna duduk sedang mereka berdua keluar dari sana membawa tas yang berisi pakaian Yumna.


"Ini, Na. Kamu bisa menulisnya di sini."


Yumna menganggukkan kepala. Sedang Ratih bergerak menjauh dan berdiri di dekat jendela. Menunggui Yumna menyelesaikan tulisannya.


Selama menulis surat, Yumna meneteskan air mata. Sedang ingatannya dipenuhi dengan memori bersama Abyan yang terputar bagai kaset rusak.


Tidak berapa lama setelahnya, surat itu telah selesai. Yumna juga mengenakan jilbab yang Abyan berikan padanya tadi sebelum perpisahan mereka.


Surat tersebut ia berikan pada Ratih agar dikirim ke Abyan.


Yumna dengan dibantu oleh Ratih keluar dari sana setelah selesai bersiap-siap.


"Bagaimana, Yumna? Kamu sudah siap?" tanya Nyai dengan lembut.

__ADS_1


Anggukan kepala Yumna berikan. Mereka pun berangkat bersama menuju pesantren untuk mengantar dan juga tinggal di sana.


__ADS_2