Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Melihat-Lihat Rumah Baru


__ADS_3

"Kamu lihat, ya?" ujar Abyan memastikan. Tiba-tiba merasa kikuk. Seperti orang yang sedang tertangkap basah sedang selingkuh saja.


Padahal ia dan Eva tadi hanya saling sapa sebentar selayaknya teman satu pondok yang sudah dua tahun lamanya berpisah dan belum pernah bertemu.


Tangan Abyan tidak berhenti membelai lembut pipi Yumna. Sementara Yumna mengalihkan pandangannya dari Abyan.


"Jadi ... kalian ada hubungan apa?" tanya Yumna dengan mengecilkan suara di akhir kalimatnya. Rasanya tidak sanggup jka dirinya harus mendengar kenyataan yang mungkin saja akan menyakitkan dirinya.


Tapi itulah wanita. Dia akan tetap bertanya meski sesuatu itu akan membuatnya terluka.


"Tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman satu pesantren dulu. Aku juga enggak tahu ternyata dia tinggal di kompleks ini," jelas Abyan, jujur. Kecuali tidak mengatakan tentang kenyataan jika dirinya pernah menyimpan rasa suka dalam diam meski sejenak pada Eva.


"Kamu yakin enggak pernah suka sama dia?" skak Yumna. Membuat Abyan seketika meneguk salivanya kasar. Menatap Yumna dengan mata yang menyimpan banyak kekhawatiran.


"By, enggak bisa jawab ya?"


"Apa itu artinya, kamu memang pernah suka sama dia?" tebak Yumna, menghembuskan napasnya perlahan. Sedang Abyan diam menunduk tanpa memberikan jawaban. "Enggak apa-apa kok. Itu cuma masa lalu."


Abyan mendongak menatap Yumna. Kini tangannya beralih mengenggam jemari istrinya.


"Aku--"


"Enggak apa-apa, Byan. Bukankah saya memiliki masa lalu yang lebih buruk dari kamu? Kamu hanya jatuh hati tanpa melanggarnya. Sementara saya jatuh ke dalam lingkaran itu karena dengan alasan kata cinta."


"Tapi kamu tetap istri yang terbaik bagiku, Na. Dia yang kamu lihat itu, hanya pernah tinggal sekejap saja di hatiku. Sampai akhirnya aku jatuh hati pada kamu meski saat itu aku tahu kamu tengah menjalin kasih dengan mantan kamu itu."


"Hem?"


"Ya. Aku pernah bertemu kamu sebelum hari kamu diputuskan oleh pria itu. Ceritanya panjang. Kalau aku katakan semuanya sekarang. Kita enggak akan jadi-jadi lihat rumah barunya."


"Emangnya rumahnya udah ada?"


"Heheheh. Ada dong." Abyan terkekeh. Ia bangkit dari duduknya seraya mengambil tangan Yumna untuk di ajaknya pergi.


"Oh iya, By. Jangan lupa itu saladnya. Bungkus aja. Makan dan jalan."


"Kamu yang suapin tiap di lampu merah ya?"


Yumna tertawa mendengarnya. Keinginan Abyan selalu aneh-aneh. "Siap, Tuan suami."


Kedua suami-istri itu beranjak pergi dari sana setelah berpakaian lengkap. Yumna terus menunjukkan senyumnya meski hatinya masih menyimpan tanya dan kata tidak baik-baik saja.


Ingin rasanya ia menghampiri Eva. Tapi perempuan itu kan bukan pengganggu dalam rumah tangganya.


Justru selama menikah, Abyan yang seringkali terluka akibat hubungannya dengan Yunus.


Tapi kenapa sekarang, ia tiba-tiba teringat mantan ya?

__ADS_1


**


Di sisi lain pada waktu yang bersamaan. Yunus baru saja membuka mata. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dan baru sadar jika dirinya tengah berada di dalam kamar Elsa.


Yunus menyeringai puas. Menatapi Elsa yang kini terbungkusi selimut putih hingga batas dada. Sedang terbaring lelap dalam tidurnya.


'Inilah kelemahanmu, Elsa. Sekali dirayu aja udah langsung luluh dan kasih tubuh. Beda jauh dengan Yumna. Dia memang selalu menjadi yang terbaik. Dan aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya.' Yunus bertekad kuat dalam hati.


Ia bangkit dari atas tempat tidur setelah mengecup kening Elsa. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Elsa membuka matanya tepat setelah Yunus tidak lagi ada di sana. Dengan cepat Elsa meraih ponsel Yunus yang ada di atas nakas.


"Jadi sebelum ke sini dia telpon Yumna?" gumam Elsa kesal.


"Sepertinya aku harus memberikan peringatan pada Yumna untuk tidak lagi mengganggu Yunus. Wanita itu benar-benar meresahkan."


Sesaat kemudian, suara pintu kamar mandi yang terbuka mulai terdengar. Elsa menyimpan kembali ponsel Yunus di tempatnya. Sedang ia sendiri kembali berpura-pura tidur seperti tidak terjadi apapun.


Yunus melirik ke arah nakas. Rasanya ada yang berbeda dengan posisi ponselnya. Tapi ia sama sekali tidak curiga apapun. Sebab Elsa terlihat masih lelap.


"Sayang," panggil Yunus lembut, melangkah mendekat di bibir ranjang samping tubuh Elsa. "Ayo bangun. Udah sore," bisiknya, mengusap dan membelai rambut Elsa dengan penuh kasih dan sayang.


"Eghh!" Elsa mengerang kecil dalam tidurnya. Perlahan membuka dan tersenyum tatkala Yunus mendekatkan wajah dan mengecup keningnya.


"Belum ingin bangun? Aku mau mengajakmu ke suatu tempat."


"Ke restauran enak. Aku lapar. Dan kamu juga pasti lapar kan setelah menghabiskan energi denganku?"


Wajah Elsa menguarkan semburat merah. Menutup wajahnya menggunakan selimut dengan gaya manja.


"Kamu sih, ganas!" goda Elsa membuat Yunus menyeringai dan mengeratkan kedua giginya.


"Jangan menggodaku, Sayang. Kamu akan menyesal."


"Kenapa?" tantang Elsa tanpa takut.


Yunus mendekatkan wajahnya di depan Elsa. Hidung keduanya saling bertemu. Netra Yunus sama sekali tidak beranjak dari menatap Elsa.


"Aku ingin lagi. Tapi aku benar-benar lapar. Sekarang kamu bangun mandi. Aku tunggu kamu di luar."


Elsa berpura-pura menghela napas panjang. "Baiklah. Jangan tinggalin aku."


"Tidak akan, Sayang. Sampai aku mati."


Seulas senyum lebar Elsa berikan. Mengecup bibir Yunus sejenak kemudian segera melangkah menuju kamar mandi.


**

__ADS_1


"Gimana rumahnya? Kamu suka kan, Na?" tanya Abyan membawa Yumna berjalan-jalan mengelilingi rumah dengan ditemani oleh seorang pria yang bertugas untuk menjelaskan.


"Suka banget, By. Apalagi itu balkonnya langsung menghadap ke arah taman dan lingkungan sekitar. Adem banget di sini."


Abyan bermain mata dengan pria itu seraya tersenyum. "Sepertinya istri saya menyukai rumah ini pak Kiok. Dan saya akan membeli rumah ini."


"Saya senang sekali istri anda menyukainya. Untuk kelanjutannya kita bisa keliling lebih dulu kemudian mulai membahas mengenai hal yang lain."


Di kala kedua orang itu mengobrol, Yumna malah sedang sibuk melihat-lihat rumah beserta isinya. Rumah yang Abyan beli tidaklah terlalu besar. Namun ia menyukainya karena terlihat elegan dan bagus.


"Jadi kamu beneran suka sama rumahnya?" tanya Abyan memeluk Yumna dari belakang secara tiba-tiba, usai meneken kontrak.


"Iya, saya suka. Terima kasih banyak ya, Byan."


"Sama-sama."


Cup~


Abyan mengecup pipi Yumna. Sementara Pak Kiok juga baru saja selesai merapikan berkas.


"Pak Abyan! Selamat atas kerjasamanya." Pak Kiok menghampiri dan berjabat tangan dengan Abyan yang kini telah melepas peluknya dari sang istri.


"Sama-sama, Pak."


"Untuk rumahnya. Insyaa Allah sudah bisa anda tinggali bersama istri satu atau dua hari lagi setelah kami merapikan dan membersihkan semunya. Bagaimana?"


"Baik, kami setuju." Abyan memberikan jawaban usai meminta pendapat dari sang istri melalui permainan mata.


"Syukurlah. Anda masih ingin melihat lagi?"


"Tidak. Kami akan langsung pulang."


"Baik, Pak."


Abyan pamit bersama Yumna dari sana. Kembali ke dalam mobil dan mulai melajukannya menuju suatu tempat.


"Kita mau kemana?" tanya Yumna setelah berada di dalam mobil bersama suaminya.


"Aku mau mengajakmu ke restoranku. Kamu mau kan?"


"Aku mau banget, Byan."


"Kita pergi sekarang."


Abyan melanjukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan tidak lama setelahnya, ia dan Yumna tiba di restoran miliknya yang selalu ramai pengunjung.


Tanpa keduanya sadari, Yunus ada di sana dan melihat mereka.

__ADS_1


'Itukan Yumna sama suaminya? Ngapain mereka ke sini sih! Ada Elsa lagi. Gimana dong!' batin Yunus gelisah di tempat duduknya.


__ADS_2