
"Apa kalian akan pulang malam ini?" tanya Umi sebelum suami istri itu hendak pamit pergi dari rumah.
"Sepertinya tidak, Umi. Kami mungkin akan nginap, insyaa Allah besok pagi baru kembali," jawab Abyan melirik ke arah istrinya sebagai bentuk meminta persetujuan.
"Iya, Umi. Takutnya kemalaman nanti," timpal Yumna menyetujui kemauan suaminya. Meski ia harus menghubungi Ratih untuk meminta menggantikan dirinya dalam rapat besok.
"Baiklah kalau begitu. Salam Umi untuk orang tua Nak Abyan, ya?"
"Baik, Umi."
Mereka pun beranjak pergi setelah mengucapkan salam. Mobil Yumna menjadi pilihan untuk digunakan kali ini.
"Na, aku mau bilang sesuatu!" Abyan membuka pembicaraan setelah keduanya berada di dalam mobil.
"Ada apa, Byan?"
"Apa kamu setuju jika kita pindah rumah?"
Yumna melirik ke arah suaminya dengan tatapan intens. "Pindah kemana? Rumah Pipip dan Mimim?"
"Bukan," balas Abyan cepat. "Tapi di rumah kita sendiri."
"Memangnya kamu punya rumah sendiri?" Yumna kembali bertanya untuk memastikan. Sementara Abyan terlihat fokus pada jalanan di depannya.
"Punya."
"Uang dari orang tua kamu?"
"Tidak, Na. Uang aku sendiri." Abyan melirik ke arah istrinya yang sedang menatapnya dengan kedua alis saling bertautan. "Untuk kejelasan dari mana aku dapat uang, insyaa Allah nanti aku akan jelaskan sama kamu setelah kita pindah."
"Baiklah." Yumna menyandarkan punggungnya di kursi samping kemudi. Lalu beberapa saat, mengeluarkan sebungkus coklat yang tinggal setengah dari dalam tasnya. Kemudian mulai mengunyahnya sedikit demi sedikit. "Kamu mau, Byan?" tawarnya pada sang suami yang melihat ke arahnya.
"Enggak. Aku tidak terlalu menyukainya," balas Abyan menggeleng. "Ngomong-ngomong Coklat dari mana itu?" tanyanya yang seketika membuat Yumna membeku di tempat.
"Ini ...." Yumna bingung harus mengatakan apa. Tidak mungkin juga ia berbohong. Meski ia kurang paham terhadap agama dan tidak sedalam suaminya dalam memahami tiap ayat dan hadits, tapi setidaknya Yumna tahu hal dasar.
Salah satu tanda orang munafik, yaitu jika ia berbicara, maka ia berdusta/berbohong.
Tapi jika ia mengatakan sebenarnya, bisa jadi ini akan membuat Abyan kecewa dan marah padanya. Bahkan mungkin saja menganggap dirinya masih menyimpan rasa pada sang mantan.
Terkadang, dalam hubungan suami-istri, ada kalanya kebohongan menjadi alasan utama untuk menyelamatkan rumah tangga.
"Ah ini. Dikasih sama teman. Saya suka sekali sama coklat ini. Jadi saya terima aja."
"Oooh." Abyan mengangguk mengerti. "Kamu beneran suka sama coklatnya?" tanyanya memastikan.
"Suka banget!" balas Yumna riang.
__ADS_1
"Kalau gitu, selanjutnya biar aku yang akan membelikannya untuk kamu. Berapapun yang kamu mau."
"Serius?"
"Iya. Setidaknya, aku mau melakukan banyak hal yang aku bisa untuk istriku."
"Kamu romantis banget ya. Belajar dari mana sih?" Yumna mengulurkan tangannya dan mencubit pipi sang suami, gemas.
"Sebenarnya yang utama dan teori, aku belajar dari sunnah-sunnah Rasulullah. Beliau orang yang sangat romantis pada istri-istrinya. Namun secara nyata pada penerapannya, aku belajar langsung dari sepupuku yang akan kita temui ini."
"Jadi kamu banyak mencontoh darinya?"
"Lumayan. Salah satunya dengan menikahi wanita berumur lebih dari aku."
"Hah? Jadi dia juga ...."
"Iya. Bahkan sama Ustadzahnya sendiri."
"Wow, subhanallah!" pekik Yumna kaget. "Aku baru dengar cerita ini. Bikin aku penasaran seperti mereka," gumamnya dengan tatapan menerawang.
"Sebentar lagi kita sampai kok. Kamu bisa belajar banyak hal darinya istrinya nanti. Terutama soal cara menyenangkan suami dan mendidik anak-anak."
"Insyaa Allah. Aku akan banyak belajar darinya. Kamu tenang saja Abyan. Pokoknya, kamu tidak boleh berpindah ke lain hati."
Seulas senyum terbit di bibir Abyan. Matanya fokus menatap ke arah jalanan. "Memangnya kenapa aku tidak boleh pindah ke lain hati? Kamu juga belum memberikan aku pernyataan tentang perasaan kamu ke aku itu bagaimana," godanya memainkan mata.
"Memangnya kenapa? Enggak boleh?"
"Huh!" Yumna memalingkan wajah. Merasa kesal melihat muka Abyan yang tengil. "Terserah kamu. Malas saya!"
Mendengar itu Abyan tergelak. Namun matanya tidak beranjak sekalipun dari fokus menatap wanitanya.
"Kamu ngambek, ya?" tanya Abyan menggoda. Namun sama sekali tidak ditanggapi oleh Yumna.
'Udah tahu nanya. Dasar cowok, nggak peka!' batin Yumna sarkas. Tanpa sedikitpun berpaling dari melihat pemandangan di luar.
"Untung ya, dapat istri meski marah tetap cantik," puji Abyan tiba-tiba. Menghadirkan gelenyar dalam hati Yumna. Namun tetap pada pendirianya untuk tidak melirik sedikitpun pada Abyan.
Abyan menarik napas panjang, membiarkan sementara istrinya karena kini mereka telah tiba di rumah sakit.
"Ayo turun!" ajak Abyan, membukakan pintu mobil untuk sang istri. Dengan tangan terangkat demi menggandengnya.
"Jalan sendiri-sendiri saja!" sahut Yumna, ketus.
"Baiklah, Nona. Tolong ikut di belakang saya, ya?"
"Ehm."
__ADS_1
Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Abyan mengambil ponsel dari kantong celananya untuk bertanya pada sang Mimim di mana mereka harus pergi.
Dan tidak lama setelah Abyan menghubungi Bu Nurma, keduanya pun telah tiba di depan ruangan rawat di mana istri dari sepupu Abyan dirawat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Semua orang melirik ke arah Abyan dan Yumna yang datang.
"Byan!"
"Bang Adnan!" Abyan mendekat pada sepupunya dan memeluknya. "Bagaimana keadaan istri dan bayi abang?"
Pria yang dipanggil sebagai Adnan itu menepuk pundak Abyan yang memeluknya. "Mohon doanya. Istriku masih kritis. Sementara bayinya, yang satu meninggal, dan yang satu masih harus ditangani oleh dokter."
"Innalillahi wa innailaihi raaji'un. Aku turut berduka cita, Bang. Semoga Abang dan keluarga diberikan kesabaran."
"Aamiin."
"Yumna, Sayang. Sini duduk, Nak," ajak Bu Nurma pada menantunya. Kemudian mengenalkannya pada keluarga suaminya--Om dan Tantenya.
"Salam kenal, Yumna. Maa syaa Allah kamu cantik dan babyface sekali ya ternyata. Padahal yang Tante tahu, kamu lebih berumur dari Abyan, ya?" ucap tante Abyan seraya tersenyum tulus.
"Benar, Tante."
"Subhanallah. Kayaknya selera Abyan enggak jauh beda dengan Adnan, ya?"
"Hahahah." Di tengah kekhawatiran akan kondisi yang terjadi, mereka masih berusaha untuk tetap tersenyum dan tertawa.
"Semoga kalian selalu langgeng ya? Tante yakin jika Abyan bisa bahagiain kamu."
Yumna mengangguk kikuk. Saat ini saja ia masih sangat kesal pada Abyan. Bisa-bisanya pria itu membicarakan soal menduakan dirinya di saat rumah tangga baru saja di awal-awal.
"Kalau Abyan ngomongin poligami. Jangan terlalu di ambil hati ya, Nak," tutur sang Tante seakan sudah membaca isi hati Yumna.
"Kenapa, Tante?" tanya Yumna, penasaran.
"Soalnya para suami di keluarga kami memang suka seperti itu. Tapi, ujung-ujungnya tidak pernah ada yang kejadian juga. Mereka semua pada bucin istri."
Kembali mereka tergelak lagi. Hingga beberapa saat kemudian, Dokter pun datang dan menghampiri mereka.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya sepupu Abyan bernama Adnan itu.
"Bu Alya sudah melewati masa kritis. Mungkin sebenar lagi, pasien akan sadar."
"Alhamdulillah!" semuanya menyahut kompak. Kemudian saling berpelukan. Bu Nurma berpelukan dengan suaminya. Begitupun Tante Abyan bersama Om-nya. Dan Adnan melakukan sujud syukur.
Sementara Abyan dan Yumna terlihat canggung. Karena kejadian tadi. Membuat yang lain curiga pada pasangan itu.
__ADS_1