
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Elsa, merasa bingung melihat tingkah Yunus yang menutupi wajahnya menggunakan buku menu.
"Enggak apa-apa. Kamu sudah selesai makan, kan?" Yunus bertanya balik dengan ekspresi yang pucat.
"Belum. Kan kita baru datang, Sayang."
"Kalau gitu kamu lanjutin aja ya. Aku mau ke toilet dulu," pamit Yunus, terburu-buru melipir dari sana. Membuat Elsa curiga akan sikap kekasihnya itu.
Hingga detik berikutnya, ekor mata Elsa menangkap kehadiran Yumna dengan seorang lelaki yang terlihat muda di sana.
"Yumna?!" Elsa terbelalak kaget. "Pantesan si Yunus pamit cepat-cepat. Ternyata gara-gara wanita murahan itu!" desisnya geram. Lalu bangkit dari sana dan mendekat pada Yumna yang sedang melihat-lihat restoran milik suaminya.
"By, pengunjungnya banyak banget, maa syaa Allah. Ini restoran lama?" tanya Yumna, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Alhamdulillah. Ini baru kok. Beberapa bulan yang lalu."
"Tapi kok bisa seramai ini?"
"Aku punya rahasianya. Kamu mau tahu?" Abyan mendekat dan mencolek dagu istrinya.
"Enggak usah deh, By. Nanti saya curi lagi resep rahasia suksesnya."
"Hahhaa. Curi apaan. Semua milik aku itu juga punya kamu, Na," ujar Abyan, membuat Yumna tersipu.
"Kamu tuh ya--"
"HEH! YUMNA!" panggil Elsa dengan suara sedikit berteriak dan cukup keras. Menarik atensi para pengunjung restoran.
Yumna berbalik badan untuk memastikan siapa perempuan yang memanggilnya dengan nada kasar itu.
Namun belum sempurna Yumna berbalik, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Diikuti dengan umpatan yang keluar dari mulut manis perempuan itu.
"Dasar perempuan murahan!"
"Hah?" Napas Yumna memburu, memegang pipinya dengan satu tangannya. Matanya tajam serta penuh tanya menatap Elsa. Abyan yang ada di sana cukup kaget dengan kejadian yang begitu cepat berlalu.
"Apa-apaan anda! Kenapa menampar istri saya?!" sentak Abyan tidak terima. Menarik Yumna dalam pelukannya untuk menenangkan.
Mendengar ucapan Abyan, tubuh Elsa mendadak membeku. Ia tidak menyangka jika Yumna telah menikah.
Tapi kapan?
"Istri? Mana mungkin! Hingga sekarang, dia masih mengganggu pacarku!"
Abyan yang benar-benar marah memperlihatkan cincinnya dan Yumna. "Lihat baik-baik. Sudah paham kan? Paham dong. Masa enggak!"
Elsa terdiam membisu dan geleng-geleng kepala. Menatap Yumna yang sedang mendekap dalam pelukan Abyan dengan kemarahan wanita itu yang bahkan telah sampai dipuncak.
"Lagian apa maksud anda sih! Pacar anda yang mana yang anda maksud sering diganggu oleh istri saya? Sedang saya sering bersamanya!"
__ADS_1
"Bohong! Dia sering menghubungi Yunus. Jujur saja kamu Yumna. Enggak sok polos. Gara-gara kamu, hubungan aku dan Yunus seringkali berantakan. Dan semua penyebabnya itu adalah kam--"
PLAKK!!
Ucapan Elsa terhenti seketika tatkala Yumna yang sudah keluar dari dekapan Abyan melayangkan tamparan yang bahkan lebih keras dari Elsa sebelumnya.
"Dengar, ya!?" Yumna mengacungkan jari telunjuknya. Pergerakannya cukup terbatas sebab Abyan memeluk pinggangnya. Menahannya untuk tidak mengulangi apa yang baru saja ia lakukan. "Jangankan mengambil Yunus dari kamu, aku bahkan baru tahu, kalau kamu adalah pacar mantan aku! Kamu tahu apa artinya itu? Maknanya, dia bahkan enggak pernah menganggap kamu ada."
"Sialan kamu, Yumna!" Elsa hendak kembali melayangkan tamparannya di wajah Yumna. Sayangnya, dengan cepat Yunus hadir di sana. "Yunus!!"
"Apa-apaan kamu, Elsa?! Kenapa kamu mau menampar Yumna?!" hardik Yunus dengan emosi. Terlihat sekali kilat kemarahan di matanya.
"Ini semua gara-gara kamu!"
Yunus tidak memedulikan jawaban Elsa. Ia berbalik dan bertanya kondisi Yumna. Bahkan hendak menyentuh istri dari Abyan itu.
"Kamu enggak apa-apa kan, Na?"
"Jangan. Sentuh. Istri. Saya." Abyan menekankan setiap katanya. Netranya tajam menyorot Yunus. "Dan jangan berani memanggil dengan mesra istri saya. Apa anda sama sekali tidak tahu malu!"
"By, saya mau pergi dari sini sekarang," pinta Yumna berbisik. Merasa malu karena begitu banyak orang yang sedang menonton mereka.
Abyan menganggukkan kepalanya. Namun sebelum itu, ia memanggil manajer yang mengurus restorannya tersebut.
"Pak Ahdar!"
"Iya, Pak Abyan!" sahut sang manajer dengan cepat.
"Baik, Pak. Kami akan mengurus semuanya."
Abyan menganggukkan kepalanya. Sejenak melirik tajam pada Yunus dan Elsa. Kemudian segera membawa istrinya kembali ke mobil.
"Mari Pak-Bu. Kalian berdua ikut kami untuk membayar makanan dan setelah itu, silahkan keluar dari sini."
"Sial! Ini semua gara-gara kamu Elsa!" sentak Yunus kesal dan marah besar.
"Kok aku sih, Sayang! Ini karena Yumna tahu!"
"Ah sudahlah. Dasar cewek gila!" umpat Yunus, mengikuti langkah manajer Abyan menuju ruangannya.
Sementara di luar restoran, tepatnya di dalam mobil. Abyan sedang sibuk mengobati sudut bibir istrinya yang sedikit robek karena tamparan keras dari Elsa.
"Awww! Sakit By!" keluh Yumna manja. Menatap suaminya yang bahkan tidak mengatakan apapun sejak tadi. Hanya diam memendam emosi.
"Jangan bergerak!"
Yumna terdiam. Satu tangannya memegang pergelangan Abyan. Netranya intens menatap sang suami. "Kamu marah?"
"Menurut kamu?"
__ADS_1
"Marah!"
"Itu tahu!" jawab Abyan, ketus. Kali ini sepertinya Abyan tidak sanggup lagi menahan emosinya.
"Kan bukan salah saya. Pacarnya si Yunus aja tuh yang gila."
"Enggak usah menyalahkan orang lain."
"Terus?" tanya Yumna dengan tampang polos.
"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api."
"Maksudnya, kamu menuduh saya selingkuh dengan si Yunus itu? Saya bahkan tidak tahu kalau dia punya kekasih lagi setelah kami putus."
"Kamu tidak tahu kalau dia punya pacar. Tapi kamu tahu kalau kamu punya suami!" balas Abyan berusaha menyadarkan Yumna bahwa ia juga sakit hati saat istrinya dekat dengan pria lain, apalagi mantan yang sudah lama menjalin kasih dengannya.
"Tapi saya tidak ngapa-ngapain kok sama dia. Sebagai rekan kerja aja." Yumna menunduk tidak enak hati.
"Oke, aku terima alasan kamu. Tapi setelahnya, tidak boleh lagi berkomunikasi dengannya melalui ponsel. Paham?"
"Iyaaaa." Yumna menyahut berupa rengekan. Sementara Abyan kembali sibuk mengobati luka istrinya.
"Nah, sudah selesai. Kita pulang sekarang. Udah mau maghrib."
"Iya, By."
**
Malam harinya, usai shalat isya dan mengobrol panjang. Kedua suami-istri itu tertidur dengan lelap.
Tapi sayangnya, mimpi buruk kembali menghantui Yumna.
Wanita cantik itu mulai bergerak gelisah dalam tidurnya. Keringatnya bercucuran, kakinya menghentakkan selimut yang membalut tubuhnya.
"Tidak!"
"Jangan!"
Berulang kali Yumna mengigau. Tubuhnya telah basah dengan keringat dingin.
"Jangan dekat-dekat!" Yumna bahkan mendorong tubuh Abyan yang sedang memeluknya saat ini.
Mata Abyan perlahan terbuka. Melihat istrinya yang sedang gelisah dalam tidurnya.
"Na? Kamu kenapa?" tanya Abyan berbisik. Memegang kedua tangan istrinya yang semakin memberontak dengan mata senantiasa tertutup.
"Yumna! Sadar, Na!"
"Jangan! Jangan dekati AKU! lepas!" teriak Yumna.
__ADS_1
"Na! Bangun. Jangan begini. Istigfar, Na!" Abyan senantiasa berusaha menyadarkan istrinya. Akan tetapi, Yumna kian memberontak. Bahkan begitu kuat mendorong tubuh Abyan.
"LEPASKAN AKU!!"