Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

"Yunus ... Kamu mau ngapain di sini?!" tanya Elsa ketus. Meski dalam hatinya sudah ketar-ketir ingin memeluk Yunus saking terharunya atas perjuangan pria itu untuk mendapatkan maaf darinya. Namun sebentar saja Elsa ingin lebih melihat kesungguhan Yunus.


Yunus bangkit dari duduknya tanpa sedikitpun memalingkan pandangannya pada Elsa. Seraya berkata, "Aku mau minta maaf sama kamu, Sayang. Kemarin aku benar-benar udah khilaf ngatain kamu. Dan setelah kamu pergi, aku sadar bahwa aku nggak bisa bohongin perasaan aku sendiri soal ternyata aku mencintai kamu. Dan aku enggak bisa kehilangan kamu."


"Kamu selalu seperti itu!" Elsa pura-pura memalingkan pandangannya. Sementara di saat bersamaan, Yunus menyeringai.


Mantan kekasih dari Yumna itu tahu betul bahwa pasti hati Elsa saat ini mulai luluh. Wanita hanya ingin dibujuk lagi.


Dan hal ini yang sebenarnya menjadi penyesalan dalam diri Yunus setelah memutuskan Yumna.


Seharusnya pada saat itu, Yunus melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan pada Elsa sekarang. Tapi ia malah membiarkan semuanya berlalu dengan mencari sandaran lain yang bisa memenuhi kebutuhan fisiologis dan biologisnya.


'Meski semuanya sudah lewat, aku akan membuat kamu kembali sama aku, Na. Pria muda itu tidak pantas untuk menjadi suami kamu. Hanya aku yang pantas!' putusnya muktamat.


"Yunus! Tuh kan! Kamu malah melamun!" sentak Elsa kesal karena merasa sedang dipermainkan lagi oleh kekasihnya itu. "Mending kamu pul--"


"Jangan di tutup pintunya, Sayang. Aku benar-benar datang untuk meminta maaf sama kamu. Tadi aku melamun karena aku merasa takut jika kamu juga akan meninggalkan aku. Sama seperti Yumna yang ninggalin aku gitu aja." Yunus menahan tangan Elsa untuk tidak menutup pintu apartemennya dengan raut memelas. Bahkan bersandiwara meneteskan air mata.


"Aku benar-benar mencintai kamu, Sayang. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku huhuhu."


"Yunus!" Hati Elsa yang rapuh dan sejatinya masih mencintai Yunus begitu mudah terpengaruh oleh bujuk rayu nan manis dari mulut pria itu. "Aku maafin kamu," ujarnya seraya masuk dalam dekapan pria itu.


"Kamu enggak akan ninggalin aku, kan?" tanya Yunus seraya tersenyum puas tanpa terlihat oleh Elsa yang notabennya masih berada dalam pelukannya saat ini.


"Iya. Aku enggak akan ninggalin kamu."


"Janji?"


"Aku janji. Asal kamu juga janji tidak akan menghina aku lagi."


"Yaa, aku janji. Terima kasih, Sayang." Yunus memeluk erat tubuh Elsa seraya menyeringai licik.


Dan tanpa menunggu lama, Yunus mendorong masuk tubuhnya dan Elsa ke dalam apartemen hingga terjadilah untuk ke sekian kalinya hubungan di luar pernikahan itu.


**


"Na, ayo bangun dulu. Sudah mau adzan ashar bentar lagi," bisik Abyan di telinga Yumna.


Yumna mengerang kecil, membuka matanya perlahan dan tersenyum tatkala melihat Abyan tepat ada di depan matanya. Sedang menatapnya penuh cinta.


"By, saya mau mandi."


"Mau dibantu enggak?" tanya Abyan dengan berbisik lembut. Wajahnya terasa tidak berjarak lagi dengan Yumna saat ini.


"Tapi jangan aneh-aneh, ya. Bantuin doang."

__ADS_1


"Memangnya nggak boleh meski sedikit aja?" goda Abyan yang ditanggapi cubitan ringan di pipinya oleh sang istri.


"Nakal!"


"Nggak apa-apa nakal. Kan sama istri sendiri." Abyan menyahut santai. Mundur sedikit ke belakang untuk kemudian menggendong tubuh istrinya. "Sekarang kita mandiin istri tercinta dulu."


Senyum Yumna merekah berada dalam pelukan suaminya. Tangannya mengalung erat di leher Abyan dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu.


"Terima kasih, By. Maaf ya soal tadi."


Cup~


Abyan mengecup kening istrinya tanpa memberikan jawaban. Nyatanya ia sebenarnya masih sedih dengan apa yang terjadi pada sikap Yumna sejak semalam. Namun Abyan berusaha menepis semua rasa yang mengganjal itu dengan tetap memberikan perhatian pada Yumna.


Tidak lama setelahnya, Abyan selesai memandikan Yumna. Pria muda itu juga bahkan tidak segan-segan membantu istrinya berpakaian.


"Byan," panggil Yumna merasa tidak enak hati dengan keadaan ini. Meski Abyan telah berusaha bersikap baik padanya.


"Hem?" gumam Abyan bertanya sembari memakaikan baju untuk istrinya.


"Kamu masih marah, ya?" tanya Yumna lembut, mengusap pipi suaminya penuh kasih.


Sejenak Abyan menghentikkan gerak tangannya namun kemudian menggeleng perlahan. "Tidak."


Dan itu berhasil, Abyan menghela napasnya panjang tatkala Yumna melepas ciuman mereka. Tangan Yumna juga bukan hanya mengusap satu pipi Abyan tapi kini menangkup keduanya. Memaksanya untuk menatap ke arahnya.


"Aku memang masih kecewa sama kamu," aku Abyan jujur. Dan mendapati tatapan getir dari Yumna


"Maafin saya. Ke depannya saya akan selalu jujur sama kamu. Jadi tolong jangan marah lagi, ya?" pinta Yumna merasa sangat bersalah.


"Ya. Jangan juga berhubungan lagi dengan pria itu."


"Tidak. Kecuali dalam urusan pekerjaan. Setuju kan?"


"Setuju. And one more thing!"


"Apa itu?" tanya Yumna yang kini lebih merasa lega dari sebelumnya. Bahkan semakin mendekatkan wajahnya pada Abyan dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Abyan yang tengah berjongkok di hadapannya yang duduk.


"Jangan saling berhubungan dengannya melalui chat atau telpon. Aku nggak suka."


"Insyaa Allah siap bos. Ada lagi?" Yumna terlihat lebih bersemangat. Senyumnya juga lebih lebar dari sebelumnya.


"Sore nanti kita pergi cek rumah."


"Serius nih?" tanya Yumna dengan raut gembira. Dan mendapati anggukan mantap dari Abyan. "Yeeeyy. Thank you, By. Muach~"

__ADS_1


Kembali Yumna mengecup bibir suaminya hingga suara tahrim masjid terdengar. Pertanda bahwa adzan ashar akan segera berkumandang.


"Sekarang kamu yang mandi. Udah mau adzan tuh. Saya mau lihat keadaan di luar dulu."


"Iya. Kalau lapar langsung makan ya. Jangan tunggu aku."


"Ehm." Yumna melangkah keluar dari kamar sementara Abyan langsung bergerak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Nana, kamu sudah bangun, Nak?" tanya Umi yang sedang terlihat sibuk di dapur.


"Iya, Umi. Umi lagi buat apa?"


"Umi lagi bikin salad buah nih, Nak."


"Siapa yang mau makan, Umi?"


"Suami kamu. Tadi dia tiba-tiba bilang pengen makan salad buah."


"Hah? Kok tadi enggak bilang-bilang sama Nana, Umi."


"Enggak mau ngerepotin kamu kali. Iya kan Byan?" Umi melirik pada Abyan yang baru saja menyusul istrinya di dapur setelah mandi dan bersiap-siap untuk ke masjid.


Abyan tersenyum menyipitkan mata. Sedang Yumna mendekat pada suaminya. "Kok nggak bilang-bilang sama saya mau makan itu?"


"Tadi kan kamu tidur, Na." Abyan mengulurkan tangannya dan membelai pipi istrinya.


"Hem." Yumna menggumam tidak enak hati. "Sekarang saya antar kamu sampai depan rumah."


"Iya, Sayang."


"Ih geli ah, By. Jangan panggil gitu," ujar Yumna yang ditanggapi gelak tawa dari Abyan dan Umi.


Abyan berdiri depan rumah dengan Yumna di hadapanya. Mendekat dan mengecup kening istrinya sebelum berangkat.


"Aku pergi dulu."


"Iya. Hati-hati."


"Ehm. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Yumna melambaikan tangannya pada Abyan yang kini berjalan lurus menuju masjid.


Namun di tengah jalan, ia dikejutkan saat berpapasan dengan seorang perempuan yang pernah ia kenal sebelumnya. Dan perempuan itu pun juga sadar dengan dirinya.


"Eva?" gumam Abyan sedang perempuan itu tersenyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2