Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Mencari Bantuan


__ADS_3

"A-apa maksudmu?" tanya Yunus pura-pura tidak mengerti. Seraya meringis dan memegang celananya yang terasa basah.


"Jangan bersikap sok bodoh! Bego!" umpat Zaid penuh amarah. Bagaimana tidak, dengan hati yang sakit, ia harus melihat penderitaan adiknya karena guna-guna yang mungkin saja Yunus kirimkan padanya. "KATAKAN! APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN PADA YUMNA?!!" teriaknya semakin murka.


"A-aku tidak--"


Bugh!


Sebuah bogeman mentah melayang cepat ke arah Yunus. Zaid meninju wajah Yunus berkali-kali layaknya samsak. Farhan mencoba untuk melerai sang abang namun Zaid sama sekali tidak melepaskan Yunus.


"Abang hentikan! Dia bisa mati!"


"Biarin aja! Aku enggak peduli. Manusia bejat! Kamu apakan adikku, hah?!"


Tubuh Yunus tumbang. Wajahnya babak belur karena bogeman mentah yang Zaid layangkan.


Situasi berlangsung cukup cepat hingga suara security terdengar datang melerai.


"Apa yang kalian lakukan?!" tegur security tersebut dengan suara tegas.


Zaid berbalik badan. Menatap tajam ke arah pria itu. "Jangan ikut campur. Diam dan pergi!"


"Tidak. Lepaskan Pak Yunus. Saya bisa melaporkan kalian ke polisi."


"Heh!" Zaid mendengus kesal. Melirik kecil ke arah Yunus tanpa peduli dengan apa yang satpam itu katakan. "Kamu! Jangan berani mengganggu adik aku lagi. Kalau tidak, aku bisa saja membunuhmu dengan senyap. Ingat itu!" ancamnya seraya mengusap keringatnya yang bercucuran.


Setelah berkata demikian, Zaid pergi dari sana bersama Farhan. Sementara pak satpam tersebut mendekat ke arah Yunus yang meski wajahnya dipenuhi dengan lebam, tapi malah terlihat menyeringai.


'Sepertinya kondisi Yumna benar-benar sudah parah. Aku berhasil, hahaha,' batinnya bahagia. Sekarang ia sudah bisa dengan tenang mengerjakan proyek baru yang telah diamanahkan untuknya.


"Anda tidak apa-apa, Pak Yunus?"


"Tidak apa-apa," sahutnya santai. Meski celanannya sudah sangat basah karena kencingnya sendiri. "Tolong bantu saya bangun, Pak," ujarnya seraya mengangkat tangan meminta bantuan.


"Ah, baik, Pak." Pak satpam itu membantu Yunus kembali berdiri. "Anda benar-benar tidak apa-apa, Pak? Apa perlu saya melaporkannya ke polisi?"


"Tidak perlu. Biarkan saja dia. Mungkin itu hanya orang yang sedang stres."


"Baik, Pak. Mari saya membantu anda untuk sampai ke mobil," tawar pria paruh baya itu.


"Iya. Terima kasih."


**


Di sisi lain, Abyan baru saja tiba di pesantren tempatnya sekolah dulu.


Saat sampai di sana, ia langsung melangkah menuju rumah sang Kiyai tanpa peduli beberapa santri putra memperhatikannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," salam Abyan dari teras rumah yang pintunya selalu terbuka.


"Wa'alaikumussalam." Nampak seorang wanita tua keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian lengkap. Mendekat ke arahnya. "Nak Abyan?" tebaknya yang ditanggapi anggukan oleh Abyan.


"Benar, Nyai. Saya Abyan."


"Maa syaa Allah. Sudah lama sekali kamu tidak datang ke sini, Nak. Ayo silahkan duduk," ucap Nyai menunjuk ke arah kursi yang ada di teras rumah. "Tunggu di sini, saya akan ambilkan air minum dulu."


"Tidak perlu repot-repot, Nyai. Saya tidak apa-apa."


"Jangan bilang begitu. Kamu itu tamu. Tunggu sebentar ya."


"Baik, Nyai." Abyan mengangguk patuh.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Banyak yang telah berubah di lingkungan pesantren itu. Nampaknya, sudah banyak pula orang-orang yang mendaftar sekolah di tempat tersebut.


Nyai keluar dari rumah dengan membawakan segelas air putih dingin kesukaan Abyan yang ia ketahui dulunya.


"Kamu masih suka air putih dingin, kan?" tanya Nyai seraya meletakkan segelas air itu di atas meja.


Abyan mengangguk cepat. "Benar, Nyai. Ternyata anda masih mengingatnya."


"Bagaimana saya bisa lupa, dengan minuman kesukaan santri kesayangan Abah," jawabnya seraya tersenyum. Lalu mengambil duduk di kursi yang lain. "Silahkan diminum, Nak."


"Terima kasih, Nyai." Abyan mengambil minuman tersebut dan meneguknya secara perlahan.


Nyai tersenyum senang melihat Abyan kembali lagi ke tempat mereka setelah sekian lama tidak datang. Tapi, pasti ada sesuatu yang telah terjadi, hingga Abyan nampak terburu-buru datang ke sana.


"Saya datang ke sini untuk bertemu dengan Kiyai dan Nyai."


"Apa ada sesuatu denganmu, Nak?"


"Bukan saya, Nyai. Tapi istri saya."


"Innalillah."


"Dia memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan orang yang terkena sihir, Nyai," cerita Abyan.


Ekspresi Nyai nampak terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka jika akan terjadi hal demikian.


"Bagaimana keadaan istri kamu sekarang, Nak?"


"Saat saya tinggal, dia sudah sedikit tenang. Tapi dia sama sekali tidak mau melihat saya." Abyan tertunduk saat mengungkapkan apa yang terjadi.


Detik berikutnya, Kiyai baru saja tiba di rumah. Ia tersenyum senang saat melihat Abyan datang ke sana.


"Abyan!" seru Kiyai. Memeluk Abyan setelah mengucapkan salam

__ADS_1


"Kiyai, bagaimana kabar anda?" tanya Abyan usai mengurai pelukan.


"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah 'alla kulli hal, Kiyai."


"Kenapa?" tanya Kiyai yang mulai mencium bau-bau terjadi sesuatu.


"Istrinya Abyan kemungkinan terkena sihir tafriq (sihir pemisah suami dan istri), Abah," warta Nyai yang langsung menangkap apa yang telah terjadi dari cerita Abyan tadi.


"Subhanallah." Kiyai memuji Allah karena terlalu terkejut. "Kalau begitu, kita langsung ke sana saja, Umi-Abyan. Jangan biarkan semua itu terlalu lama," putusnya menatap sang istri, memberi kode untuk segera bersiap.


"Apa Kiyai tidak sibuk?" tanya Abyan memastikan. Ia tidak ingin menjadi beban bagi orang lain.


"Itu tidak masalah, Abyan. Yang penting istri kamu tertolong. Inilah salah satu tugas saya dan Nyai. Kamu tidak perlu khawatir."


"Terima kasih, Kiyai."


Setelah perbincangan selesai, Nyai langsung masuk ke dalam rumah dan bersiap.


Beberapa saat kemudian, mereka meninggalkan pesantren setelah sebelumnya mengambil beberapa lembar daun bidara yang ditanam samping rumah.


"Sudah berapa lama ini terjadi, Abyan?" Kiyai yang duduk di samping kemudi bertanya.


Dan Nyai yang duduk di kabin belakang ikut mendengarkan.


"Sudah beberapa hari ini, Kiyai. Diawali dengan mimpi-mimpi buruk hampir setiap malam."


Kiyai mengangguk-angguk mengerti. Tanpa bertanya apapun lagi. Membiarkan Abyan fokus mengemudi.


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Berharap Yumna baik-baik saja.


**


Di ruangan rawat inap, Yumna duduk melamun ditemani oleh Ratih. Abah dan Umi mengobrol di luar bersama Pak Latif dan Bu Nurma sembari menunggu Abyan.


"Na, apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Ratih, merasa sangat kasihan melihat kondisi sahabatnya yang demikian.


Tubuh Yumna nampak semakin kurus setelah beberapa hari tidak bertemu.


Yumna menggelengkan kepalanya. Sedang air matanya turun. Dan Ratih menunduk sedih melihatnya.


"Aku merindukanmu, Na. Suasana di kantor terasa sepi karena tidak ada kamu," ungkap Ratih seraya meneteskan air mata perih. "Kamu enggak mau ngomong apapun sama aku?" tanyanya yang sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Yumna.


Ratih bangkit dari duduknya. Sejak tadi ia berusaha mengajak Yumna bicara. Tapi wanita itu sama sekali tidak membuka suara.


Detik berikutnya, Ratih memberikan pelukan hangat untuk sahabatnya itu. "Aku harap kamu segera sembuh. Cepat kembali menjadi Yumna yang dulu ya?"

__ADS_1


Lagi-lagi tidak ada tanggapan. Hingga suara pintu terdengar terbuka. Menampakkan Abyan dan dua orang pasangan tua yang tidak lain ialah Kiyai dan Nyai.


"Astagfirullah," gumam Kiyai dan Nyai secara bersamaan setelah mendekat. Mereka melirik ke arah Abyan dengan tatapan sendu.


__ADS_2