Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Ancaman


__ADS_3

Dua pekan menjalani honeymoon yang luar biasa di Dubai, kini akhirnya selesai juga. Abyan dan Yumna pun pulang ke rumah mereka sendiri.


Karena kini keduanya tidak lagi tinggal bersama Abah dan Umi. Abyan memilih untuk berhenti dari asrama demi menemani istrinya di rumah. Jadi Abyan hanya akan pergi kampus dua atau tiga kali sepekan. Sisa waktunya ia gunakan untuk mengurus bisnis dan menghabiskan waktu dengan Yumna.


Setelah puas liburan, saatnya Yumna kembali ke kehidupan yang nyata dan keras. Hari ini ia masuk kerja. Meski Abyan sama sekali tidak meminta sang istri untuk melakukan hal demikian.


Namun Yumna meminta izin pada Abyan untuk tetap bekerja sampai ia hamil nantinya.


Yumna hendak turun dari mobil yang dikendarai sendiri oleh Abyan tepat di depan kantornya. Namun tangan Abyan menahannya.


Tubuh Abyan mendekat dan mengecup singkat bibir wanita itu. Seraya tersenyum menggoda.


"Kerja yang bener. Dan jangan lirik-lirik cowok. Termasuk mantan kamu itu."


Yumna terkekeh ringan. Satu tangannya ia ulurkan untuk membelai pipi lembut pria itu.


"Insyaa Allah tidak akan. Only husband, only love."


Giliran Abyan yang tertawa puas. Ia merasa bahagia sekali karena masalah besar akibat sihir itu kini telah selesai. Sang istri benar-benar telah sembuh atas izin Allah.


"Aku turun dulu, ya. Kamu juga jangan jelalatan saat pergi lihat keadaan restoran."


"Jangan khawatir."


Yumna turun dari mobil setelah mengucapkan salam dan mencium punggung tangan suaminya.


Ia melangkah masuk ke dalam kantor dengan perasaan yang amat gugup dan jantung berdebar lebih cepat dari biasanya.


Sungguh, entah apa pandangan karyawan saat baru melihatnya lagi setelah sekian lama.


Dengan sedikit gugup Yumna membuka ruangan yang mengarah ke departemen tempatnya bekerja. Manja yang sedang sibuk menggunkan pensil alis seketika salah menarik garis karena terkejut atas kehadiran Yumna di sana.


"B-bu Yumna!?"


Yumna memberikan senyuman tipis penuh kecanggungan. Ia menyapa Manja dengan sedikit tidak nyaman.


"Assalamu'alaikum, Manja. Bagaimana kabarmu?"


"A-alhandulillah saya baik bu. Apakah anda sudah sembuh?"


"Iy--"


"Yumna!" panggil Ratih penuh antusias, memangkas ucapan yang hendak keluar dari mulut Yumna untuk membalas pertanyaan Manja.


"Ratih!"


Ratih melangkah cepat mendekati Yumna dan memeluknya erat. Seraya meneteskan air mata.


"Ya Allah, aku senang banget. Bisa ketemu kamu lagi."


"Aku juga, Rat."

__ADS_1


Keduanya mengurai pelukan seraya saling pandang. Mengabaikan Manja begitu saja yang sibuk memperhatikan mereka.


"Aku kira Abang Zaid bohong soal kesembuhan kamu dan kamu yang katanya langsung pergi honeymoon. Ternyata dia berkata jujur."


Mendengar ucapan Ratih yang berbeda dari biasanya, Yumna mengerutkan keningnya dalam dengan satu alis terangkat ke atas.


"Hem? Sejak kapan kamu panggil Abang aku semesra itu? Apa kalian punya hubungan?" tanya Yumna curiga.


Ratih tersenyum malu-malu. Ia menarik tangan Yumna untuk ikut dengannya ke dalam ruangan Yumna sendiri yang cukup lama tidak ditempati tapi selalu dibersihkan itu.


"Kami duluan ya Manja. Kamu lanjutin kerja. Perbaiki alis mu itu."


"Ah, Bu Ratih suka jahat sama orang," dumel Manja yang tidak dipedulikan oleh kedua orang itu sama sekali.


Detik berikutnya saat tiba di dalam ruangan kerja Yumna. Keduanya duduk saling berhadapan. Dan Ratih langsung memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Aku sudah dilamar oleh Abang kamu."


"Hah? Maa syaa Allah. Kamu serius?" tanya Yumna masih tidak percaya.


"Aku serius. Lamarannya terjadi kemarin saat kamu sedang honeymoon sepertinya."


"Abang Zaid dan kamu benar-benar keterlaluan. Masa acara lamaran enggak tungguin aku pulang dulu sih!"


"Hehehehe. Kita mau bikin kejutan. Kata Abang Zaid, kamu mungkin saja akan menolak hubungan kami."


"Ah, apaan sih kamu. Ya enggak mungkinlah. Tapi, barakallahu fiik. Congrats ya. Aku senang banget dengarnya."


Sang Bos yang baru saja tiba di kantor langsung masuk dan mendekat pada Yumna. Membuat keduanya terkejut dan berdiri bersamaan.


Dan sebuah pelukan hangat seketika Yumna dapatkan dari sang bos yang murah hati itu.


"Aku senang sekali, akhirnya karyawan kesayanganku kembali dengan selamat."


"Alhamdilulillah, Bos. Ini juga berkat doa anda."


"Ah, kamu benar-benar pandai mengambil hati saya," ujar wanita itu seraya mengurai pelukan. "Setelah ini kamu harus memberikan yang terbaik ya."


"Insyaa Allah, Bos."


"Good. Aku juga ingin kamu dan Ratih yang melanjutkan proyek pembangunan di desa yang dipegang oleh Yunus itu. Mengerti?"


"Siap, Bos. Insyaa Allah." Yumna menjawab seraya tersenyum meski benaknya kini dipenuhi dengan pikiran tentang keberadaan Yunus.


Sehingga tatkala sang bos telah keluar dari ruangan, langsung saja Yumna menanyakkan itu pada Ratih.


"Memangnya Yunus ke mana, Rat? Sampai-sampai kita yang harus menggantikan dia mengurus proyek?" tanyanya seraya duduk kembali ke tempatnya.


"Dia sudah gila sekarang."


"Apa?! Innalillah. Kamu enggak lagi bercanda, kan?"

__ADS_1


Ratih menggelengkan kepalanya. "Aku serius. Dia sudah gila sekarang."


"Kasihan sekali. Memangnya apa yang telah terjadi?"


"Untuk apa kasihan? Kamu harus tahu, bahwa dialah orang yang mengirim sihir itu agar kamu berpisah dengan Abyan."


"Subhanallah." Yumna terkejut setengah mati dengan tubuh merinding. Pantasan saja dulu ia kadang ingin terus melihat Yunus. Ternyata karena sihir.


Tapi biar bagaimanapun, semua yang terjadi tentu ada hikmahnya. Salah satunya, jika bukan karena sihir yang Yunus kirimkan, Yumna mungkin tidak akan bisa mengerti tentang arti kesabaran. Dia mungkin masih buta akan keimanan kepada Allah dengan benar.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Yaaa, seperti orang gila pada umumnya."


"Dia tinggal di mana sekarang?"


"Di rumah orang tuanya. Kenapa? Jangan bilang kamu ingin menemuinya?"


Yumna menganggukkan kepala. "Iya. Aku ingin melihat keadaannya. Setidaknya sekali."


**


Di sisi lain, Abyan berjalan mengelilingi restoran miliknya seraya memperhatikan keadaan.


Dari jauh, Eva sibuk ikut melirik-lirik Abyan sambil melayani para pembeli.


Setelah semuanya selesai, Eva mendekati Abyan yang akhirnya memilih duduk sejenak di sudut restoran dengan alasan membawakan minuman untuk pria itu.


"Silahkan diminum, Abyan. Kamu sepertinya terlihat sangat lelah."


"Ah, terima kasih, Eva."


Abyan meraih minuman tersebut seraya meneguknya beberapa kali. Sementara Eva langsung mengambil duduk di hadapan suami dari Yumna itu.


"Bagaimana kabar istrimu, Abyan?"


"Alhamdulillah dia sudah baik-baik saja dan telah sembuh sepenuhnya."


"Syukurlah. Sepertinya kekuatan doa dan cinta Ustadz Mu'adz sangat manjur sekali ya."


"Maksud kamu?" Abyan mengerutkan kening tidak mengerti.


"Yaaa, seperti yang kamu tahu, saat istrimu sakit, dia kadang-kadang diobati oleh Ustadz Mu'adz di pesantren. Bukan tidak mungkin jika mereka--"


Takk!


Abyan meletakkan gelas yang masih berisi setengah air minum itu sedikit kasar di atas meja dengan ekspresi tidak suka.


"Jangan berani-berani memfitnah istriku, Eva. Dia sama sekali tidak seperti yang kamu kira."


"Aku hanya--"

__ADS_1


"Dan jangan pernah mengatakan apapun lagi." Abyan bangkit dari duduknya. "Aku tidak suka mendengar nama istriku dihina seperti itu. Jika sekali lagi kamu melakukannya. Maka siap-siaplah untuk berhenti kerja di sini."


__ADS_2