
Yumna menatap suaminya dengan kening berkerut dalam. Baru kali ini ia melihat Abayn benar-benar marah.
Namun belum sempat Yumna membalas ucapan suaminya, kata istigfar keluar berulang kali dari mulut Abyan.
"Astagfirullah. Kenapa aku barusan emosi?" gumamnya bertanya-tanya. Sementara Yumna masih menatapnya. Sesaat kemudian mengalihkan pandangannya.
"Na ... maafin aku, ya." Abyan meraih kembali jemari Yumna dan mengecupnya berkali-kali. "Tadi sesaat aku emosi enggak jelas. Aku juga enggak ngerti kenapa."
"Enggak apa-apa, Byan. Kamu pasti lelah ya nemenin saya."
"Tidak, Sayang. Bukan itu."
Sungguh, Abyan benar-benar merasa bersalah. Ia tidak menyadari sama sekali bahwa ucapannya terdengar menyentak dan pasti menyakitkan bagi Yumna.
Yumna berbalik dan menghadapkan wajahnya pada Abyan seraya tersenyum. "Saya minta maaf, By. Enggak seharusnya saya berbicara seperti itu dalam kondisi saat ini."
Tangan Yumna mengulur dan kembali mengelus pipi suaminya. Sedang Abyan menyorot netra istrinya dengan penuh penyesalan.
"Kita jalani semuanya sama-sama dengan baik ya, By. Insyaa Allah saya juga akan berusaha untuk belajar."
"Terima kasih sudah mau mengerti." Abyan mendekat dan mengecup kening istrinya bertubi-tubi. Menyalurkan perasaan bersalahnya. Sementara Yumna begitu tenang dan menikmati kecupan suaminya.
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Baru saja masuk pagi, sekarang sudah berpindah ke siang. Adzan dzuhur pun sebentar lagi akan terdengar berkumandang.
Umi dan Abah telah kembali ke rumah sakit dan saat ini tengah menemani Yumna di ruang rawatnya.
Sementara Abyan baru saja berpamitan pergi untuk mengecek kondisi rumah yang rencananya akan mereka tinggali hari ini juga setelah Yumna diijinkan keluar sore nanti.
Abyan berangkat ke rumah barunya menggunakan mobilnya sendiri yang Hercules--sang asisten bawakan untuknya sebelum berangkat tadi.
Usai dari melihat rumah yang rupanya sudah dibersihkan dan benar-benar siap dihuni itu, Abyan mampir sejenak ke salah satu cabang restoran miliknya.
"Selamat datang. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang wanita berhijab yang tidak lain ialah Eva.
Sepertinya wanita itu baru saja bekerja di restoran tersebut sehingga ia tidak tahu bahwa Abyan adalah pemiliknya.
"Eva? Kamu berkerja di sini?" tanya Abyan yang sejenak memilih untuk mengobrol dengan Eva sebentar di meja resepsionis sebelum bertemu dengan manajernya.
"Iya, Byan." Eva menjawab seraya melayani pesanan pembeli. "Baru dua hari dengan ini."
"Maa syaa Allah, aku kira kamu mengajar di pondok."
"Aku tetap mengajar kok di sana. Tapi tidak seintens dulu."
"Jadi kamu kerja part time di sini?"
__ADS_1
"Iya, begitulah. Aku harus mencari kerja. Ayah aku butuh biaya untuk berobat."
"Innalillah. Aku turut prihatin dengan itu. Semoga kamu dimudahkan dan diberikan kesabaran ya."
"Aamiin. Terima kasih banyak, Byan," sahut Eva seraya tersenyum. Ia senang mendapatkan perhatian dan doa dari lelaki impiannya itu. "Ngomong-ngomong kamu mau pesan apa?"
"Aku datang untuk bertemu manajer di sini."
"Oh ya? Ada urusan ap--" Ucapan Eva terhenti tatkala suara manajer menyapa Abyan begitu santun dan lembut.
"Selamat siang, Pak Byan. Bagaimana kabar anda?" tanya sang manajer seraya menjabat tangan dan memeluk Abyan secara maskulin.
"Alhamdulillah 'ala kulli hal, Pak."
"Syukurlah. Anda datang untuk memeriksa restoran?"
"Iya, benar. Kalau begitu mari ikut saya ke ruangan, Pak."
"Baiklah." Abyan melirik pada Eva yang sedang menatapnya penuh tanya. "Aku pergi dulu ya. Semangat kerjanya."
"Iya, Byan. Terima kasih." Eva melambaikan tangannya pada Abyan yang kini telah berlalu darinya menuju ruangan sang manajer.
"Kamu dekat dengan Pak Byan?" tanya seorang pria yang baru saja balik dari membawa pesanan ke pelanggan.
"Pak Byan?"
"Apa?! Subhanallah!" pekik Eva terkejut. Ia baru tahu jika Abyan adalah seorang pemilik di tempatnya bekerja saat ini.
Pantas saja pria itu mencari manajer restoran ini.
"Kamu dan dia--" Belum sempat pertanyaan selanjutnya dilancarkan, suara pelanggan yang baru datang memanggil pria itu. "Aku lanjut dulu. Setelah ini kamu harus cerita soal hubungan kalian berdua," ujarnya seraya berlalu dari sana.
"Kevin memang aneh!" celetuk seorang perempuan yang berdiri di samping Eva.
"Dia aneh kenapa?" Eva bertanya dengan polos.
"Sepertinya dia menyukaimu."
"Hem? Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Soalnya dia enggak pernah kayak gini ke cewek lain."
"Tapi kita baru kenal," sahut Eva malas. Lebih memilih untuk melayani pesanan para pembeli.
"Kita kan enggak tahu soal jodoh. Kalau dia mengajakmu pacaran, gimana?"
__ADS_1
"Aku tidak menyukai konsep pacaran. Sebab itu dilarang dalam agama."
Perempuan itupun akhirnya diam tanpa mengatakan apapun lagi. Sementara di dalam ruangan, Abyan sibuk mendengarkan penjelasan yang sang manajer utarakan.
"Oh iya, Pak. Anda tidak masalah kan jika saya menerima karyawan kerja part time? Soalnya perempuan yang berbicara dengan anda tadi sangat memohon agar diterima di sini."
"Tidak masalah. Tolong jangan persulit dia. Dia teman satu pondok saya. Dan satu lagi, berikan dia gaji full. Anggap saja, itu hadiah dari saya sebagai teman."
"Anda tidak menyukainya kan, Pak?" tebak sang manajer menggoda Abyan.
"Tidak mungkin. Saya sudah menikah."
"Siapa tahu anda berkenan untuk poligami."
"Heheh, terima kasih. Tapi insyaa Allah saya tidak akan melakukannya. Saya tidak berani."
Mendengar itu, sang manajer tergelak. Ia menganggap Abyan sudah seperti anaknya sendiri.
"Baiklah, Pak. Apa ada lagi yang anda ingin tanyakan?"
"Tidak ada. Saya harus segera pamit. Istri saya pasti sudah menunggu."
"Baik, Pak Byan." Sang manajer bangkit dari duduknya bersamaan dengan Abyan. Keduanya berjabat tangan. "Sekali lagi selamat atas pernikahan anda. Semoga anda selalu sukses."
"Aamiin. Terima kasih, Pak." Abyan menyambut jabatan tangan itu dan mengucapkan salam lalu pamit dari sana.
Sebelum pulang, Abyan kembali mendekati Eva dan berpamitan dengan perempuan itu selayaknya seorang teman.
Sayangnya, sikap Abyan tersebut membuat Eva salah paham dan berpikiran lain.
Ditambah lagi, perempuan sesama resepsionisnya ikut berkata, "Sepertinya pak Byan menyukai kamu."
"Ah, tidak mungkin. Dia sudah punya istri."
"Memangnya kenapa? Aku lihat kamu wanita sholehah. Pantas kok sama pak Byan. Tidak masalah jika Pak Byan mau poligami. Beliau sanggup dalam banyak hal kok."
"Tapi belum tentu istri pertamanya setuju," balas Eva, memikirkan perasaan Yumna.
"Entahlah. Istrinya lebih tua dari pak Byan. Jadi pasti akan kalah sama yang lebih muda."
Tidak ada tanggapan yang Eva berikan. Tapi nyatanya, ia memang sedikit berharap untuk itu.
Abyan berjalan memasuki rumah sakit dengan langkah cepat. Baru saja ia mendapat telpon dari ayah mertuanya jika saat ini Yumna sedang ngamuk di rumah sakit. Dan mereka kesusahan memegang Yumna.
Raut Abyan begitu pucat tatkala melihat istrinya kini sedang berteriak keras tepat saat ia masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Akhhhhh! Lepaskan!!"