
"Eh, itu suaminya bu Yumna, kan?" bisik salah seorang karyawan yang baru saja kembali dari restoran depan kantor.
"Iya. Ganteng banget ya suami orang," sahut yang lain.
"Ho'oh. Kok suami gue biasa-biasa aja ya. Padahal gue cantik gini."
"Yeee, ganteng itu kan relatif. Tergantung cara kita mandang aja. Pake iman atau napsu."
"Tapi kalau suaminya Bu Yumna yang tampan berdasarkan 'ijma begitu sih susah, pakai iman atau napsu sama aja."
"Hahahah. Iya. Kayak bu Yumna. Kecantikannya enggak ada khilaf."
"Bodoh banget pak Yunus karena udah lepasin cewek paket komplit kayak gitu."
"Itu mah bukan bodoh lagi. Tapi bego."
"Hhahaha."
Ketiga karyawan perempuan itu terkekeh bersamaan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan mereka dari Abyan.
Pria muda beroutfit putih abu itu terlihat sangat tampan juga bening. Serasi sekali dengan Yumna yang meski lebih berumur tapi masih saja babyface.
"Permisi, ruangan bu Yumna mana?" tanya Abyan pada Manja yang kini tidak melepas tatapannya.
"Anda ... siapa?" Manja bertanya balik dengan suara yang terdengar gugup.
"Saya suaminya Bu Yumna."
"Se ... rius?" tanyanya tidak percaya. Menatap Abyan penuh kagum. Mengulurkan tangannya pada pria itu untuk berkenalan. "Saya Manja, hanya ingin di Manja. Ingin berdua dengan dirimu saja."
Ratih yang hampir saja lewat di sana memilih melipir dan bersembunyi di tembok seraya tergelak mendengar perkenalan yang Manja lontarkan.
"Ah, iya." Wajah Abyan terlihat geli menatap wanita itu. Tanpa membalas uluran tangan Manja. Hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Ruangan istri saya mana, ya?"
"Ruangan Bu Yumna, ya?"
"Iya," sahut Abyan kikuk.
Sementara Ratih sengaja membiarkan Manja menggoda suami sahabatnya itu untuk melihat sejauh mana pria itu akan bertahan. Sementara ia sendiri menghubungi Yumna dan memberitahunya apa yang terjadi.
Yumna yang tahu soal itu, segera bangkit dari duduknya dan mengintip dari dalam ruangan.
"Tidak ingin mencari ruangan yang lain?"
"Maksudnya?" tanya Abyan tidak mengerti. Kedua alisnya saling bertautan.
"Ruangan hati saya mungkin. Saya jomblo kok."
"Oh gitu ya, mbak."
Mulut Manja melongo dan malu sendiri.
__ADS_1
Apa dia setua itu sampai dipanggil mbak oleh pria tampan itu?
Namun belum sempat Manja memberikan protes. Suara langkah Kaki Yumna yang mendekat terdengar.
"By, kamu datang?"
Tubuh Abyan seketika berbalik dan mendekat pada istrinya. "Assalamu'alaikum. Na, ruangan kamu mana?"
"Wa'alaikumussalam. Hem, kenapa?"
"Ayo, kita masuk ke ruangan kamu."
Mau tidak mau, Yumna mengikuti langkah suaminya setelah memberikan tatapan peringatan pada Manja yang malah membalasnya dengan gelak tawa.
Yumna membawa Abyan masuk ke dalam ruangannya. Dan tanpa aba-aba, pria itu langsung mencium Yumna dengan brutal.
"By ...."
Napas keduanya sama-sama memburu. Gelenyar nikmat kembali terasa tatkala Abyan mencium Yumna sekali lagi. Bahkan tangan pria itu sudah menjalar kemana-mana.
"Byan, kamu mau ngapain? Ini di kantor," bisik Yumna dengan napas yang terengah-engah akibat seragam brutal suaminya.
"Apa pintunya tidak bisa dikunci dulu? Sepertinya aku sudah tidak bisa menahan diri lagi." "
"Hah?"
"Please!" pinta Abyan dengan wajah memerah. Membuat Yumna tidak tega. Kemudian mengunci pintu mengikuti perintah suaminya. "Ayo ke kamar mandi saja," ajaknya kemudian tanpa basa-basi, segera mengeksekusi istrinya.
**
Wajah Yunus merah padam karena emosi. Ingin sekali ia masuk dan menghajar Abyan saat ini juga tapi ia tidak mau rencananya batal begitu saja karena emosi sesaat.
"Sabar Yunus, sabar. Kamu memang harus menahan diri untuk mendapatkan hasil yang lebih baik," gumam Yunus menyemangati dirinya.
"So? Kamu akan melakukan apa lagi untuk mendapatkan apa yang kamu mau, Yunus?" ujar Ratih, mencondongkan tubuhnya ke arah meja mantan dari sahabatnya itu. "Aku sudah memperingatkan kamu, kan? Jangan mengganggu sahabatku lagi. Kalau tidak--"
"Kalau tidak apa?" pangkas Yunus cepat. Merasa tidak takut lagi dengan apa yang akan perempuan itu lakukan. "Kamu ingin mengatakan itu padanya? Silahkan saja. Aku sama sekali tidak takut!" ujarnya seraya menggebrak meja dan bangkit dari duduknya dengan emosi yang telah sampai di ubun-ubun.
"Dih, gila banget tuh cowok," sinis Ratih. Kemudian mulai melanjutkan pekerjaannya.
Sementara di sisi lain, Yunus terus berjalan keluar dari kantor sembari mengeluarkan ponsel dari tangannya menghubungi seorang wanita di seberang sana.
"Sayang, kamu dimana?"
"Kenapa?"
"Aku ingin bertemu sekarang juga."
Perempuan cantik itu menghela napas panjang. Menatap ke sekeliling ruangan di mana yang lain sedang sibuk bekerja "Kamu pasti ingin tubuhku lagi kan, Yun?"
"Aku kangen, Sayang. Please temui aku. Aku tunggu di apartemen ya."
__ADS_1
"Tapi aku harus kerja, Yunus."
"Pleaseee!" pinta Yunus terdengar mengiba. Membuat perempuan cantik itu terpaksa mengangguk.
"Baiklah. Aku ke sana sekarang."
Setelah berkata demikian, perempuan itu mematikan sambungan telpon dengan Yunus kemudian bangkit dan pergi dari sana. Meninggalkan pekerjaannya demi memenuhi permintaan Yunus yang bahkan tidak mencintai dirinya.
**
"Duh, Byan. Gimana dong, pakaian saya udah berantakan gini. Apa yang akan orang-orang diluar katakan?"
"Enggak berantakan kok. Tetap cantik. Kita kan enggak melakukannya sampai membuka pakaian."
Yumna geleng-geleng kepala. Pria itu benar-benar memiliki napsu yang tinggi. Ia bahkan tidak bisa mengimbangi suaminya.
"Kita mandi junub di rumah serta berganti pakaian. Setelah itu langsung berangkat ke Kuningan."
"Baiklah."
Kedua suami istri yang baru saja menyelesaikan hajat mereka itu langsung bergegas bangkit dan keluar dari ruangan.
Beberapa karyawan memerhatikan keduanya. Yumna benar-benar sangat malu. Ia menenggelamkan wajahnya di lengan suaminya.
Ratih yang melihatnya semakin ingin menggoda, namun tertahan tatkala Abyan memberikan kode untuk tidak menganggu istrinya lebih dulu.
"Duh, cowok udah bucin ternyata gitu banget, ya. Syukurlah," gumam Ratih geleng-geleng kepala.
"Daebak!! Suaminya bu Yumna kok gantengnya enggak ketulungan sih. Maa sya Allah banget!" pekik Manja histeris setelah Yumna dan Abyan menghilang dari sana. Bahkan wanita itu memeluk berkas di tangannya dengan erat.
"Lebay Manja!" cicit Ratih yang ditanggapi delikan dari wanita resepsionis itu.
"Bu Ratih tidak bisa lihat orang bahagia. Pantas sampai sekarang belum dapat jodoh."
"Eh, enak aja. Udah ada kali!"
"Siapa hayo?" tantang Manja yang membuat Ratih diam pada akhirnya. Namun menggerutu dalam hati.
'Memang udah ada kok. Cuma cowoknya masih belum berani melangkah jauh. Dan juga tidak memberikan komitmen yang jelas.'
**
"Kalian cepat sekali pulangnya, Nak? Ada apa?" tanya Umi penasaran melihat anak dan menantunya kembali bahkan di saat belum jam pulang kerja.
"Kami mau ke pergi Kuningan, Bu. Ada keluarga Abyan yang masuk rumah sakit," jelas Yumna, melirik ke arah suaminya untuk memintanya masuk terlebih dahulu.
"Inalillahi wa innailaihi raaji'un. Sakit apa, Byan?"
"Istri sepupu saya yang lagi hamil kecelakaan jatuh di lantai."
"Astagfirullah. Ya sudah. Sebaiknya kalian cepat bersiap-siap. Tapi hati-hati di jalan ya."
__ADS_1
"Terima kasih, Umi." Kedua suami istri itu pun masuk ke dalam rumah untuk membersihkan tubuh.
"Kenapa di mereka ada bau-bau aneh, ya? Apakah habis bercinta?" gumam Umi yang malah merasa geli sendiri.