
Usai berkata demikian dengan tegasnya. Abyan pergi dari sana. Meninggalkan Eva dengan sejuta kekecewaan di hati.
Ia tidak mengira sama sekali jika Abyan tidak mendengarkannya sedikitpun. Ia bahkan diancam untuk diberhentikan kerja di tempat itu karena ia memfitnah Yumna.
"Haaah. Sekarang aku benar-benar tidak memiliki kesempatan apapun lagi."
Eva menghela napas panjang. Setetes air mata jatuh melewati pipinya dan jatuh ke bumi.
Namun detik berikutnya, seorang pria berdiri di samping Eva dan mengulurkan selembar sapu tangan untuknya.
"Silahkan hapus air mata mu, Eva. Masih banyak pria yang antri untuk bisa memilikimu. Maka jangan bersedih hanya karena kehilangan satu orang lelaki."
Eva menundukkan kepala setelah meraih sapu tangan itu lalu menyeka air matanya.
Tidak lama setelahnya ia mendongak menatap pria itu dalam beberapa detik. Rupanya dia teman satu kerjanya. Dan satu-satunya orang yang selalu memperhatikannya saat Abyan mengabaikan dirinya.
"Terima kasih. Aku akan kembalikan sapu tangan ini nanti."
"Tidak perlu. Itu sudah menjadi milikmu sekarang."
Sebuah anggukan Eva berikan. Ia tersenyum tipis meski hatinya tidak baik-baik saja. Tapi setidaknya, apa yang pria di sampingnya ini katakan benar adanya. Masih banyak pria yang menginginkan dirinya.
Dan jodoh tidak akan pernah bisa tertukar. Apa yang telah tertakdir untuk menjadi miliknya, maka itu tidak akan pernah melewatkannya. Begitupun sebaliknya.
Meski berat untuk move on dari Abyan. Tapi ia yakin, seiring berjalannya waktu, maka semuanya akan baik-baik saja.
**
Abyan pulang dari mengelilingi restorannya yang lain tepat saat Adzan ashar juga berkumandang.
Di tengah jalan ia menunaikan shalat ashar sebelum akhirnya ia menjemput istrinya agar pulang bersamanya.
Setelah tiba di kantor kerja Yumna. Rupanya sang istri telah menunggunya di halaman.
Yumna masuk ke dalam mobil seraya menggerutu setelah mengucapkan salam.
"Kok kamu terlambat sih, By? Dari mana aja emang?"
"Tadi keliling restoran."
"Bukan lagi jalan sama cewek lain, kan?"
Bukanny kesal dituduh seperti itu, Abyan malah tertawa. Ternyata sang istri sedang berada pada mode cemburu.
"Iya. Ini aku lagi jalan sama cewek cantik," goda Abyan seraya melajukan mobilnya.
Pipi Yumna seketika menguarkan semburat merah dengan bibir mengerucut sebal. Abyan benar-benar mampu mengubah suasana hatinya.
"Tadi sudah makan siang, kan?"
"Iya. Alhamdulillah udah."
"Terus nanti malam mau makan apa?"
"Apa aja yang ada. Tapi kalau boleh, aku mau makan bakso pedas."
"Boleh. Tapi jangan terlalu pedas juga. Enggak baik buat kesehatan kamu."
"Hem. Larang aja terus," rajuk Yumna seraya menoleh ke arah lain. Namun mendadak ia teringat akan pembicaraannya dengan Ratih tadi. "Oh iya By. Kata Ratih, Yunus sudah gila sekarang."
"Aku tahu."
"Hah?" Netra Yumna membelalak terkejut.
"Abang Zaid yang kasih tahu aku."
__ADS_1
"Kok kamu enggak bilang sama aku? Malah tadi pagi pake sengaja godain aku dengan mantan lagi."
"Hehehe. Aku hanya enggak mengira jika kamu akan tahu secepat ini."
"Kamu lupa? Aku punya sahabat baik di kantor yang akan senantiasa membagi cerita apapun padaku?"
Abyan tertawa lebar. Seraya mengangguk-angguk. "Iya. Aku beneran lupa tentang itu."
Dalam beberapa detik, suasana dalam mobil menjadi hening. Yumna sedikit ragu mengutarakan niatnya, tapi tidak lama setelahnya ia mengatakannya juga.
"By!"
"Hem?"
"Boleh enggak, kita pergi temui Yunus sore ini sebelum pulang?"
"Kamu mau ngapain temui dia?"
"Aku mau lihat keadaannya aja."
Abyan menghela napas panjang sebagai tanda tidak terlalu suka dengan keinginan istrinya itu.
"Bagaimana jika sihir itu malah kembali saat kamu menemui dia?"
"Insyaa Allah tidak akan. Aku janji."
Lagi-lagi Abyan menghela napas panjang. Namun pada akhirnya, ia mengangguk mengiyakan permintaan istrinya itu.
"Katakan, di mana tempat dia berada."
Yumna memberitahu lokasi Yunus saat ini. Yaitu rumah orang tua pria itu seperti yang dikatakan oleh Ratih.
Setibanya di sana, Yumna disambut oleh Mama Yunus yang pernah dikenalkan oleh Yunus saat mereka pacaran dulunya.
Sebagai mantan yang pernah menjalin kasih selama lima tahun lamanya, Yumna merasa kasihan dengan nasip Yunus saat ini.
Pria itu kini menderita karena hidup dengan mengikuti hawa napsu dan diperbudak oleh dunia.
Cukup lama keduanya berada di sana, hingga sekitaran pukul setengah enam, mereka pun pamit pulang. Meninggalkan Yunus yang kini tanpa sadar meneteskan air mata seraya lari-lari dan bersembunyi di dalam lemari.
**
Dua hari setelah Abyan dan Yumna menjenguk Yunus. Yumna terus-terusan dilanda mual dan muntah-muntah.
Abyan yang takut istrinya kenapa-napa itu pun membawa Yumna pulang ke rumah Abah dan Umi.
"Sejak kapan Yumna begini, Byan?" tanya sang ibu mertua yang kini masih berada di dalam kamar anaknya itu bersama menantunya.
Sementara di dalam kamar mandi, Yumna sibuk memuntahkan apa saja yang ada di dalam perutnya. Ia juga tidak suka saat Abyan mendekatinya.
"Sejak saat kami pulang dari menjenguk Yunus, Umi."
"Astagfirullah." Umi mengurut dada dan membuang napas sedikit kasar. "Umi kan sudah bilang, jangan temui dia lagi. Tapi kenapa kamu malah membawa istrimu ke sana sih, Nak."
"Maafkan Abyan, Umi. Abyan salah."
Umi geleng-geleng kepala. Sedang Yumna keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat.
"Bukan salah Abyan kok, Umi. Tapi aku yang paksa dia untuk ngantarin aku ke sana." Yumna membela suaminya seraya mengambil duduk di pinggir ranjang.
"Sayang, kamu enggak apa-apa?" tanya Abyan khawatir. Tidak peduli dengan komentar sang mertua tadi. Mendekati istrinya dan duduk di sebelahnya.
Yumna mengganggukan kepalanya pelan. Sementara Umi yang masih berada di sana langsung memborongi Yumna dengan pertanyaan.
"Selain mual dan muntah, apa lagi yang kamu rasakan, Nak?"
__ADS_1
"Lemas dan pening, Umi."
"Kamu makan banyak kemarin atau gimana?"
"Enggak napsu makan Umi."
Umi mengangguk-angguk mengerti. Detik berikutnya ia keluar dari kamar tersebut menuju kamarnya sendiri. Lalu mengambil alat tes kehamilan yang dulu sempat ia beli untuk digunakan oleh Yumna.
"Coba kamu tes ini."
"Hem?" Yumna dan Abyan saling pandang dalam beberapa saat, mereka bergantian menatap wanita paruh baya itu. "Enggak mungkin hamil kan Umi?"
"Ya coba dulu saja."
"Baiklah."
Pada akhirnya, Yumna pasrah untuk mengikuti ucapan sang Umi. Sementara di depan pintu, Abyan dengan resah menunggu istrinya.
Tidak lama setelahnya, Yumna keluar dari kamar mandi dengan ekspresi sendu. Abyan yang melihatnya langsung memeluknya untuk memberikan ketenangan.
"Enggak apa-apa, Sayang. Kita masih bisa mengusahakannya lagi."
"Iya, Nak. Kalian masih muda kok," timpal Umi tidak ingin jika anaknya bersedih.
Zaid dan Abah yang baru saja pulang langsung melirik ke kamar Yumna yang nampaknya tengah sunyi itu.
"Ada apa?" tanya Abah penasaran.
"Ini. Yumna--"
"Sayang, kamu hamil?" tanya Abyan tidak percaya saat melihat alat tes kehamilan. Secara tidak langsung memangkas ucapan yang hendak keluar dari mulut sang mertua.
"Hah? Hamil?!" Umi, Zaid, dan Abah seketika tersentak kaget secara bersamaan.
Yumna mengangguk dalam pelukan Abyan saat ini. Dan langsung saja membuat ketiga orang itu melakukan sujud syukur dengan perasaan penuh haru.
Akhirnya, kini Allah mengirimkan berkah berupa buah hati untuk anak dan menantunya itu setelah berjuang dengan penuh kesabaran menghadapi ujian dari Allah.
**
Tiga bulan berlalu, akad nikah sekaligus resepsi Ratih dan Zaid akhirnya terlaksana setelah banyaknya persiapan yang telah mereka kerjakan bersama.
Abyan berjalan seraya memeluk istrinya yang tengah sibuk mengumpulkan beberapa kue di satu piring untuk disantapnya. Tidak peduli jika Farhan membullinya karena kini tubuhnya sedikit lebih berisi dari sebelumnya.
Senyum Ratih dan Zaid merekah saat menyalami tamu. Pernikahan mereka juga dihadiri oleh Elsa yang ternyata kini memiliki gandengan baru yaitu seorang pria bule.
"Sayang, belum cukup makannya, ya?" tanya Abyan sedikit khawatir melihat napsu makan istrinya yang sangat besar itu.
"Kamu tidak suka jika aku jadi gendut ya?"
"Tidak, Sayang. Bukan itu. Kamu tetap cantik kok."
"Heheh. Terima kasih."
Yumna terkekeh bahagia. Ia mendekatkan wajahnya dan memberanikan diri mengecup pipi Abyan di hadapan semua tamu undangan yang hadir.
Kendati demikian, Yumna sama sekali tidak peduli. Bahkan berulang kali mengecup pipi pria itu.
Ia sama sekali tidak menyangka jika keputusan dirinya meninggalkan Yunus yang mengajaknya bermaksiat akan memperoleh balasan luar biasa yaitu dipertemukannya ia dengan Abyan.
Ini benar-benar kenikmatan yang diluar dari perkiraannya.
"Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah. Maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik."
T A M A T
__ADS_1