
"Byan!" seru Abah dan Umi kelimpungan memegangi Yumna yang berteriak histeris dan mengamuk. "Syukurlah kamu sudah datang, Nak."
"Yumna ...."
Dua orang suster perempuan yang juga menangani kondisi Yumna ikut membantu menghentikkan wanita itu yang hendak memukul dan menjambak dirinya sendiri.
Melihat itu Abyan tidak tega. Hatinya benar-benar sakit dan merasa sangat kasihan pada sang istri.
Dengan cepat Abyan mendekat dan mencoba membacakan ayat-ayat ruqiyah yang telah ia hafal saat di pesantren.
Perlahan Yumna mulai tenang. Suster yang sejak tadi memegangnya juga segera memberikan suntikan obat penenang. Sehingga tidak lama setelahnya, Yumna tidak sadarkan diri.
Abyan menghela napas panjang. Duduk dengan menunduk di samping Yumna sambil memegang erat tangannya.
Abah yang juga ada di sana, menepuk lengan Abyan, juga mengelusnya perlahan untuk menenangkan.
"Sabar ya, Nak. Mungkin inilah ujian rumah tangga kalian."
Tidak ada tanggapan yang Abyan berikan. Ia hanya terus menunduk dan tanpa sadar meneteskan air mata saat dengan intens menatap wajah tirus Yumna.
Suara ponsel yang terdengar membuyarkan fokus Abyan. Dengan segera ia menghapus air matanya dan mengangkat telponnya.
"Assalamu'alaikum. Mimim."
"Wa'alaikumussalam. Sayang, gimana kabar kamu sama Yumna? Semalam Mimim mimpi buruk. Apa kalian baik-baik saja?"
Abyan melirik pada istrinya dan kedua mertuanya yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Mim. Tapi Yumna, dia tidak baik sama sekali."
"Apa yang terjadi, Sayang!?" tanya sang Mimim khawatir di seberang sana.
"Yumna keguguran, Mim."
"Innalillahi wa innailaihi raaji'un." Bu Nurma terkejut mendengar berita itu. "Sekarang kalian di mana sekarang?" tanyanya setelah menghela napas panjang.
"Kami sedang di rumah sakit Bandung, Mim."
"Baiklah. Kalau gitu Mimim telpon Pipip dulu ya. Kami akan segera ke sana."
"Iya, Mim."
Sambungan panggilan pun terputus. Abyan mendongak menatap kedua mertuanya yang masih sibuk memerhatikannya.
"Byan, jika kamu lelah, kamu bisa beristirahat dulu. Kamu pasti capek dari luar, kan?"
"Saya tidak apa-apa, Abah. Jangan khawatir."
Abah dan Umi saling pandang. Sesaat kemudian keduanya memilih duduk di sofa yang ada dalam ruangan. Ikut menunggu Yumna sadar kembali.
Sementara Abyan dengan tulus membelai punggung tangan istrinya. Sangat tidak tega jika harus melihat Yumna dalam keadaan seperti itu.
"Byan," panggil Abah lagi.
Abyan berbalik dengan sedikit menyerongkan tubuhnya, menatap sang ayah mertua.
__ADS_1
"Iya, Bah? Ada apa?"
"Jika benar tentang apa yang kamu curigai soal Yumna itu, apa tidak sebaiknya, kamu hubungi Kiyai mu yang ada di pesantren untuk membantu Yumna?"
Dalam sejenak Abyan terdiam. Hampir-hampir saja ia melupakan tentang hal itu.
"Abah benar. Insyaa Allah aku akan pergi hari ini juga menjemput beliau dari pesantren."
"Semoga saja Allah mengirimkan kesembuhan melalui perantara Kiyai itu," harap Umi yang tidak tega melihat anak perempuannya demikian.
Ia pernah kehilangan anak perempuannya yang pertama saat masih kecil. Dan sekarang, ia tidak bisa kehilangan anaknya lagi.
Tidak lama setelah mereka mengobrol panjang kali lebar. Yumna sadar bertepatan dengan datangnya orang tua Abyan.
"As--"
Takkk!
Belum sempat salam itu terucap. Yumna menyingkirkan tangan Abyan dengan kasar dari menggenggamnya.
"Jangan sentuh saya!" sentaknya tanpa peduli jika orang tua Abyan ada di sana.
Mata Yumna juga tajam menatap Abyan. Seperti seseorang yang sedang menatap musuhnya.
"Maaf, aku--"
"Keluar kamu!" usirnya dingin. Memalingkan wajahnya.
"Tap--"
Abyan menurut setelah menghela napas cukup panjang. Ia melirik pada Abah dan Umi yang mengangguk tidak enak hati.
"Iya, Mim."
Tanpa sadar, air mata Yumna jatuh. Tapi ia sama sekali tidak ingin melihat Abyan. Ada rasa panas ketika melihat sang suami. Padahal dalam hati, ia sangat rindu untuk di sayang dan di manja oleh suaminya.
"Aku pamit sebentar ya, Sayang." Abyan menatap sendu istrinya lalu melangkah mengikuti kedua orang tuanya.
Tidak ada tanggapan sama sekali yang Yumna berikan. Malahan wanita itu menatapnya tajam dalam sesaat dan kembali memalingkan pandangan.
**
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Nak? Kenapa Yumna seperti itu?" tanya Bu Nurma sangat khawatir dengan kondisi sang menantu. Ia bahkan tidak sempat menyapa besannya karena terlalu kalut dan ingin segera berbicara dengan Abyan.
Abyan duduk dengan menundukkan kepalanya. Ia masih berusaha untuk menstabilkan perasaannya sebelum akhirnya menjawab.
"Aku tidak tahu pasti, Mim. Dan Dokter pun mengatakan bahwa tidak ada masalah medis yang menimpa Nana kecuali soal keguguran itu," cerita Abyan mencoba mengingat-ngingat. "Juga semalam dan pagi tadi dia baik-baik saja. Tapi setelah aku pulang dari mengecek rumah dan restoran. Dia mendadak histeris lagi dan bersikap dingin seperti itu padaku."
Bu Nurma dan Pak Latif mendengarkan semua cerita Abyan dengan seksama. Keduanya saling pandang dalam beberapa saat. Kemudian membuka suara.
"Apa mungkin Yumna terkena gangguan non medis?" tebak Pak Latif yang membuat Bu Nurma melirik ke arah suaminya.
"Pipip apa-apaan sih. Malah berpikir seperti itu lagi."
Pak Latif terdiam kembali sampai akhirnya Abyan berbicara.
__ADS_1
"Kemungkinan besar seperti itu, Pip."
"Apa?!" Bu Nurma terkejut mendengarnya. Ia mendadak meringis dan kasihan pada Yumna. "Jangan mengada-ngada deh, Byan."
"Ini baru prediksi awalku, Mim."
"Kalau memang begitu, Yumna harus segera di ruqyah. Jangan biarkan jin itu terlalu lama dalam tubuhnya. Karena itu akan semakin menggerogoti masa hidupnya."
Abyan mengangguk paham atas kekhawatiran sang Pipip.
"Iya, Pip. Aku mengerti. Oleh karena itu, tolong jaga istriku bersama Abah dan Umi di dalam. Aku akan ke pesantren sekarang untuk menjemput Kiyai," ujar Abyan seraya bangkit dari duduknya.
"Baiklah. Kamu hati-hati ya, Nak." Pak Latif menepuk pelan bahu Abyan.
Sementara Bu Nurma memeluk anaknya memberikan penguatan. "Kamu harus sabar menghadapi masalah ini ya. Ini hanya masalah kecil kok. Dan bukan hanya kalian yang mengalaminya. Mimim yakin, kalian kuat dan bisa melewati semua ini."
"Terima kasih, Mim-Pip." Abyan memeluk kedua orang tuanya sebelum akhirnya pamit pergi dari sana.
**
Di sisi lain, Zaid dan Farhan berdiri di depan perusahaan tempat Yumna bekerja.
Sebentar lagi waktu istirahat. Dan keduanya sedang menunggu seseorang keluar dari sana.
"Itu dia orangnya, Bang," tunjuk Farhan pada Yunus yang tengah berjalan keluar dari gedung.
"Lelaki brengsek itu?" tanya Zaid memastikan.
"Benar, Bang."
"Ayo ikut Abang!" ajak Zaid dengan mata setajam elang mengamati gerak-gerik Yunus dan mendekat padanya.
Yunus yang hendak ke restoran yang ada di depan perusahan tertahan langkahnya oleh Zaid dan Farhan.
Kening Yunus berkerut dalam. Ia seperti mengenal kedua orang ini.
"Kalian--"
"Ikut kami!" tarik Zaid dengan kasar dan penuh amarah membawa Yunus menjauh dari sana.
"Hei! Lepaskan saya!"
"Diam kamu bajingan!" umpat Zaid emosi. Tatapannya tajam seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
Yunus sampai membeku dan patuh begitu saja mengikuti langkah Zaid yang menyeretnya. Juga Farhan yang mengikuti mereka dari belakang.
Brukk!!
Zaid mendorong tubuh Yunus dengan keras. Membuat mantan dari Yumna itu terpelanting ke belakang.
Segera tangan Zaid mencengkram kerah baju Yunus.
"A-apa yang k-kalian lakukan?!" tanya Yunus ketakutan. Bahkan pria itu sampai pipis di celana.
"Katakan! Apa yang telah kamu lakukan pada adikku?!"
__ADS_1