Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Janji Manis


__ADS_3

"Silahkan, Tuan." Hercules berdiri membukakan pintu mobil untuk Abyan di depan restorannya.


Eva menoleh ke arah Abyan, bergantian menatap Hercules. Ia kira hanya akan berduaan saja dengan Abyan. Tapi malah ada orang ketiga di antara mereka.


"Silahkan Eva, kamu duduk di belakang. Aku akan bersama Hercules di depan."


"Ah, iya." Mau tidak mau Eva harus masuk ke dalam mobil meski ia sedikit kecewa.


Pantesan saja Abyan mengiyakan untuk pergi bersamanya ke pesantren. Jika saja tidak ada Hercules, mungkin pria itu tidak akan pernah mau berduaan dengannya.


Cukup sulit. Tapi ini baru awal. Masih ada waktu untuknya mendekati Abyan.


"Ke pesantren ya, Her."


"Baik, Tuan." Hercules menyahut patuh, lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Beberapa kali supir sekaligus asisten pribadi Abyan itu melirik ke arah Eva melalui kaca depan.


Bukan karena menyukai wanita itu. Melainkan karena mencium bau yang aneh. Seperti aroma busuk yang tidak mengenakan. Dan sebagai asisten yang sudah lama bersama Abyan, ia tidak menyukai itu.


"Apakah anda lagi-lagi merindukan Nyonya, Tuan?" tanya Hercules, seakan sedang menguji bagaimana ekspresi wanita di belakangnya saat Abyan membicarakan tentang istrinya.


"Ya, sangat. Sudah cukup lama aku tidak mengunjunginya. Terakhir satu bulan lalu, Kiyai menangkap basah kehadiranku. Dan aku dilarang keras mengunjunginya. Tapi tetap saja aku tidak bisa mengabulkannya."


Suara Abyan saat berbicara tentang Yumna terdengar sangat sendu. Ada banyak kerinduan dibalik nada-nada itu.


"Anda pasti sangat mencintai Nyonya, bukan?"


Mata Eva diam-diam memperhatikan ekspresi Abyan. Pria itu nampak malu-malu dengan wajah semerah tomat masak.


"Aku memang sangat mencintainya."


Deg!


Hati Eva bagai teriris sembilu. Terasa sangat perih dan sakit. Ia memalingkan muka, pura-pura menatap ke arah jalanan.


"Ah, maaf ya Eva. Kami malah mengobrol berdua tanpa melibatkanmu," ucap Abyan tidak enak hati setelah mendengar suara deheman Eva.


"Tidak apa-apa, Byan. Lagipula itu pembahasan yang memang seharusnya tidak melibatkanku."


Abyan menganggukkan kepalanya. "Oh iya, apa kamu melanjutkan kuliah, Eva?"


"Iya. Aku juga kuliah saat ini. Dan kuliahnya hanya tiga kali dalam sepekan. Jadi aku masih bisa bekerja part time di tempatmu dan mengajar sore dan malamnya di pesantren," cerita Eva dengan riang.


Telinga Hercules terasa gatal mendengarnya. Sementara Abyan mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda ia mendengarkan cerita teman satu sekolahnya itu.


"Syukurlah. Karena sayang sekali jika kamu tidak melanjutkan sekolah. Kamu siswa yang pintar dulu."

__ADS_1


Eva terkekeh malu-malu. Padahal Abyan sama sekali tidak ingin membuatnya baper. Ia hanya bersikap biasa saja seperti mengobrol dengan yang lain.


"Terima kasih, Abyan. Ini berkat kamu juga."


Kali ini Abyan hanya mengangguk sebagai tanggapan. Dan tidak ada lagi obrolan setelah itu.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di pesantren. Eva pamit untuk turun lebih dulu dari mobil karena Abyan masih melihat-lihat situasi agar bisa menyelinap masuk tanpa ketahuan.


Tidak lama setelahnya, Hercules turun melihat keadaan. Lalu ia kembali pada Abyan untuk melaporkannya.


"Nyonya terlihat sedang duduk sendiri di taman samping pendoponya, Tuan. Anda bisa melihat Nyonya dari jauh."


Setelah mendengar itu, Abyan mengangguk dan turun dari mobil untuk melihat istrinya.


Ia masuk menyelinap dan berdiri di bawah pohon. Nampak Yumna sedang menunduk dan membaca sesuatu. Itu terlihat seperti buku dzikir di tangannya.


Bibir Abyan menerbitkan garis sabit melengkung ke atas. Ia bahagia hanya dengan melihat Yumna baik-baik saja dan semakin nampak sehat. Lebih baik dari waktu terakhir ia datang ke sana.


Tapi matanya mendadak bergetar tatkala seorang pria yang cukup ia kenal mendekati istrinya. Hatinya resah dan dadanya terasa panas.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam, Ustadz Mu'adz."


"Bagaimana keadaan anda saat ini?"


Pria di hadapannya itu beberapa hari ini menanyakkan soal kabarnya. Ia juga merupakan peruqyah yang biasa menggantikan Kiyai dan Nyai yang kadang-kadang memiliki urusan di luar.


"Syukurlah. Apakah anda masih merasa panas di jari-jari kaki dan tangan anda?"


"Masih lumayan, Ustadz."


"Baiklah. Tidak apa-apa. Insyaa Allah nanti akan saya sampaikan pada Kiyai terkait hal ini."


"Terima kasih, Ustadz."


Melihat istrinya masih mengobrol dengan Mu'adz. Abyan hendak melangkah mendekat. Tapi kakinya terhenti ketika melihat Ustadz itu beranjak pergi dari sana.


Dan Yumna pun juga kembali fokus pada buku dzikir di tangannya.


"Itu Ustadz ngapain dekat-dekat sama istriku sih!" gerutunya kesal.


"Apa dia juga perlu datang menemuinya seperti itu?"


"Haih. Aku juga tidak bisa mendekatinya sama sekali. Padahal aku sangat merindukanmu, Na."


Dari jauh, Yumna bisa merasakan kehadiran suaminya. Suara Abyan yang mengungkapkan rindu seakan terdengar di telinganya dengan jelas.

__ADS_1


"Aku juga merindukanmu, By. Tapi tunggulah sebentar lagi. Insyaa Allah kita pasti akan bertemu kembali."


Abyan melangkah pergi dari sana setelah puas melihat Yumna meskipun dari jauh.


Ia meninggalkan pesantren setelah menitipkan setumpuk uang di penjaga gerbang dan memintanya untuk menyerahkannya pada Kiyai atau Nyai.


"Kita kembali ke Ma'had, Her."


"Baik, Tuan."


Mobil Abyan melaju pergi dari sana. Dari jauh, Eva melihatnya seraya mengepalkan kedua tangannya. Ia melirik pada Yumna yang masih duduk di taman dengan mata iri.


Ia tidak bisa menerima semua ini begitu saja. Seakan-akan, ada makhluk bertanduk dan berbadan merah di sekitarnya. Membisikkan hal-hal hina itu di telinganya.


"Eva!" panggil Rani sedikit menyentak. Menyadarkan Eva dari pikiran buruknya.


"Ya?"


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Rani mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dan matanya mengarah pada fokus Eva sebelumnya. "Kenapa kamu terus menatap istrinya Abyan? Apa kamu ingin dekat dengannya?" tanyanya polos.


"Tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya kasihan melihatnya. Ayo pergi."


"Oh gitu." Rani membeo lalu mengikuti Eva yang meninggalkan tempat itu dan pergi bersamanya.


**


Akhhh!!


Teriak seorang wanita yang seketika membangunkan Yunus dari tidurnya seraya memijit kepalanya yang sedikit berat.


"Akang! Apa yang sudah kita lakukan?! +" tanya wanita cantik itu dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat ke dalam selimut dan mendapati dirinya tidak memakai busana sehelai benang-pun.


"Ini...." Yunus memeriksa keadaan dirinya sendiri. Dan mereka sama-sama telanjang. "Kita melakukan itu semalam."


Melihat tubuhnya yang tanpa sehelai benang itu dengan Yunus yang biasa saja, wanita cantik dan nampak polos itu menangis terisak seraya memukul-mukul dada lelaki di sampingnya.


"Kenapa kamu melakukan itu, Kang! Bagaimana kalau aku hamil?!"


Yunus diam saja seraya menarik napas. Ia tidak terlalu peduli dengan tangisan wanita itu. Tapi, keberadaan dia di sini masih ada dua bulan lagi. Jadi, dia harus bisa bersikap baik pada gadis itu.


"Akang! Kenapa diam saja!"


"Jangan khawatir. Kamu tenanglah." Yunus menarik tangan gadis itu dan membawanya dalam pelukannya.


Gadis cantik yang baru saja kehilangan kehormatannya itu masih saja terisak di dalam dekapan Yunus.


Tangan Yunus mengelus-elus kepala juga punggung terbuka-nya. Ia berbisik memberikan janji yang manis namun penuh dengan senyum kepalsuan.

__ADS_1


"Jangan khawatir. Apapun yang terjadi, aku pasti akan bertanggung jawab."


__ADS_2