
Sekitar satu jam menjelang maghrib, Zaid dan yang lain pamit pulang pada pemilik pondok, juga pada Abah, Umi dan Yumna.
"Zaid, jagain Ratih ya. Jangan macam-macam dengan anak orang!" pesan Abah yang tidak ingin jika terjadi sesuatu di luar kendali.
"Iya, Abah. Ya Allah. Memang aku apaan?"
"Siapa tahu. Kamu kan suka melakukan hal yang aneh-aneh."
Tidak ada tanggapan lagi yang Zaid berikan. Ia melirik sejenak ke arah Yumna yang hanya duduk melamun dengan buku dzikir di tangannya. Mulutnya senantiasa melantukan kalimat-kalimat suci itu.
"Kalau ada apa-apa dengan Yumna tolong hubungi Zaid ya, Bah."
"Insyaa Allah. Kamu enggak perlu khawatir. Dan Abah minta tolong kamu jagain rumah kita. Untuk sementara, jangan tinggal di markasmu."
"Baik, Abah. Zaid mengerti."
"Aku pulang ya, Na. Cepat sembuh. Aku akan selalu doain kamu."
Ratih mengusap air matanya yang turun kemudian mengecup kepala Yumna dengan penuh kasih sayang.
Setelah berpamitan dengan semuanya, mereka pun pulang. Di dalam mobil, suasana mendadak sangat canggung. Baik Ratih maupun Zaid tidak mengatakan apapun sama sekali.
Hingga beberapa saat kemudian, Ratih membuka mulut.
"Oh iya, Bang. Bisakah kita bertemu dengan Abyan dulu? Aku ingin memberikan sesuatu untuknya dari Yumna."
"Boleh. Kita akan ke sana dulu sebelum aku mengantarmu pulang."
"Terima kasih, Bang."
"Iya sama-sama. Jangan canggung gitu. Kita kayak orang asing."
Ratih terkekeh pelan, merasa lucu dengan apa yang Zaid utarakan.
"Kita memang asing, Bang. Hanya sebatas Abang Zaid adalah saudara dari sahabatku."
Mendengar itu Zaid terdiam. Tapi dalam hati ia bertanya-tanya.
'Ini apa maksudnya? Bukan kode, kan? Ah pasti bukan. Tapi apa salahnya, aku mencoba untuk masuk melalui ini.'
Sebuah garis sabit melengkung ke atas terbit di bibir Zaid. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Apa tidak bisa, kita mencoba hubungan baru?"
Seketika Ratih menoleh pada Zaid seraya menelan ludah. Ia tidak menyangka jika abang dari Yumna itu akan berkata demikian padanya.
"Maksud Bang Zaid, apa?"
Ditanya balik seperti itu, Zaid mendadak kikuk. Dan sampai akhirnya ia memilih diam setelah mengelak dari melanjutkan pembahasan tersebut.
"Bukan apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan."
Ratih mengangguk dengan polosnya. Tanpa berniat untuk bertanya lebih lanjut maksud Zaid.
Beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya tiba di depan sebuah ma'had universitas tempat Abyan kuliah.
Dan tidak lama setelahnya, Farhan muncul usai Zaid menghubungi pembina asrama.
"Abang Zaid!"
"Han, mana Abyan?"
"Dia enggak bergerak dari kasurnya. Tadi hanya bangun untuk shalat, setelah itu lanjut tidur lagi. Ada apa?"
Zaid melirik pada Ratih yang langsung mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya.
"Tolong berikan surat ini pada Abyan. Ini dari Yumna," katanya pada Farhan yang ditanggapi anggukan oleh pria itu.
__ADS_1
"Baik, Mbak. Terima kasih."
Detik berikutnya, Zaid mengantar Ratih kembali ke kontrakannya. Sementara ia pulang menuju rumah Abah dan Umi.
**
"Abyan!" panggil Farhan, namun sama sekali tidak Abyan hiraukan.
"Abyan!"
Hari ini Farhan benar-benar diuji kesabarannya oleh sahabatnya itu. Ia mendekat pada Abyan dan memukulkan surat tersebut pada keningnya.
"Ini surat dari istrimu. Baca!"
Abyan seketika bangkit dari tidurnya tatkala Farhan berkata demikian. Ia mengambil surat tersebut tanpa memedulikan Farhan yang tengah menatapnya kesal. Dan akhirnya memilih untuk meninggalkan Abyan sendirian.
Senyum Abyan merekah ketika melihat surat itu benar-benar berasal dari Yumna. Ia sangat mengenali tulisan tangan istrinya.
"Assalamu'alaikum. Suamiku santri idaman."
Kalimat pembuka dari Yumna, langsung membuat Abyan meneteskan air matanya.
"Saya tidak tahu sejak kapan semuanya menjadi seperti ini. Saat saya telah menyadari jika saya telah mencintai kamu, mendadak Allah memberikan ujian yang begitu berat untuk kita."
"Apakah memang mencintaimu memiliki konsekuensi seberat ini?"
Netra Abyan berkaca-kaca. Matanya penuh dengan bulir kristal bening yang jika ia mengedipkannya sedikit saja, maka itu akan jatuh membasahi pipinya.
"Jika memang iya, maka insyaa Allah saya akan berusaha sekuat mungkin untuk menjalaninya."
"Entah perpisahan ini akan membutuhkan waktu berapa lama, saya akan tetap bersabar. Dan saya harap, kamu pun begitu, By."
"Dulu kamu datang di saat saya sedang berada dalam kekacauan karena putus cinta. Kamu memberikan saya banyak kebahagiaan hingga membuat saya lupa pernah memiliki rasa sakit."
"Kamu memberikan banyak kasih sayang, tanpa peduli balasan, serta mengabaikan banyak keburukan yang saya lakukan."
"Dan kamu mengajarkan kepada saya apa itu cinta yang sesungguhnya. Dari kamu saya belajar, bahwa jika ingin dicintai oleh makhluk, maka dekati sang pemilik cinta."
Abyan tersenyum namun pipinya sudah banjir akan air mata.
"Terima kasih atas kesabarannya. Dan terima kasih karena telah mencintai saya dengan cara yang berbeda. Tolong fokuslah pada studimu saat ini. Jangan terlalu memikirkan saya. Dan jangan lupa, gosok dengan benar bagian belakang telingamu. Kamu sering melupakan itu."
"Saya harap, setelah semua ini, pada waktunya kita akan bersama kembali. Dan merajut kasih bersama. Saya akan sangat merindukanmu, Byan. Rindu dengan pelukan hangatmu setiap malam."
"Aku juga akan merindukanmu, Na. Amat sangat," gumam Abyan seraya menutup surat tersebut. Menyeka air matanya. Dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Ia akan memulai semuanya dari awal. Dan kali ini, tanpa Yumna di sisinya.
"Aku berjanji, akan menjadi pria terbaik yang bisa kamu banggakan, Na. Ini tekadku."
**
Ratih masuk ke dalam rumah kontrakannya dengan hati-hati. Ia memanggil-manggil nama Elsa yang sama sekali tidak memberikan jawaban.
"El! Buka pintunya!"
Ia mengetuk pintu kamar Elsa. Namun tidak ada sahutan sama sekali.
"El! Elsa! Kamu di dalam, kan?"
Hati Ratih mulai resah tatkala ia hendak membuka pintu kamar sepupunya itu yang ternyata telah terkunci.
"Elsa! Jawab aku!"
"Ra ... tih ..."
Terdengar suara lirih Elsa dari dalam. Membuat Ratih kelabakan.
"Elsa! Tunggu aku! Aku cari kunci serepnya."
__ADS_1
Ratih berlari ke sana kemari mencari kunci cadangan untuk kamar Elsa. Dan tidak lama setelahnya, ia menemukan itu di laci lemari tv ruang tamu.
Dengan cepat Ratih membuka pintu tersebut. Matanya membola sempurna tatkala melihat Elsa terbaring di atas lantai dengan darah berceceran di sana.
"ELSA!" teriak Ratih penuh kekhawatiran. Ia berlari mendekat dan membawa Elsa dalam pelukannya.
"Elsa kamu kenapa?!"
Tidak ada jawaban yang Elsa berikan. Bibirnya kering. Dan wajahnya berantakan dengan air mata memenuhinya.
"Elsa bangun!"
Tanpa menunggu lama lagi, Ratih berlari keluar dari kamar tersebut dan berteriak memanggil pertolongan pada orang-orang di sekitar rumah.
"Tolong! Tolong!"
Hal tersebut bertepatan dengan Zaid yang entah kenapa bisa datang kembali ke kontrakannya.
"Ratih, ada apa?"
"Tolong sepupu aku, Bang. Dia pendarahan."
Segera Zaid berlari masuk tanpa bertanya apapun lagi. Beberapa warga berkumpul di depan kontrakan karena mendengar teriakan Ratih.
"Ada apa?"
"Enggak tahu."
Para tetangga mulai berbisik-bisik. Zaid keluar dari sana dengan menggedong Elsa. Diikuti Ratih dari belakang.
Tanpa mengatakan apapun, Zaid segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit setelah Ratih ikut masuk mendekap Elsa di dalam sana.
Suasana terasa mencekam. Ratih bahkan tidak sempat bertanya kenapa Zaid bisa berada di sana tadi. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan terkait kondisi Elsa.
Tidak lama setelahnya, mereka pun tiba di rumah sakit. Beberapa suster menyambut pasien dengan berlari membawa brangkar.
Zaid membaringkan Elsa di sana. Pakaiannya dipenuhi dengan noda darah. Ratih ketakutan melihat itu. Ia duduk di ruang tunggu dengan memijat kepalanya yang pening.
"Tenanglah, sepupumu akan baik-baik saja."
Ratih menganggukkan kepala. Namun tubuhnya tidak berhenti gemetar ketakutan. Zaid yang merasa kasihan, menarik pelan Ratih dalam pelukannya--mencoba menenangkan.
Saking takutnya, Ratih bahkan tidak sadar jika ia sedang berada di dalam dekapan seorang lelaki saat ini. Netranya buram dipenuhi air mata.
"Jangan khawatir. Dokter sedang menanganinya."
Hanya anggukan kepala yang bisa Ratih berikan. Tidak ada kata-kata yang keluar sedikitpun dari mulutnya.
Beberapa waktu berlalu, dokter keluar dari dalam ruangan di mana Elsa dirawat. Segera Ratih bangkit dari sana, keluar dalam pelukan Zaid.
"Dokter, bagaimana keadaan sepupu saya?"
Dalam sejenak tidak ada jawaban dari dokter. Ia menoleh pada Zaid yang ikut bangkit dari duduknya dan mendekat pada mereka
"Apa anda suami dari pasien?"
"Ya?"
"Suami? Maksud dokter apa? Sepupu saya kenapa?" Ratih mendadak emosi, karena sang dokter malah bertanya hal-hal yang aneh.
"Pasien mengalami keguguran. Jadi--"
"Apa?! Keguguran?!"
Seketika tubuh Ratih luruh dan dengan cepat Zaid menahannya.
Bagaimana mungkin Elsa keguguran? Sejak kapan wanita bodoh itu hamil?
__ADS_1
Hanya kata-kata itu yang penuh di dalam kepala Ratih saat ini. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada orang tua Elsa jika tahu anaknya mengalami hal seperti itu.
'Yunus brengsek! Ini semua pasti ulah dia!'