Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Rekan Kerja


__ADS_3

Yumna bangkit dari kursinya tatkala mendengar permintaan maaf dari mantan kekasihnya itu.


"Aku datang untuk minta maaf sama kamu." Yunus mengulang ucapannya dan kali ini lebih lembut dari sebelumnya.


Kening Yumna berkerut dalam. Ia tidak tahu apa yang membuat Yunus tiba-tiba menjadi seperti ini. Tapi, bisa jadi Yunus memang sudah sadar setelah mendapatkan peringatan dari Abyan.


"Aku--"


"Jangan tertipu, Na. Bisa jadi dia sedang menyusun rencana busuk sekarang!" sela Ratih, cepat. Menatap tajam ke arah Yunus dengan tangan terlipat di dada.


Bukannya membalas ucapan Ratih yang terkesan menuduh, Yunus memilih diam dengan menundukkan kepalanya. Seakan sedang merenungi semua kesalahanya.


"Aku tahu jika aku telah banyak menyakiti kamu selama ini, Na. Aku juga sadar, bahwa pria kayak aku enggak pantas berada di sisi wanita sebaik kamu."


"Emang! Itu tahu!" sindir Ratih kesal, namun mendapat peringatan dari Yumna berupa cubitan pelan di punggung tangannya. "Aww! Apaan sih, Na!"


"Dengerin dulu dia ngomong. Jangan kayak gitu ah," bisik Yumna tidak enak hati.


Ratih memalingkan wajah, bahkan bersikap terang-terangan tidak peduli dengan apa yang ingin Yunus katakan selanjutnya.


"Selama ini aku enggak sadar, bahwa cinta kamu itu tulus buat aku. Tapi aku malah menghancurkan cinta kita demi untuk memenuhi ambisi dan hawa napsu aku hanya agar mendapatkan tubuh kamu."


Yumna diam tanpa suara, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut pria yang telah menjadi mantan kekasihnya itu.


"Tapi setelah apa yang terjadi pagi tadi. Aku baru sadar, bahwa kamu terlalu berharga di sia-siain oleh pria kayak aku. Jadi ... sekarang aku benar-benar akan melepaskan kamu dan membiarkan kamu bahagia bersama suami kamu. Selamat ya atas pernikahan kamu. Semoga kamu bahagia." Yunus mengulurkan tangannya sebagai bentuk perpisahan terakhir. "Kamu mau kan Na, maafin aku?"


Anggukan pelan Yumna berikan. Sedang tangannya menangkup di depan dada. "Aku udah maafin kamu, Yunus. Dan terima kasih atas doanya. Aku harap, kamu juga bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Maaf, aku tidak bisa berjabat tangan lagi dengan lelaki yang bukan mahram aku."


Tanpa sadar, Yumna berbicara informal dengan menggunakan aku-kamu kembali pada Yunus. Ia merasa bahwa Yunus memang telah berubah.


"Ah, enggak apa-apa, Na. Dengan kamu mau maafin aku pun, aku sudah bersyukur banget. Aku harap, meski udah putus, hubungan kita akan baik-baik saja. Seperti teman dan rekan kerja."


Seulas senyum manis Yumna berikan. Kini perasaannya benar-benar terasa lega.


"Terima kasih sudah mau mengerti."


Yunus menganggukan kepalanya, kemudian melirik ke arah Ratih yang terlihat masih kesal padanya, sebelum akhirnya ia pamit pergi dari sana.


"Kalau begitu aku kembali ke tempat kerja aku dulu."

__ADS_1


"Iya, silahkan."


Setelah berpamitan, Yunus segera melangkah keluar dari ruang kerja Yumna. Dan setelah tiba di depan pintu, ia menutupnya pelan, lalu tersenyum smirk penuh kemenangan.


Sementara di dalam ruangan, Yumna mendapatkan protes dari Ratih. "Kamu tuh ya, Na. Gampang banget maafin pria kayak mantan kamu itu. Kamu enggak takut kalau dia sebenarnya punya niat jahat sama kamu?"


Kedua bahu Yumna terangkat tidak terlalu memedulikan. Berjalan kembali ke kursinya dan duduk dengan santai di sana.


"Jangan suudzan gitu, Rat. Aku tuh udah lama pacaran sama dia. Jadi aku cukup kenal gimana Yunus. Kamu jangan terlalu khawatir. Justru sekarang, aku merasa lega karena kita udah saling memaafkan. Dada aku rasanya plong aja gitu."


"Hah, entahlah." Ratih menghembuskan napas panjang. "Aku enggak merasa enak hati aja sama dia. Bisa jadi, dia sedang merencanakan sesuatu."


Yumna geleng-geleng kepala dan tidak ingin ambil peduli dengan apa yang Ratih pikirkan. "Sudahlah, enggak usah ngurusin itu. Sebaiknya kamu kembali ke ruangan kamu."


"Hem. Aku keluar dulu. Awas ya, hati-hati. Jangan sampai tertipu sama dia."


"Iya-iya. Pergi sana!" usir Yumna seraya mengibaskan tangannya dan tersenyum.


"Hem, dasar!"


"Hahahha."


**


"Nih Abang Zaid kemana sih! Katanya tadi udah di jalan. Kenapa sampai sekarang belum kunjung tiba!" gerutu Yumna, berjalan mondar-mandir dengan resah. Sementara tangannya dipenuhi dengan boneka beruang, bunga dan juga tas. "Kalau tahu bakal gini, aku mending naik mobil sendiri untuk ke kantor."


Di saat Yumna sedang sibuk menggerutu, Yunus muncul dari belakang dengan senyum sumringah.


"Na, kamu belum pulang?" tanya Yunus, sopan. Bahkan berdiri agak sedikit jauh dari tempat Yumna.


"Ah iya. Bang Zaid belum kunjung datang." Yumna memperbaiki posisi berdirinya dengan tegak lurus dan memeluk boneka pemberian suaminya erat.


"Ehm, mau aku antar pulang?" tawar Yunus seraya tersenyum. "Itupun kalau kamu mau sih. Aku juga tidak akan memaksa. Takutnya, nanti suami kamu marah lagi."


Yumna melirik ke arah Yunus. "Dia bukan orang yang mudah marah kok. Tapi dia tidak suka istrinya berdekatan dengan pria lain. Apalagi sama mantan."


"Berarti dia enggak percaya sama kamu dong!"


Dalam sejenak Yumna terdiam. Namun kemudian ia menjawab. "Bukan gitu. Dia hanya terlalu mencintai aku. Makanya, takut kehilangan istrinya."

__ADS_1


Yunus tersenyum simpul dengan hati yang memanas. Tapi sebisa mungkin, pria itu tidak memperlihatkan emosinya yang sudah mulai ganas. "Dia beruntung sekali ya, mendapatkan wanita sebaik kamu."


"Enggak. Aku malah yang beruntung karena memiliki suami seperti dia."


Lagi-lagi ucapan Yumna menambah panas dan membakar dada Yunus. Ia merasa sangat marah sekali.


"Kamu belum pulang?" tanya Yumna setelah beberapa detik keduanya diam tanpa suara.


"Aku ... aku enggak tega pulang, sementara kamu masih di sini. Apa boleh aku temanin kamu sampai jemputan kamu datang?"


Sebelum menjawab, Yumna melirik ke sekitarnya, masih banyak orang di area kantor. Jadi ia tidak akan dikira sedang berduaan dengan Yunus.


"Boleh, kok."


"Terima kasih."


Beberapa saat kemudian, mobil Zaid akhirnya tiba di depan kantor di mana Yumna sedang menunggu.


Zaid menatap Yunus dengan kening berkerut. "Siapa dia?" gumamnya penasaran.


Di sisi lain, Yumna langsung berpamitan dengan Yunus dan mengucapkan terima kasih pada pria itu karena telah menemani dirinya menunggu Zaid.


Yumna membuka pintu mobil bagian belakang dan meletakkan boneka pemberian suaminya di atas kursi.


Setelah itu ia melangkah ke depan membuka pintu untuk masuk ke sana namun langsung mendapatkan serangan pertanyaan dari sang kakak.


"Dia siapa?"


"Rekan kerja," sahut Yumna tak acuh. "Jalan sekarang, Bang. Aku capek nungguin Abang dari tadi."


"Iya-iya." Zaid kembali melirik ke arah Yunus yang malah melambaikan tanganya dan tersenyum. "Tapi kok kelihatan akrab banget ya?" tanyanya seraya mulai melajukan mobilnya.


Tidak ada jawaban yang Yumna berikan. Ia diam dan menutup mata, terlalu lelah untuk berbincang dengan Zaid.


"Jangan terlalu dekat dengan lelaki manapun, bahaya!" Zaid memberikan peringatan setelah beberapa detik kemudian mobilnya telah terparkir di halaman rumah.


"Dia enggak bahaya kok. Orangnya baik."


"Awas aja kalau Abyan tahu. Mati kamu!" ancam Zaid yang malah menerbitkan senyum di bibir Yumna.

__ADS_1


"Aku enggak apa-apa kalaupun mati di bawah kungkungan dia!"


"Astagfirullah, Yumna!" teriak Zaid memberikan peringatan dengan wajahnya yang sudah merona malu pada Yumna yang kini telah berlari masuk ke dalam rumah mereka sembari tertawa ngakak. "Dasar, punya adik kok gitu amat sih!"


__ADS_2