Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Hadiah Bunga


__ADS_3

Allaahu Akbar, Allaaaaaaaaaahu Akbar ....


Suara adzan subuh terdengar menggema di seluruh alam. Yumna membuka matanya perlahan dan tidak ia dapati ada Abyan yang ia lihat semalam.


"Apa pulangnya Abyan juga mimpi?" gumam Yumna. Kemudian secara perlahan bangkit dari tidurnya dan mengubah posisi menjadi duduk.


Yumna mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia merasa tiba-tiba kamar tersebut terasa angker karena cahaya kamar yang remang-remang.


Namun suara dzikir dari mulut Abyan yang terdengar, membuat Yumna sedikit tenang. Apalagi tatkala ia melihat suaminya sedang menengadahkan tangannya ke langit.


"Ternyata kamu benar-benar pulang." Yumna tersenyum tipis. Tanpa memalingkan pandangan ke arah Abyan. "Kalau kamu begini terus, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu, Byan?"


Beberapa saat, Abyan menyelesaikan ibadah malamnya, karena adzan telah berkumandang. Ia berbalik ke belakang dan mendapati Yumna tengah menatapnya tanpa sekat.


"Kamu sudah bangun, Na." Abyan bangkit dari tempat shalatnya dan menghidupkan lampu besar supaya terang. Ia berjalan mendekat ke arah Yumna dan mencium kening istrinya.


Yumna menyambut Abyan dengan memeluk pria itu yang masih setia mencium dahinya berulang kali.


"Kapan kamu sampai, Abyan? Perasaan saat saya masuk kamar tadi malam, kamu tidak ada," tanya Yumna penasaran. Tanpa melepas peluk pada tubuh suaminya.


"Saat kamu sedang bermimpi dan memanggil namaku," ujar Abyan terkikik kecil. Mencubit gemas pipi istrinya yang berusia lebih darinya namun terlihat sangat menggemaskan. "Apa kamu begitu merindukanku? Sampai menyebut namaku dalam mimpimu?"


Seulas senyum canggung Yumna berikan. Sebenarnya bukan karena itu. Melainkan sebab ia ketakutan atas mimpinya. Ia tidak mengerti apa maksud mimpi itu. Tapi yang ia pahami, bahwa pasti akan terjadi hal buruk yang harus ia hindari. Terutama berkaitan dengan Yunus.


"Hei! Kok melamun?" kejut Abyan yang seketika membuyarkan lamunan Yumna.


"Ah, maaf. Kamu tidak ke masjid?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Ini mau pergi," sahut Abyan seraya tersenyum. Kembali mengecup kening istrinya sebelum pamit. "Oh iya, nanti setelah shalat siap-siap ya?"


"Mau kemana?"


"Jalan-jalan subuh sebelum kamu masuk kerja. Sekaligus, aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu. Boleh kan, istriku?"


"Iya boleh. Cepat sana pergi. Adzan udah mau selesai."


"Iya. Assalamu’alaikum," pamit Abyan yang kembali lagi mengecup istrinya. Kali ini di bagian pipi.


"Wa'alaikumussalam." Yumna melambaikan tangannya mengiringi kepergian sang suami. Sementara itu, ia langsung bergegas menuju kamar mandi setelah Abyan tidak terlihat lagi dipandang mata.


**


"Kalian mau kemana tuh?" tanya Abah yang sedang duduk di ruang tamu dengan sebuah mushaf terbuka di tangannya.


"Mau jalan-jalan di taman dekat sini, Abah," jawab Yumna tanpa menjauh sedikitpun dari suaminya.


"Kalau mau jalan-jalan, jangan terlalu nempel gitu juga kali, Na," celetuk Zaid yang sedang sibuk membaca koran di pagi-pagi buta seperti ini.


"Emang kenapa? Ini kan suami Yumna, Bang. Sirik aja deh," sahut Yumna seenaknya tanpa malu. Sedang Abyan mengulum senyum karena tingkah istrinya yang semakin berani menunjukkan kemesraan mereka di depan keluarga.


Mulut Zaid melongo, sedang Abah dan Umi langsung tertawa dengan tingkah anaknya.


"Kalau ada Farhan, dia pasti geli melihat sikapmu sekarang, Na."


"Biarin aja!" sahut Yumna tanpa peduli perkataan Zaid. Beralih dengan semakin menggamit lengan Abyan. "Ayo pergi emonku."


Zaid benar-benar semakin geli dan bahkan ingin muntah mendengar panggilan Yumna untuk Abyan. Ia tidak menyangka jika Yumna yang dua pekan lalu menolak keras dan bahkan mengejek Abyan akan berubah menjadi seperti ini.

__ADS_1


"Kami permisi dulu, Abah, Umi. Bang Zaid," pamit Abyan dengan sopan. Kemudian mengucapkan salam.


"Iya. Hati-hati."


Tepat setelah keluar dari rumah, Yumna langsung melepas tangannya dari lengan sang suami.


"Kenapa dilepas?" tanya Abyan menggoda Yumna.


"Saya malu!" Yumna menutup wajahnya dengan kedua tanganya sedang Abyan tertawa ngakak terhadap tingkat istrinya yang begitu menggemaskan.


Abyan mengangkat tangan dan menarik pelan kedua jemari istrinya yang menutupi wajah. Menatapnya penuh cinta.


"Kenapa malu, Na? Padahal tadi jantungku berdebar lho tatkala kamu dengan berani menunjukkan perasaanmu terhadapku di depan keluarga. Atau jangan bilang tadi hanya akting?"


Yumna menggeleng cepat, "Tidak-tidak. Saya memang serius. Tapi sekarang malu banget saat ingat kembali tentang tadi."


"Heheheh. Enggak apa-apa. Sekarang kita berangkat jalan-jalan sebelum matahari terbit."


"Iya." Yumna menyahut penuh semangat ajakan suaminya. Dan kini beralih pada Abyan yang mengenggam tangannya.


**


Sreett!!


"Sayang, bangun. Kamu enggak pergi kerja?" tanya seorang wanita yang menggunakan bathrobe berwarna biru. Ia baru saja membuka gorden jendela agar ketika matahari terbit nanti, langsung masuk mengenai pria yang tidak lain ialah Yunus itu.


Tangan wanita itu membelai pipi Yunus dengan mesra. Menatapnya penuh cinta.


Tak!


Ada perasaan sakit hati tatkala Yunus bersikap demikian padanya. Padahal, semalam mereka baru saja menghabiskan malam panas berdua. Meski tatkala sedang memuncak, Yunus akan menyebut nama Yumna.


"Say--"


"Berisik!" hardik Yunus lagi. Namun kali ini bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Namun belum sempat tangannya meraih handle pintu, ia berkata pada wanita itu. "Lain kali, jangan menganggu waktu tidurku. Kalau tidak, aku akan dengan mudah membuangmu. Paham?!"


Wanita itu mengangguk dengan mata memerah penuh emosi. Baginya Yunus merupakan pria terbrengsek yang pernah ia kenal. Padahal, pria itu yang pertama kali mendekati dirinya.


"Hah! Mau sampai kamu mengejar wanita yang sudah menjadi milik pria lain itu, Yunus. Dasar pria bodoh!" umpat wanita itu dengan pelan. Namun malah memilih ikut masuk ke dalam kamar mandi bersama Yunus di sana.


**


"Hah! Capek banget, Byan. Istirahat dulu ah!" keluh Yumna, berdiri dengan posisi ruku'. Sementara kedua tangannya memegang pinggang. Napasnya tersengal karena baru kali ini lagi ia berolahraga setelah menikah.


Abyan tersenyum dan mendekat ke arah istrinya. "Capek banget ya?" tanyanya dengan nada menggoda.


Yumna menganggukan kepalanya. Dengan napas yang masih memburu. Namun belum sempat Yumna mengambil napas dengan benar, Abyan menggendongnya secara tiba-tiba.


"Byan!" pekik Yumna terkejut. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman di mana beberapa orang yang sedang lari pagi melihat ke arah mereka. Sementara Abyan tersenyum tanpa peduli. "Abyan, turunin saya. Malu tahu!"


"Enggak mau. Istriku kan sedang capek. Mana mungkin aku membiarkanmu lelah," sahut Abyan tanpa peduli dengan pandangan orang-orang dan terus melangkah menuju sebuah kursi.


Yumna benar-benar malu. Ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya untuk menutupi wajahnya yang sudah semerah tomat.


Barulah setelah tiba di kursi, Abyan menurunkan istrinya. Lalu ia berjalan menuju ke penjual--membeli minuman untuk Yumna.


"Tunggu di sini."

__ADS_1


"Kamu mau kemana?"


"Kesana sebentar." Abyan menunjuk ke salah satu stand penjual di taman tersebut.


Dan tidak lama setelahnya, Abyan datang dengan membawa dua botol air mineral di tangannya.


"Minum dulu," ujar Abyan seraya menyerahkan air tersebut pada istrinya.


"Terima kasih." Yumna memberikan cengirannya yang terlihat manis dan mendebarkan bagi Abyan.


Abyan ikut duduk disamping istrinya. Lalu ikut meneguk minuman tersebut.


"Jangan tersenyum seperti itu di depan pria lain," celetuk Abyan setelah menghabiskan setengah minumannya.


Mata Yumna melirik ke arah suaminya dengan tatapan tidak mengerti. "Kenapa? Senyuman saya jelek banget, ya?"


"Tidak."


"Lalu?"


Tubuh Abyan beralih ke samping dan kini menghadap istrinya. "Aku hanya takut saat mereka melihat senyumanmu, pria-pria itu akan merasakan apa yang sedang aku rasakan sekarang."


"Memangnya apa yang kamu rasakan saat ini?" balas Yumna dengan ekspresi polos. Menambah gemas hati Abyan.


"Insting ingin menerkammu sekarang juga," bisik Abyan di telinga Yumna setelah pria itu mendekat.


Semburat merah terpancar jelas di wajah Yumna. Ia sangat malu namun juga berdebar. Jantungnya sungguh tidak baik-baik saja.


"Kita pulang sekarang. Matahari sudah agak tinggi."


Tanpa mengatakan apapun, Yumna mengikuti suaminya yang menarik tangannya untuk pulang bersama. Ia merasa bahagia bersama Abyan meski waktunya begitu singkat. Karena mereka akan berpisah lagi setelah ini.


**


Yumna turun dari mobil di mana Abyan mengantarnya hingga ke kantor. Sementara pria itu langsung pergi setelah melambaikan tangannya.


Abyan meminjam mobil Zaid untuk mengantar istrinya. Setelah itu ia kembali ke rumah mertuanya untuk mengambil Zaid yang akan pergi menuju kantor polisi di mana kakak iparnya itu bekerja. Sedang ia sekaligus ikut menumpang mobil Zaid.


Yumna berjalan cepat masuk ke dalam kantornya. Sebab pagi ini ia ada rapat untuk membahas kelanjutan kerja sama dengan klien dari Singapura yang ia dan Ratih temui semalam.


"Bu Yumna!" panggil Manja menghentikkan langkah Yumna yang hendak masuk ke dalam ruanganya.


"Iya, Manja. Ada apa?"


Manja mengambil sesuatu di atas meja kerjanya. "Ini ada bunga untuk anda," ujarnya seraya menyerahkan sebuket mawar merah pada Yumna.


Kening Yumna berkerut. Kedua alisnya saling bertautan. "Dari siapa?"


"Saya tidak tahu, Bu. Itu diantarkan oleh seseorang melalui kurir tadi."


Yumna mencium aroma bunga tersebut seraya tersenyum. "Baiklah. Terima kasih, Manja. Saya permisi dulu," katanya, kemudian berlalu dari tempat itu.


"Baik, Bu."


Dari jauh Yunus tersenyum senang melihat Yumna bahagia menerima buket bunga tersebut.


"Aku yakin, kamu sebenarnya pasti masih mencintaiku kan, Na?" gumam Yunus percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2