
Hati suami mana yang tidak kecewa atas kenyataan yang baru saja terpampang jelas di depan mata. Abyan bahkan tanpa sadar meremas tangan Yumna. Membuat wanita itu meringis.
"Na, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Yunus di seberang telpon dengan suara yang terdengar khawatir.
Hal itu semakin menambah panas dada Abyan. Dan kini melepas tangan istrinya seraya memalingkan wajah, menatap ke arah jalanan.
Melihat suaminya seperti itu, Yumna semakin merasa bersalah dan tidak enak hati.
"Maaf, Pak Yunus. Nanti saya hubungi lagi," ujarnya pada sang mantan di seberang sana yang tentunya sedang menyeringai puas.
"Baiklah, Yumna. Maaf mengganggumu."
"Tidak apa-apa." Yumna segera mematikan ponselnya dan meraih tangan Abyan yang bahkan tidak merespon sedikitpun sentuhan istrinya.
"By, maaf. Saya tidak bermaksud untuk berbohong. Tapi saya cuma tidak berani berkata jujur."
'Apa bedanya!' gerutu Abyan dalam hati. Sama sekali tidak berniat mendengarkan penjelasan Yumna saat ini. Dadanya masih terasa hawa panas.
Tangan Yumna beralih ke pipi Abyan. Menarik pelan dagu suaminya untuk menghadap ke arahnya. "Saya benar-benar minta maaf, Byan. Saya melakukan ini karena saya takut kamu akan marah."
"Lalu?"
"Hem?" Yumna bingung harus menjawab apa tatkala Abyan bertanya demikian.
"Kamu mau apa dari aku?"
Yumna menundukkan kepalanya. "Saya mau kamu memaafkan saya."
"Semudah itu?" Abyan mendengus kesal. Dengan pelan melepas tangan Yumna yang masih setia menggenggamnya. "Kita kembali sekarang!" putusnya, mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesungguhnya Yumna takut saat ini. Mobil yang melaju tinggi melewati banyak kendaraan yang mondar-mandir tanpa sedikitpun Abyan menurunkan kecepatannya.
'Padahal aku ingin memberi dia kejutan rumah baru sepulang dari sini. Tapi malah kayak gini lagi. Kesal banget!' keluh Abyan dalam hati. Tanpa memerhatikan kondisi Yumna yang ketakutan.
"Byan, berhenti!" pekik Yumna, ketakutan. "Berhenti, Byann. Saya takut! Saya mau muntah!"
Ckittt~
Abyan menghentikan laju mobilnya. Sementara Yumna langsung membuka pintu dan keluar dari sana.
Huweek! huweek!
Berulang kali Yumna muntah. Abyan yang ada di dalam mobil menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan. Kemudian keluar dari sana. Membawa sebotol minuman kemasan.
"Kamu enggak apa-apa?" tanyanya khawatir tapi tetap saja datar. Memijat tengkuk leher bagian belakang istrinya.
Tidak ada jawaban yang Yumna berikan. Ia terus saja muntah di selokan tanpa menghiraukan Abyan yang berdiri membantunya.
"Minum dulu, ya?"
__ADS_1
Yumna meraih minuman botol yang suaminya berikan. Dan segera meneguknya secara perlahan.
"Gimana? Udah baikan?" Abyan bertanya lagi tatkala Yumna kini telah berdiri setelah minum dan berkumur-kumur.
"Ehm." Yumna hanya menggumam. Berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya.
Untuk ke sekian kalinya Abyan menghela napas panjang lalu mengikuti istrinya.
Di dalam mobil, Yumna bersandar di kursi samping kemudi. Menutup matanya dengan wajah yang pucat.
Tangan Abyan terulur mengecek keadaan istrinya. Meletakkan tangannya di kening Yumna.
"Sampai Bandung kita langsung ke rumah sakit, ya?" usul Abyan namun mendapat gelengan kepala dari Yumna.
"Saya mau pulang istirahat. Tolong bawa santai mobilnya. Kalau kamu mau marah, nanti di rumah saja," jawab Yumna tanpa membuka mata.
"Baiklah." Abyan mengalah dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sekali-kali melirik ke arah istrinya yang terlihat tidak nyaman.
"Mau makan atau minum sesuatu enggak?" tanya Abyan benar-benar khawatir.
Sayangnya Yumna kembali menggelengkan kepalanya. Semakin menambah rasa bersalah di hati Abyan.
Pria muda itu kembali fokus melajukan mobilnya. Suasana hening tanpa suara. Hanya ada hela napas Abyan yang tidak tenang sejak tadi.
**
Di sisi lain, Yunus memekik gembira. Ia sudah mengira jika pasti Abyan telah mendengar suaranya tadi.
"Heh! Aku ingin lihat, sejauh mana kamu akan bertahan dengan bocah itu, Na. Pada akhirnya, kamu akan kembali padaku."
Bibir Yunus menyeringai puas. Ia kembali mengetik ikon kontak di ponselnya dan menghubungi seorang wanita di seberang sana yang kini harus ia bujuk dengan manis.
Berulang kali Yunus menghubungi nomor Elsa. Namun wanita itu sama sekali tidak menjawabnya.
Yunus mengumpat tanpa suara. Kemudian kembali fokus pada pekerjaanya.
Ratih yang baru saja datang dari toilet menatap kesal ke arah Yunus. Ingin sekali ia mencakar wajah tampan pria itu. Sayangnya, Elsa selalu melarangnya.
"Sebenarnya apa yang Elsa harapkan pada pria gila seperti dia sih? Aneh!" gerutu Ratih pelan.
"Kenapa anda mengomel Bu Ratih!" celetuk Manja ikut campur. "Lagi bertengkar dengan kekasihnya, ya?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Manja, kamu sudah makan siang, kan?"
"Sudah, Bu. Kan baru saja habis istirahat. Kenapa, Bu?" tanya Manja polos.
__ADS_1
"Baguslah. Jika belum, saya harap kamu bisa marah-marah tidak jelas pada Pak Yunus dibanding menanyakan soal saya."
"Kenapa saya harus marah pada pria tampan seperti pak Yunus, Bu? Anda bertengkar lagi dengannya?"
"Tidak!"
"Jangan terlalu membencinya, Bu. Bisa-bisa nanti anda jatuh cinta pada Pak Yunus."
"Idih!" Ingin sekali Ratih muntah. Melangkah meninggalkan Manja yang kini sedang menertawakan dirinya.
"Nih cewek kenapa enggak angkat-angkat sih!" decak Yunus kesal. Sangat lelah karena sang kekasih tidak kunjung menjawab telponnya.
Yunus bangkit dari duduknya, mendekat pada Ratih yang sudah kembali duduk d tempatnya.
"Ratih, tolong aku!" pinta Yunus tiba-tiba. Berdiri di samping meja sahabat Yumna itu.
"Ada apa?" Ratih bertanya dengan raut tidak bersahabat. Sembari mengetik di komentar.
"Tolong tanyakan di mana keberadaan Elsa saat ini. Aku ingin datang langsung dan meminta maaf padanya."
Jemari Ratih terhenti sejenak. Melirik sinis ke arah Yunus. "Mau ngapain lagi? Setelah meminta maaf, kamu nyakitin dia lagi, gitu? Aku tidak akan membiarkannya."
"Tidak, Ratih. Aku tidak akan melakukan itu. Tolong berikan kesempatan sekali saja. Aku mohon!" pinta Yunus dengan wajah memelas.
Ratih menghela napas panjang. Kembali mengetik di komputer tanpa menghiraukan Yunus.
"Ratih, aku mohon. Tolong katakan padaku dimana dia?"
"Di apartemennnya!" Pada akhirnya Ratih membuka mulut. Malas menanggapi Yunus yang tentu saja tidak akan pernah menyerah mengganggunya jika belum mendapatkan apa yang ia mau.
"Thanks, Ratih. Kamu memang sangat baik!" ujar Yunus tersenyum dan mendapati tatapan horor dari Ratih.
**
"Na, sudah sampai!" beritahu Abyan tatkala keduanya kini telah tiba di depan rumah Umi dan Abah.
Yumna membuka mata, melirik ke dalam rumah kemudian perlahan membuka pintu tanpa mengatakan apapun pada Abyan.
Tatapan Abyan sendu melihat ke arah istrinya. Lalu ikut turun dari sana dan membantu Yumna yang terlihat sekali kelelahan.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Umi khawatir melihat wajah Yumna yang pucat dan tubuh yang loyo.
"Tidak apa-apa, Umi. Nana hanya kecapean aja."
"Kalau gitu langsung masuk ke kamar ya," ucap Umi merasa kasihan. "Byan, tolong tuntun istrimu."
"Baik, Umi."
Tanpa ada protes, Yumna membiarkan Abyan menuntunnya. Namun tatkala Umi tidak lagi terlihat, Yumna merubah sikap.
__ADS_1
"Saya bisa sendiri!" ujarnya menepis tangan Abyan kasar.