Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Bayangan Hitam


__ADS_3

"Lagi apa sekarang?" tanya Abyan di seberang sana tepat setelah Yumna terbangun dari tidurnya di malam hari dan mendengar dering telpon masuk.


"Lagi meluk boneka beruang pemberian kamu."


"Kangen sama aku, ya?"


Yumna mengangguk meski Abyan tidak dapat melihatnya. "Kamu kapan balik? Saya merasa takut jika sendirian seperti ini."


"Kenapa? Mimpi buruk lagi?"


"Iya. Sebenarnya kenapa akhir-akhir ini saya terus mimpi buruk, ya?"


Dalam sejenak tidak ada jawaban dari seberang telpon. Hingga beberapa detik kemudian, Abyan kembali berbicara. "Gimana kalau kamu shalat atau perbanyak dzikir setiap terbangun malam seperti ini, hem?"


"Tapi saya takut. Kamar rasanya gelap banget."


"Kalau gitu sebaiknya kamu hidupkan lampu."


Gerakan cepat Yumna lakukan untuk memenuhi saran dari suaminya. Namun ia memekik kaget tatkala lampu dihidupkan, serasa ada bayangan hitam yang berlari.


"Astagfirullah!!"


"Kenapa, Na?" Abyan bertanya dengan raut gelisah. Bahkan kini berubah posisi menjadi duduk. Farhan yang satu kamar dengannya itu ikut terjaga mendengar suara khawatir Abyan.


"Ada apa, Byan?"


Abyan menggelengkan kepalanya, memilih fokus pada Yumna. "Na, kamu baik-baik saja, kan?"


"Saya takut, Byan. Tadi kayak ada ... bayangan hitam lewat."


"Hah? Bayangan hitam?" Kening Abyan berkerut dalam. Melirik ke arah Farhan yang ikutan bengong dengah apa yang terjadi.


"Iya. Tadi ... Saya benar-benar takut."


"Udah ya, Nana tenang saja. Itu bukan apa-apa. Pasti hanya halusinasi kamu. Sekarang perbanyak dzikir. Baca ayatul kursi. Aku akan menghubungi Abah untuk meminta Umi melihat kamu di kamar."


Tubuh Yumna mendekap dalam selimut. Namun ia tetap menganggukkan kepalanya. Lalu mulai membaca ayat kursi sesuai arahan Abyan.


Sementara Abyan langsung menghubungi nomor Abah. Yumna sendiri sedang ketakutan saat ini. Jadi tidak mungkin wanita itu akan melangkah keluar dari kamar.


"Assalamu'alaikum. Halo!" sapa Abah dengan suara berat karena tidur nyenyaknya terganggu.


"Wa'alaikumussalam. Abah. Ini saya Abyan."


"Nak Abyan? Ada apa, Nak?" Abah bangkit dari tidurnya menjadi duduk tatkala mendengar suara gelisah menantunya.


Bahkan Umi yang sedang terlelap dalam tidurpun, juga ikut membuka mata.


"Abah, saya mau minta tolong."


"Minta tolong apa?"


"Tolong bangunkan Umi untuk menemani istri saya di kamarnya. Dia sedang ketakutan sekarang. Insyaa Allah besok saya akan pulang."


"Yumna ketakutan? Kenapa?"


Belum sempat Abyan memberikan jawaban, suara teriakan Yumna menggema dalam rumah. Membangunkan seluruh penghuni kamar. Dan segera bergegas lari ke kamar Yumna.


"Yumna, Umi!"


"Iya, Abah. Ayo cepat!"

__ADS_1


Abyan yang ada di seberang telpon semakin gelisah dan mematikan ponselnya. Bangkit dari duduknya kemudian menggunakan jaket tebal.


"Mau kemana?"


"Aku harus pulang. Istriku sedang tidak baik-baik saja sekarang."


"Maksudmu? Apa yang sebenarnya terjadi pada kakakku?" Farhan juga ikut bangkit. Bergegas melipat selimutnya dan memakai kacamata.


"Aku enggak tahu, Han. Tapi dia barusan teriak."


"Gara-gara lihat kecoa kali!"


"Bukan. Tadi katanya dia lihat bayangan hitam."


"Bayangan hitam bagaimana?"


"Ah, sudahlah. Aku juga enggak tahu. Sekarang aku harus pergi."


"Kamu mau pakai apa malam-malam begini?"


"Aku akan telpon Hercules untuk menjemputku."


"Anak buah besar mu itu?"


Abyan mengangguk, meraih topi yang ada di gantungan dan memakainya, "Kamu mau ikut atau enggak?"


"Sebaiknya kamu saja yang pergi. Biar nanti aku yang jelaskan pada ketua asrama."


"Baiklah. Aku pergi dulu." Abyan pamit dari sana dengan mengucapkan salam. Meninggalkan kamar dengan menggunakan style badboy.


**


Yumna gemetaran dalam pelukan Umi. Bahkan kini pipinya telah banjir dengan air mata.


"Kamu halusinasi kali, Na. Wong enggak ada apa-apa di sini," celetuk Zaid melangkah duduk di sisi ranjang. Merasa sangat mengantuk, tapi langsung terjaga karena mendengar suara teriakan adiknya tadi.


"Tadi Yumna juga mimpi buruk, Bang."


Tangan Umi senantiasa mengusap lembut punggung anaknya untuk menenangkan. Bahkan mengecup kening Yumna berulang kali.


"Kamu enggak wudhu dan baca doa dulu kali sebelum tidur, Na. Makanya bisa mimpi buruk." Zaid kembali berseloroh. Sedang Abah dan Umi diam saja tanpa mengatakan apapun.


Yumna mengingat-ingat apa yang ia lakukan sebelum tidur. Tapi sepertinya, ia melakukan semua ritual itu kok.


Suasana kamar menjadi hening. Hingga suara bel pintu rumah berbunyi.


"Siapa yang datang bertamu malam-malam begini?" tanya Abah yang ditanggapi gelengan kepala dan bahu terangkat dari Zaid.


"Biar Zaid yang cek, Abah." Setelah berkata demikian, Zaid segera keluar dari kamar Yumna dan menuju pintu utama.


"Assalamu'alaikum," ucap seorang pria di luar.


Cklek~


"Wa'alaikumussalam. Abyan?"


"Iya, Bang. Gimana keadaan istri saya?" tanya Abyan to the point.


"Dia lagi ditenangkan sama Umi sekarang. Ayo masuk."


"Baik, Bang." Abyan melangkah masuk ke dalam rumah dan segera menuju kamar istrinya.

__ADS_1


Abah dan Umi yang melihat kedatangan Abyan langsung undur diri dan kembali ke kamar mereka. Sementara Yumna segera masuk dalam pelukan suaminya.


"Kamu datang?"


"Iya. Aku khawatir sama kamu." Abyan mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Lalu berbaring bersamanya.


"Tapi kamu datang sama siapa ke sini?"


"Mr. H."


Kening Yumna berkerut. Namun ia tidak membuka mulutnya untuk bertanya.


"Kamu sudah baca ayatul kursi tadi?"


"Sudah. Tapi masih takut. Dan semakin merinding."


Seulas senyum manis Abyan berikan. Mengecup kening Yumna dengan mesra. "Makanya, kalau baca itu ingat Allah, jangan asal komat-kamit aja."


Hati Yumna terasa tenang sekali meski ucapan Abyan yang terkesan menyindir. "Kalau begitu, kamu bacakan gih. Biar saya tenang."


"Baiklah." Abyan mulai membaca ayat kursi dengan suaranya yang merdu. Yumna bahkan sampai ketiduran saking tenangnya.


Bibir Abyan sedikit terangkat ke atas. Seraya terus mengulang-ngulangi bacaannya. Hingga ia sendiri pun ikut terlelap dalam keadaan tetap memeluk tubuh istrinya.


**


Suara tahrim masjid terdengar menggema di seluruh antero perumahan.


Yumna membuka mata dan mendapati suaminya masih terlelap dalam tidurnya.


Tangan Yumna terangkat dan membelai pipi suaminya. Sementara seperti biasa, jemari Abyan akan berada di dalam piyamanya.


"Ternyata kamu begitu mencintai saya, ya?" gumam Yumna tetap mengelus mesra wajah Abyan. Menatapnya penuh kasih. "Sepertinya saya benar-benar telah jatuh hati pada kamu."


"Jadi beneran udah lupain mantan?"


Mata Yumna membola kaget karena Abyan tiba-tiba berbicara dengan mata yang masih setia tertutup.


"Byan! Kamu udah bangun ternyata?"


"Iya. Bagian lain juga udah ikutan terbangun nih. Enggak mau tanggung jawab?"


"Hah?" Tanpa menunggu persetujuan dari Yumna, Abyan segera mengambil posisi dan mengungkung Yumna di bawahnya.


"Bisakan?"


Sebuah senyum lebar Yumna tampakkan. "Apa perlu meminta izin lagi?"


"Aku ingin memperlakukanmu layaknya Ratu."


"Baiklah, Rajaku. Lakukanlah apapun yang anda inginkan."


"Tidak apa-apa kan kalau aku menggunakan gaya baru?"


"Gaya apaan?"


Abyan mendekatkan wajahnya dan berbisik. Wajah Yumna memerah bak buah naga yang masak. Namun kemudian menganggukan kepalanya.


"Terserah kamu. Asal jangan terlalu lama. Bentar lagi adzan subuh."


"Jangan khawatir." Abyan mulai mencium tiap inci wajah istrinya, melakukan penyatuan sesuai gaya yang ia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2