
"Oh wow, suaminya Bu Yumna masih muda, ya? Silakan duduk!" tawar pria itu tanpa mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi.
"Terima kasih, Pak." Yumna mengambil duduk berhadapan dengan kliennya sementara Abyan selalu berada di sisi istrinya.
"Oh iya, sejak kapan kalian menikah?"
"Baru kemarin, Pak," jawab Yumna canggung. Pembahasan kerja sama belum kunjung dimulai. Mereka malah membahas tentang pernikahan dirinya dan Abyan.
"Baru, ternyata. Berarti anda juga baru saja putus dari kekasih anda itu ya, Bu?" tanyanya lagi. Yumna hanya bisa memberikan senyuman kikuknya. Merasa tidak enak dengan pembahasan saat ini.
Tangan Abyan terkepal erat. Giginya bergemeletuk. Ia tidak menyangka ternyata hubungan Yumna dengan pacarnya itu bahkan diketahui oleh kliennya.
Itu artinya, Yumna pernah dinas bersama pria itu sebelum ini.
Dada Abyan rasanya begitu panas mendengarnya. Namun sekuat tenaga ia menekan emosinya dengan memberikan senyuman yang dapat memadamkan api kemarahannya.
"Maaf, Pak Robert. Bisakah kita memulai pembahasan soal kontrak kerja sama kita?" saran Yumna mendadak kalut saat melihat ekspresi Abyan terlihat dipaksakan.
"Baik, Bu. Tapi sebaiknya, kita tidak membicarakan soal ini di hadapan orang lain yang tidak ada kaitannya dengan kontrak kerjasama kita. Saya tidak ingin jika apa yang kita bahas dapat terdengar oleh pihak luar dan merugikan perusahaan saya," ujar Robert seraya menyeringai.
Mendengarnya Yumna sedikit emosi. Meski ia tidak mencintai Abyan. Bukan berarti orang lain dapat berkata demikian pada suaminya.
"Pa~"
"Yang anda katakan benar, Pak. Saya tidak berhak berada di sini. Saya duduk di sana saja." Abyan bangkit dari duduknya. Mengalah dengan keadaan saat ini.
Tangan Abyan tertahan oleh Yumna. Ia takut suaminya itu tersingungg.
Namun siapa yang menyangka jika Abyan akan mendekat dan mengecup kening Yumna di depan pria bernama Robert itu. "Aku enggak apa-apa. Aku ada di sekitar sini untuk selalu melindungimu. Jangan khawatir," bisiknya membuat wajah Yumna memerah malu.
Sementara pak Robert hampir saja tertawa ngakak melihatnya. Namun pria itu hanya mengulum senyum untuk menjaga wibawanya.
"Beruntung Bu Yumna mendapatkan pria yang begitu mencintai anda," komentarnya saat Abyan telah beranjak dari sana.
"Terima kasih atas sanjunganya, Pak. Bagaimana kalau kita mulai pada pembahasan inti?"
"Baiklah. Silakan dimulai, Bu."
**
Dari jauh Abyan bisa melihat istrinya begitu serius saat membahas kontrak kerja sama dengan kliennya.
Abyan menghela napas berat. Jika saja tidak akan mendatangkan mudharat untuk pekerjaan istrinya, maka sudah pasti wajah tampan pria itu terkena bogeman mentah dari Abyan.
Ting!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Abyan membuyarkan tatapan pria itu dari istrinya.
Mimim : Assalamu'alaikum, Sayang. Kamu sama Yumna baik-baik saja, kan? Mimim khawatir sama hubungan kalian berdua.
Senyum Abyan merekah mendapat pesan dari ibunya. Ia mengangkat ponsel seraya mengambil foto istrinya yang sedang bekerja.
Anak Mimim : Wa'alaikumussalam, Mim. Alhamdulillah hubungan aku sama Yumna baik-baik saja. Ini aku lagi temanin dia bahas kerja sama dengan kliennya.
Mimim : Syukurlah. Kamu tenang saja ya bulan madunya di sana. Mimim sudah minta izin sama pihak ma'had untuk kasih cuti kamu selama sepekan. Jadi bersenang-senanglah di sana. Jangan lupa cepat buatkan Mimim cucu. Soalnya aunty Laila kamu sekarang bahkan akan ada lagi cucu ketiga dari sepupu kamu itu.
Anak Mimim : Terima kasih banyak ya, Mimim sayang (emotion cium). In syaa Allah, Mim. Tolong doain ya. Mimim tenang saja, aku akan berusaha keras, bahkan akan lebih banyak dari anaknya Bang Adnan.
__ADS_1
Mimim : Hahaha. Bagus juga tuh. Mimim tunggu kabar baiknya. Kalau boleh yang kembar juga ya.
Abyan tertawa mendapati permintaan seperti itu dari sang ibu. Namun dalam hati diam-diam mengaminkan, dan berharap sama Allah semoga saja terwujud.
Setelah bertukar pesan dengan wanita yang telah melahirkannya itu, Abyan kembali duduk tenang menunggu istrinya sampai akhirnya ia ketiduran karena terlalu lama.
Beberapa saat kemudian, kegiatan diskusi telah berakhir.
"Terima kasih banyak pak atas kerja samanya. Saya akan terlebih dahulu menulis beberapa hasil diskusi kita soal desain yang juga bapak usulkan tadi," ucap Yumna tersenyum puas karena pembahasan step satu telah usai.
Harus Yumna akui jika Robert memang memiliki banyak pengalaman dan ide soal desain konstruksi. Jadi sangat mudah bagi Yumna dalam mendiskusikan kerja sama mereka karena cukup nyambung.
"Sama-sama." Robert bangkit dari duduknya. Melirik ke arah Abyan yang terlihat lelap di sofa. "Dan sepertinya kita harus berpisah seperti ini tanpa berjabat tangan."
Yumna tersenyum canggung. "Maaf, Pak. Suami saya sepertinya tidak rela istrinya bersentuhan dengan pria lain."
"Hahahah. Saya cukup salut dengan anak muda itu. Dia mampu menjaga apa yang menjadi miliknya," puji Robert dengan tulus. "Kalau begitu kita bertemu lagi besok di tempat yang berbeda. Nanti asisten saya yang akan mengirimkan alamatnya."
"Baik, Pak. Selamat tinggal. Dan hati-hati di jalan."
Anggukan kepala Robert berikan seraya berlalu pergi dari tempat itu. Yumna menghela napas lega. Matanya melirik ke arah suaminya yang ternyata masih terlelap.
Tanpa menunggu lama, Yumna membereskan berbagai macam dokumen kerja sama perusahannya dengan Robert dan memasukkannya ke dalam tas.
Langkahnya cepat menuju Abyan yang masih setia menutup mata.
Tangan Yumna terulur untuk membangunkan pria itu. "Abyan, Abyan bangun!" panggilnya tepat di depan wajah anak muda itu.
Sayangnya Abyan belum kunjung bangun. Pria itu terlalu lelap dalam tidurnya.
Berulang kali Yumna mengguncang tubuh Abyan sampai akhirnya pria itu bergerak.
Yumna menggeleng. "Tidak ada," sahutnya setelah berpikir sejenak. "Memangnya kamu mau mengajak saya ke mana?" lanjutnya bertanya.
"Kencan!" Abyan bangkit dari duduknya. Meraih tangan istrinya yang terlihat kosong dan menggenggamnya. "Kita balik ke kamar untuk istirahat. Nanti malam baru kita jalan. Yuk! Bentar lagi adzan Dzuhur," katanya saat melihat jam dinding yang terdapat di ruangan hotel tersebut.
Wajah Yumna memerah karena malu. Hatinya berdebar saat Abyan ingin mengajaknya kencan berdua. Ia tidak pernah berpikir jika kencan setelah menikah akan semendebarkan ini.
"Baiklah." Yumna patuh saat tangannya ditarik lembut oleh Abyan untuk mengikutinya.
**
Malam harinya, sesuai janji yang terucap siang tadi, Abyan mengajak istrinya keluar dari hotel untuk kencan berdua.
Saat ini Yumna seperti seorang remaja putri yang sedang berpacaran dan jalan bareng dengan kekasihnya.
Yumna memoles wajahnya dengan sedikit make up natural dan menyapu bibirnya menggunakan liptint.
"Jangan memakai parfum yang menyengat wanginya," peringat Abyan pada istrinya sembari ikut memperbaiki penampilannya.
"Kenapa?"
"Sebab Rasulullah bersabda, 'Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.'"
"Astagfirullah!" pekik Yumna tersentak kaget.
"Pakai yang hanya bisa tercium oleh aku atau kamu sendiri aja."
__ADS_1
"Ehm. Mending sekalian jangan deh. Saya enggak punya wewangian yang begitu."
"Ya sudah, itu lebih baik." Abyan tersenyum puas. Berjalan mendekati istrinya. "Tapi nanti sepulang kencan, pakai parfum yang banyak, ya? Biar aku puas menciumnya."
Mendengarnya Yumna mendelik geli namun tidak membalas ucapan suaminya.
Setelah selesai bersiap, keduanya pergi meninggalkan hotel dengan mobil yang telah Abyan rental sebelumnya.
"Silakan masuk Ratuku," kata Abyan seraya membuka pintu mobil. Membuat Yumna tersipu malu.
"Terima kasih." Wanita manis itu duduk dengan anggun di samping kemudi. "Sejak kapan kamu memesan mobil?" tanyanya setelah Abyan ikut masuk.
"Tadi siang saat kamu tidur."
'Boleh juga nih suami aku!' batin Yumna tersenyum sendiri.
"Sudah siap untuk kencan?" tanya Abyan dengan gaya sok coolnya.
"Ya." Jawaban singkat yang Yumna berikan tidak sedikitpun menghilangkan semangat Abyan untuk membawa istrinya pergi kencan.
Tidak menunggu lama, keduanya telah tiba di depan sebuah restoran yang cukup ramai oleh pengunjung.
Dengan gerakan cepat, Abyan keluar terlebih dahulu dan membuka pintu mobil untuk istrinya.
"Selamat datang di restoran bintang di langit, Ratuku."
Ingin rasanya Yumna tertawa akan ucapan dan sikap Abyan. Pria muda itu sudah seperti seorang pelayan pada Ratu kerajaan.
Tangan Yumna digenggam erat oleh Abyan saat memasuki restoran.
Remaja yang baru beranjak dewasa itu mempersilahkan Yumna duduk di tempat yang telah ia booking sebelumnya.
"Sepertinya kamu sudah mempersiapkan segalanya," komentar Yumna seraya melihat ke sekeliling. Dengan makanan yang telah tertata dengan rapi di atas meja.
"Spesial for you. Ini baru hal kecil yang aku lakukan untuk wanita yang aku cintai. Jika kamu siap untuk hidup bersamaku selamanya. Maka in syaa Allah kamu akan mendapatkan banyak kejutan yang tidak terduga lebih dari ini," jawab Abyan penuh percaya diri.
"Jadi ... Maukah kamu melangkah bersama mengarungi bahtera rumah tangga denganku?" sambungnya membuat jantung Yumna berdegup semakin kencang.
"Kamu tidak mencintaiku, Yumna!"
Di tengah-tengah kebersamaan dengan Abyan. Entah datang dari mana, kata-kata Yunus sang mantan terngiang begitu saja di telinga dan terputar bagai kaset rusak di memori Yumna.
Melihat gelagat aneh yang istrinya tunjukkan, jemari Abyan terulur dan terperangkap ke dalam ruas-ruas jari milik Yumna.
Yumna mendongak menatap Abyan. Matanya sayu dengan tatapan menyesal. "Maaf, Abyan. Saya masih belum bisa memberikan jawaban atas ajakan kamu. Karena jujur, hati saya masih belum bisa melupakan pria itu."
Seulas senyum tulus namun pedih yang terlihat dari sorot matanya, Abyan berkata, "Tidak apa-apa. Setidaknya kamu mau jujur padaku tentang isi hatimu, Na," imbuhnya tetap berusaha tenang. Menarik kembali tangannya kembali pada posisi semula.
"Apa kamu marah?" tanya Yumna tidak enak.
"Sedikit. Dan sepertinya kemarahanku akan bertambah jika kita belum kunjung menghabiskan makanan ini."
Di kondisi seperti itu, Abyan masih bisa mengeluarkan guyonan untuk menghibur dirinya.
'Ya Allah, kenapa engkau memberikan pria sebaik ini padaku? Padahal aku telah melanggar perintahmu selama ini dengan menjalin hubungan tidak halal dan resmi dengan seorang pria. Bahkan aku mencintainya, hingga tanpa sadar mengesampingkan hak suamiku." Yumna berbicara dalam hati dengan batin yang bergejolak.
Rasa-rasanya ia telah melakukan kesalahan besar dengan melalaikan tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Padahal, kewajiban tetaplah sebuah kewajiban. Tidak ada kaitannya dengan perasaan. Lagipula, perasaannya pada Yunus bisa hilang kapan saja seiring berjalannya waktu.
Ya benar. Tidak selalu, perasaan cinta akan begitu menggebu dan bertahan selamanya. Pasti ada masanya kadar cinta itu akan habis. Terlebih pada dia yang hanya sekedar masa lalu.