
Plakkk!!
"Bapak!" teriak sang ibu tatkala satu tamparan mendarat mulus di pipi Ayu yang masih menangis di tempatnya seraya memegang alat tes kehamilan.
"Kamu benar-benar telah menghina keluarga kita dan kampung ini, Ayu! Apa yang akan orang lain katakan jika anak kepala desa mengandung di luar nikah, hah?!"
"M-maafin aku, Bapak."
"Maaf-maaf! Katakan, siapa yang telah menghamili kamu?!"
Deg!
Seorang ibu-ibu tukang gosip yang hendak datang menyapa keluarga itu tanpa sengaja mendengar berita tersebut.
"Hah? Ayu Hamil?" gumamnya penuh semangat. "Nice info. Aku harus mengabarkan hal ini pada semua warga kampung."
Tanpa menunggu lama, wanita itu bergegas pergi dari sana. Menunda maksudnya untuk bertemu dengan kepala desa. Karena baginya, gosip lebih penting dari segalanya.
Sementara di dalam rumah tepatnya di kamar, Ayu masih bungkam. Ia belum mengatakan apapun tentang pria yang telah membuatnya hamil seperti saat ini.
"Katakan Ayu! Laki-laki itu harus Bapak kebiri berdasarkan peraturan di Desa ini."
Ayu hanya menangis di tempatnya. Ia menyesali semua yang telah berlalu. Tidak menyangka jika akhirnya akan menjadi seperti itu.
"Lalu siapa yang akan menjadi suami Ayu, Bapak? Apa Bapak tega membuatnya seperti itu?"
"Bapak akan tetap melakukannya."
"Lalu apakah Bapak juga akan mengasingkanku dari desa ini karena mengikuti adat Desa?" tanya Ayu yang membuat sang bapak terdiam.
Ibu Ayu hanya bisa menangis seraya menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa kehilangan putri satu-satunya ini.
"Bapak bisa mengatur semua ini. Jadi kamu--"
"PAK KEPALA DESA! KELUAR!"
Hampir seluruh warga desa kini berkumpul di depan rumah kepala kampung itu.
"KELUAR DARI RUMAH! USIR AYU! KEBIRI PIHAK LELAKINYA!"
"JANGAN BIARKAN DESA INI TERCEMAR!"
Ayu dan kedua orang tuanya saling pandang dalam beberapa saat. Nampak mereka sangat ketakutan karena hal itu.
"Bapak, para warga. Bagaimana ini?" ujar istrinya, kalut.
"Kalian tenang. Tetap tenang. Bapak tidak tahu bagaimana info ini bisa sampai pada mereka. Tapi, hanya satu jalan keluar satu-satunya untuk menyelamatkan Ayu."
"Apa itu, Bapak?" tanya kedua wanita itu secara bersamaan.
"Kamu Ayu, harus mengatakan jika kamu dirogol oleh pria itu. Kamu mengerti?"
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapian. Kamu bisa mati di tangan warga."
__ADS_1
"Katakan pada Ayah, siapa lelaki yang melakukan ini padamu?"
Ayu menundukkan kepala, lalu membuka suara. "Akang Yunus, Bapak."
"Apa?! Lelaki kota itu? Sialan! Kalian tunggu di sini, jangan keluar!"
Pria itu pun keluar dari sana dengan amarah yang besar seraya membawa pedang panjang miliknya.
Para warga yang melihatnya terkejut. Mereka bertanya-tanya.
"Para wargaku!" Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya dan menundukkan kepala. "Anakku telah dirogol oleh seorang pria."
"Apa?! Bagaimana bisa?! Siapa?!"
"Jangan berbohong kepala desa?!"
"Betul itu. Apakah benar Ayu hamil?"
Bapak kepala desa itu masih menunduk seraya meneteskan air mata. Para warga tidak sanggup melihatnya.
"Iya. Dia hamil karena dirogol oleh Yunus."
"Apa?! Kurangajar! Pemuda kota itu?"
Anggukan kepala terlihat pada pemimpin desa itu dengan situasi masih menunduk di tempat.
"Pemuda kota itu memang biadab! Ayo kita cari dia!"
"Ayo!" Para warga yang semula berkerumun di depan rumah kepala desa, akhirnya melangkah menuju ke sebuah lokasi pembangunan. Di mana proyek perusahaan instruktur bos Yumna berlangsung.
**
"Pak Yunus, bagian sini ubinnya sedikit retak," warta sang asisten yang membantunya menghandle projek.
Asisten yang baru beberapa hari terakhir ini membantunya di lapangan.
"Ganti yang baru! Besok Bos akan datang melihat-lihat keadaan. Jika sedikit saja terjadi kesalahan, maka rusaklah kepercayaan dia."
"Baik, Pak."
"Eh, mau ke mana kamu?" tanya Yunus mengikutinya dari belakang.
"Saya mau sampaikan dulu pada tukang, Pak."
"Tunggu aku. Jangan pergi sendiri. Memangnya kamu tidak lihat jika banyak yang sedang mengikuti kita saat ini?"
Mulut sang asisten melongo. Ia tiba-tiba merinding karena sikap Yunus aneh akhir-akhir ini. Dia selalu mengatakan ada hantu yang seringkali mengikutinya dan ingin membunuhnya.
"Tapi tidak ada yang mengikuti kita, Pak."
"Kamu tidak lihat? Itu ... di-di sebelahmu."
Setelah berkata demikian, Yunus langsung mengambil langkah cepat dan lari tunggang langgang dari sana.
"Pak Yunus! Tunggu Pak!" Sang asisten mengejar-ngejar Yunus.
__ADS_1
Dan mantan dari Yumna itu malah terus berlari seperti dikejar oleh setan. Namun langkahnya terhenti tatkala banyak warga datang di lokasi proyek dengan membawa parang di pundak mereka. Seraya menunjuk-nunjuk ke arahnya dengan suara serentak, berteriak untuk mengebiri Yunus.
"Ha! Itu dia orangnya! Tangkap dia!" teriak kepala desa yang memimpin jalan.
"Baik, Pak."
Melihat itu, Yunus kebingungan. Ia hendak berlari namun dengan cepat mereka menarik lengannya.
"Hei! Apa-apaan ini?!" teriak Yunus tidak terima seraya berusaha melepaskan diri.
"Diam kamu! Ikut kami ke balai desa!"
"Apa?! Apa salah saya?!"
"Kamu telah memperkosa anak kepala desa!"
"Hah?" Yunus melongo tidak mengerti, ia terus menggelengkan kepalanya. "Tidak! Ini salah paham! Saya tidak melakukannya!"
"Bohong! Ayu sedang mengandung sekarang. Dan itu gara-gara kamu! Cepat ikut kami."
Wajah Yunus pucat pasi tatkala mendengar kabar jika wanita yang telah bersamanya hampir tiga bulan itu kini telah mengandung.
Sesaat, wajah Elsa terbayang dalam ingatannya. Saat dia dengan tega meninggalkan wanita itu dalam keadaan sedang mengandung anaknya.
'Bagaimana kabar kamu sekarang, Elsa? Maafkan aku, ini semua pasti azab untukku karena aku telah menyakiti hatimu dan meninggalkanmu,' batinnya seraya terus meronta untuk dilepaskan.
Sang asisten berusaha membantu, namun ia tidak dapat menghalau banyaknya warga yang pergi membawa Yunus dari sana.
**
Di tengah banyak orang, Yunus duduk tertunduk di kursi panas yang di depannya terdapat tiga orang yang bertindak sebagai hakim.
Kemungkinan tiga orang itu adalah pemangku adat. Di sebelah kanan, terdapat Ayu dan kedua orang tuanya. Sementara di belakang, para warga yang berkerumun mengikuti persidangan.
"Nak Ayu, tolong katakan dengan jujur, apakah benar pemuda ini telah merenggut kesucian kamu hingga kamu hamil?" tanya salah satu pemangku adat yang duduk di tengah.
Kepala desa melirik tajam pada anaknya sebagai peringatan. Ia bahkan mencubit putrinya untuk memberikan jawaban sesuai kesepatan awal mereka.
"I-iya, Pak pemangku adat. D-dia memaksa saya."
"Tidak!" sanggah Yunus tidak terima. "Kami melakukannya suka sama suka."
"Benarkah?" tanya pemangku adat yang lain lagi.
Kaki Yunus gemetaran. Pasalnya, di samping salah satu pemangku adat, ia melihat arwah yang mengikutinya tadi. Kali ini dengan menunjukkan aura yang lebih menakutkan lagi.
"I-iya benar. S-saya tidak bohong!"
Ketiga pemangku adat itu saling pandang. Kemudian sekali lagi bertanya pada Ayu sebagai pihak terkait.
Dan jawaban Ayu tetap sama. Ditambah lagi beberapa teman wanita itu menjadi saksi jika Yunus terus mendekati Ayu selama ini.
Pada akhirnya, kesimpulannya menitikberatkan Yunus. Terlebih para pemuda yang sebelumnya melihat Yunus lari tidak memakai baju hari itu menguatkan dugaan mereka.
Yunus terbukti bersalah. Ia dihukum dengan dikebiri dan dikeluarkan dari kampung tersebut. Begitupun dengan Ayu yang juga diminta untuk meninggalkan kampung sampai masa-nya melahirkan.
__ADS_1
Itulah azab di dunia bagi orang-orang yang selalu berbuat kedzaliman. Dan azab di akhirat lebih menakutkan lagi.