
Kedua suami istri itu pulang menuju hotel. Dan sungguh, Yumna terkejut saat mendapati di dalam kamar di penuhi dengan bunga mawar merah.
Sementara di atas ranjang juga terdapat bunga dan hiasan kain yang dibentuk seperti bebek. Mirip sekali dengan kamar pengantin baru.
"Maa syaa Allah, cantik banget. Ini kamu yang siapin semua?"
"Bukan aku, tapi pihak hotel." Abyan menjawab seraya tersenyum. Sedang Yumna tidak memedulikan jawaban aneh suaminya dan lebih memilih sibuk menelisik ruangan yang terlihat indah menurutnya.
"Ayo!" ajak Abyan meraih tangan istrinya.
"Ini kita mau ngapain, Byan?" tanya Yumna tatkala Abyan menuntunnya ke dalam kamar mandi.
"Mandi bersama."
"Hah?" Yumna sedikit memekik kaget. Menatap Abyan penuh tanya. "Kamu serius mau mandi bersama?"
"Iya, aku serius," jawab Abyan seraya membuka atasannya. "Sekarang kamu buka juga."
Mendengarnya Yumna mendadak geli. Dan berpaling. "Saya enggak mau ah. Malu tahu."
"Kenapa harus malu?" tanya Abyan sejenak menghentikkan tangannya dari membuka celananya. "Kita tidak boleh malu untuk melakukan kebaikan dan ibadah. Yang harus membuat kita malu ialah saat melakukan hal yang haram dan perbuatan dosa."
"Tapi kan tetap aja, malu." Yumna meringis tidak enak. Apalagi saat Abyan kini hanya tinggal memakai seluar dalam agak panjang. Yumna memalingkan wajah.
"Tidak masalah. Nanti juga terbiasa kok. Malu kan emang fitrahnya wanita. Tapi Nana tahu enggak?"
"Apa?"
"Pahala besar jika seorang wanita menanggalkan rasa malunya di hadapan suami dan bahkan bersikap agresif terlebih dahulu," jelas Abyan seraya tersenyum smirk. "Gimana? Sayang banget lho kalau pahala besar itu diabaikan begitu saja," bujuknya dengan lembut. Seraya memegang pipi istrinya dengan kedua tangannya.
"I-iya deh." Yumna menyahut pasrah. "Sa-saya buka sendiri saja. Kamu berbalik ke belakang dulu."
"Harus sampai seperti itu?" tanya Abyan yang sebenarnya ingin menyaksikan detik-detik istrinya membuka pakaian di hadapannya. Padahal sebelum ini ia sudah melihat seluruhnya.
"Harus! Saya masih malu," jawab Yumna cepat, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Oke, baiklah." Abyan menurut dengan berbalik membelakangi istrinya yang mulai membuka sedikit demi sedikit.
Jantung Abyan berdebar dengan cepat seiring tiap suara tangan Yumna terdengar bergerak lembut.
Tidak lama setelahnya, Yumna telah selesai dan meminta pada Abyan untuk berbalik.
"Sudah, Abyan."
Abyan membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya lekat dengan jakun bergerak naik turun.
"Jangan tatap saya seperti itu. Saya malu," protes Yumna dengan wajah tersipu, menerbitkan senyum di bibir Abyan.
"Sekarang kita mandi. Bentar lagi adzan maghrib akan berkumandang."
Anggukan patuh Yumna berikan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ada dalam pikirannya sekarang. Semua tentang Yunus sedikit demi sedikit mulai menipis dan kabur.
Yang ada dalam pikiran Yumna saat ini hanyalah tentang kewajiban ia sebagai seorang istri untuk ditunaikannya.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah selesai mandi bersama. Hal itu bertepatan dengan suara adzan berkumandang.
Setelah bersiap-siap dan mengenakan pakaian, Abyan pamit untuk shalat di masjid. Sementara Yumna di rumah.
Sebelum berangkat ke masjid, Abyan mengecup kening istrinya sesuai dengan sunnah yang RasulNya ajarkan.
"Kunci pintu dengan baik. Jangan keluar jika bukan aku yang mengetuk dan mengucapkan salam."
"Iya. Kamu hati-hati."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Yumna menutup pintu dengan cepat. Ia memegang jantungnya yang tidak berhenti berdetak kencang saat ini. Wajahnya sudah semerah tomat. Abyan terlihat bukan seperti anak kecil yang biasa ia ejek dan sindir. Melainkan pria dewasa yang cukup tahu banyak hal.
"Apa emang nikah sama santri gini, ya?" gumam Yumna seraya memperbanyak istigfar. "Dia kok kayak paham banget caranya memperlakukan wanita." Yumna tertawa sendiri jika mengingat apa saja yang terjadi di dalam kamar mandi tadi. Dan segera setelahnya, ia bergerak untuk berwudhu dan melaksankan shalat.
**
Di sisi lain, Abyan baru saja menyelesaikan shalat maghrib. Bersamaan dengan itu, ada kegiatan kultum sejenak. Pembacaan satu hadits yang ada di dalam kitab Riyadus Shalihin. Sampai menunggu datangnya waktu shalat isya.
Masa berlalu dengan cepat. Tidak lama setelahnya, Abyan keluar dari masjid seraya mengetik sesuatu di ponselnya usai menunaikan ibadah terakhir untuk waktu malam ini.
Senyumnya merekah tatkala dari jauh terlihat seorang pria menggunakan jaket yang dominan berwarna hijau, membawakan sesuatu untuknya.
Pria itu mengucapkan salam dan menyerahkan barang yang dibawa menggunakan goodie bag pada Abyan yang terlihat senang saat menerimanya.
"Ini untuk dipakai istri kan, Cak?" tanya bapak ojol itu penuh selidik.
"Iya dong, Pak. Masa saya yang pakai," sahut Abyan tertawa kecil.
"Syukurlah. Saya kira Cak mau pakaikan pada wanita-wanita aneh."
Abyan membalas ucapan bapak tersebut dengan senyuman manisnya. Ia menyerahkan uang pada pria itu sebelum akhirnya mereka berpisah.
Dengan riang Abyan melangkah pulang menuju hotel. Sementara di dalam kamar, ba'da shalat isya, Yumna mempersiapkan segalanya.
Berulang kali Yumna menyemprotkan parfum pada beberapa area tubuhnya. Sedang jantungnya tidak berhenti berdetak dan rasa gugup melanda dirinya.
Yumna menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali untuk mengurai rasa tegang menunggu kepulangan suaminya.
Dan organ yang berbentuk sebesar kepalan tangan orang dewasa itu, kian cepat detakannya tatkala mendengar suara salam yang terucap dari mulut Abyan.
"Abyan!"
"Lagi ngapain?" tanya Abyan mengurai rasa tegang yang juga terasa mengekang.
"Saya tungguin kamu." Yumna menjawab dengan mata bergerak gelisah karena terlalu malu dengan keadaan ini. "Kamu bawa apa itu?" tanyanya tatkala melihat tangan Abyan menenteng sesuatu.
"Sesuatu untuk kamu pakai," jawab Abyan seraya melangkah masuk bersama istrinya dan mengunci pintu kamar.
"Apa?"
Abyan mengulurkan tangannya ke dalam goodie bag dan mengeluarkan sebuah baju berwarna merah terang dan berbentuk seperti jaring laba-laba.
"Kamu pakai ini."
Mata Yumna membola kaget melihat apa yang telah berada di tangannya. Menatap Abyan dan lingerie itu secara bergantian.
"Ini pakaian apa, Abyan? Kok gini sih bentuknya?" tanya Yumna dengan raut gugup dan berusaha mengembalikan lingerie tersebut pada suaminya. "Saya enggak mau pakai ah. Malu tahu. Itu sih kayak orang yang enggak berpakaian."
"Tapi aku mau kamu pakai itu, Na. Gimana dong?" keluh Abyan disertai tampang memelas. Membuat Yumna tidak mampu untuk menolak.
"Harus ya, pakai ini?" tanyanya yang ditanggapi anggukan oleh Abyan.
"Tapi sebelum itu, kita shalat sunnah dulu."
"Hem, baiklah." Yumna menyahut pasrah. Lagipula ini ibadah. Dia juga bukan tidak tahu jika semua ini berpahala besar.
Selama ini Yumna hanya masih kekeh dengan perasaannya pada Yunus. Padahal ia sudah memiliki Abyan yang akan senantiasa menjadi imam dalam hidupnya.
Tentang perceraian yang sebelumnya telah ia rancang sepulang dari Surabaya pun ikut menghilang begitu saja seiring dengan kebersamaannya dengan sang suami.
__ADS_1
Yumna berdiri di belakang Abyan yang menjadi imam shalat sunnah sebelum melakukan hubungan intim.
Usai shalat, Abyan meletakkan tangannya di ubun-ubun sang istri seraya membaca basmalah dan sebuah doa yang telah Rasulullah ajarkan dalam sebuah hadits.
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan:
ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA MIN KHOIRIHAA WA KHOIRI MAA JABALTAHAA ‘ALAIH. WA A’UDZU BIKA MIN SYARRIHAA WA SYARRI MAA JABALTAHAA ‘ALAIH.
Artinya: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.’” (HR. Abu Daud, no. 2160; Ibnu Majah, no. 1918. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Usai membaca doa, Abyan membuka mukenah yang dikenakan oleh istrinya. Kemudian mencium ubun-ubunnya, kening, mata, hidung, kedua pipi dan terakhir mengecup singkat bibir Yumna.
"Pakai dulu lingerienya," ucap Abyan yang ditanggapi anggukan patuh dari Yumna.
Tanpa menunggu lama, Yumna ngacir ke dalam kamar mandi dengan ikut membawa masuk lingerie yang telah diberikan Abyan untuknya.
Di luar kamar, Abyan duduk menunggu Yumna seraya berdzikir demi untuk menenangkan hatinya dan mengurai rasa tegang yang melanda.
Cklek~
Dari depan kamar mandi, Yumna berdiri malu-malu dengan tangan yang berusaha menutupi bagian tubuhnya yang masih bisa ia tutupi. Kemudian berjalan mendekat ke arah Abyan yang menatapnya intens tanpa berpaling sedikitpun.
Abyan terlihat terpana dengan jakun yang bergerak naik turun. Pria muda itu berdiri menyambut kedatangan istrinya.
"Abyan. Jangan dilihat begitu. Saya malu tahu!" protes Yumna pelan. Terus berusaha menutupi bagian sensitif tubuhnya.
"Jangan ditutupi. Aku mau lihat semuanya."
Semburat merah terpancar jelas di rona muka Yumna. Wanita itu berpaling dari melihat suaminya. Sedang Abyan menarik pelan dagu Yumna untuk menatap dirinya.
Wajah Abyan semakin dekat, sedang Yumna menutup mata secara naluriah.
Sebuah kecupan mendarat mesra di bibir Yumna. Awalnya hanya kecupan biasa, namun tidak lama setelahnya, berubah menjadi l*matan kecil.
Napas Yumna tersengal dan memburu dengan jantung berdebar naik turun. Sedang Abyan semakin memperdalam ciumannya seraya pelan-pelan memindahkan tubuh Yumna ke atas ranjang.
"Abyan ...," panggil Yumna sembari mengambil napas tatkala Abyan melepas ciuman mereka.
Kini Yumna telah berada di bawah kungkungan suaminya. Dengan mata Abyan yang tidak lepas menatap intens netra istrinya.
Setelah beberapa saat keduanya mengambil napas, Abyan kembali mendekat dan mencium bibir istrinya. Tangannya pun ikut bergerilya kesana kemari menambah kenikmatan yang terasa.
"Abyan," sebut Yumna tatkala rasa nikmat itu tak dapat dibendung lagi. Abyan tersenyum smirk dan mulai melakukan penyatuan.
Yumna memekik tertahan tatkala pertama kali dirinya dimasuki. Rasa sakit seperti teriris sesuatu terasa di bawah sana.
Mata Yumna pun ikut mengeluarkan kristal bening karena rasa sakit di bagian inti tubuhnya.
"Sakit banget, ya?" tanya Abyan dengan raut khawatir tatkala melihat air mata Yumna.
"Sakit sekali," jawab Yumna pelan.
"Apa berhenti aja?"
"Enggak tahu." Kedua orang itu sama-sama bingung harus apa sekarang.
Hingga akhirnya, Abyan mulai mencumbu istrinya lagi untuk menghilangkan sedikit rasa sakit yang Yumna rasa.
"Masih sakit?" tanya Abyan yang ditanggapi gelengan kecil dari Yumna.
Kedua orang yang baru pertama kali merasakan nikmat dunia itu tanpa kata-kata lagi menerabas waktu dengan peluh keringat. Dan suara-suara aneh yang terdengar.
Yumna tidak menyangka jika pada akhirnya dirinya akan menyerahkan kesuciannya pada pria yang belum ia cintai namun telah halal mendapatkan dirinya.
__ADS_1