Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Pertemuan Terindah


__ADS_3

"Ayo pulang, Byan."


Abyan berdiri tegak bagai terpaku di kamar asrama-nya tatkala Farhan mengajaknya meninggalkan Ma'had/universitas tempat mereka menimba ilmu. Untuk pulang liburan semester.


Haaaah.


Bukannya bergerak dan menyahut, Abyan malah menghela napas panjang seraya kembali duduk di atas tempat tidurnya yang ukurannya cukup kecil itu.


"Aku tidak mau pulang. Di sini saja."


"Kenapa?" Farhan bertanya. Pura-pura polos dan tidak tahu apapun. Padahal ia sudah dikabari akan kepulangan Yumna dengan kondisi sudah sehat.


"Takutnya aku tidak dapat menahan diri dan akhirnya pergi menemui istriku di pesantren. Aku terlalu merindukannya, Han."


"Enggak usah mellow. Ayo pulang!" paksa sang adik ipar.


Abyan menatap kesal ke arah Farhan yang entah kenapa hari ini begitu menyebalkan.


Dan bagaimanapun ia menolak, adik dari istri Abyan itu terus menyeretnya hingga mereka tiba di depan gerbang asrama.


"Aku telah menghubungi Hercules untuk menjemput kita. Dan kita akan pulang ke rumahku."


"Kenapa malah ke rumah Abah dan Umi?"


"Yaaa." Farhan bingung untuk mencari alasan. Namun kemudian asal berceletuk. "Karena di sana kamu bisa tidur di bekas ranjang istrimu."


"Iya, kamu benar."


Farhan menghela napas lega secara perlahan. Untung saja alasannya dapat diterima dengan baik oleh Abyan tanpa ada bantahan.


Setelah beberapa saat menunggu, Hercules pun datang dengan mengendarai mobil Abyan.


Tidak lama setelahnya, mereka masuk di sana dan meninggalkan universitas.


"Tidak bisakah kita ke pesantren saja, Han?"


"Jangan!" tolak Farhan cepat. Membuat Abyan dan Hercules menatapnya penuh selidik. "Maksud aku, kita sebaiknya ke rumahku dulu. Nanti kalau misalkan Kiyai melarangmu bagaimana?"


"Benar itu, Tuan. Anda tidak boleh terus-menerus menjenguk Nyonya."


"Iya. Kamu kan tahu hal itu dilarang dulu untuk sementara waktu."


Lagi-lagi Abyan menghela napas. Ia menyandarkan punggungnya di kursi mobil dan menutup mata tanpa mengatakan apapun.


"Sudah. Jangan terlalu galau gitu. Setiap kesabaran pasti akan mendapat pahala dan balasan yang lebih baik tanpa kita duga sebelumnya."


Tidak ada tanggapan yang Abyan berikan atas ucapan Farhan. Ia hanya sibuk menutup mata dan berharap agar saat terbangun, semuanya akan baik-baik saja.


Satu jam kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah Abah dan Umi. Sedang Hercules izin pergi dari sana.

__ADS_1


"Ayo masuk!" ajak Farhan setelah kepergian Hercules.


Abyan menatap rumah itu dengan sedikit enggan untuk masuk ke dalam sana. Ia merasa akan semakin merindukan Yumna setiap kali menginjakkan kakinya.


Dan lagi-lagi Farhan harus menyeretnya untuk ikut masuk dengannya.


Di halaman rumah setelah membuka gerbang. Terdapat mobil Zaid di sana.


Tidak ada pikiran apapun yang muncul di benak Abyan saat melihat mobil itu. Sebab ia tahu jika Zaid memang tinggal di rumah tersebut selama kepergian Abah-Umi dan Yumna. Jadi seperti biasa, menurutnya Zaid mungkin baru pulang dari pekerjaannya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Umi datang menyambut anak dan menantunya tatkala mendengar suara salam dari Farhan.


Mendengar suara Umi, Abyan mendadak merasa aneh. Jantungnya berdebar tidak karuan.


"Kok, Umi--"


Ucapan Abyan seketika terhenti tatkala ekor matanya menangkap kehadiran Yumna di atas lantai dua dan sedang tersenyum ke arahnya.


Organ yang ukurannya sekepalan tangan orang dewasa itu berdetak tanpa henti lebih cepat dari biasanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala untuk menghilangkan pikiran anehnya.


Mungkin saja ia melihat bayangan atau hantu Yumna saat ini. Karena terakhir kali, istrinya itu memberikan wajah masam dan tidak ingin menatapnya sedikit pun.


Tapi sekarang....


"Nak Abyan?" panggil Umi menyadarkan Abyan dari lamunannya.


Anggap saja tidak melihat. Mungkin saja itu hanya jin yang menyerupai istrinya.


"Abyan, sini Nak!"


Belum sempat Umi memberikan jawaban, Abah sudah memanggilnya. Sedang sejak tadi, Zaid terus menahan tawa melihat tingkah Abyan.


"Baik, Abah." Abyan mendekati ayah mertuanya bersama Farhan yang juga ikut mendaratkan bumper belakangnya di sofa.


"Bagaimana kabar kamu, Nak?"


"Alhamdulillah baik Abah. Tapi kenapa Abah sama Umi bisa ada di sini? Bukannya harus di pesantren bersama Yumna? Apa Abah dan Umi meninggalkannya sendirian di pesantren?" tanya Abyan dengan polos dan menggebu-gebu tanpa jeda.


"Itu--"


"Abyan! Kamu itu buta apa gimana?" celetuk Zaid tidak tahan lagi seraya tertawa. Mengabaikan peringatan dari kedua orang tuanya.


"Maksud Abang?"


"Bukannya tadi kamu jelas-jelas melihat adikku di lantai dua? Kenapa--"


"Maaf, saya permisi dulu." Tanpa menunggu Zaid menyelesaikan kalimatnya, Abyan sudah lebih dulu beranjak dari duduknya dan lari menaiki tangga.

__ADS_1


Keluarga Yumna saling pandang dalam beberapa saat kemudian mereka tertawa bersama seraya geleng-geleng kepala.


**


"Yumna," sebut Abyan ragu-ragu.


Saat ini Yumna sedang menggunakan gamis putih. Membuat Abyan salah paham. Menganggap jika itu hantu atau mungkin saja mimpi.


Yaa. Mungkin ini hanya mimpi.


Tapi meski begitu, Abyan tidak ingin melewatkannya. Karena untuk pertama kalinya, ia bisa melihat senyum istrinya setelah sekian lama dirinya diberikan tatapan tajam dan muka masam.


"Byan...."


Yumna berbalik badan bagai slow motion. Seraya tersenyum manis di tempatnya. Tidak bergerak sedikitpun karena berada di dekat Abyan membuatnya membeku.


Tanpa bisa di cegah, air mata Abyan jatuh. Ia menatap Yumna penuh kerinduan. Mendekat dan membelai wajah wanita itu.


"Na ... meski kamu hanyalah dalam mimpiku saat ini. Tapi aku senang melihatmu baik-baik saja."


Mendengar itu Yumna tertawa. Ia merasa lucu dengan tingkah Abyan yang menganggap jika mereka sedang berada di alam lain saat ini.


Tangan Yumna mengulur dan membelai pipi Abyan lembut, menyeka air mata itu. Kemudian mencubit pipi suaminya sedikit keras, hingga Abyan meringis.


"Awww! Na! Kamu--"


"Udah sadar kan kalau ini bukan mimpi?" tanya Yumna dengan suara yang lebih lembut dari sebelum ia sakit.


Selama menjalani pengobatan di pesantren, Yumna belajar banyak. Salah satunya bagaimana memperlakukan suami dengan baik.


Mendengar pertanyaan itu, mata Abyan membulat sempurna. Hampir keluar dari peraduannya.


"Na? Ini beneran kamu?" Abyan bergerak menyentuh dan menjamah hampir seluruh bagian tubuh istrinya. "Aku enggak lagi mimpi, kan? Ini beneran Yumna ku, kan?"


Senyum tulus Yumna terbit di bibirnya. Ia menganggukkan kepala. "Iya, Abyan, ini nyata. Yumna-mu sudah kembali."


Tanpa mengatakan apapun lagi, Abyan langsung membawa Yumna dalam pelukannya, mengangkatnya dan memutarnya dengan mesra.


Kyaaa


"Hahaha. Abyan. Turunin saya."


"Tidak!" tolak Abyan mentah-mentah. Lalu melangkah menuju ranjang. Dan menurunkan Yumna di sana. "Kecuali di sini."


Yumna tersenyum malu-malu dengan wajah memerah. Sedang Abyan sudah mengungkung tubuhnya, mendekatkan wajah dan kening keduanya.


"Na, kamu beneran sudah sembuh?" tanyanya lembut dengan air mata yang kembali mengalir.


"Alhamdulillah." Yumna terharu melihat suaminya. Ia menyeka air mata itu dengan kedua tangannya. "Jangan menangis lagi. Istrimu sudah benar-benar kembali."

__ADS_1


Hati Abyan sangat bahagia mendengarnya. Ia semakin mendekat ke arah bibir Yumna dan mengecupnya penuh kerinduan.


__ADS_2