Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Keguguran


__ADS_3

Deg!


Jantung Abyan terpompa dengan cepat. Pupilnya membesar akibat terlalu terkejut dengan teriakan istrinya.


"Na! Sadar!"


"Lepasin aku!!" sentak Yumna sekali lagi. Mendorong tubuh Abyan hingga terpelanting ke bawah ranjang.


Brukk!!


"Astagfirullah." Abyan meringis menahan sakit. Sementara Yumna membuka matanya dan menatap Abyan tajam.


"Pergi kamu!" usir Yumna menunjuk ke arah Abyan. Matanya melotot menatap sang suami.


Abyan meneguk salivanya kasar. Di saat seperti ini, ia harus tetap tenang.


Langkah Abyan pelan mendekati Yumna yang kini masih menatapnya tajam. "Na, ini aku suamimu."


"Pergi! Jangan dekat-dekat!" sentaknya lagi.


Tok tok tok.


Di saat seperti itu, suara ketukan pintu terdengar. Abyan melirik ke arah sana kemudian mendekat.


"Siapa?"


"Ini Umi sama Abah, Abyan. Kenapa tadi Yumna teriak-teriak?"


Cklek~


"Yumna kenapa, Byan?" tanya Kiyai setelah Abyan membuka pintu. Dan membiarkan kedua mertuanya itu masuk ke dalam kamar.


"Saya juga tidak mengerti Umi-Abah." Abyan berbicara dengan kepala tertunduk. Sementara Abah langsung mendekat pada anaknya.


"Astagfirullah!" ucap Abah terkejut melihat wajah anaknya yang terlihat pucat. "Na, kamu enggak apa-apa?"


"Perut aku sakit, Abah!" ringis Yumna, mulai sadar.


Mendengar suara ringisan istrinya, Abyan mendekat bersama Umi. "Sayang, kamu baik-baik saja?"


"Perut aku sakit, Bee!"


"Bagian mana?"


"Sini!" Abyan menunjuk ke arah perutnya. Semua orang mulai khawatir dengan keadaan Yumna. Namun sebisa mungkin Abyan bersikap tenang.


Tangan Abyan terulur untuk mengecek kondisi perut istrinya. Mengelusnya dan membacakannya Al-Fatihah lalu berlanjut ke Al-Baqarah ayat 1-4.


Umi menggenggam jemari Abah untuk menyalurkan rasa khawatirnya yang belum kunjung berakhir.

__ADS_1


"Akhh! Lepas!" teriak Yumna memberontak tatkala Abyan terus mengulang-ngulang bacaannya. Sampai akhirnya, beberapa waktu kemudian. Yumna memukul perutnya dengan sangat keras.


Dugh!!


"Akhhh!!"


Ketiga orang tersebut mendadak terkejut. Apalagi tatkala Yumna meringis dan menangis. Suara tangisan itu seperti bukan milik istrinya. Namun tidak lama setelahnya, Yumna pun pingsan.


"Nana! Sadar Na! Bangun!"


"Abyan, kita bawa Yumna ke rumah sakit secepatnya!" usul Abah berpikir logis.


"Iya, Abah." Abyan mengangkat tubuh istrinya. Dan sungguh ia terkejut tatkala melihat aliran darah keluar melewati celah pakaian bawah istrinya. Kain seprai pun ikut terkena karenanya. "Abah-Umi ... ini apa?" tanyanya dengan suara tercekat.


Abah dan Umi saling pandang kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kita bawa secepatnya ke rumah sakit!"


Abyan mengangguk. Membawa Yumna keluar dari kamar mereka menuju halaman rumah.


Abah bergerak cepat mengeluarkan mobil dari dalam garasi. Sedang Umi berdiri dengan tubuh gemetaran seraya menangis. Tanganya tiada henti-hentinya mengelus lembut puncak kepala anaknya dengan penuh kasih.


"Ayo, Naik. Biar Abah yang bawa mobilnya!" panggil Abah yang kini telah duduk di kursi kemudi dan menyetir kendaraannya sendiri.


"Baik, Abah." Abyan masuk bersama Yumna yang ada di dalam gendongannya dan mengambil duduk di kabin belakang. Sementara Umi duduk di depan Abah yang menyetir.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Abyan berulang kali mengecup kening istrinya sembari membacakan ayat-ayat Allah.


Pakaian Abyan kini sebagiannya dipenuhi dengan darah istrinya.


"Na, jangan tinggalkan aku yaa. Kamu harus bangun," lirih Abyan, memeluk erat tubuh Yumna yang kini terasa semakin dingin. Sementara darah tidak berhenti keluar dari bagian bawahnya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai oleh Abah pun tiba di depan rumah sakit.


Dengan cepat, Abyan membuka pintu mobil dan turun dari sana. Lalu segera berlari masuk ke dalam rumah sakit tanpa mengatakan apapun lagi.


Abah dan Umi mengikuti langkah Abyan dengan cepat. Keduanya sangat khawatir dengan kondisi anak perempuan mereka satu-satunya itu.


Di larut malam seperti itu, keadaan rumah sakit tidaklah terlalu ramai. Namun beberapa suster dan dokter tetap stay ada di sana.


"Dokter! Suster! Tolong istri saya!" teriak Abyan memanggil para petugas medis yang kini berlari ke arahnya seraya mendorong brangkar.


"Ada apa dengan istri anda, Pak?" tanya salah satu suster seraya berjalan cepat mendorong brangkar menuju ruangan untuk diperiksa.


"Saya juga tidak tahu. Ada darah keluar dari sana dan dia pingsan!" jelas Abyan, mengikuti istrinya dengan raut khawatir.


"Baik, Pak. Anda menunggu sebentar di sini. Dokter akan memeriksa istri anda," ujar salah satu suster yang lainnya meminta Abyan untuk tidak ikut masuk ke dalam ruangan.


Bersamaan dengan itu, seorang dokter wanita bername-tag kan Andini itu datang dan hendak masuk ke dalam ruangan namun sejenak di tahan oleh Abyan.

__ADS_1


"Dokter, tolong selamatkan istri saya!"


"Insyaa Allah, Pak. Anda berdoa saja ya."


"Iya, Dok." Abyan menyahut pasrah. Duduk di kursi tunggu depan ruangan dengan hati yang senantiasa terpaut dan meminta pertolongan kepada Allah.


Abah menepuk lembut punggung menantunya. Sedang Umi sudah duduk di samping Abyan ikut menenangkan pria itu.


"Sebenarnya kenapa bisa seperti ini awalnya, Abyan?" tanya Abah, tidak mengerti. Pasalnya, sikap Yumna terlihat berbeda akhir-akhir ini.


"Saya juga tidak tahu, Abah. Yumna bersikap aneh belakangan ini. Dia sering bermimpi buruk. Mengigau dan seperti itu. Tapi malam ini yang paling parah," jelas Abyan, ikut bingung dengan keadaan istrinya.


Dalam sejenak Abah terdiam, menghela napas panjang. Seraya berkata, "Kenapa Abah merasa jika Yumna telah terkena sesuatu ya."


"Maksud Abah?" tanya Abyan, melirik ke arah Abah secara bersamaan dengan Umi.


Namun belum sempat Abah mengutarakan kecurigaannya, dokter Andini keluar dari sana. Dan seketika menghentikan obrolan mereka. Lebih memilih mendekat pada sang dokter dan bertanya tentang kondisi Yumna.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok?"


Dokter Andini menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara. "Alhamdulillah istri anda baik-baik saja. Tapi ...."


"Tapi apa dokter?" desak Abyan tidak sabaran.


"Istri anda mengalami keguguran."


"Apa?!" ujar Abyan, Abah dan Umi secara bersamaan.


"Kok bisa dokter? Kami tidak tahu tentang kehamilannya."


"Mungkin istri anda pun juga tidak sadar jika sedang mengandung, Pak. Sebab usia kandungannya masih sangat muda. Baru 2 minggu."


"Ya Allah .... innalillahi wa innailaihi raaji'un."


"Abah, Yumna ....." Umi menangis dalam pelukan Abah. Tidak menyangka jika kejadian singkat baru saja telah menghilangkan nyawa cucu yang bahkan masih belum terbentuk apa-apa itu.


"Kami turut berduka cita, pak," ujar Dokter Andini dengan raut simpati.


"Terima kasih, Dokter. Tapi kapan saya bisa bertemu istri saya?"


"Anda bisa menemuinya nanti setelah istri anda dipindahkan ke ruang rawat."


"Baik, Dok."


"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Andini yang ditanggapi anggukan kepala oleh Abyan.


Tubuh Abyan melorot sempurna di lantai. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada istrinya nanti setelah dia bangun.


Abyan takut jika Yumna akan kecewa dan menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2