
"Sebenarnya Yumna kenapa, Byan?" tanya Zaid dengan raut sangat serius selepas mereka berdzikir usai shalat subuh baru saja.
Ketiga orang itu masih duduk-duduk di dalam masjid untuk membicarakan apa yang sekiranya hal yang terjadi menimpa Yumna.
Abyan menggelengkan kepalanya pelan. "Saya juga sebenarnya masih tidak mengerti dan memahami apa yang sebenarnya terjadi, Bang. Tapi ada satu hal yang saya curigai."
"Apa itu?" Zaid dan Abah kompak bertanya setelah saling pandang dalam beberapa saat.
Cukup lama Abyan terdiam seraya berpikir untuk mengatakan atau tidak. Ia ragu mengungkapkan kecurigaannya.
"Tapi saya tidak yakin dengan hal itu, Bang-Abah."
"Memangnya soal apa, Byan? Tidak biasanya kamu ragu seperti ini," kata Abah yang ditanggapi anggukan setuju oleh Zaid.
"Saya curiga kalau Yumna terkena santet dan sihir."
"Innalillahi wa innailaihi raaji'un. Kok bisa?!" ujar Abah dan Zaid kembali kompak. Beberapa jamaah yang ada di sana bahkan melirik penuh tanya pada mereka.
"Saya juga tidak yakin, Abah-Bang. Tapi ciri-cirinya sama persis dengan apa yang pernah saya pelajari beberapa kali."
"Contohnya?"
"Berawal dari mimpi buruk berulang kali, seperti melihat ular dan hewan-hewan menjijikan juga buas lainnya. Diikuti dengan Yumna yang selalu ketakutan tiap malam. Di tambah suka marah-marah tidak jelas. Terutama jika melihat saya."
Abah dan Zaid mendengarkan dengan seksama tiap cerita yang Yumna utarakan. Mereka tidak terlalu mengerti sebenarnya. Tapi mereka cukup paham intinya.
"Lalu apa yang harus dilakukan? Karena jika benar demikian, berarti ini benar-benar parah. Sebab Yumna bahkan sampai keguguran."
"Itulah yang membuat saya kepikiran, Abah," sahut Abyan menimpali ucapan ayah mertuanya. "Yumna bahkan sampai tidak sadar jika dirinya memukul keras perutnya sendiri sehingga mengakibatkan dirinya keguguran."
"Apa?!" Zaid sangat terkejut mendengar hal tersebut. Ia baru tahu jika ternyata Yumna sendirilah yang memukul perutnya hingga terjadilah hal demikian. "Kok bisa sih!?"
"Itulah, Bang. Dan saat saya tanya, katanya dia tidak mengingat apapun. Hanya kelelahan dan serasa sesuatu telah terjadi pada dirinya.
"Bagaimana jika kamu bertanya pada ustadz mu, Byan!" usul Abah kemudian setelah berpikir beberapa saat.
"Insyaa Allah, Bah. Besok atau lusa saya akan masuk kuliah. Sekaligus menanyakkan soal itu."
"Baguslah. Kalau begitu kita kembali ke sekarang."
"Iya, Bah."
**
"Ratih! Yumna mana?" tanya sang bos yang baru saja tiba di kantor. Wanita sangat sibuk. Tapi tiap kali ia memiliki waktu untuk ke kantor, ia pasti bertanya soal Yumna.
"Saya juga belum tahu nih, Bos. Udah tiga hari ini dia enggak masuk Bos. Yumna juga tidak mengatakan apapun pada saya."
__ADS_1
"Ya Allah. Kemana tuh anak."
"Kenapa mencari Yumna, Bos? Ada projek baru lagi yang mau di urus?"
"Iya benar, Rat," sahut sang bos seraya memijit pelan pelipisnya. Lalu mengangkat kepala menatap Ratih. "Kamu bisa handle dulu ini?"
"Duh Bos. Projek yang kemarin oleh Yumna juga sedang saya tangani bos."
"Jadi gimana ini? Pusing saya!" Wanita itu semakin kuat memijat keningnya.
Hingga beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar, dan itu Yunus.
Sang bos saling pandang dengan Ratih. Sepertinya mereka telah mendapatkan orang yang tepat juga cocok menangani projek baru ini.
"Ada apa menatap saya seperti itu, Bos?" tanya Yunus, kikuk.
"Saya mau kasih kamu suatu projek. Ini prospeknya sangat lumayan. Tapi medannya memang sedikit sulit."
Senyum Yunus merekah mendengar itu. Ia melangkah mendekat pada sang bos dan Ratih, lalu berkata, "Projek seperti apa, Bos?"
"Desain rumah pedesaan. Tapi, kamu harus turun langsung ke lapangan untuk melakukan survey. Saya pikir, kamu bisa menangani projek ini."
Dengan serius Yunus membaca tiap lembar isi proposal projek yang sekiranya akan ia ambil.
Dalam beberapa saat, Yunus mengangguk setuju. "Saya akan ambil projek yang ini, Bos."
"Bagus. Tolong kamu kerjakan dengan fokus ya."
"Kemana Yumna?" tanyanya pada Ratih seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Udah tiga hari dengan ini aku enggak lihat dia."
Raut wajah Yunus terlihat khawatir, tapi Ratih sama sekali tidak menghiraukan keresahannya. Dan memilih untuk beranjak pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.
"Dasar! Sombong banget sih!" umpat Yunus, emosi. Tangannya gesit mengeluarkan ponsel dari saku depan celana, menggeser layar dan menekan kontak seorang wanita yang tidak lain ialah Yumna. "Kok enggak aktif sih?! Apa mantranya sudah mulai bekerja? Sepertinya aku harus pergi menanyakkan hal ini pada eyang," tambahnya seraya melangkah pergi dari sana.
Saking emosi bercampur seriusnya, Yunus tidak sadar bahwa ada yang tanpa sadar mendengar ucapannya.
"Pak Yunus memakai mantra? Untuk siapa?" gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
**
"Sayang, mau makan apa?" tanya Abyan lembut seraya mengelus rambut istrinya.
Zaid sudah kembali ke markasnya untuk bekerja. Sementara Abah dan Umi pulang untuk mandi, ganti pakaian dan sebagainya. Kebetulan Yumna juga ingin memakan sesuatu.
"Saya enggak napsu makan, By."
"Jadi napsunya sama apa dong?" Abyan bertanya lagi dengan nada menggoda. Dan hal itu sukses membuat Yumna terkekeh geli.
__ADS_1
"Kamu tuh nakal sekali ya."
"Memangnya enggak boleh?"
"Boleh kok." Yumna mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pipi Abyan. "Kapan kamu masuk kuliah?"
"Sebenarnya hari ini. Tapi aku enggak bisa ninggalin kamu dalam keadaan seperti ini."
"Maaf ya. Saya sudah merepotkan kamu," ujar Yumna, lesu. Menundukkan kepalanya. Tangannya juga kini berhenti mengelus pipi Abyan.
"Aku tidak merasa repot kok. Lagipula, ini kesempatan untuk aku mengamalkan ilmu yang sudah aku pelajari."
"Saya malu sama kamu, By," aku Yumna jujur.
"Malu kenapa?" Kini Abyan yang beralih membelai lembut pipi istrinya.
"Karena banyak hal soal agama yang tidak saya ketahui."
"Kamu ingin belajar?"
"Memangnya tidak masalah?" Yumna bertanya balik. Memastikan hal itu pada suaminya.
"Kenapa harus menjadi masalah?"
"Karena saya kan udah tua gini."
"Tuan apanya. Baru 27 tahun kok."
"Ya tapi lebih tua dari kamu, kan?"
"Tidak masalah kok. Belajar agama itu sampai nyawa kita di ambil oleh Allah."
Yumna terdiam dalam sejenak. Kemudian melanjutkan perbincangannya dengan sang suami.
"Bagaimana kalau misalkan Allah lebih dulu mengambil saya, Byan?"
Deg!
"Kamu ini ngomong apa!" Abyan cukup tersentak. Ia tidak menyukai perbincangan ini. "Enggak usah bahas itu, Na."
"Kenapa? Bukannya kita diperintahkan untuk terus mengingat mati?"
"Aku tahu!" balas Abyan cepat. Bangkit sejenak untuk mengecup kening istrinya. Lalu kembali duduk di kursi samping brangkar Yumna. "Tapi kita perbanyak amal saja. Aku belum sanggup kehilangan kamu, Na."
"Kalau saya pergi lebih dulu--"
Ck!
__ADS_1
Abyan berdecak pelan, seketika menghentikkan ucapan Yumna. Dalam sesaat, Abyan terasa linglung, seakan ada sesuatu yang terjadi padanya.
Netranya menyorot tidak suka pada Yumna. Seraya berkata, "Jangan mengatakan hal aneh. Kamu benar-benar ingin kita berpisah?!"