
"Jadi sekarang kamu enggak balik ke asrama, Nak Abyan?" tanya Abah pada menantunya tatkala sarapan pagi sedang berlangsung.
"Iya Abah. Untuk hari ini dan besok tidak ada kuliah. Saya ingin menemani istri saya sekaligus pergi ke rumah Pipip dan Mimim." Abyan menjawab seraya tersenyum. Satu tangannya sama sekali tidak ia lepas untuk mengenggam jemari Yumna.
Wajah Yumna terlihat berseri-seri. Tidak seperti semalam saat melihat sesuatu yang aneh.
"Kok Abang curiga, ya?" celetuk Zaid kemudian sembari memerhatikan adiknya.
"Curiga kenapa, Bang?" tanya Abyan, ikut melirik ke arah istrinya yang sedang sibuk menyantap makanan di hadapannya.
"Abang curiga kalau sebenarnya Yumna cuma pura-pura aja semalam supaya suaminya balik rumah."
"Hahaha. Benar juga, Abah jadi ikut curiga saat kamu bilang begitu, Zaid."
Semua orang dalam rumah menertawakan Yumna. Sedang wanita cantik itu tidak mau ambil peduli.
"Jadi beneran kamu cuma halusinasi saja, Nak?" Umi bertanya untuk memastikan. Dan semua anggota keluarga melirik ke arah Yumna.
"Entahlah, Umi. Tapi dua hari ini, Yumna memang sering merasa merinding di rumah."
"Kamu sih, jarang baca Qur'an dan dzikir," celetuk Abah menyindir halus anaknya. "Harusnya, tiap pagi dan petang itu kamu dzikir. Sempatkan waktu. Lagipula tidak lama kok, iya kan, Nak Abyan?"
Abyan melirik ke arah sang istri dan juga kini menatapnya. "Untuk selanjutnya, in syaa Allah saya yang akan menemani Yumna melakukan itu bersama, Abah."
"Maa syaa Allah. Romantisnya!" ujar Zaid ikut kesemsem sendiri. Sedang Abah dan Umi geleng-geleng kepala melihat tingkah anak kedua mereka yang belum kunjung menikah.
Istri dari Abyan itu menarik sudut bibirnya sedikit ke atas hingga tampak senyum manis di sana. "Terima kasih," bisiknya lembut. Menghadirkan degupan jantung yang tidak biasa dalam tubuh Abyan.
Kepala Abyan mendekat kemudian berbisik balik pada istrinya. "Tidak ada yang gratis. Aku akan meminta upah dari ini."
Yumna menyipitkan mata menatap suaminya geli. Pria muda itu ternyata sangat mesum sekali.
"Ekhem-ekhem. Jangan bisik-bisik depan jomblo dong." Kini Zaid memberikan protes namun tidak ditanggapi sama sekali oleh kedua suami istri itu.
"Makanya nikah sana, Bang. Udah 30-an tahun gitu masih aja jomblo," seloroh Yumna mendapat jentikan jari dari Zaid tepat di keningnya.
"Awww, sakit!" keluh Yumna pura-pura seraya memainkan mata pada sang kakak.
"Na, bagian apa yang sakit?" tanya Abyan khawatir. Melirik ke arah Zaid dengan tatapan peringatan. Zaid sampai salah tingkah dibuatnya. "Kenapa menyakiti istri saya, Bang? Padahal istri saya berkata jujur."
"Astagfirullah." Zaid geleng-geleng kepala sedang Yumna sudah tergelak puas karena berhasil membuat sang kakak ditegur suami bucinnya.
Umi dan Abah hanya ikut tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiga orang itu di meja makan.
"Kamu enggak apa-apa kan, Na?"
"Iya, By. Saya enggak apa-apa," jawab Yumna seraya menunjukkan raut teraniayanya.
"Hah, malas banget jadinya. Lebay kalian." Zaid bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan sarapannya. Berpamitan pada Abah dan Umi untuk pergi ke kantor. "Zaid duluan ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Sana pergi jomblo!" usir Yumna seraya tertawa dan mendapat peletan lidah dari Zaid.
__ADS_1
**
"Sudah sampai!" Abyan menghentikkan mobil Yumna yang ia kendarai di depan kantor.
Kepala Yumna masih bersandar di lengan suaminya. Tubuhnya serasa terpaku dan malas untuk bangkit.
"Enggak takut terlambat?" tanya Abyan, mengusap kepala istrinya dengan sebelah tangannya.
Gelengan kepala Yumna berikan. "Nanti kamu akan jemput saya lagi, kan?"
"Insyaa Allah. Kan ini mobil, Nana. Aku hanya akan gunakan untuk pergi ke rumah Pipip dan Mimim."
Yumna mendongak menatap lekat netra suaminya. "Kamu tidak akan bertemu wanita lain, kan?"
"Emangnya tidak boleh?"
Mendengar itu, kepala Yumna segera terangkat dari bahu Abyan. Tangannya juga hampir membuka pintu mobil jika saja Abyan tidak segera menahannya dan menarik istrinya masuk dalam pelukannya.
"Jangan bilang kamu cemburu?" tebak Abyan, tepat.
Sayangnya, Yumna tidak menjawab dan hanya diam. Wanita itu tidak mau mengakui rasa cemburu yang kini tengah bersarang dalam hatinya.
"Aku kok bisa sesenang ini ya karena Yumna yang pernah mengatakan akan mengugat cerai aku, kini sedang cemburu."
Pipi Yumna semakin memerah malu layaknya kepiting rebus. Jika mengingat kembali tentang yang dulu, ia juga tidak habis pikir pernah jika dirinya pernah seperti itu dan kini berubah haluan menjadi menyukai pria muda layaknya Abyan.
Tangan Abyan bergerak untuk menarik pelan dagu istrinya. Mengarahkan bibir wanita itu padanya, lalu mengecupnya mesra.
Hati Yumna berdenyut nyeri namun juga terharu. Abyan selalu menjadikan Allah sebagai tolak ukur dalam hal mencintai dan dicintai.
"Saya akan berusaha untuk itu. Maka tolong, jangan pernah menyerah untuk membimbing saya."
Abyan menganggukkan kepalanya dan kembali mengecup bibir istrinya sampai keduanya benar-benar terpisah.
Dari jauh, Yunus melihat semua pemandangan menyakitkan itu.
Dadanya semakin panas. Rasa dendam dan irinya kian besar.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu. Maka anak muda itu juga tidak akan pernah bisa bahagia dengan kamu, Yumna. Camkan itu!"
**
Langkah Yumna riang juga ringan memasuki ruang kerjanya.
Seperti biasa, ia akan mendapat sapaan dari Manja dan Ratih yang memang suka sekali berdiri di meja resepsionis untuk menunggu Yumna.
"Assalamu'alaikum. Selamat pagi, Bu Yumna."
"Wa'alaikumussalam. Pagi, Manja," jawab Yumna dengan raut berseri-seri.
"Di antar siapa hari ini? Mukanya cerah banget."
"Biasa, Nona. Suami."
__ADS_1
Ratih melipat kedua tangannya di depan dada dan ikut bahagia melihat Yumna.
"Enak banget ya bu Yumna. Punya suami yang bisa antar jemput," celetuk Manja tiba-tiba iri.
"Hhehehe. Kalau mau, segerakan Manja."
"Segerakan sama siapa, Bu Yumna? Lelakinya enggak ada yang mau halalin saya. Sampai capek pacaran mulu. Lelah hayati jagain jodoh orang."
Yumna dan Ratih sama-sama tergelak mendengarnya.
"Ya jangan pacaran atuh, Manja."
"Tapi jaman sekarang, kalau enggak pacaran, enggak dapat suami, Bu Ratih."
"Kan bisa pakai jalur ta'aruf," imbuh Yumna yang sebenarnya cukup tahu dengan syariat itu. Hanya saja ia terjebak dengan hawa napsu dan perasannya sampai akhirnya berpacaran dengan Yunus.
Untungnya, Tuhan masih menunjukkannya jalan bahwa Yunus bukanlah pria yang cocok dijadikan sebagai pasangan untuknya.
"Soal ta'aruf, emangnya mau sama siapa, Bu? Jarang pria jaman sekarang yang ingin melakukannya."
"Benar juga sih."
Obrolan ketiga orang itu terhenti tatkala alarm kerja mulai berbunyi. Mereka mulai sibuk di ruangan masing-masing.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Yumna.
"Masuk!"
Cklek~
"Selamat pagi, Bu Yumna."
"Selamat pagi. Ada apa, Pak Yunus?" tanya Yumna to the point karena ini masih di jam kerja.
"Saya ingin menyerahkan proposal ini pada anda. Bos berpesan agar anda segera memeriksanya sebelum digunakan untuk rapat besok dengan Kgrup."
"Baiklah. Terima kasih banyak ya, Pak."
Yunus menganggukkan kepalanya dan hendak keluar dari sana. Tapi pria itu menghentikkan langkah dan berbalik.
"Oh iya, saya ingin memberikan sesuatu untuk anda."
"Apa itu?"
Sebungkus coklat kesukaan Yumna keluar dari kantong pria itu. "Ini sebagai permintaan maaf saya atas kejadian yang sudah lewat di antara kita. Saya mohon anda menerimanya," ujarnya seraya menyerahkannya pada Yumna.
"Baiklah. Terima kasih atas coklatnya. Saya pasti akan memakannya nanti."
"Sama-sama. Saya senang jika anda mau menghabiskannya. Kalau begitu saya permisi."
"Iya, silahkan." Yumna mengangguk dan menatap coklat tersebut dengan ekspresi tidak sabar untuk menyantapnya.
__ADS_1