
"Ada apa dengan istri saya, Kiyai?" tanya Abyan ikut mendekat.
Para orang tua juga ikutan masuk ke dalam ruangan. Begitupun juga dengan Zaid dan Farhan yang baru saja tiba.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, setelah ini kita akan bicarakan tentangnya. Sekarang, saya dan Nyai akan mencoba dulu."
"Baik, Kiyai."
"Oh iya, ini daun bidara-nya silahkan kamu tumbuk sampai jadi potongan-potongan, setelah itu taruh di bejana air. Nanti insyaa Allah Nyai yang akan bacakan ayat-ayat ruqiyah."
Abyan mengangguk patuh, lalu daun tersebut diambil alih oleh sang ibu mertua. Yumna melirik ke arah mereka dengan tatapan tajam.
Kiyai semakin mendekat bersama Nyai. Mereka meminta Abyan untuk memegangi istrinya. Namun reaksinya tidak terduga.
"Lepaskan!" sentak Yumna menepis kasar tangan Abyan.
Hati Abyan mencelos dan terasa perih. Tatapan Yumna begitu tajam dan menusuk hatinya.
"Byan, sebaiknya jangan kamu yang pegangin. Biar yang para perempuan saja atau laki-laki yang merupakan mahram dari istrimu," saran Kiyai melihat Abyan yang nampak lemah dan tidak berdaya.
"Tidak apa-apa, Kiyai. Biar saya yang pegangin istri saya."
"Baiklah kalau begitu."
Perlahan Abyan kembali mendekat dan memegang tubuh istrinya. Kali ini tidak ada sentakan ataupun tatapan tajam. Melainkan Yumna memalingkan muka dari menatap Abyan.
Detik berikutnya, Kiyai berdiri di samping brangkar Yumna. Sebelum memulai, ia memberikan ceramah singkat--penjelasan terkait apa itu sihir.
Meski belum dilakukan pembacaan ayat-ayat ruqiyah. Yumna sudah mulai terlihat bereaksi. Ditandai dengan dadanya yang terasa sesak saat mendengar ceramah itu.
Tubuhnya mulai bergerak perlahan-lahan menyingkirkan tangan Abyan.
"Sebelum kita mulai melakukan ruqyah, ada baiknya kita harus tahu dulu bahwa sihir itu benar-benar nyata adanya. Bahkan Allah telah berfirman dalam banyak ayat terkait hal ini. Rasa sakit yang mungkin saja dialami tubuh kita, itu bisa jadi karena sihir. Namun harus kita yakini, sihir tidak akan bisa bekerja jika bukan karena kehendak dan izin dari Allah."
"Lalu kenapa Allah mengizinkan hal seperti ini terjadi pada kita? Tentu saja karena ada hikmah besar yang ingin Allah perlihatkan. Dan mungkin kita belum merasakan hikmah itu. Tapi yakinlah, bahwa segala sesuatu yang Allah takdrikan, tidak pernah buruk bagi seorang hamba."
Air mata Yumna menetes secara perlahan. Setelah memberikan wejangan, Kiyai mulai membacakan ayat-ayat Allah.
Surat Al-Fatihah menjadi pembuka dari proses ruqiyah tersebut. Yumna bergerak kesana-kemari bagai ular. Abyan memeganginya dengan hati yang pilu.
Wajah manis istrinya itu nampak sangat kurus dengan kelopak mata yang besar.
__ADS_1
Sang kiyai melanjutkan proses ruqiyah dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 1-4, Al-Baqarah ayat 163-164, Al-Baqarah 255 dan Al-Baqarah ayat 102.
"Haaaakkkhhh!!" teriak Yumna memenuhi ruangan rawat rumah sakit. Matanya tajam menatap Kiyai dan Abyan yang ada di sisinya.
Tubuh Yumna memberontak. Tangan dan kakinya bergerak liar.
"Lepas!"
"Lepaskan aku!"
"Akhhhh! Panas!"
"Sakit!"
"Hentikan! Hentikan!"
Berulang kali Yumna menjerit-jerit kesakitan dan merasa kepanasan. Abyan sampai tidak sanggup memeganginya sendiri. Sehingga Farhan ikut mendekat dan membantu Abyan.
"Sayang, sadar. Teruslah melawan," bisik Abyan berulang kali seraya terisak. Jiwanya sakit saat melihat sang istri demikian.
Ratih yang masih ada di sana memalingkan wajah dan ikut meneteskan air mata. Begitupun dengan Zaid yang memilih untuk keluar. Tidak sanggup melihat keadaan sang adik yang nampak mengenaskan.
Bacaan ayat-ayat terus berlanjut. Bukan hanya surat Al-Baqarah. Tapi Kiyai juga membacakan surat Al-A'raf ayat 117-122, Yunus 81-82, Thaha 69 dan beberapa ayat lainnya dalam surat yang berbeda.
Dalam beberapa saat kemudian, suasana menjadi hening. Kegiatan ruqiyah dihentikkan sementara. Tapi sebelum membiarkan Yumna beristirahat, mereka meminumkan air daun bidara yang telah dibacakan ayat-ayat tersebut padanya.
Kiyai keluar dari ruangan bersama Abyan, Pak Latif, Farhan dan Abah. Para wanita menunggu di dalam, menjaga Yumna yang saat ini dalam keadaan lemah dan tak berdaya.
"Bagaimana istri saya, Kiyai?" tanya Abyan dengan wajah lesu dan tatapan sendu.
"Sabar, Abyan. Semuanya butuh proses. Karena kita hanya berikhtiar. Adapun kesembuhannya, itu datang daripada Allah yang maha Kuasa. Inilah salah satu hikmah yang ingin Allah ajarkan pada kita, tentang kekuatan iman dan keyakinan kepada Allah. Apakah kita hanya berharap kepadaNya ataukah lebih banyak berharap pada makhluk," nasihat Kiyai penuh kelembutan.
Abyan menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu. Tubuhnya lemah dan terasa tidak berdaya. Sedang di sana, Farhan selalu menemaninya.
"Seberapa lama semua ini, Kiyai? Sampai kapan adik saya akan seperti itu?" Giliran Zaid yang frustasi.
"Sampai Allah menyembuhkannya. Saya tidak bisa menentukan kapan waktunya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. Hasilnya, kembalikan semua kepada Allah."
Zaid meneguk saliva berulang kali. Ia mengepalkan tangannya kuat. Dadanya dipenuhi amarah.
"Setelah ini, apa lagi yang harus kita lakukan, Kiyai?"
__ADS_1
"Karena waktunya tidak menentu sampai kapan istri Abyan sembuh. Saya ingin menyarankan satu hal dan semoga, Abyan menerima ini dengan baik."
Abyan mendongak, menatap Kiyai. "Apa itu, Kiyai?" tanya Abyan dengan tatapan sendu.
"Untuk sementara, kamu harus berpisah dulu dengan istrimu. Biarkan kami fokus mengobatinya, dan kamu fokus dengan studimu, Nak."
"Tapi, Kiyai. Saya--"
"Sihir ini cukup kuat, Abyan. Meskipun tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan Allah. Akan tetapi, semuanya butuh proses. Dan mungkin akan sangat lama. Bisa jadi, sebulan, setahun, lima tahun, dan mungkin puluhan tahun," pangkas Kiyai cepat.
"Lalu apa yang harus dilakukan, Kiyai?" Abah yang sejak tadi diam dalam keheningan, angkat bicara.
"Sebaiknya, istri Abyan kita bawa ke pesantren kami. Di sana ada banyak daun bidara juga yang bisa kita gunakan untuk diminum juga mandi. Istri Abyan juga akan fokus memulihkan diri. Mendengarkan kebaikan dan rutin diruqyah dengan ayat-ayat Allah. Sebab saya perhatikan saat masuk tadi, setiap kali dia melihat Abyan, wajahnya penuh amarah dan kebencian."
Mendengar itu, hati Abyan kian pilu. Ia memegang dadanya sendiri. Sedang matanya berkaca-kaca, terasa sesak meminta untuk keluar.
"Bagaimana, Nak Abyan?" tanya Kiyai meminta keputusan dari suami Yumna itu.
Tidak ada jawaban yang Abyan berikan. Ia hanya menunduk dengan hati yang terasa sakit.
**
Sementara di sisi lain....
"Yunus!" panggil Elsa menghentikkan langkah Yunus yang baru saja keluar dari apartemennya dan entah akan pergi kemana.
"Ada apa?" Yunus berbalik badan dengan malas. Menatap Elsa ogah-ogahan.
"Mau kemana kamu?!"
"Aku akan ke pedesaan. Ada projek di sana," sahutnya malas. Kembali berbalik dan hendak melanjutkan langkah. "Ada apaan?"
"Ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Elsa dengan mata berkaca-kaca. Sedang Yunus tetap melanjutkan langkah.
Namun langkahnya terhenti tatkala Elsa kembali membuka suara.
"Aku hamil, Yunus!"
Tubuh Yunus membeku di tempatnya. Ia berbalik cepat mendekat dan menarik kedua bahu Elsa. Juga menatapnya penuh keseriusan.
"Apa kamu bilang!?" tanyanya berbisik. Kedua tangannya menekan lengan Elsa kuat.
__ADS_1
"Aku hamil anak kamu," ulang Elsa yang langsung membuat mata Yunus membulat sempurna.