Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Incaran Wanita


__ADS_3

Perlahan Abyan dan Farhan berbalik ke belakang. Dan mata wanita yang tidak lain adalah Eva itu membulat sempurna tatkala melihat dua pria di depannya kini.


"Abyan, Farhan. Kalian ngapain di sini?"


Bukan Eva yang menanyakan hal itu. Melainkan teman yang menemaninya periksa keadaan di sekeliling gedung santri putri.


Keempat orang itu satu pesantren di tempat tersebut. Jadi meski tidak terlalu saling kenal. Tapi mereka cukup tahu masing-masing.


"Ah, Eva sama Rani ternyata. Kami kirain siapa." Farhan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Padahal mereka tadi sudah sangat gugup--mengira jika telah tertangkap basah oleh orang suruhan kiyai dan nyai.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" tanya Eva, penasaran. Ia mulai curiga jika wanita yang dibawa oleh pemilik pesantren itu adalah orang yang kedua pria itu kenal.


"Istriku sedang dirawat di sini."


Tuh kan. Kecurigaan Eva dibenarkan oleh pernyataan Abyan.


"Istri? Kamu udah nikah, Abyan?" tanya Rani, terkejut mendengar berita itu.


"Iya. Sudah."


"Maa syaa Allah, selamat ya." Rani ikut tersenyum bahagia karena hal itu. Tanpa peduli jika hati Eva sudah carut marut dibuatnya. "Tapi kenapa kalian sembunyi-sembunyi jika ingin melihatnya? Tadi kami mengira kalian adalah penyusup. Iya kan, Va?"


Eva hanya menganggukkan kepala. Temannya itu sangat polos. Tidak mengerti dengan isi hatinya.


"Kami ada alasan. Maaf karena telah membuat kalian khawatir. Kami permisi dulu ya. Ini sudah malam," pamit Farhan memutus komunikasi tatkala Abyan memberikan intruksi untuk itu.


"Ah, iya. Kalian berhati-hatilah. Jangan sampai ngebut."


"Iya. Terima kasih. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah kepergian Abyan dan Farhan. Segera Rani melirik ke arah Eva yang nampak memasamkan mukanya.


"Kamu kenapa tadi enggak ceria seperti biasa? Ternyata Abyan sudah menikah ya. Pasti istrinya sangat cantik."


"Tidak. Dia biasa saja. Dan lebih tua dari kita."


"Wah, benarkah? Ternyata Abyan luar biasa. Menikahi wanita dewasa. Tapi ... apa yang terjadi dengan istrinya, ya?"


Pertanyaan Rani memunculkan banyak spekulasi di otak Eva. Terlebih saat tahu jika istri dari Abyan itu terkena sihir tafriq.


Entah kenapa, ia merasa ini adalah kesempatan untuknya mendekati Abyan.

__ADS_1


Sejak lama ia sudah menyukai pria itu. Namun saat bertemu kembali, ia harus menerima kenyataan jika Abyan telah menikah. Itu hal yang sangat tidak adil padanya. Ia bahkan belum berjuang untuk mendapatkan Abyan.


Jadi mungkin saja, di kondisi Yumna yang seperti ini, Allah sedang memberikan kesempatan lebar itu padanya untuk mendekati pria itu.


Ia mungkin akan sesekali bertemu Abyan saat part time di restoran pria itu. Ini benar-benar umpan yang sangat besar.


"Hei, Va!" tegur Rani sedikit menyentak karena sejak tadi Eva tidak menghiraukannya sama sekali dan lebih fokus dengan pikirannya sendiri. "Kok kamu melamun sih? Nanti kerasukan setan lho."


"Hush. Kamu ini ngomong sembarangan. Ayo kita kembali ke asrama. Ini sudah cukup lama. Tidak akan ada santri yang berulah," ajak Eva mengalihkan situasi.


Dengan patuh Rani mengikuti langkah Eva yang kini sedang memikirkan strategi pertama yang bisa ia gunakan untuk mendekati Abyan.


**


Malam semakin larut, Kiyai dan Nyai bahkan tidak bisa tidur karena terus mengobati Yumna selama beberapa jam sekali.


Mereka baru benar-benar bisa beristirahat setelah lewat tengah malam. Yaitu sekitar pukul satu.


Umi terus-menerus menangis di pelukan sang suami tercinta saat melihat anaknya kesakitan. Namun akhirnya bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


Kiyai dan Nyai pamit. Mereka pulang untuk beristirahat di rumah mereka.


Di sisi lain, seorang pria berjubah hitam itu terus melancarkan aksi di depan beberapa guci yang mengeluarkan asap dan aroma kemenyan.


Namun baru saja satu gucinya pecah karena serangannya berbalik ke arah dirinya.


Akan tetapi hingga beberapa kali Yunus sama sekali tidak menjawab panggilannya.


"Sialan nih anak! Apa dia ingin lari sebelum membayarku lagi?!"


Karena telponnya tidak diangkat, pria berjubah hitam itu menggunakan ilmunya dengan berpindah dan masuk ke dalam mimpi Yunus.


Yunus yang sedang tidur nyenyak dan bermimpi berciuman dengan gadis yang ia lihat tadi sore seketika tersentak.


Pria berjubah itu datang dalam rupa yang menakutkan. Membuat Yunus ketakutan karenanya.


"Kamu! Jangan lupa bayar hutangmu! Jika tidak, aku akan mengembalikan sihirnya padamu!" ancam pria itu dengan penuh amarah. Dan Yunus terbangun dari tidurnya.


Mata Yunus mengedar ke sekeliling. Ia mendadak merinding karena rumah itu nampak sepi dan sedikit horor menurutnya.


"Sialan bapak tua itu. Dia mengganggu tidur nyenyakku!" umpat Yunus kesal. Lalu kembali menyelimuti dirinya dan tidur.


Esok ia akan menemui Pak Tua itu untuk menyelesaikan semua urusan mereka.


**

__ADS_1


Setiap selesai shalat subuh, Yumna dimandikan dengan air bidara.


Selama di sana, istri dari Abyan itu selalu diajarkan untuk membaca dzikir pagi dan petang. Tidak diperbolehkan melamun seorang diri. Dan hanya selalu mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat.


Yumna merasa jika selama sakit, dirinya semakin dekat dengan Allah. Meski terkadang, saat kerasukan, ia lupa semuanya. Namun setelah dua bulan lamannya ia berada di sini, beberapa hal mulai berubah.


Ya. Kini sudah dua bulan Yumna tinggal bersama Abah dan Umi. Setiap dua sampai tiga kali seminggu Zaid akan datang bersama Ratih juga Pak Latif dan Bu Nurma untuk menjenguk dirinya.


Sayangnya selama itu, ia tidak pernah bertemu dengan Abyan. Yumna cukup mengerti jika ini demi kebaikan mereka berdua. Jadi Yumna sama sekali tidak merengek sedikitpun.


Selama dua bulan itu pula, banyak hal yang telah berubah. Setelah keguguran waktu itu, Elsa dibawa oleh orang tuanya ke luar negeri.


Bos perusahaannya juga memberikan cuti lama padanya demi kesembuhannya. Sama sekali tidak ingin memecat karyawan kesayangannya itu.


Sementara Abyan, saat-saat berpisah dengan istrinya ia gunakan untuk fokus pada kuliah dan juga cabang restorannya.


Dan hari ini, ia datang di salah satu restorannya yang terbilang cukup terkenal dan ramai pengunjung tersebut.


"Selamat datang, Pak Abyan," sapa Eva tersenyum ramah.


Ia masih menjadi karyawan part time di sana. Dan karena kondisi sang ayah yang sakit, Abyan memberikan gaji penuh padanya.


"Ya, Eva. Bagaimana bekerja di sini?" Abyan bertanya basa-basi sebagai bos dan teman sekolahnya dulu.


"Alhamdulillah menyenangkan, Pak. Anda sangat pandai mengelola restoran ini."


Abyan tersenyum tipis. "Aku merasa seperti orang tua saat dipanggil Pak olehmu."


"Itu artinya, anda memang patut dihormati, Pak!" seru salah satu karyawan yang juga sudah cukup lama bekerja di sana.


"Heheh, kamu bisa saja. Oh iya, manajer kalian mana?"


"Ada di ruangannya, Pak."


"Kalau gitu aku masuk ke sana dulu ya."


Eva mengangguk seraya tersenyum. Tidak ada yang berubah pada diri Abyan. Pria itu tetap ramah seperti biasanya.


Tidak lama setelahnya, Abyan keluar dari sana. Dan itu bertepatan dengan jam kerja Eva yang hendak selesai.


"Anda sudah ingin pulang, Pak?" tanya Eva menahan langkah Abyan yang hendak pergi dari sana.


"Ah, tidak. Aku ingin menemui istriku dulu di pesantren."


"Benarkah?" Wajah Eva berbinar-binar. Baginya ini kesempatan yang bagus. "Bolehkah saya ikut bersama anda? Saya memiliki tugas mengajar sore nanti."

__ADS_1


Dalam sesaat Abyan terdiam. Namun tidak lama setelah itu ia menganggukan kepalanya. Tanpa sadar jika ada yang sedang mengincar dirinya.


__ADS_2