Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Kemarahan Abyan


__ADS_3

"Cieee yang senyam-senyum terus sambil lihatin bunga. Pemberian suami apa gimana?" goda Ratih seraya berjalan mendekat ke arah Yumna yang masih setia duduk di meja kerjanya. Sembari menunggu kedatangan bos untuk memulai rapat yang ternyata harus ditunda sebab pemilik perusahaan tersebut mendadak memiliki hal urgent.


"Iya dong. Emang siapa lagi yang akan memberikanku bunga kecuali dia?" balas Yumna tanpa sedikitpun meredupkan senyumnya.


"Entahlah. Mungkin aja orang lain!"


"Sepertinya enggak mungkin."


"Percaya diri banget kamu."


"Emang iya!" sahut Yumna sarkas namun tidak menghilangkan senyum di wajahnya.


Tatkala keduanya mengobrol soal bunga, Manja datang mengetuk pintu ruang kerja Yumna yang terbuka.


Tok tok tok


"Bu Yumna!"


"Iya, Manja. Ada apa?"


"Bos sudah datang. Beliau minta Bu Yumna dan Bu Ratih ke ruangannya sekarang. Katanya rapat akan segera dimulai."


"Oh iya, terima kasih ya. Kami akan segera ke sana."


"Sama-sama, Bu." Manja pamit dari sana dan kembali ke tempat kerjanya. Sementara Yumna dan Ratih segera bangkit dari duduk mereka dan langsung ke ruang rapat.


**


"Perusahan Kgrup Singapura sangat detail dan begitu komprehensif di seluruh tonggak atau bagian dalam sebuah proyek. Memiliki konsep yang lengkap dan tidak ingin menerima bagian cacat apapun dalam kerja sama perusahaan kita dengan mereka nantinya." Open statement Yumna memulai jalannya rapat setelah dipersilahkan dan dibuka oleh Bos.


"Sebelum proyek kerja sama ini dimulai, mereka ingin kita menetapkan garis besar dan konsep dasar yang perusahaan kita miliki. Dari sinilah perusahaan Kgrup akan menilai kelayakan finansial dan permintaan di daerah untuk proyek kerjasama ini."


"Dan setelah pertemuan kami kemarin untuk membicarakan terkait kerjasama tersebut, mereka meminta untuk diberikan contoh desain."


"Nah, Bapak dan Ibu bisa melihat di layar yang saya tunjukkan ini. Desain-desain ini cukup menarik perhatian mereka dan merasa tertarik juga yakin dengan proyek kerja sama kita. Dan mereka juga sudah menanda tangani perjanjian kontrak dan rela mengeluarkan biaya banyak demi terealisasinya proyek ini."


Beberapa peserta rapat termasuk bos bertepuk tangan atas keberhasilan perusahaan untuk bekerja sama dengan Kgrup.

__ADS_1


Bagaimana tidak, sebagian besar perusahaan memilih mundur karena tidak bisa memenuhi permintaan Kgrup atas jenis proyek yang mereka kerjakan.


"Good, Yumna. Saya suka dengan cara kerja kamu dan Ratih," sang bos berujar dan bangkit dari duduknya. "Untuk kalian berdua khususnya dan yang terlibat dalam pengembangan proyek ini, tolong secepatnya dikerjakan ya. Kita harus menunjukkan pada Kgrup jika kita tidak bermain-main dalam kerjasama ini."


"Siap, Bos." Semua peserta rapat mengangguk dan mengiyakan arahan pemilik perusahaan tanpa kata tapi.


Tidak lama setelahnya, para peserta rapat mulai keluar satu persatu dari ruangan yang diawali oleh Bos cantik mereka.


Yumna dan juga Ratih mendapatkan banyak ucapan selamat atas keberhasilan mereka dalam membuka proyek kerjasama itu.


"Ekhem!" Salah seorang pria yang tidak lain ialah Yunus belum kunjung keluar dari ruangan tersebut.


Pria itu menikmati menatap Yumna yang tengah tersenyum bahagia atas pencapaiannya.


Yumna dan Ratih melirik ke arah sumber suara. Sedang Yunus bangkit dari duduknya dan mendekat pada mereka.


"Selamat Sayang. Kamu memang hebat!" ucap Yunus seraya mengulurkan tangannya. Memberikan selamat pada wanita yang kini telah menjadi mantan kekasihnya itu namun dengan tidak tahu malunya, ia masih berharap agar bisa kembali padanya.


Baik Yumna dan juga Ratih, keduanya membuang muka. Merasa jijik dengan Yunus makin hari sudah seperti orang gila.


"Terima kasih. Tapi maaf, saya tidak berjabat tangan lagi dengan lelaki yang bukan mahram saya," tolak Yumna dengan halus namun tegas.


Sementara Yumna dan Ratih saling pandang saat melihat Yunus tergelak. Mereka geleng-geleng kepala tidak mengerti.


"Apa tidak ada alasan lain kecuali itu, Na? Selama ini kamu kan biasanya menerima uluran tangan pria manapun. Apa yang membuatmu berubah? Apa karena permintaan suamimu yang entah siapa itu?" ujar Yunus dengan maksud mengejek.


Yumna bangkit dari duduknya. Menghadap Yunus dengan tatapan penuh kebencian. "Memangnya kenapa jika semua ini karena permintaan suami saya? Anda cemburu?" tantangnya seraya menyeringai.


"Jelas aku cemburu, Na!" balas Yunus mulai emosi. "Kamu itu pacar aku!"


"Helooo! Mantan pacar, oke?" Yumna menyahut santai. "Kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, Tuan Yunus. Itu yang harus anda ingatkan pada diri anda," sambungnya seraya melangkah pergi dari sana bersama Ratih yang sudah sangat ingin muntah di tempatnya.


"Dan ya ...." Yumna berhenti sejenak sebelum membuka pintu. "Jangan memanggil saya sayang lagi atau panggilan aneh lainnya. Karena saya tidak mau jika suami yang saya cintai itu cemburu nantinya."


Yunus mengepalkan tangan kuat. Ie menatap Yumna tajam. Sementara Ratih sudah lebih dulu keluar dan membuka pintu lebar-lebar, namun Yumna masih tertahan sejenak karena ucapan mantannya itu selanjutnya.


"Cih! Kamu bilang kamu mencintainya?" Yunus berjalan mendekat dan kini berdiri di samping Yumna dengan tubuh menghadap lurus ke arah depan. "Kalau memang kamu sudah mencintainya dan melupakan aku. Kenapa tadi pagi kamu terlihat bahagia dan tersenyum manis seperti orang yang sedang jatuh cinta karena mendapatkan hadiah bunga dariku?"

__ADS_1


Deg!


Yumna terhenyak dan menatap tajam pada Yunus. Ia tidak menyangka jika sebuket bunga mawar tersebut merupakan pemberian pria di hadapannya. Padahal ia menduga jika bunga tersebut pemberian suaminya.


Saking terkejutnya dengan kenyataan tersebut, Yumna sampai tidak sadar jika Yunus mencolek dagunya.


"Ingat Yumna." Wajah Yunus cukup dekat dengan Yumna saat ini. "Selamanya aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Aku akan melakukan apapun untuk itu. Dan kamu, pasti akan kesusahan melupakan kekasihmu ini," bisiknya seraya berlalu pergi dari sana dengan menyeringai licik. .


Yumna luruh di tempatnya. Ia mendadak membeku dalam sesaat. Cukup syok dengan peringatan yang Yunus lancarkan.


**


Yumna berjalan kembali ke ruangan kerjanya dalam keadaan lesu. Ratih yang melihat sahabatnya itu mendadak khawatir.


"Kamu kenapa, Na?" tanya Ratih gelisah.


Tidak ada jawaban yang Yumna berikan. Wanita itu mendadak bisu dan hanya menggelengkan kepalanya.


Ratih yang tidak sanggup melihat Yumna seperti itu akhirnya meraih ponsel yang ada di tangan Yumna. "Aku pinjam ponselmu sebentar."


Yumna tidak ambil peduli. Ia khawatir dengan ancaman Yunus. Rasa takut jika Yunus akan melakukan sesuatu pada Abyan cukup membuat Yumna bungkam.


Langkah Yumna pelan masuk ke dalam ruangannya. Sementara Ratih mengikutinya dari belakang seraya menelpon seseorang.


Beberapa detik setelahnya, seseorang yang ditelpon oleh Ratih mengangkat panggilan.


"Assalamu'alaikum. Ada apa istriku? Tumben nelpon?" jawab seorang pria yang tidak lain adalah Abyan.


"Wa'alaikumussalam. Maaf, suaminya Yumna. Ini saya Ratih, sahabatnya."


"Ah, apa ada sesuatu yang terjadi pada istri saya?" tanya Abyan seketika khawatir. Sementara mata kuliah selanjutnya akan segera dimulai.


"Yumna tiba-tiba diam dan tidak mengatakan apapun setelah bertemu dengan Yunus. Di terlihat tertekan."


"Siapa itu Yunus?" Suara Abyan terdengar tidak ramah.


"Eh, ehm, mantannya. Bisakah kamu--"

__ADS_1


"Saya akan segera ke sana!" putus Abyan dan langsung mematikan panggilan telpon. Sementara mata-nya menunjukkan api yang sulit dipadamkan.


__ADS_2