
"Abyan, kamu datang Naaaak," sambut bu Nurma merentangkan kedua tangan untuk anaknya yang sudah lebih dari dua pekan tidak ia jumpai.
"Mimiiiiiiiim."
Pak Latif yang melihat, mendelik geli melihat pemandangan ibu dan anak yang sedang saling berpelukan erat itu.
"Kamu kemana saja, Nak. Baru datang ke rumah. Mimim kangen banget."
"Aku kan kuliah mondok, Mim. Tapi akhir-akhir ini memang sering di rumah istri tercinta, hehehe," jawab Abyan seraya terkekeh.
Kening bu Nurma berkerut dalam dan penuh penasaran. "Apa terjadi sesuatu sama menantu mimim, Sayang?" tanyanya seraya mengajak anaknya untuk duduk di sofa.
Abyan menjabat tangan Pak Latif dan duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya. "Dua-tiga hari ini, istriku sering mimpi buruk dan ketakutan gitu, Mim-Pip."
"Ketakutan gimana?" tanya Pak Latif mulai serius. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran sebagai seorang mertua.
"Iya, Sayang. Ketakutan gimana sih maksudnya?" timpal Bu Nurma ikut resah.
"Katanya sering merinding gitu kalau malam hari. Dan semalam, dia bilang melihat bayangan hitam."
"Innalillahi wa innailaihi raaji'un," ucap kedua orang tua itu kompak.
"Apa itu bukan indikasi sihir atau santet, Pip?" tanya Bu Nurma pada suaminya. Sedang Abyan menatap kedua orang tuanya serius.
"Entahlah, Mim. Kita tidak bisa mengatakan bahwa itu karena sihir atau santet. Karena bisa jadi ada hal lain. Mungkin seperti misalnya, setelah bersuami, Yumna jadi takut tidur sendiri sehingga sampai berhalusinasi."
"Benar juga ya, Pip." Bu Nurma melirik ke arah anaknya yang sedang menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Atau gini aja, Sayang. Kamu sebaiknya ambil kuliahnya saja, ya? Lebih baik kamu temani istrimu. Mimim juga mau cepat-cepat dapat cucu."
"Iya, Byan. Sebaiknya kamu enggak usah asrama lagi. Sekarang kan kamu udah punya tanggung jawab lebih sebagai kepala keluarga. Jadi ada baiknya, kamu kuliah sambil fokus ngurus keluarga dan usaha kamu."
"Alhamdulillah. Sebenarnya aku ke sini juga untuk membahas soal itu, Pip-Mim. Tapi ternyata, Pipip dan Mimim sudah lebih dulu memberikan saran seperti itu. Aku sayang banget sama kalian." Abyan memeluk kedua orang tuanya penuh kasih dan hangat.
"Kami juga sayang sama kamu, Nak."
Cukup lama mereka berpelukan, sampai akhirnya Pak Latif kembali membuka suara.
"Gimana keadaan usaha restoran kamu, Nak?"
"Alhamdulillah lancar, Pip. Ini semua berkat doa Pipip dan Mimim."
"Kalau semuanya baik-baik saja. Papa sarankan kamu membeli rumah sendiri untuk tempat tinggalmu dan Yumna. Enggak enak rasanya jika sudah berumah tangga tapi masih tinggal sama mertua dan ipar," saran pak Latif dengan lembut.
"Menurut Mimim, gimana?" Abyan melirik ke arah bu Nurma dan mendapati anggukan setuju dari wanita awal 40-an itu.
"Pipip kamu benar, Sayang. Sebaiknya kamu beli rumah. Kalau bisa hari ini juga. Minta si Hercules bantu carikan."
"Baiklah, Mim."
"Oh iya, kamu sudah dapat kabar belum dari sepupumu."
"Bang Adnan, Mim?"
__ADS_1
"Iya siapa lagi sepupu kamu kalau bukan dia."
"Kan banyak sepupu Byan dari pihak Pipip, Mim."
"Hheheh iya juga ya."
"Memangnya Bang Adnan kenapa, Mim?"
"Istrinya sudah mau melahirkan lagi. Tapi ada masalah sama kandungannya. Om dan Tante kamu sedang menuju Kuningan sekarang untuk melihat keadaan menantunya. Jadi kami juga mau pergi ke rumah sakit ini. Siapa tahu kamu mau ikut."
"Innalillahi. Aku harus kasih tahu Yumna dulu soal ini, Mim. Supaya dia enggak kaget aku tiba-tiba hilang. Atau sekalian dia juga ikut kalau bisa.."
"Ya sudah. Kalau begitu kamu balik ke istri kamu gih. Pipip sama Mimim mau siap-siap soalnya. Kalau kamu mau ikut, hubungi kami ya supaya kasih alamat rumah sakitnya."
"Mimim ngusir aku nih?"
"Byan ...," geram sang pipip menerbitkan cengiran di bibir pria muda itu.
"Kalau gitu, Byan pulang dulu, ya? Assalamu'alaikum." Abyan bersalaman dengan kedua orang tuanya penuh khidmat.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati bawa mobilnya ya, Sayang."
"Iya, Mim."
Abyan melangkah pergi dari rumah seraya mengelurkan ponsel dari kantong bajunya. Dan nomor Yumna menjadi incarannya.
**
"Iya baiklah. Untuk rapat kali ini kita cukupkan dulu. Saya tunggu hasil pembagian kerja dari bapak dan ibu besok di jam yang sama seperti saat ini."
Yumna melirik ke arah ponselnya dimana ada nomor dan nama 'Hubby' tertera di sana.
"Jadi kita akhiri rapatnya. Selamat bekerja kembali dan wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Baik, Bu. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
Beberapa karyawan telah lebih dulu keluar dari sana kecuali Yunus dan Ratih. Pria itu sengaja melihat-lihat berkas hasil rapat barusan di dalam ruangan agar bisa mendengar Yumna akan berbicara tentang apa dan dengan siapa.
"Assalamu'alaikum, iya, By?"
Mata Yunus melirik ke arah Yumna tatkala wanita itu menyebut kata 'By' pada seseorang yang ia yakini sebagai suami dari mantan kekasihnya itu.
'Apa By itu Hubby?' batinnya panas. Tidak sadar jika Ratih sedang memerhatikannya saat ini.
"Wa'alaikumussalam. Na. Kok lama ngangkatnya?" tanya Abyan di seberang sana.
"Maaf, saya baru saja selesai rapat." Yumna melirik ke arah Yunus yang dengan cepat mengalihkan pandangan. Lalu ia bangkit dari sana dan berdiri di depan jendela. Berusaha menjaga hati orang lain untuk tidak mendengar pembicaraanya dengan sang suami.
"Apa sekarang masih sibuk?"
"Tidak, By. Ada apa?"
__ADS_1
Sementara di meja rapat, Ratih menatap tajam ke arah Yunus. "Awas kecolok tuh mata!" bisiknya, ketus. Dan mendapati sorot balasan dari pria itu.
"Memangnya kenapa, ada yang salah?"
"Awas ya, Yunus. Aku bisa buat perhitungan sama kamu."
"Mau melakukan apa?"
"Seperti membongkar kebusukan kamu yang sekarang sudah bermain wanita misalnya?"
Mata Yunus tajam menyorot Ratih yang sama sekali tidak terlihat takut.
"Apa? Kamu pikir aku hanya bisa mengancam? Aku bahkan sudah memiliki bukti tentang itu, pak Yunus yang terhormat!"
Samar-samar Yumna mendengar bisik-bisik di meja rapat. Yunus mengalihkan tatapan tajamnya dari Ratih tatkala Yumna melirik ke arah mereka.
"Kalau gitu saya akan pulang cepat hari ini. Lagipula sudah tidak yang harus dikerjakan lagi kok."
"Jadi kamu mau ikut ke Kuningan, Na?"
"Iya, Abyan. Saya ikut saja. Kalau gitu setelah makan siang kita pergi ya?"
"Terima kasih, istriku, cintaku, kasihku."
Yumna mendelik geli mendengar ujaran berlebihan suaminya. "Saya tunggu di depan kantor nanti, ya?"
"Kali ini aku enggak mau menjemput kamu depan kantor."
"Terus?"
"Aku mau langsung jemput kamu di dalam ruangan."
"Terserah kamu deh." Yumna menyahut seraya terkekeh bahagia. Hal itu tidak lepas dari pandangan Yunus dan Ratih.
"Kamu lihat sendiri kan betapa bahagiannya Yumna saat berpisah sama kamu? Dia sekarang bahkan sudah lupa caranya menangis. Jadi, aku peringatkan kembali, jangan ganggu Yumna lagi, paham?"
Tidak ada jawaban yang Yunus berikan. Pria itu hanya diam dengan dada yang terasa panas.
"Kalian obrolin apa? Serius banget!" tanya Yumna penasaran setelah memutuskan sambungan telponnya dengan Abyan.
Yunus menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Sementara Ratih bangkit dari sana. "Sudah selesai ngobrol sama abang suami?"
"He'em, sudah." Yumna bingung dengan sikap Ratih dan Yunus yang terlihat aneh.
"Kalau gitu kita keluar yuk. Di sini panas!" ajak Ratih, mengipasi wajahnya dengan tangannya seraya melirik sinis ke arah Yunus.
"Panas? Perasaan AC-nya nyala deh," sahut Yumna, namun memilih mengambil tasnya dan ikut keluar bersama Ratih yang menariknya pergi dari sana.
"Entahlah. Aku rasa panas banget kayak di neraka."
Brakk!!
__ADS_1
Yunus menggebrak meja rapat dengan emosi yang memburu tatkala Ratih dan Yumna telah keluar dengan sempurna.
"Sialan! Tunggu saja apa yang akan aku lakukan!"