Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Bujukan Maut Serigala


__ADS_3

Abyan hanya diam mengikuti langkah istrinya dari belakang. Yumna masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring di atas ranjang.


Dengan sabar Abyan memperbaiki cara tidur Yumna dan memakaiannya selimut. Kemudian duduk di bibir ranjang samping Yumna sembari menggenggam tangannya.


"Aku minta maaf, Na," ucap Abyan lirih. Sementara Yumna menutup mata, tidak sanggup melihat Abyan. Bawaannya ingin selalu marah dan muntah. "Tadi aku hanya kesal. Karena kamu tidak jujur sama aku. Padahal, aku mau tahu semua hal tentang kamu bukan dari orang lain. Aku maunya kita saling terbuka dan komunikasi agar tidak terjadi konflik. Aku maunya hubungan kita baik-baik saja."


Air mata Yumna mengalir dari sudut netranya yang masih setia tertutup. Mulutnya terkunci seakan tidak sengaja mau mengatakan apapun.


"Aku tahu, pernikahan kita masih baru. Dan aku pun juga bukanlah pria pilihan hati kamu. Tapi, meski begitu, aku tetap mencintai kamu karena Allah telah mengirimkan kepadaku sebaik-baik wanita yang aku harapkan dan pinta dalam doa-doaku."


"Sungguh ... aku minta maaf."


Yumna membuka mata yang kini telah benar-benar basah. Bangkit dari posisi tidurnya dan memeluk Abyan erat.


"Saya yang minta maaf, By. Maaf karena menyembunyikan soal itu dan membuat kamu cemburu. Saya pikir, itu hal baik untuk rumah tangga. Saya tidak mau kamu marah jika tahu hal ini. Nyatanya, kamu malah semakin emosi. Maaf ya."


Keduanya saling berpelukan erat. Yumna terisak dalam pelukan suaminya. Perutnya terasa bergoncang dan seakan-akan ingin keluar sesuatu.


"Abyan, saya mau muntah lagi," gumam Yumna melepas peluk dengan suaminya.


"Muntah?" tanya Abyan memastikan dan mendapat anggukan kepala dari Yumna sebelum akhirnya wanita cantik itu berjalan cepat menuju kamar mandi dan diikuti oleh Abyan di belakangnya.


Huweek huweek


Suara muntahan Yumha terdengar hingga keluar kamar yang memang tidak tertutup tatkala mereka masuk tadi.


Abah dan Umi yang ada di luar kamar, mengetuk pintu ruangan anaknya yang meski terbuka, namun keduanya tidak berani masuk sebelum mendapatkan izin.


Tok tok tok


"Abyan, Yumna. Apa yang terjadi, Nak?" tanya Umi lembut.


Tidak ada jawaban yang keduanya berikan. Karena sama-sama tidak mendengarkan pertanyaan Umi dari luar disebabkan oleh suara air kran yang sengaja dibuka untuk membersihkan sisa-sisa muntahan Yumna.


"Anak kita kenapa ya, Bah?" tanya Umi penasaran. Namun ditanggapi gelengan tidak tahu dari Abah.


"Biarkan saja dulu, Umi. Nanti kita tanya mereka."


"Baiklah." Umi dan Abah beranjak pergi dari sana, sementara Abyan masih sibuk mengurus istrinya di dalam sana.


"Udah baikan? Mau makan sesuatu?"


Yumna menggeleng namun merentangkan tangannya ke arah Abyan. "Mau digendong!" pintanya, manja.

__ADS_1


Tanpa bertanya apapun, Abyan langsung mengangkat tubuh istrinya layaknya anak kecil yang tengah ditenangkan. Kaki Yumna melingkar di pinggang Abyan, sementara tangannya mengalung di leher pria muda itu.


"Byan, perut saya terasa aneh," keluh Yumna meringis.


"Mau diusap atau dielus?" tanya Abyan lembut.


Perang dingin yang sebelumnya terjadi bahkan tidak lagi dipermasalahkan saat ini. Keduanya sudah saling memaafkan dan tidak mengungkit apapun lagi.


"Iya." Yumna menjawab cepat. Semakin erat mengalungkan tangannya di leher Abyan.


Abyan membaringkan tubuh istrinya dengan pelan. Tangannya terulur mengusap kepala dan membuka hijab Yumna.


Kemudian ia sendiri mengambil posisi berbaring di samping sang istri dengan tangan yang telah berada dibalik piama, mengelus lembut perut Yumna yang katanya terasa tidak nyaman.


Sembari memberikan usapan lembut, Abyan membaca surat Ar-Rahman dengan suaranya yang merdu. Yumna masuk dalam pelukan Abyan, menikmati kenyamanan yang tercipta dari bacaan merdu suaminya.


Beberapa saat kemudian, Yumna tertidur dalam dekapan Abyan. Perlahan Abyan melonggarkan tangan Yumna yang erat memeluknya. Bangkit dari sana dan mengusap lembut puncak kepala istrinya sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.


"Abyan, gimana keadaan Yumna?" tanya Umi khawatir tatkala baru saja menutup pintu kamar.


"Kita bicara di ruang tamu aja ya, Byan," tawar sang mertua yang ditanggapi anggukan patuh oleh Abyan.


"Yumna tadi muntah-muntah, Abah-Umi. Semalam, dia juga merasa sangat kepanasan padahal kami sedang berada di ruangan pull AC," jelas Abyan tanpa ingin menutupi apapun soal kondisi Yumna. Dia hanya tidak menceritakan terkait pertikaiannya dengan sang istri. Karena menurutnya itu adalah aib rumah tangga yang tidak perlu orang lain.


"Kok bisa gitu, Byan?" Umi bertanya lagi. Terlalu khawatir dengan kondisi anaknya.


"Byan juga tidak tahu apa penyebabnya, Umi. Tapi untungnya itu hanya terjadi beberapa saat."


"Apa kalian sudah ke dokter?"


"Belum, Abah."


"Sebaiknya nanti atau besok kalian ke dokter aja, ya? Abah khawatir jika terjadi apa-apa sama Yumna."


"Insyaa Allah, Bah."


**


Di sisi lain, Yunus menghentikan mobilnya tepat di depan toko bunga. Ia turun dari kendaraannya dan masuk ke dalam sana untuk membeli flower yang sekiranya akan disukai oleh kekasihnya-Elsa.


"Aku jamin, kamu tidak akan menolakku jika aku membawakanmu sekuntum bunga, Elsa," gumam Yunus seraya tersenyum smirk.


"Cari bunga apa, Mas?" tanya sang florist pada pria bertubuh tegap dan berwajah tampan itu.

__ADS_1


"Bunga yang cocok untuk pacar yang lagi marah apa ya, Mbak?" Yunus balik bertanya. Bersikap seperti pria gentle yang benar-benar akan membujuk kekasihnya.


"Soal itu sebenarnya tiap bunga pasti cocok, Mas. Tergantung ketulusan hati dan niat Mas yang ingin meminta maaf. Mas bisa bawakan satu buket bunga mawar ini. Dan juga belikan pacar Mas coklat. Pasti dia akan langsung luluh. Apalagi kalau langsung didatangi ke tempatnya," jelas florist wanita itu panjang kali lebar seraya tersenyum.


Seulas senyum tipis terbit di wajah Yunus. "Kalau begitu saya ambil bunga ini. Dan coklat, dimana yang bagus ya mbak?"


"Ada di toko sebelah, Mas."


"Baiklah. Tolong bungkus bunga kalau gitu."


"Siap, Mas."


Yunus mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Kemudian membayar bunga yang telah disiapkan.


"Ini Mas bungannya. Semoga pacarnya mau maafin Mas, ya?" harap florist berwajah manis itu.


"Terima kasih, mbak." Yunus pamit pergi dari sana. Ia bergerak ke toko samping untuk membeli coklat yang direkomendasikan oleh florist tadi.


Senyumannya merekah tatkala semua yang dibutuhkan untuk membujuk Elsa telah rampung.


"Sudah siap. Sekarang saatnya beraksi," gumamnya, melangkah menuju mobil, masuk di sana kemudian segera melajukan kendaraannya menuju apartemen sang kekasih.


Tidak menunggu lama, Yunus tiba di depan apartemen Elsa. Wanita cantik yang bahkan belum setengah bulan berpacaran dengan Yunus itu, sedang melamun di jendela apartemennya.


Ting!


Sebuah pesan masuk dalam ponselnya membuyarkan lamunannya.


Yunus Love :


"Sayang, aku ada di depan pintu apartemen kamu. Tolong bukain dong, aku merindukanmu dan mau minta maaf."


"Hah? Kok dia bisa ke sini sih?" Elsa tersentak kaget dengan isi pesan Yunus. Tidak biasanya pria itu mendatanginya di apartemennya. Dan biasanya, ia yang akan selalu ke tempat Yunus.


Tok tok tok


Berulang kali Yunus mengetuk pintu apartemen. Setia berdiri menunggu Elsa.


Dengan berat hati Elsa melangkah menuju pintu. Perasaan cintanya pada Yunus telah membutakan matanya.


Cklek~


"Ada ap--" Ucapan Elsa terputus dengan mata terbelalak tatkala melihat Yunus bersimpuh di hadapanya layaknya seorang pangeran pada putri seraya menyodorkan bunga dan coklat.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Sayang," ucapnya, tersenyum puas dalam hati.


__ADS_2