Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Diam-Diam Menemui Istri


__ADS_3

Ratih melangkah memasuki ruang rawat Elsa tatkala telah diberi izin dan dipersilahkan masuk oleh sang dokter.


Sementara Zaid diminta pulang olehnya. Ia merasa malu sendiri karena tadi dipeluk oleh lelaki kekar itu. Pelukan tanpa status hubungan apapun.


Terasa menggelikan tapi juga mendebarkan.


Sebuah kursi yang terdapat di samping brangkar, Ratih tarik sedikit dan ia gunakan untuk duduk di sana.


Netranya tulus menatap Elsa yang masih belum sadarkan diri. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari wanita itu.


Sampai saat ini, ia belum kunjung mengabari orang tua Elsa yang ada di luar negeri mengenai kondisi anak mereka.


Ratih takut jika orang tua Elsa akan murka dan bisa jadi membunuh anaknya sendiri. Om dan tantenya itu bukanlah orang yang akan main-main jika sang anak berbuat kesalahan sefatal ini.


Haaaah ....


Cukup panjang Ratih menghela napasnya. Ia juga tidak bisa menghubungi Yunus untuk mengabari keadaan Elsa. Karena mungkin pria itu telah berada di desa tempat proyek baru perusahaan mereka dikembangkan.


"Aku kan sudah bilang El. Jangan dekat dengan pria itu. Tapi kamu malah melakukannya dan tidak mendengarkanku sama sekali."


"Lihatlah sekarang apa yang terjadi."


"Untung saja kamu masih selamat. Jika tidak, kamu hanya akan menderita sendirian. Sementara pria brengsek itu mungkin saja sudah mencari target baru."


Ratih sangat mengenal bagaimana Yunus. Karena pria itu adalah teman kuliahnya dulu bersama dengan Yumna.


Yunus terkenal sebagai playboy cap kelinci sebelum berpacaran secara sembunyi-sembunyi dengan Yumna. Itu pun bahkan terkadang, mata Yunus masih jelalatan meski sudah tahu ada Yumna di sampingnya.


Selama hubungan Yunus dan Yumna berlangsung, ia selalu berusaha membujuk Yumna untuk memutuskan pria itu. Namun Yumna yang keras kepala sama sekali tidak mendengarkannya.


Untung saja, Yumna bertemu dengan Abyan setelah mereka putus. Jika tidak, mungkin saja Yumna akan kembali terkena bujuk rayu Yunus agar mau memberikan tubuhnya.


"Benar-benar pria brengsek."


Ratih sangat menyesali hari di mana ia membiarkan Elsa berhubungan dengan Yunus.


"Harusnya aku terus memintamu untuk putus dengannya El. Meski kamu terus terusan menolak permintaanku."


Kepala Ratih tertunduk. Ia pusing memikirkan semuanya.


**


Di pesantren, usai shalat isya, Kiyai dan Nyai pergi ke pendopo tempat Yumna dan orang tuanya tinggal untuk sementara.


Mereka akan mulai melakukan pengobatan malam ini.


Sebelum ke sana, Nyai terlebih dahulu mengambil beberapa daun bidara yang tumbuh di samping rumahnya.


Daun bidara itu akan digunakan untuk Yumna minum malam ini dan mandi besok pagi.


"Apa sudah diambil, Umi?"


"Iya, Bah. Alhamdulillah sudah."


"Syukurlah. Ayo pergi sekarang."


Nyai menganggukkan kepala. Berjalan bersama suaminya ke tempat yang dituju.

__ADS_1


Aktivitas mereka dari jauh nampak di mata Eva yang tengah berjalan bersama temannya memeriksa kondisi pesantren bagian putri.


"Itu Kiyai sama Nyai mau ke mana?" tanya Eva pada temannya penasaran.


"Sepertinya mereka mau ke pendopo yang ada di samping gedung itu."


"Mau ngapain?"


"Aku dengar tadi ada wanita yang datang bersama orang tuanya untuk melakukan ruqyah pengobatan. Dia terkena sihir tafriq."


"Inalillah. Kasihan sekali."


"Na'am, ukhti. Sihir seperti itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Makanya Kiyai dan Nyai memutuskan untuk membawanya dan mengobatinya secara teratur di sini."


Dalam sejenak Eva terdiam setelah mengangguk mengerti. Tiba-tiba ia merinding setelah pembahasan tentang hal menakutkan seperti itu.


"Apa kamu tidak ingin ikut pergi melihatnya?" tawar temannya.


"Tidak. Aku takut."


Temannya itu tertawa menanggapi. Detik berikutnya, mereka melipir pergi dari sana.


**


"'Audzubillahiminas syaithaanir rajiim."


Kiyai mulai membacakan ayat-ayat Allah. Jari telunjuknya mengarah pada Yumna.


Seperti biasa, surat yang paling sering Kiyai baca ialah Al-Fatihah dan Al-Baqarah. Kemudian ditambah dengan surat-surat lainnya.


"Akhhhhhhh!!!" Yumna mulai berteriak kesakitan.


"Wattaba'uu maa tatlussyayaathiinu 'alaa mulki sulaimaan ....."


Kiyai membacakan surat Al-baqarah ayat 102. Di mana dalam ayat tersebut menceritakan tentang jin yang berada di masa kerajaan nabi Sulaiman.


Menegaskan bahwa mabi Sulaiman tidaklah kafir. Namun setan-setan itulah yang kafir. Dan Allah menurunkan malaikat Harut dan Marut untuk mengajarkan sihir sebagai cobaan bagi mereka.


Dan segala macam sihir itu tidak akan pernah bisa mencelakakan manusia kecuali atas izin dari Allah.


"Lepaskan aku!!"


"Abah... Umi ... tolong aku ...."


"Hentikan orang itu ...."


Dalam keadaan kesakitan, Yumna memohon pada kedua orang tuanya. Namun Kiyai sama sekali tidak mendengarkannya.


Begitupun dengan Nyai yang ikut memeganginya. Mereka mengabaikan permohonan Yumna.


"Jangan terpengaruh, Pak-Bu. Dia bukan Yumna. Anda berdua harus menguatkan iman."


Abah dan Umi mengangguk meski hati mereka sedih melihat anaknya demikian.


"LEPAS GILA!" umpatnya emosi.


Namun yang keluar bukanlah suara Yumna. Melainkan suara berat seorang laki-laki.

__ADS_1


"Panas! Lepaskan aku!"


"KELUAR KAMU WAHAI MUSUH ALLAH!!" titah Kiyai dengan tegas.


Jari telunjuknya tidak berhenti mengarah pada Yumna. Ia memegang perut Yumna dengan tangan istrinya sebagai penghalang.


"Tidak! Aku akan memisahkan wanita ini dengan suaminya! Dia tidak boleh bahagia!"


"Keluar kamu. Atau saya rantai kamu dengan ayat-ayat Allah!"


"Tidaaaaak!" Teriakan itu terus bergema. Suara laki-laki itu terdengar sangat jelas.


Umi meneteskan air mata melihat anaknya demikian. Sehingga Nyai memintanya untuk menyingkir dari sana dan beristirahat menenangkan hatinya.


"Umiiii tolong aku ...."


Yumna bergerak-gerak bagai cacing kepanasan. Nyai juga menepi dan duduk di samping Yumna seraya membacakan ayat-ayat Allah. Sementara sisa Abah yang bertugas memegangi anaknya itu.


**


Di sisi lain, Abyan terus bergerak gelisah di dalam kamarnya. Perasaannya sama sekali tidak enak. Dan berulang kali ia berpikir untuk menemui Yumna. Namun ingatannya soal pesan Kiyai dan Nyai terus terngiang dalam pikirannya.


Abyan bangkit dari ranjangnya. Ia menyambar ponsel dan jaket kulit miliknya.


"Mau ke mana kamu, Byan?"


Farhan yang ternyata masih terjaga bangun dari tidurnya dan menahan Abyan.


"Ingat pesan Kiyai dan Nyai, jangan pergi ke sana. Ini demi kebaikan kalian berdua."


"Tapi aku tidak tenang, Han." Abyan menggeram frustasi. Memijit kepalanya yang pening.


"Bersabarlah, Byan."


"Tidak. Hanya malam ini saja. Aku akan menemuinya untuk memastikan dia baik-baik saja."


"Tap--"


Tanpa memedulikan ucapan Farhan, Abyan pergi dari sana. Ia keluar dari asrama setelah bersusah payah meminta izin untuk keluar.


Dan tidak menunggu lama, Hercules pun datang. Saat Abyan masuk ke dalam mobil, Farhan ternyata mengikutinya dari belakang.


"Aku juga akan ikut denganmu."


Abyan menganggukkan kepala, lalu menatap Hercules untuk mulai melajukan mobil--pergi dari sana.


Beberapa saat kemudian, Abyan dan Farhan tiba di pesantren. Mereka datang dengan keadaan sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan Kiyai dan Nyai.


Dan tidak lama setelahnya, mereka sampai di pendopo samping gedung putri setelah bertanya pada salah satu ustadz yang berkeliaran dan melakukan jaga malam di luar gedung putri itu.


Abyan melihat melalui jendela, matanya sayu dan berkaca-kaca. Yumna nampak sedang tertidur lelap setelah beberapa saat menerima banyak rasa sakit karena pergolakan di dalam tubuhnya.


Hati Abyan sedikit tenang. Setidaknya ia bisa melihat Yumna meski dari jauh dan tidak bisa menyentuhnya.


"Kita pergi, Byan. Sebelum ketahuan," bisik Farhan di sampingnya yang ditanggapi anggukan oleh Abyan.


Abyan melambaikan tangan pada Yumna yang tengah tertidur. Lalu beranjak pergi dari sana.

__ADS_1


Keduanya hampir keluar dari gerbang gedung santri putri. Namun suara seorang wanita menghentikkan langkah mereka.


"Siapa kalian?!"


__ADS_2