Suamiku Santri Idaman

Suamiku Santri Idaman
Merasa Seperti Selingkuh


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Byan," sapa wanita bernama Eva itu seraya tersenyum malu-malu.


"Wa'alaikumussalam. Kamu ngapain di sini?"


"Aku tinggal sekitar sini. Kamu?" tanyanya balik. "Kok bisa keluar dari rumah Ibu Nur?"


"Ah, beliau mertuaku."


"Hem? Kamu sudah menikah? Dengan siapa?" Suara Eva mendadak mengecil di akhir kalimat. Tidak menyangka jika pertemuan pertamanya kembali selepas berpisah dari pondok ialah soal kabar pernikahan Abyan--lelaki yang senantiasa ada di hatinya. "Bukannya, Bu Nur tidak memiliki anak perempuan seumuran kita. Dan hanya Bu Yumna yang rentang usianya cukup jauh?"


"Ehm. Yumna istriku," sahut Abyan cepat. Dan kini semakin membuat Eva menganga tidak percaya.


Namun belum sempat ia bertanya lagi. Terlebih dahulu Abyan memilih pamit. "Maaf, aku duluan ya."


"Ah, iya."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Eva memandang kepergian Abyan dengan hati yang sedih. Kepulangan ia dari libur mengajar santri di pesantren. Harus dihadapkan dengan kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya.


"Kenapa dia malah memilih Kak Yumna yang sudah berumur ya? Apa Abyan dijebak oleh perempuan itu?" gumamnya, menatap ke arah rumah Yumna dan segera berlalu dari sana dengan hati yang pedih.


Sementara Abyan mempercepat langkahnya. Saat ini ia harus segera tiba di masjid untuk menunaikan shalat. Sebab adzan ashar sudah mulai dikumandangkan.


Berulang kali Abyan berucap istigfar. Hatinya sedang lemah menghadapi Yumna. Tapi malah dihadapkan dengan wanita masa lalu yang sempat ia sukai meski sekejap saja.


"Byan-Byan. Ingat, istrimu selalu menjadi yang terbaik. Kamu harus lebih kuat. Untuk Yumna dan juga demi dirimu sendiri," ucap Abyan menyugesti dirinya sendiri agar tidak tergoda dengan apa yang terlihat baik di depan mata.


**


"Na, kamu kok bisa muntah-muntah? Apa hamil?" tanya Umi setelah keduanya kembali bertemu di dapur usai melaksanakan shalat.


"Enggak mungkin, Umi. Baru juga nikah kemarin. Masa langsung hamil."


"Apanya yang tidak mungkin, Na. Pernikahan kalian itu udah lewat dua pekan. Siapa tahu udah isi," sahut Umi menyodorkan sepiring kecil salad buah di hadapan Yumna. "Atau jangan-jangan kalian belum melakukannya?" tebaknya yang seketika membuat wajah Yumna memerah malu.


'Ini Umi sengaja atau gimana sih? Padahal perasaanku berkata bahwa kemarin beliau curiga deh,' batin Yumna. Tidak mampu memberikan jawaban atas tebakan Uminya yang malah membuatnya malu.


"Na! Kamu gimana sih! Udah apa belum?" desak sang Umi yang sungguh bikin Yumna tidak mampu berkata-kata.


"Apa sih, Umi. Itu kan rahasia dan aib rumah tangga Yumna, Umi."

__ADS_1


"Ya kan Umi cuma ingin mengingatkan. Agar kamu itu jangan sampai membelakangkan suami. Dosa besar. Kamu harus tetap melayani dia meski sedang sibuk sekalipun. Tinggalkan pekerjaan dan turuti kemauannya."


Umi berhenti sejenak untuk menjeda ucapannya.


"Jangan juga karena hal itu membuat kamu menganggap bawah perempuan hanyalah budak atau pelayan dan begitu rendah di mata laki-laki. Tugasnya hanya melayani dan sebagainya. Tidak demikian, Sayang."


Mata Umi tidak lepas dari menatap Yumna. Ia juga mengulurkan jemarinya untuk mengusap lembut punggung tangan sang anak.


"Justru dengan wanita atau seorang istri bersikap demikian, maka ia telah menjadikan dirinya mulia di mata Allah dan di mata suaminya."


Yumna mengangguk paham. Ia sampai tidak berminat untuk menyentuh salad di depannya. Menunggu kepulangan Abyan.


"Kamu ingat kan pesan Umi saat kamu selesai akad kemarin?"


"Yang Umi bilang, jadilah seperti budak maka dia akan menjadi hamba bagimu?"


"Ya, benar. Kamu tidak perlu terlalu khawatir. Karena kamu akan di ratukan oleh orang yang tepat dan menyayangi kamu karena Allah."


"Terima kasih, Umi." Yumna mendekat dan memeluk Uminya dengan erat. Sementara tanpa sadar, rupanya Abyan, Zaid dan Abah mendengarkan semua isi pembicaraan mereka sejak tadi.


Saking terlalu seriusnya perbincangan keduanya, sampai-sampai tidak mendengar bahwa ada yang mengucapkan salam dari luar.


"Sudah tadi di luar, Umi."


"Enak banget ya, pas pulang ada yang sambut. Kalian tega banget. Menunjukkan kemesraan di hadapan jomblo!" celetuk Zaid mendapat tanggapan tawa dari mereka.


"Makanya segera nikah, Bang. Jangan jadi ngenes."


"Memangnya cari perempuan yang baik dan enggak kayak kamu itu gampang? Susah tahu, Na." Zaid menyahut seraya mengambil duduk di meja makan. Bahkan mulai mengambil piring kecil sebagai tempat salad untuk dirinya. "Lagipula, nikah kan bukan sesuatu hal yang mudah dan dijalani hanya selama sehari dua hari. Tapi itu ibadah terlama. Kalau enggak punya kualitas ilmu, maka siap-siap saja berantakan. Iya enggak, Byan?"


"Benar, Bang."


"Apalagi jika dapatnya istri kayak kamu. Aku enggak mau kesusahan kayak Abyan."


"Abang! Jahat banget sih mulutnya!" Yumna bangkit dari duduknya dan pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.


"Yee, ngambek. Kok gitu aja marah sih!" sahut Zaid tidak merasa bersalah. Abah dan Umi menatap horor anak laki-lakinya itu. Sedang Abyan diam saja meski kesal istrinya di gituin.


"Lha kamu ngomgongnya gitu." Abah membela anak perempuan satu-satunya itu. "Memangnya kenapa dengan adik kamu? Setiap manusia kan pasti pernah khilaf."


Zaid tidak menjawab, sementara Abyan ikut bangkit dari duduknya. "Maaf Abah-Umi, Bang Zaid, saya nyusul istri saya dulu ya."

__ADS_1


"Ah, iya." Umi mendongak menatap Abyan yang terlihat begitu mengkhawatirkan Yumna. "Sekalian kamu bawa masuk saladnya ya. Kan kamu tadi yang mau makan ini," ujarnya, menyerahkan sepiring besar salad buah pada menantunya.


"Baik, Umi. Terima kasih ya. Permisi, saya masuk kamar dulu."


"Iya, Nak. Tolong sabar hadapin Yumna ya?"


Abyan menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari sana. Sementara Zaid mulai disidak oleh kedua orang tuanya.


Cklek~


"Naa ...," panggil Abyan lembut. Melangkah mendekat pada istrinya yang sedang duduk di kursi menatap ke arah jendela.


"Hem." Yumna menanggapi berupa gumaman.


"Marah ya?"


"Enggak kok."


"Marah?" tanya Abyan lagi. Dan kini telah duduk dengan posisi berjongkok dan mendongak ke arah istrinya.


"Enggak."


"Pasti marah, kan?"


"Iyaa. Huhuhu." Segera saja Yumna menangis, menutup matanya dengan kedua tangannya.


Abyan meletakkan sepiring salad buah di atas meja. Dan kemudian berdiri di hadapan Yumna. Membiarkan wanita itu memeluk dirinya. Sedang ia sendiri mengusap punggung sang istri.


"Memangnya saya separah itu ya, Byan? Sampai-sampai Abang bilang kayak gitu?"


"Enggak kok. Bang Zaid asal ngomong aja."


"Kamu bohong, By!" tampik Yumna tidak ingin percaya. "Buktinya kamu juga sebenarnya masih kecewa kan dengan apa yang terjadi semalam dan siang tadi?"


"Tidak. Kenapa kamu malah berpikir demikian?" Abyan mengganti posisinya menjadi duduk. Tangannya terulur untuk menyeka kedua air mata Yumna.


"Buktinya tadi saya lihat kamu ngobrol sama cewek lain di depan rumah."


Deg!


Abyan terhenyak mendengarnya. Ia merasa seperti orang yang sudah berselingkuh saja dari istrinya.

__ADS_1


__ADS_2