Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Bimbang


__ADS_3

Dalam rendaman air hangat berbusa, Nara termenung. Hanyut dalam pikirannya sendiri. Melayang jauh kembali ke masa lalu. Mengingat dengan jelas kisah cintanya sampai detik ini.


Hatinya bimbang ketika mengingat jika dua pria tampan yang telah mengukir sejarah dalam hidupnya adalah saudara. Walaupun saudara se-ayah, tetapi tetap tak mungkin jika harus memilih salah satu diantara mereka. Rasanya sakit.


Tok! Tok! Tok!


"Ra, kamu ngga tidur kan didalam? Kok lama banget?" suara itu, berhasil membawa pikiran yang tadinya berkelana akhirnya kembali ke tempat semula.


Nara menatap pintu yang tak jauh dari tempatnya berendam. "Ngga. Bentar lagi aku keluar." balasnya pada seseorang yang kini sedang berdiri didepan pintu kamar mandi.


Selepas membersihkan tubuhnya, Nara keluar dari kamar mandi. Dirinya disambut senyum lega dari sang suami yang tak lain adalah objek kebimbangannya sekarang. Terselip rasa sakit melihat senyum hangat itu.


"Udah?" tanyanya ketika jarak semakin dekat.


Nara mengangguk, tangannya menyodorkan handuk putih yang masih kering pada Naren. "Udah."


"Ya udah aku mandi dulu." Naren melenggang masuk ke kamar mandi, setelah menerima handuk dari sang istri. Meninggalkan wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta.


Nara duduk di ranjang. Matanya menatap wajah teduh Yumna yang sedang terlelap sembari memeluk bantal guling. Terlihat menggemaskan.


Ada rasa ingin memberikan adik bagi Yumna, namun entah kenapa dirinya selalu teringat cinta pertamanya. Rasanya lelah jika harus berkelahi dalam batin. Memilih.

__ADS_1


Memilih, hal yang paling tidak ingin Nara lakukan saat ini.


Waktu yang terus berjalan tanpa dapat dihentikan membuat Nara harus memilih. Penantiannya selama kurang lebih tujuh tahun terbayar sudah. Tapi yang tidak dia inginkan pun terjadi. Apa itu arti dari akhir sebuah penantian?


Kling!


Suara pesan mengalihkan pikiran Nara. Tangannya meraih ponsel yang berada diatas nakas. Dengan pelan, layar bercahaya itu dia usap.


Terdapat notifikasi masuk berasal dari instagram. Segera Nara buka dan baca pesan tersebut.


{Temui aku di taman nanti malam. Please, jangan menolak. Dan jangan bertanya untuk apa aku meminta kamu untuk menemuiku. Datanglah, maka kamu akan tahu. Sampai jumpa nanti malam.}


Nara hanya membalas dengan kata 'oke'. Lalu, mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali ke atas nakas.


"Ada kerjaan dari perusahaan?" pertanyaan yang berasal dari sang suami dibalas gelengan oleh Nara.


Naren duduk disamping Nara. Tangannya sibuk mengeringkan rambut yang basah. "Aku kira ada kerjaan. Soalnya tadi kamu pegang ponsel." ucapnya menerka.


Nara meraih handuk putih dan bangkit dari duduknya. Berdiri dihadapan Nara dengan tangan bergerak lembut mengeringkan rambut. "Ngga ada. Cuma pengen cek aja." balasnya berbohong.


Gadis mungil yang tadi sedang terlelap, kini terbangun. Duduk dengan sendirinya dan menatap wajah segar dari mommy dan daddynya. Tangannya dia gunakan mengucek mata. Lalu, beringsut turun dari ranjang.

__ADS_1


"Mommy udah mandi?" tanyanya menatap sang mommy dengan wajah khas bangun tidur.


Dengan tangan terus bergerak lembut, Nara mengangguki ucapan putri kecilnya sebagai balasan pertanyannya.


"Aku mau mandi." ucapnya yang membuat Naren tersenyum. Karena gemas, tangannya mengacak rambut Yumna.


"Sana kamu mandi sama mommy." ujarnya.


"Ayo, mommy." ajaknya.


Nara membawa handuk putih kecil tersebut ke kamar mandi bersama dengan Yumna. Memandikan putri kecilnya dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu.


*


*


*


Bersambung...


Yuk dukung terus karya ini. Info UP ada di grup. Disana kalian yang ikut grup bakal sering dapat point pemberitahuan UP dari Author. Yuk tinggal kenangan biar Author semangat buat UP terus. Makasih...

__ADS_1


__ADS_2