Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Es krim


__ADS_3

"Jadi, daddy yang ngambil mommy dari om? Makanya om bilang cari mommy?" bocah mungil yang baru diracuni berbagai ucapan yang seharusnya tak ia dengar itu bertanya pada pria yang pernah dia lihat ketika di Turkey. Tapi, dirinya tetap asik makan es krim sampai blepotan. Tak mengiraukan bajunya yang terkena tetesan es krim yang mencair.


Pria tampan disebelahnya mengangguk beberapa kali. Dalam hatinya bersorak ria mendengar pertanyaan itu. Upayanya meracuni pikiran bocah mungil yang baru saja masuk jenjang Sekolah Dasar perlahan menuju kata 'berhasil'.


"Sekarang, om mau ngambil mommy dari daddy?" bocah mungil berkepang dua itu kembali bertanya setelah menjilat es krim yang leleh.


"Iya donk. Kalau ada yang ngambil punya kita tanpa seijin, kan harus kita rebut kembali. Iya kan? Pasti mommy kamu ngajarin begitu." otak lulusan Kyushu University itu digunakan dengan sebaik mungkin seperti seorang professor.


Yumna mengangguk, mengiyakan ucapan om ganteng yang duduk disebelah. "Tapi, kalau om mau ambil mommy itu ngga boleh. Kan mommy milik Una. Pokoknya ngga boleh." ucapnya membuat om ganteng yang tadinya sudah bahagia mendadak dijatuhkan.


"Kenapa ngga boleh? Katanya tadi, boleh direbut?" Gio, om ganteng yang sedang menjalankan misi liciknya demi mendapatkan wanita yang dia cintai langsung bertanya pada bocah mungil yang sudah dia bawa pergi ke mall, beli es krim.


"Ngga boleh!" Yumna menggeleng, sedikit berteriak.


Gio mengelus dada. Menetralkan rasa yang menggebu dalam dadanya. Tidak boleh marah pada bocah mungil nan menggemaskan disampingnya! Dia bukan Chesa!


"Kalau semisal, mommy kamu maunya sama om gimana? Kan om lebih tampan dari daddy kamu."


"Om tampan. Tapi, lebih tampan daddy Una." Yumna membalas, setelah tadi melirik ke arah Gio yang sedang menunggu jawabannya.

__ADS_1


"Masa sih? Aku kan belum punya anak, sedangkan gula Naren kan udah punya anak." tanyanya pada diri sendiri. Tak percaya dengan apa yang diucapkan si bocah mungil itu.


"Udah selesai, om. Yuk pulang. Nanti dicariin mommy." Yumna beringsut, membuang bekas es krim ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tepat duduknya. Mengelap wajahnya dengan tangan putihnya. Menyisakkan bekas coklat disana.


Gio ikut bangkit. Menggandeng tangan mungil itu layaknya anak sendiri. Berjalan keluar mall, menuju parkiran mobil.


"Kasih ini ke mommy kamu." sebelum turun dari mobilnya, Gio mengeluarkan sebuah kotak kecil. Memberikannya pada Yumna yang menatapnya bingung.


"Emang mommy ulang tahun?" tanyanya dengan polos.


Gio menggeleng, tangannya bergerak meraih resleting tas milik Yumna. Memasukkan kotak yang sudah dia siapkan itu. "Bukan. Pokoknya kamu kasih aja kalau lagi berdua."


Yumna mengangguk dengan patuh. Dia paham. Setelahnya, mereka turun dari mobil. Bergandengan tangan, masuk ke halaman rumah yang dihias dengan kolam dan taman kecil.


"Maaf, mommy." hanya itu yang Yumna ucapkan. Setelahnya, dia masuk ke rumah dengan bi Inul yang tak henti-hentinya bersyukur.


Gio melambai pada Yumna, sebelum bocah mungil itu hilang dalam belokkan.


"Tujuan kamu apa bawa Yumna tanpa ijin? Latihan jadi penculik?" cetus Nara, tangannya dilipat didepan dada. Tak ingin memandang wajah tampan sang pacar. Karena setiap melihat wajahnya, bayangan calon buah hatinya selalu muncul. Membuat air mata tak lagi dapat dibendung.

__ADS_1


Gio menunduk, tahu apa sebabnya wanita yang ada didepannya berbicara seperti itu. Apalagi nadanya, tak seperti yang dulu dia dengar. Lemah lembut.


"Maaf, Ra."


"Maaf ngga akan mengembalikan semuanya." suara Naren terdengar. Matanya menatap tajam pada Gio. Teringat kejadian berdarah di rumahnya.


Nara menoleh, bertepatan dengan itu air matanya jatuh. "Udah, jangan nangis. Kamu harus kuat." Naren mengusap air mata itu dengan lembut. Membuat Gio yang melihat merasa sakit.


Dirinya yang membuat air mata itu turun, seharunya dialah yang harus mengapusnya. Tetapi, kenapa bukan dirinya?


"Aku minta maaf sama Nara. Bukan kamu." ucapnya membalas.


"Harusnya, kamu minta maaf juga sama aku. Karena kamu, kami kehilangan calon anak kami." tegas Naren, membuat Gio baru diam ditempat. Sisi baru dari saudara seayahnya. Ketegasan.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


Yuk dukung terus. Aku tunggu banget dukungan dari kalian. Makasih banyak ya...


__ADS_2