Suara Hati Suami

Suara Hati Suami
Terbiasa


__ADS_3

Eaaa!!!


Eaaa!!!


Naren maju beberapa langkah, berhenti tepat didepan Nara. Disodorkannya putrinya yang belum diberi nama itu, "Dia menangis, tolong tenangkan. Sepertinya dia haus." ucapnya dengan datar.


Dengan cekatan Nara menerima putrinya. Lalu menimang putrinya agar berhenti menangis. "Jangan khawatir, aku akan menenangkannya, kak. Kamu bisa kembali ke kamar dan bersiap untuk pulang." melihat siratan kekhawatiran diwajah Naren, Nara berusaha menghilangkannya. Namun, ucapan Nara hanya dibalas dengan anggukan oleh Naren.


Setelahnya, Naren membalikkan badan dan melangkah pergi. Nara pun duduk di ranjang, kemudian dia memberi ASI sampai putrinya tenang dan tertidur lelap.


Setengah jam berlalu, Naren kembali ke bangsal dengan satu koper besar berwarna hitam disampingnya. Tak lama dari itu, tuan Moga juga datang. Katanya, dia yang akan mengantar Nara dan keluarganya pulang. Karena, rumahnya pun searah.


Nyonya Michel membantu membawakan barang-barang yang sudah dibereskan oleh Nara. Mereka semua bersama keluar rumah sakit menuju parkiran.


Tuan Moga dengan siaga langsung menjalankan mobilnya ke jalan raya kota London. Suasana kota yang asri membuat orang-orang terlihat nyaman berlalu-lalang. Berbeda dengan suasana kota Jakarta yang begitu padat penduduk dan kendaraan, belum lagi panas akibat kekurangan lahan hijau.


"Apakah saya sering berkunjung kemari?" dalam perjalanannya, Naren membuka suara. Dirinya bertanya pada Nara yang duduk disebelahnya di belakang kursi kemudi.


Bagai angin segar, Nara dengan antusias menjawab pertanyaan Naren, "Tidak. Kamu selalu disibukkan dengan pekerjaan. Hanya sebulan sekali kamu berkunjung kemari, kak." Karena baru kali ini suaminya itu membuka pembicaraan lebih dulu. Walau terdengar dari nadanya tidak selembut biasanya.


Naren mengangguk, dilihatnya sepanjang jalan kota London. Dia memang tidak mengingat apapun setelah kematian istrinya. Tapi, dia juga tidak asing dengan kota yang akan dia tinggali bersama seorang wanita yang mengatakan jika dirinya adalah istrinya.


Nyonya Michel dan tuan Moga tersenyum mendengar pembicaraan singkat pasangan dibelakang mereka. Bagi mereka berdua ini sebuah kemajuan. Keduanya berharap, hari-hari berikutnya akan bertambah akrab pasangan tersebut. Dan yang lebih penting adalah kembalinya ingatan Naren. Sehingga semuanya akan lebih indah seperti semula. Saat sebelum kecelakaan itu menimpa.


"It's here." tuan Moga berucap ketika mobil yang dikendarainya berhenti tepat didepan sebuah rumah bercat coklat.


{"Sudah sampai."}


Semua orang turun dari mobil. Nara yang pertama masuk melewati pagar rumah. Kemudian dia berjinjit hendak mengambil kunci cadangan. Karena, kunci rumah yang asli rusak akibat kecelakaan seminggu yang lalu.


Melihat Nara yang kesulitan mengambil sesuatu, Naren segera bergerak untuk membantu. "Biar ku ambilkan." katanya. Mendengar ucapan dari suaminya lantas Nara mundur dua langkah. Mempersilakan Naren mengambil benda yang dia maksud.

__ADS_1


"Ini." Naren menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan berbahan akrilik dengan gambar dua orang memakai baju pernikahan berwarna putih tulang. Tangannya bergetar ketika memberikan kunci tersebut pada Nara. Melihat gambar yang berada di gantungan tersebut. adalah dirinya.


Naren mundur dengan jantung berdegup kencang. Seperti tak percaya dengan yang baru saja dilihatnya. Dia menggeleng keras sembari bergumam, "Tidak seharusnya yang tidak perlu hilang, itu hilang."


"Masuklah, kak." Suara Nara membuat Naren tersadar. Dengan ragu Naren melangkahkan kakinya ke dalam rumah yang menurutnya tidak asing.


Nara meletakkan putrinya ke dalam box bayi dengan hati-hati. "Tolong jaga dia. Aku akan mengambil barang didepan." ucap Nara pada Naren yang tengah melihat sekeliling ruangan.


"Oke." balas Naren.


Nara pun pergi setelah menitipkan putri mereka pada Naren. Dibantu tuan Moga, semua barang sudah dikeluarkan dari mobil. Tak lupa ucapan terima kasih disampaikan pada keluarga kecil itu atas bantuan dan dukungan selama seminggu penuh.


Sebelum berpisah, terlebih dahulu nyonya Michel memeluk Nara yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. "We're happy to be able to help. Don't hesitate if you need help. We are always there for you."


{"Kami senang dapat membantu. Tidak usah sungkan jika membutuhkan bantuan. Kami selalu ada untuk kalian."}


Nara membalas pelukan nyonya Michel. Tak dia sangka, nyonya Michel sekeluarga orang yang sangat baik. Tidak hanya membantu dari dukungan, tapi juga dari segi material. Katanya, sebagai balas budi karena selama ini sering menitipkan Jordan.


{"Terima kasih banyak. Semoga kebaikan kalian akan mendapat banyak keberkahan."}


"See you again!!!" Yumna yang berdiri disamping Nara melambaikan tangannya tinggi diudara ketika mobil Jordan mulai melaju meninggalkan rumahnya.


Nara pun mengajak Yumna masuk ke dalam rumah. Pintu ditutup dengan rapat dan dikunci. Yumna segera pergi ke kamar tanpa mau menyapa Naren yang tengah memandang bingkai foto besar yang dipajang di ruang tamu. Foto pernikahan mereka yang super mewah. Terlihat jelas dari pakaian yang Nara dan Naren pakai saat itu.


"Kak." panggil Nara dengan hati-hati.


Naren menoleh, dia pria yang peka. Hanya dengan dirinya saja, wanita didepannya ini memanggilnya dengan sebutan 'kak'.


"Ya?"


Tatapannya berubah sendu. Naren yang menangkap arti tatapan Nara merasa seolah ingin memeluk wanita yang berdiri dua langkah darinya itu. Tapi, tidak mungkin dia melakukan hal tersebut. Yang kini dia lakukan adalah menunggu wanita itu berkata.

__ADS_1


"Semoga kamu nyaman tinggal disini."


Naren berdehem.


"Tentu. Saya akan mencoba untuk nyaman di rumah ini."


"Baiklah. Aku akan menyiapkan kamar untuk mu." buru-buru Nara pergi dari hadapan Naren.


Mulai hari ini, semua terasa berbeda bagi Nara. Dia harus mulai terbiasa sampai waktu yang belum Naren tentukan. Dirinya harus siap apapun hasil akhirnya.


Kini ranjang yang seminggu lalu Nara tiduri bersama Naren itu hanya akan diisi nara seorang. Naren tidur di kamar lain. Tak juga dengan putrinya, Yumna. Gadis cantik itu masih takut. Memilih menyendiri di kamar.


Air mata menetes. Rasa rindu menyerbu seketika. Nara merasa sesak jika mengingat kisahnya selama ini. Begitu banyak liku-liku. Bahkan kini pun dia harus melewatinya kembali.


Sekarang keadaan berbeda. Bahkan jauh lebih sulit. Mengembalikan ingatan seseorang bukanlah hal yang mudah. Harus butuh perjuangan dan pengorbanan.


Hal pertama yang akan dia lakukan adalah membuat suaminya terbiasa lebih dulu.


*


*


*


Bersambung...


Jangan lupa like, koment dan bantu kasih hadiah ya ges. Makasih banyak udah nemenin sampe season 2 ini. Semoga bisa menghibur kalian semua.


Maaf juga UP-nya lama. Semoga kalian tetap sabar yaa. Makasih buat kalian semua.


Boleh donk, rekomendasi nama buat adiknya Yumna. Lewat koment atau chat langsung boleh.

__ADS_1


__ADS_2